
Jangan lupa follow akun Instagram aku ya, dengan nama akun @bossytika :')
Selamat membaca ...
—————
Max POV.
Di sepanjang perjalanan menuju pulang ke rumah, pikiranku berkecamuk. Berkali-kali aku menghela napasku dengan berat, berharap agar semua masalah ini cepat berlalu. Tapi sepertinya semua itu mustahil. Apalagi jika mengingat bahwa aku telah menghilangkan satu nyawa manusia.
Menyesal? Pasti, aku merasa menyesal dengan semuanya. Tapi apa gunanya aku menyesali masalah yang sudah berlalu? Semua itu aku anggap sepadan dengan apa yang telah mereka lakukan.
Namun tidak mungkin rasanya jika semua ini akan berakhir dengan kedamaian. Apalagi jika lelaki baj*ngan itu mengetahui bahwa saudaranya telah tiada. Semua ini benar-benar menjadi kacau karena ulahku dan baru kali ini aku merasa bersalah seperti ini.
"Mana mamah, Bi?" tanyaku sesaat setelah masuk ke dalam pagar. Melihat bi Mince yang sedang membersihkan halaman depan.
"Tadi pergi, Den," sahut beliau.
Seketika aku menoleh ke arah depan pintu rumah, dari kejauhan mataku hanya melihat Roni yang berdiri di sana. Mungkin mamah pergi dengan Hans, tebakku dalam hati. Kemudian aku segera masuk dan memarkirkan mobilku.
"Hans pergi sama mamah?" tanyaku pada Roni.
"Iya, Pak, baru beberapa menit yang lalu." Roni menjawab sopan.
"Kamu tahu mereka ke mana?" Aku langsung merogoh saku celana untuk mengambil ponselku.
"Kurang tahu, Pak."
Aku kembali berjalan masuk ke dalam rumah dengan tanganku yang menempelkan ponselku pada telinga, mencoba menghubungi mamah.
"Maaf, nomer yang Anda tuju sedang berada di luar jangkauan. Cobalah beberapa saat lagi." Kalimat ini yang terdengar di telingaku saat berkali-kali aku mencoba menghubungi mamah. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk mengakhiri usahaku menelponnya lalu segera masuk ke dalam kamar.
Perlahan aku membuka pintu kamarku. Lalu melihat istriku yang sedang meringkuk tertidur di balik selimutnya. Kuletakkan ponsel dan kunci mobilku di atas buffet lalu aku berjalan mendekatinya. Duduk di tepi ranjang, mengusap pipinya dan ternyata membuatnya membuka mata.
"Kamu dari mana?" lirihnya pelan.
Aku berusaha tersenyum untuknya lalu menjawab, "Aku habis datengin Igo. Kamu gak apa-apa? Maaf, tadi aku langsung ninggalin kamu gitu aja tanpa pamit." Aku masih mengelus pipinya.
Kemudian Shilla bangkit dari tidurnya dan duduk menghadap padaku. Dia meraih tanganku lalu menggenggamnya.
"Gak apa-apa. Aku baik-baik aja." Shilla tersenyum padaku lalu kuberikan ia sebuah kecupan di keningnya.
Kemudian aku berpamitan padanya untuk segera mandi, membersihkan tubuhku. Dan aku juga mengatakan padanya jika setelah mandi aku akan kembali pergi untuk memgurus beberapa masalah yang sedang aku hadapi. Lalu aku menyuruhnya untuk kembali beristirahat, selagi kedua anak kami masih tertidur pulas.
Setelah selesai membersihkan tubuhku dan bersiap-siap berpakaian, sesekali aku melirik pada istriku yang kini terlihat lelap. Dia juga tidak kalah pentingnya di dalam hatiku. Hanya saja saat ini Tika lebih membutuhkan aku. Kemudian aku mendekatinya, mengecup keningnya lalu pergi meninggalkan mereka sementara waktu.
—————
Tika POV.
Waktu sudah menunjukkan pukul dua siang. Jefri langsung memacu kecepatan mobilnya menuju sebuah pusat perbelanjaan untuk menemaniku bertemu dengan Dana. Entah apa maksud lelaki itu ingin menemuiku.
Setelah sampai di basemen parkir, aku dan Jefri langsung keluar dari mobil dan melangkah menuju ke lobby gedung itu. Ponsel Jefri sempat berbunyi berkali-kali yang mana ternyata itu adalah sebuah panggilan telepon dari Max. Jefri menerima panggilan itu lalu mengatakan posisi kami saat ini. Kemudian Jefri juga mulai menghubungi Brandy dan mengatakan jika kami sudah sampai di tempat yang sudah ditentukan.
Kini aku dan Jefri sudah berdiri di tengah gedung pusat perbelanjaan ini. Dari posisi kami saat ini, aku dapat melihat sisi-sisi lain dari beberapa lantai yang ada di atas kami. Mataku menari memandangi ke sekeliling kami, mencoba mencari sosok Dana. Sampai akhirnya aku memutuskan untuk meraih tangan Jefri dan menggenggamnya, jujur saja aku takut dan gugup.
"Tenang, ada aku di sini. Aku juga sudah sewa orang buat jagain kita dari jauh. Jadi kalau mereka melihat ada yang mencurigakan, mereka akan bertindak lebih dulu." Jefri merengkuh tubuhku yang kemudian secara tiba-tiba ponselku berdering.
🎶
You so fuckin' precious when you smile
__ADS_1
Hit it from the back and drive you wild
Girl, I lose myself up in those eyes
I just had to let you know you're mine
🎶
Aku langsung merogoh saku mantelku untuk mengambil ponselku di sana. Sebuah panggilan telepon dari 'unknown number' tertera pada layar ponsel ini. Yang mana panggilan ini pastilah dari lelaki itu. Aku segera menerimanya setelah meminta persetujuan dari Jefri. Lalu menekan tombol speaker.
"Gak aku sangka kalian bakalan datang berdua," ucap Dana dengan begitu tenang. Dia mengetahui aku datang berdua dengan Jefri, itu artinya dia sedang berada di sekitaran kami dan sedang memerhatikan kami berdua.
Secara refleks aku menatap mata Jefri saat mendengar kalimat itu.
"Membiarkan istriku ketemu empat mata sama kamu itu adalah keputusan terbodoh." Jefri menyahutinya.
"Ck! Tenang, aku gak mungkin nyakitin Tika, wanita yang begitu aku cintai," ucapannya dari seberang sana itu sungguh membuatku jijik.
Seketika ingatanku tentang kebersamaan dengannya kembali hadir, mengisi jiwaku hingga ke dalam relung hati. Sesaat aku memejamkan mataku, mengingat kembali semua kebodohan yang aku lakukan beberapa tahun silam.
Kebodohanku yang menyerahkan harga diri serta martabatku sebagai wanita. Yang pada akhirnya dia gunakan untuk menjatuhkan mentalku saat ini. Tak terasa air mataku lolos begitu saja dari kelopak mataku yang tertutup. Membasahi sebagian pipiku saat aku menjatuhkan keningku di dada suamiku.
Jefri mengambil alih ponselku lalu aku langsung memeluknya. Erat.
"Lepaskan Tika sekarang juga. Biarkan aku bicara berdua dengannya, sekarang." Suara ancaman lelaki itu pada kami dari seberang sana.
"Atau kamu mau lihat mamah kamu celaka?" tambahnya lagi.
Aku dan Jefri spontan saling berpandangan begitu mendengar ucapannya itu. Jefri langsung merogoh saku celananya, mungkin hendak mengambil ponselnya lalu menekan nomer orang tuanya untuk menghubungi mereka. Namun lagi-lagi Dana mengancam.
"Oh, jadi kalian mau mempertaruhkan satu nyawa manusia lagi?"
Deg!! Deg deg!!
"Dana kamu jangan macam-macam ya!! Sebuah nyawa bukan buat mainan!!" hardikku geram padanya melalui sambungan telepon ini.
Kedua bola mataku masih saling menatap pada iris mata lelaki di hadapanku. Seolah mata kami yang berbicara. Kemudian perlahan Jefri melangkah mundur. Dia seolah paham maksud dan tujuanku saat ini.
"Bilang ke suami kamu buat nyuruh anak buahnya mundur. Kalau ada satu orang aja yang ikutin langkah kaki kamu, aku gak akan segan-segan menghilangkan nyawa mamah kamu saat ini," titahnya dari seberang sana yang membuatku tiba-tiba meneteskan air mataku.
Bagaimana tidak? Dana mengatakan 'nyawa mamahku' itu artinya dia tidak main-main saat ini. Dan itu adalah mamahku sendiri, satu-satunya orang tuaku yang tersisa.
Aku menghapus kasar tetesan air mata itu dari kedua sisi pipiku. Lalu mengatakan perintah Dana pada Jefri. "Jangan ada yang ngikutin aku satu orang pun," ucapku menatap matanya dan Jefri hanya menganggukkan kepalanya pelan.
"Pergi ke lantai lima, lewat lift sebelah utara." Dana memulai petunjuknya.
Sebelum aku melangkah pergi, aku berkata dalam hening pada Jefri. Hanya bibirku yang bergerak mengatakan padanya bahwa 'aku mencintainya'. Ya, hanya itu yang bisa aku ucapkan lalu pergi meninggalkannya yang mematung di posisinya.
Aku mengikuti keinginan Dana. Setelah sampai di lantai lima, ia kembali menyuruhku untuk melangkah menuju lahan parkiran di lantai itu dan menunggu.
Beberapa menit kemudian, sebuah mobil Alparat melaju ke arahku dan berhenti tepat di depanku. Pintu terbuka dan aku melihat Dana duduk di dalamnya. Tanpa menunggu titahnya aku langsung menaiki mobil itu.
Mungkin aku terkesan bodoh saat ini, tapi aku tidak mau mengambil risiko besar untuk kehilangan mamah, orang tuaku satu-satunya. Lagi pula aku yakin, lelaki satu ini tidak akan mungkin menyakitiku, walaupun tingkahnya tidak terlalu waras. Itupun jika dia memang benar mencintaiku setulus hatinya.
Perlahan pintu mobilnya tertutup. Jantungku masih berdetak dengan ritme yang lumayan, tetapi begitu mobil bergerak, ritme detak jantungku semakin cepat. Rasa gugup, penasaran dan juga emosi, semua bercampur menjadi satu. Tapi sku harus bisa mengendalikan diriku sendiri saat ini.
"Sini hapenya," pintanya pelan. Aku menoleh padanya lalu memberikan ponselku itu ke tangannya kemudian aku menatap wajahnya.
Namun, tiba-tiba saja Dana membuka kaca jendela di sisinya lalu dengan mudahnya dia melempar ponselku. Membuangnya keluar dari mobil. Aku terpekik melihat tingkahnya itu.
"Kamu ...." Tidak ada kata-kata lagi yang mampu aku ucapkan begitu melihat kejadian itu.
__ADS_1
Kuembuskan napasku dengan kasar lalu membuang pandangan mataku ke arah lain. Tiba-tiba Dana menggenggam tanganku. Dengan secepat angin aku menarik tanganku sendiri, lalu dengan kesap menatapnya.
"Kalo mau ngomong ya ngomong aja, gak usah pegang-pegang. Gak ada dalam perjanjian begitu." Aku benar-benar kesal saat ini, napasku naik turun dibuatnya.
Dana tertawa. Tawanya sungguh membuatku merinding saat ini.
"Jadi mau ngomongin apa?!" kesalku sambil menoleh menatapnya.
Dana menghentikan gelak tawanya, lalu membenarkan posisi duduknya. "Aku cuman mau kita kayak dulu. Sama-sama berdua."
Aku mengernyitkan alisku mendengar ucapannya itu. Gila, dia benar-benar gila. "Aku sudah punya suami dan juga anak. Masih banyak wanita lain di luar sana dan kenapa mesti aku yang kamu mau?"
Jawabannya simpel, sangat sederhana. Dia mengatakan karena dia mencintai aku dan hanya aku yang bisa membuatnya bahagia.
Aku menghela napasku, menatapnya lekat-lekat. "Jangan gila, Dan! Aku sudah berkeluarga. Dan kalau kamu mau mengingatkan aku tentang masa lalu ... sebaiknya kamu ingat juga bagaimana teganya kamu menghilang saat itu."
"Justru itu ...." Dana kembali menarik tanganku, kali ini dengan paksa menggenggamnya. Walaupun aku sudah berusaha menarik tanganku kembali. "Ayo kita ulangi semuanya. Kamu cuma perlu lupain mereka semua. Kita hidup berdua aja, aku bisa kasih semua yang kamu mau. Aku sudah punya usaha sendiri." Dana memohon padaku. Dari kedua bola matanya tersirat jelas akan sebuah ketulusan.
Tapi tetap saja aku tidak bisa. Bagiku, dia hanya masa laluku. Boleh jadi dia yang pertama, tapi aku tidak bisa membuatnya menjadi yang terakhir. Aku menatapnya dengan rasa iba, kasihan melihat hidupnya yang seperti saat ini.
"Kita bisa tinggal di London, biar kamu bisa lupain mereka semua. Aku bakalan minta tolong sama Dave buat ngurus kewarganegaraan kita. Dia pasti bantu kita." Dana kembali mengemis. Namun, begitu dia menyebutkan bahwa akan meminta bantuan pada saudaranya itu membuatku terperangah.
Mulutku terbuka lebar, kemudian dengan spontan aku tutupi dengan telapak tanganku yang satunya lagi. Apa mungkin Dana belum tahu jika saudaranya sudah tiada? Apa dia mengira saudaranya itu masih hidup? Seketika itu air mataku jatuh tak tertahankan lagi.
"Jangan nangis, aku gak mau nyakitin kamu. Aku gak mau bikin kamu nangis." Suara getir Dana mencoba menghentikan tangisku.
"Kamu nyakitin aku dengan cara ini. Setiap saat kamu nyakitin aku." Aku menarik tanganku dengan paksa dari genggamannya. Namun, tiba-tiba saja tangannya melayang mencengkeram leherku hingga aku akhirnya harus tersandar pada kursi.
Kencang dan kuat. Hampir tidak bernapas. Kedua tanganku berusaha melepaskan cengkeraman itu, tetapi percuma. Tenaganya dua kali lipat dibandingkan diriku. Dengan nanar aku memandangnya, hingga lagi-lagi air mataku jatuh. Kemudian berkata dengan terbata, "Turunin aku di sini. Aku mau pulang."
Seketika pandangan matanya berubah, mata sayunya kembali hadir lalu cengkeraman itu melonggar dan terlepas. Tangisku semakin pecah dalam diam. Aku mengusap leherku lalu memeluk tubuhku sendiri.
Jujur aku takut begitu mendengarnya akan meminta bantuan saudaranya itu. Dia masih bersikap lunak padaku saat ini karena dia tidak tahu nasib saudaranya. Bayangkan jika dia mengetahuinya, mungkin aku tidak akan selamat. Mungkin dia akan membalas dendam padaku atau mungkin dia akan membunuhku. Seketika bulu kudukku bergidik ngerti. Dan mungkin saja tadi dia tidak akan melepaskanku.
"Oke oke, aku antar kamu pulang sekarang. Tolong berhenti nangis, jangan kamu keluarkan air mata kamu itu, aku mohon."
Aku hiraukan semua perkataannya, kualihkan pandanganku keluar jendela kaca mobil. Kemudian mencoba menghentikan sesegukanku, menghentikan rasa takutku bahkan mencoba untuk bersikap berani. Melawan lelaki tidak waras ini sungguh membuatku mati akal.
Dia menyuruh supirnya untuk mengantarku pulang ke rumah, entah rumah mana yang dia maksud. Hingga akhirnya mobilnya berhenti tepat di depan rumah mamah. Perlahan pintuku terbuka, aku sudah hendak berlari keluar dari mobil terkutuk itu di saat tangannya kembali menangkap lenganku. Spontan aku menoleh.
"Aku kasih waktu sebulan buat kamu berpikir. Kalau enggak kamu akan liat konsekuensinya," tantangnya padaku. Selintas ada kilatan bermakna yang menandai bahwa dia tidak main-main dengan ucapannya. Tetapi, dari ucapannya itu sama sekali tidak ada pilihan bagiku.
"Buat apa aku berpikir kalau konsekuensi itu tetap ada?" ucapku geram seraya menarik kuat lenganku dari cengkeramannya dan bergegas keluar dari mobilnya.
Aku berlari masuk melewati pagar rumah tanpa menoleh lagi ke belakang. Dengan derai air mata yang berkali-kali pecah tanpa suara. Tidak ada hal lain yang aku tuju begitu sampai ke dalam rumah. Melewati Hans dan Roni yang berjaga di depan pintu. Berlari menuju ke lantai atas, bukan ke kamarku, melainkan ke kamar mamah.
"Tika?" Shilla berseru di belakangku, tetapi aku acuhkan.
Langkah kakiku terus saja menapaki anak tangga menuju pintu kamar mamah, hingga akhirnya aku sampai dan langsung mendorong kenop pintu. Betapa leganya aku begitu melihat mamah yang duduk di depan meja riasnya. Napasku seketika berhasil lolos dengan sempurna dari rongga hidung serta mulutku. Dengan sisa tenaga yang aku miliki, terseok-seok aku menghampiri mamah dan jatuh dalam dekapannya yang merosot.
"Kamu kenapa?!" sambut mamah yang aku hiraukan.
Saat ini aku bersimpuh dalam pangkuannya, kupeluk erat kedua kakinya dan kubenamkan wajahku padanya. Lalu tiba-tiba aku merasakan usapan tangan di punggungku, aku menoleh dan mendapati Shilla yang menatapku. Tangisku kali ini meledak bersamaan dengan isakanku. Lalu Shilla memelukku.
Tidak ada satu kata pun yang keluar dari mulut mamah dan juga kakak iparku ini, mereka hanya merengkuhku dengan posisi yang masih sama, tidak berubah untuk waktu yang lumayan lama.
Aku meluapkan segala perasaan dalam hatiku hanya dengan tangisanku. Hingga akhirnya kudengar suara langkah kaki yang begitu ramai.
"Hei ...," sapa Jefri yang muncul menggantikan posisi Shilla. Melihat wajahnya semakin membuatku dapat bernapas dengan lega.
Mamah meraih wajahku dari lututnya, lalu mendongakkan untuk menatapnya. Kemudian mamah berkata, "Semua itu cuma gertakan, mamah yakin kamu kuat. Kamu masih ingat kata papah dulu? Kamu yang terkuat di antara anak kami." Mamah mengecup keningku lalu memelukku, berusaha membuatku tenang.
__ADS_1
Bersambung ...