
Selamat membaca ...
——————————
Still Haikal POV.
Prosesi acara sakral sudah selesai aku lakukan beberapa waktu yang lalu. Aku merasa lega bisa melalui prosesi itu. Semua berjalan dengan sangat lancar dan juga penuh emosional.
Ayahnya sudah menyerahkan Clara kepadaku secara resmi. Memintaku untuk menjaga anaknya, membimbing anaknya serta mengayominya sampai maut memisahkan kami. Aku menerimanya, aku bersedia melakukan itu. Menggantikan posisi ayahnya untuk bertanggung jawab kepada puterinya.
Tidak lama setelah semua prosesi resmi itu, kini akhirnya bagiku untuk bertemu dengan istrku. Ya, dia bukan lagi kekasihku. Kini dia sudah resmi untuk menjadi seorang nyonya besar dalam hatiku. Menjadi Mrs. Grissham yang sesungguhnya.
Dengan jantungku yang tiba-tiba kembali berdetak cepat dan napas yang memburu. Membuat desiran darahku merebak seketika, seolah membuat tubuhku merasakan panas yang luar biasa. Bahkan dasi yang saat ini aku kenakan terasa begitu mencekik leher ini.
Aku berdiri di bawah tirai utama dalam gedung ini. Berbalik menghadap pintu yang jauh di seberang sana, masih tertutup dengan rapat. Yang mana aku yakin, di balik pintu itu ... seorang gadis pujaan hati sedang berdiri.
“Maaf permisi, Pak!” Seorang wanita menyapaku, aku menoleh menatapnya.
“Maaf siapa ya?” tegur Max yang berdiri di sampingku.
“Saya Ryni, Pak. Dari pihak wedding organizers. Hanya ingin memastikan sekali lagi, apakah Bapak jadi ingin melakukan surprise-nya?” Wanita itu lalu menoleh padaku.
“Tentu, berikan microphone-nya kepada saya,” pintaku.
Wanita itu lalu mengambil sebuah microphone kecil dan beberapa alat lainnya. Kemudian dia memasangkannya pada kerah tuksedo-ku dan menyuruhku untuk mencobanya.
“Tes!” Suaraku sedikit terdengar, karena memang masih menggunakan volume yang kecil.
“Mau ngapain sih?” tanya Max yang membuatku tersenyum tipis padanya.
Rencana pada awalnya, setelah prosesi resmi selesai. Aku akan segera pergi untuk menemui Clara di balik pintu gerbang ballroom ini. Lalu masuk bergandengan tangan berdua untuk memberikan kejutan pada para tamu undangan.
Tapi menurutku, itu adalah hal yang bisa. Berjalan berdua melalui tamu undangan hanya akan membuat para tamu terkesan, tapi tidak membuat Clara lebih bahagia. Lalu aku mencoba mengatur rencana lainnya. Yaitu seperti yang sesaat lagi akan terjadi.
Lampu di dalam ballroom tiba-tiba di matikan. Aku masih dapat mendengar Max yang panik memanggil namaku. Lalu dia berteriak pada pihak gedung atau siapa pun yang dia rasa bertanggung jawab kejadian itu, untuk segera kembali menyalakan lampu. Padahal itu juga merupakan salah satu dari rencanaku, hingga suasana di dalam ballroom ini riuh, ricuh, sebagian yang merasa berperan membantu acara ini, terdengar ribut.
Sebab yang tahu rencana ini hanya satu orang dan dia berperan untuk membuat semuanya terkendali. Sedangkan aku sudah siap berada di posisiku saat ini.
__ADS_1
——————————
Clara POV.
Aku begitu lega saat mendengar semua prosesi resmi di dalam ballroom pagi inu berjalan lancar tanpa ada hambatan sedikit pun. Rasa bahagia ini memang benar-benar tidak bisa aku tutup-tutupi. Aku langsung meluk erat pinggang Tika.
Ya, saat ini dia sedang berdiri di sampingku sedangkan aku dibiarkannya duduk pada salah satu kursi yang sudah disediakan sebelumnya. Tika yang memimpin semua kegiatan acara hingga malam ini pada resepsi nanti, karena permintaan dari kakaknya sendiri dan aku oun menyetujuinya.
“Selamat ya, sudah resmi jadi kakak ipar aku,” godanya padaku yang membuat aku semakin mengeratkan pelukan padanya.
“Makasih ya, kamu mau ambil bagian dalam acara penting ini.”
“Iya, aku juga ikut senang kalau kalian bahagia. Semoga kehidupan kalian lancar, selancar prosesi resmi tadi.”
Lagi-lagi aku tersenyum bahagia sambil mengiyakan ujarannya. Lalu tiba-tiba saja aku mendengar suara ricuh di dalam ballroom, beberapa orang juga berteriak membuatku terkejut dan setengah panik.
“Ada apa?” tanyaku pada Tika yang sedang mencoba berkomunikasi dengan orang-orang bagian dalam ballroom menggunakan alat sejenis earpieces atau headset pada telinganya, semakin membuatku panik.
Kemudian tiba-tiba saja Tika mengatakan jika ada perubahan rencana karena Haikal menghilang di dalam ballroom. Yang mana seharusnya saat ini dia sudah bersamaku untuk memasuki ballroom berdua lalu di ujung jalan dia memasangkan cincinnya padaku.
“Loh, kok bisa? Gak tahu, Max lagi nyari katanya di dalam juga listrik padam. Kalau pintu ini gak cepat di buka nanti banyak tamu yang ketakutan.” Tika panik, membuatku semakin panik. Aku tidak menyangka bisa sekacau ini.
Aku menoleh ke belakang, mencari Tika dan sialnya dia menghilang. Tidak ada siapa pun di belakangku. Kemudian tiba-tiba saja beberapa lampu sorot menyala, menyorotiku, membuat mataku silau. Rasanya ingin berteriak karena sorotan itu begitu terang.
Namun, tiba-tiba jauh di seberang sana terlihat satu lampu sorot yang berjalan hingga akhirnya berhenti pada sosok seorang lelaki yang aku kenal, dia adalah Haikal, suamiku. Dengan sebuah buket bunga mawar di tangannya. Lalu tersenyum menatapku.
Aku tidak menyangka, aku bisa terjebak dalam kekacauan receh yang pastinya memang sudah dia rencanakan dengan adiknya tadi. Aku tertawa kecil karena mengingat kebodohanku tadi. Rasanya tidak mungkin jika dia menghilang setelah pernikahan, sudah seperti kisah novel yang dipaksa menikah wanita yang tidak dicintai saja. Lagi-lagi aku terkekeh.
Kemudian tiba-tiba saja sebuah nada mengalun dengan begitu indah. Aku mencoba mengenali nada itu sampai akhirnya aku tahu, ini adalah nada lagu dari Cristina Perry dengan lagunya yang berjudul A Thousand Years.
Dan betapa terkejutnya aku begitu mendengar suara Haikal yang menggema membahana menyanyikan lirik lagu itu. Terdengar begitu fasih dan begitu menghayati. Dan dengan berjalan perlahan sambil bernyanyi dia menghampiriku. Memberikan sebuket bunga mawar itu lalu kembali membawaku berjalan memasuki ruangan hingga berhenti di bawah dekorasi yang baru ini aku lihat.
Ya, sebuah dekorasi yang mana dipenuhi dengan hamparan bunga asli lalu dengan kue pengantin yang ternyata tergantung pada beberapa tali penyangga. Sungguh membuatku takjub melihat semuanya. Aku tidak menyangka akan banyak penambahan pada dekorasi yang sebelumnya sudah aku lihat.
Lalu diakhir lagunya, dia tiba-tiba berlutut di depanku, menyodorkan sebuah kotak cincin yang memang kami pilih sebagai tanda pengikat di antara kami berdua.
“Sometimes it's hard to find words to tell you how much you mean to me, if I did anything right in my life, it was when I gave my heart to you. Never forget that. I love you.” Haikal mengucapkan dengan lantang lalu memasukkan cincin itu ke jari manisku dan mencium punggung tangan ini.
__ADS_1
Seketika itu para tamu undangan gemuruh, bersorak dan bertepuk tangan bahkan ada pula yang bersiul hingga menyerukan untuk menciumku.
Haikal bangkit dari posisi berlutut dengan satu kakinya. Kedua bola mata kamu beradu, saling menatap dengan dalam lalu tiba-tiba saja Haikal memajukan tubuhnya, salah satu tangannya menggenggam erat jemariku dan dia mengembangkan senyumannya.
CUP!!
Dia mencium bibirku dan kali ini tanpa malu aku juga menerima ciuman bibirnya itu. Saat ini aku menyadari satu hal, benar apa katanya tempo hari, menunggu untuk menjadi spesial memang melelahkan, tetapi saat waktu itu datang rasanya benar-benar luar biasa. Benar-benar segitu spesial dan membahagiakan.
Kami melepaskan ciuman itu lalu tertawa bersama, kemudian kembali menghiraukan sorakan para tamu undangan untuk kembali mengecup satu sama lain. Bahkan lebih lama dari yang sebelumnya.
Setelah itu mamahnya dan juga ayah menghampiri kami memeluk kami secada bergantian. Aku memang tidak pandai dalam menahan air mata, hingga berkali-kali tumpah begitu saja.
“Makasih ya, Mah. Clara punya seorang ibu lagi sekarang.” Aku langsung memeluk mamah mertuaku itu.
Sedangkan ayah kini menatapku sambil tersenyum dan merangkul Haikal lalu berkata, “Makasih, kamu bikin ayah punya seorang anak lelaki yang bisa nemenin ayah buat main catur lain kali.” Mendengar itu spontan membuatku melepaskan pelukan pada mamah mertua lalu tertawa bersama.
Satu per satu para tamu undangan menghampiri dan mengucapkan selamat kepada kami. Lalu mereka semua secara bergantian mengambil foto dengan kami berdua. Kedua sudut bibirku ini selalu tertarik. Tidak ada henti-hentinya mengembangkan sebuah senyuman sebagai tanda dari betapa bahagianya aku hari ini. Bahagianya aku menjadi seorang istri yang walaupun untuk urusan dapur, belum terlalu menguasai. Dan entah bagaimana untuk urusan di atas tempat tidur, aku pun belum pernah melakukannya.
Dan dengan semua kekurangan itu, semoga saja suamiku ini mau bersabar dalam mengajariku. Entah itu urusan dapur ataupun urusan di atas tempat tidur tadi. Yang jelas jika membayangkan semua itu, aku selalu saja merasa malu. Semoga saja nanti tidak mengecewakannya.
Bersambung ...
——————————
Hai kalian, akhirnya kelar juga 😊
Sebelumnya aku ucapkan terima kasih untuk kalian semua yang begitu setia dan selalu memberikan like, rating, love, vote serta komennya di setiap bab. Sekali lagi terima kasih banyak.
Setelah ini akan ada satu chapter lagi sebagai akhir dari semua kisah di judul ini. Sebenarnya sedih rasanya untuk berpisah pada semua tokoh yang terkait di dalam judul ini. Semoga kisah ini bisa menghibur kalian.
Mungkin dalam cerita ini dari awal hingga akhir, ada beberapa adegan yang semestinya tidak patut untuk di contoh, seperti merokok, berhubungan intim sebelum saatnya, atau hal-hal lain yang luput dari pembelajaran norma dan hukum di negara ini. Tapi sekali lagi, aku membuat cerita ini segara general dengan maksud menghibur.
Udah ah, itu dulu aja ya 😂
Terima kasih dan selamat berjumpa pada episode akhir setelah ini 😘
__ADS_1
Babay 💋
@bossytika