
Happy reading ...
Jangan lupa tekan tanda like di pojok bawah kiri yaa untuk memberikan semangat padaku dalam menulis π
βββββ
Haikal POV.
"Hallo. Pagi sayang ...," sapaku saat menerima telepon dari Clara.
Aku langsung merasa semangat begitu mendengar suaranya yang merdu. Sejenak aku lupakan kejanggalan yang aku alami untuk menyambut sang tambatan hati. Walau hanya lewat sebuah panggilan telepon, aku selalu merasa dekat dengannya.
"Kamu gak kerja apa? Jadi pagi-pagi gini udah nelpon?"
Ya, begitu lah Clara, hampir tiap pagi ia meneleponku tapi berbeda dengan pagi ini. Biasanya ia akan menelponku jika ia sudah sampai di kantor, kurang lebih sekitar jam tujuh lewat empat puluh lima menit. Sedangkan pagi ini ia menelponku lebih pagi dari biasanya.
Clara mengatakan bahwa dirinya merasa tidak enak badan saat ini, oleh karena itu ia memutuskan untuk 'lockdown' di rumah saja sementara waktu. Aku sempat panik. "Kamu gak apa-apa? Ngerasa pusing ya? Atau gimana? Biar aku kirimkan obat atau ... aku kirimkan diriku ke sana?"
Clara tertawa terbahak-bahak, mendengar leluconku yang sangat receh baginya. Dan saat ia bertanya tentang Tika, barulah aku menceritakan padanya, tapi tidak semua, hanya bagian di mana Tika sempat kehikangan anaknya dan mendapatkan sebuah keajaiban besar dalam hidupnya.
Berjam-jam aku habiskan waktu untuk sekedar mengobati rasa rinduku padanya. Ya, sudah hampir seminggu lebih aku tidak bertemu dengannya. Tidak melihat wajahnya secara langsung. Kami sama-sama disibukkan dengan pekerjaan masing-masing.
"Ya udah, kamu jangan lupa minum obat ya? Dibawa istirahat jangan main instagram atau baca-baca novel dulu. Nanti makin pusing."
Setelah selesai berbincang-bincang dengan Clara dan mengakhiri panggilan telepon itu, aku memutuskan untuk melihat kondisi Tika di ruangan ICCU. Bergegas aku melangkahkan kakiku untuk menuju ke sana, begitu sampai di ruangan ICCU, aku sedikit terkejut karena mendapati adikku yang ternyata bermanja pada suaminya. Dari balik dinding kaca aku melihat mereka berdua, pasti Tika yang meminta suaminya untuk tidur di sampingnya, menemaninya.
"Maaf, Dok, hasil pemeriksaan untuk ibunya dokter sudah keluar," ucap salah seorang perawat yang kini sudah berdiri di sampingku dan menyerahkan sebuah amplop berwarna coklat padaku.
Aku menerimanya, "Terima kasih."
Kemudian sang perawat berlalu dari hadapanku setelah meminta izin untuk melanjutkan tugasnya. Perlahan aku membuka amplop coklat itu dan membaca satu per satu kata yang tercetak jelas di selembar kertas putih. Yang mana isinya menyatakan bahwa mamah sudah boleh pulang dan menjalani pemeriksaan rawat jalan.
Ya, syukurlah mamah tidak mengalami hal yang serius. Ia hanya kelelahan dan syok melihat kondisi Tika tadi malam. Semenjak papah meninggalkan kami semua, aku dan Max menyadari satu hal, yaitu rasa sayang mamah yang begitu besar pada Tika. Hanya saja beliau tidak ingin memperlihatkannya layaknya papah saat ia masih ada.
Tapi saat aku dan Max menyadari hal itu, tidak ada sedikit pun rasa cemburu kami padanya. Yang ada, kami ingin selalu melindunginya membuatnya tersenyum untuk kebahagiaan mamah. Apa lagi saat tadi malam aku melihat mamah yang begitu senang dapat menggendong cucu kembarnya secara bergantian.
Tiba-tiba sebuah pemikiran terlintas di otakku, apa jadinya jika aku dan Clara segera menikah lalu memiliki anak? Hal itu sontak membuat kedua sudut bibirku tertarik, mengembangkan sebuah lengkungan tipis pada wajahku.
Kubiarkan Tika dan Jefri untuk beristirahat, lalu aku segera menuju ke ruang rawat inap, di mana mamah berada. Aku meraih kenop pintu dan mendorongnya. Mamah masih terlelap di atas ranjangnya. Dan hanya ada Max yang duduk pada di sofa dan sedang menoleh menatapku.
"Mamah sudah boleh pulang," ucapku menyerahkan amplop cokelat tadi lalu menjatuhkan bokongku tepat di sampingnya, di sofa tempat Max duduk.
Max segera menyambut amplop cokelat itu lalu membukanya, membacanya isi dari kertas itu. "Mamah hanya kelelahan?" tanyanya.
"Iya, mungkin terlalu banyak yang dia pikirkan." Aku hanya berusaha menebak.
"Mungkin mikirin kamu."
"Kenapa aku?" sewotku lalu menatapnya. Mungkin saat ini keningku terlihat berlipat-lipat, heran dengan ucapan Max yang terkesan menyudutkanku.
"Soalnya tinggal kamu yang masih sendiri. Aku dan Tika sudah punya anak, sudah memberikan mamah cucu. Terlebih lagi kami masing-masing sudah memiliki dua orang anak," ucap Max santai sambil memandangi mamah.
__ADS_1
Aku kalah telak!!
Kali ini benar apa yang Max katakan. Aku tidak bisa menyangkalnya lagi. Baru saja beberapa menit yang lalu aku memikirkan hal yang serupa. Memikirkan untuk menjalin hubungan rumah tangga, bukan sekedar hubungan tunangan seperti ini.
Tapi aku masih butuh waktu. Tiba-tiba saja aku ragu untuk menjalani hidup berumah tangga. Aku ragu akan kesanggupanku sendiri. Dan di saat perasaan keraguan itu muncul, aku kembali menoleh pada Max. Mencoba mencari sebuah jawaban pada wajahnya, yang belum tentu ia dapat menjawabnya.
"Max?" tegurku lalu ia menoleh padaku, menyahutiku dengan sebuah dehaman. "Mana Shilla?"
"Dia lagi keluar sama bi Mince cari sarapan. Kenapa?"
Aku kembali mengarahkan pandanganku lurus ke depan, mengarah pada mamah yang masih tertidur. Apa aku harus menanyakan tentang Lisa sekarang di sini? Apa mamah tidak akan mendengarnya? Tapi saat ini adalah timing yang tepat, sebab istri Max sedang tidak ada dalam ruangan ini.
Sekali lagi aku menoleh pada Max, yang ternyata ia sedang menoleh padaku untuk membenarkan penolakan dari gerakan tubuh yang kubuat.
"Max?!"
"Apaan sih?"
"Lu tahu kalau tadi Lisa kecelakaan??"
Lagi-lagi Max menjawabnya santai hanya dengan dehamannya. Tanpa menoleh padaku. Dan jujur saja itu semakin membuat jantungku berdegup kencang dan aku gugup jika harus menanyakan hal itu. Apa harus aku tanyakan sekarang?
Tiba-tiba pintu ruangan terbuka pelan, Shilla dan bi Mince masuk dengan membawa beberapa bungkusan plastik.
Sial!!
Setelah sarapan dan berbincang-bincang sedikit, aku kembali dipanggil untuk segera menuju UGD sebab Adam kewalahan menangani pasien yang datang silih berganti. Sebab Ranti dan beberapa dokter lain sedang melakukan meeting virtual bersama ikatan dokter lainnya.
"Iya, Mah, di rumah aku aja. Lagian 'kan enak ada Shilla sama anak-anak," bujuk Max. Mamah terlihat berpikir. Lalu menatap bi Mince. Aku menyadari tatapan mamah itu.
"Bi Mince juga ikut 'kan Max?" tanyaku untuk meyakinkan mamah. Max mengangguk dengan pasti. Shilla juga membantu untuk membujuk mamah yang akhirnya luluh setelah Shilla mengatakan penjelasannya.
"Mah, sementara aja mamah tinggal di rumah kami. Nanti kalau Tika sudah sehat dan dinyatakan boleh pulang, baru mamah pulang ke rumah mamah juga. Bahkan nanti Shilla juga ikut nginep di rumah mamah kalo Tika pulang. Ya? Biarkan Shilla yang merawat mamah kali ini dari pada mamah sendiri?"
Dan akhirnya mamah mengangguk pelan. Aku dan Max bisa bernapas dengan lega. Sebelum Shilla, mamah dan bi Mince pulang, mereka meminta izinku untuk menemui Tika dan juga kedua anak kembarnya. Tentu saja aku mengizinkan tapi hanya sebentar. Sebab Tika perlu istirahat dan kedua bayi kembarnya hanya bisa mereka lihat melalui jendela besar yang terbuat dari kaca tebal.
"Ya udah, kami pulang dulu. Kamu jangan lupa makan ya?" pamit Shilla pada Max dan juga padaku. Max mengangguk lalu mengecup kening istrinya itu.
Max memang tidak ikut pulang bersama mereka, sebab Max ingin kembali mengunjungi Tika dan menemani Jefri untuk menjaga adiknya itu.
"Kamu juga, aku nitip mamah." Sekilas Max mencium bibir Shilla, hingga akhirnya mereka melangkah pergi meninggalkan kami dan menghilang di balik pintu lift yang tertutup.
Kemudian aku dan Max kembali beranjak berjalan menuju ke ruangan ICCU untuk melihat pagi perkembangan kondisi adik kami.
βββββ
Jefri POV.
Aku terbangun dari tidurku. Kurasakan tangan kananku yang kebas entah karena apa. Padahal tangan kiriku yang menopang kepala Tika sejak beberapa jam yang lalu. Kulirik jam tanganku, sudah pukul sebelas siang. Wajar saja jika perutku terasa lapar.
Tika masih tertidur dengan lelap. Kulihat ia juga sudah bisa bernapas dengan teratur. Perlahan aku mengangkat kepalanya dari lenganku, lalu meletakkan ke atas bantal. Ku pandangi wajahnya yang masih terlihat lebam di pipinya dan luka di ujung bibirnya sudah nampak kering.
__ADS_1
Perlahan aku mengecup bibirnya dan ternyata kecupan itu sekaligus membuatnya terbangun dari lelapnya. Aku menatapnya lalu tersenyum. Tak lama berselang, Haikal dan Max datang dan menghampiri kami. Aku segera turun dari ranjang.
"Aku sengaja gak minta perawat buat bangunin kalian, soalnya kalian pasti capek," ucap Haikal sambil mendekat, "Kamu gimana? Napasnya udah stabil?"
Tika mengangguk pelan. Kemudian Haikal memberikan isyaratnya pada seorang perawat, yang aku tidak mengerti isyarat apa itu. Sedangkan Max memberikan sebuah kantong plastik padaku.
"Sarapan," ucapnya sambil menepuk pundakku kemudian kukatakan rasa terima kasihku.
Pihak rumah sakit juga menyiapkan sarapan dengan menu yang sesuai untuk Tika. Haikal dan Max menemani kami untuk sarapan sambil Max yang menceritakan bagaimana kejadian tadi malam, karena Haikal yang penasaran.
Semua terjadi begitu saja, tanpa aku duga dan tanpa perencanaan sebelumnya. Tak lupa Max yang mengatakan kekesalannya saat mengetahui adikknya yang tiba-tiba muncul mendatangi tempat itu.
"Kita lupakan apa yang terjadi tadi malam. Anggap sebagai pelajaran. Dan kamu, Tika, apapun yang akan terjadi dan apapun yang ingin kamu lakukan, minta izinlah sama suami kamu dulu. Jangan pernah lagi bertindak ceroboh." Haikal memberikan nasihatnya yang sekaligus membuat Max terkekeh geli.
Haikal melemparkan tinjunya pada pinggang Max. "Why? Aku gak lagi becanda," tegur Haikal serius pada Max.
Namun teguran itu malah membuat Max semakin tertawa terbahak-bahak. "Bisa ya kamu bilang gitu sama Tika," ucapnya di sela-sela tawanya.
"Ada yang salah?" protes Haikal lagi.
Aku mulai mengerti arah pembicaraan Max dan ikut tertawa bersamanya. Sedangkan Tika semakin bingung melihat tingkah dari kedua kakaknya itu.
"Salah dong. Mestinya aku yang ngomong gitu, soalnya aku udah punya istri. Lah kamu?" Max mengoreksi perkataan Haikal yang memicu meledaknya tawa Tika, aku dan juga Max. Sedangkan Haikal hanya berdecak kesal.
πΆ
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
My location unknown tryna find a way back home to you again
I gotta get back to you gotta gotta get back to you
πΆ
Tiba-tiba ponsel Max berbunyi, ia merogoh saku celananya dan menatap layar ponselnya kemudian meminta izin pada kami untuk mengangkat teleponnya di luar.
Bersambung ...
βββββ
Lohaa ...
Terima kasih untuk selalu mendukung karyaku.
Jangan lupa subsrek π€
With love,
Tika π
__ADS_1