Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 83


__ADS_3

Haikal POV.


Setelah Tika dan Jefri pulang, aku akhirnya juga memutuskan untuk segera pulang, setelah pusing berkutat seharian dengan keadaan disini. Namun sebelum itu, aku mencoba melangkahkan kakiku menuju ke ruang rawat inap bundanya Clara.


Perlahan aku mengintip dari jendela pintu di depan ruangan itu. Terlihat mereka bertiga sedang asyik mengobrol. Sang ayah duduk di atas sebuah kursi yang letaknya tepat bersebelahan dengan ranjang dimana sang bunda terbaring. Di tangan sang ayah terdapat sebuah mangkuk. 'Mungkin beliau sedang menyuapi istrinya,' pikirku.


Sedangkan Clara, ia duduk di atas ranjang, tepat sejajar dengan kaki bundanya. Tangannya sambil memijit-mijiti bagian kaki bundanya. Begitu pula dengan bundanya yang terlihat bahagia, senang akan perhatian dari keduanya. Mereka terlihat sempurna di mataku, keluarga yang begitu harmonis.


Tak terasa sebuah tarikan di pipiku muncul begitu saja, akibat otakku yang selalu memikirkan Clara. Rasanya terlalu bodoh jika aku melepaskannya. Hanya wanita ini yang mampu membuat otakku kembali teralihkan. 'Mungkin aku harus mengajaknya ke suatu tempat lagi, lain kali,' batinku.


Kulangkahkan kembali kakiku, berlalu dari ruangan itu menuju lift untuk ke parkiran basement. Aku memiliki waktu istirahat selama empat jam. Saat itu Ranti sudah datang dan menggantikanku bertugas di UGD.


Sesampainya di dalam mobil, sekilas aku kembali teringat akan sosok Jasmine. Wanita pertama dan satu-satunya yang pernah mengisi relung hati ini. Kusandarkan tubuhku pada sandaran kursi, kupejamkan mataku lalu otakku berkelana.


Sebenarnya aku sudah bertekat untuk tidak lagi mengingat apapun itu tentang Jasmine. Namun entah mengapa, sedikit banyaknya sikap Clara selalu mengingatkanku padanya. Yang berbeda hanyalah latar belakang keluarganya. Aku menghembuskan napas dengan kasar.


Aku buka kembali mataku, lalu bersiap untuk menyalakan mobil, namun entah mengapa mataku malah mendapati sepasang heels yang kemarin malam digunakan oleh Clara untuk makan malam bersama keluargaku dan sebelum bundanya masuk rumah sakit. Heels itu tergeletak bebas di bagian kursi penumpang di sebelahku.


Tokk ...


Tokk ...


Tiba-tiba kaca jendela mobilku diketuk oleh seseorang, segera aku menoleh dan ku dapati seorang wanita yang mengetuknya. Awalnya aku terkejut melihat wanita ini, seketika detak jantungku berdegup begitu kencangnya. Namun dengan secepat kilat pula aku mencoba untuk merilekskannya, agar tak terlihat.


Tokk ...


Tokk ...


Wanita itu kembali mengetuk kaca jendelaku. Dengan sebuah senyuman di wajahnya dan tangannya yang jari telunjuknya bergerak ke atas dan ke bawah, seolah mengisyaratkan agar aku mau menurunkan kaca mobil itu. Aku turuti permintaannya.


"Boleh bicara sebentar?" Wanita itu menunduk mengatakannya saat kaca mobil sudah kubuka.


Maklum mobilku ini berjenis sedan Camry Hybrid yang memang rendah, jadi mengharuskan orang lain untuk sedikit menunduk jika ingin menengok melihat ke dalam. Namun sialnya mataku kembali melihat belahan dadanya akibat baju kaosnya yang berjenis V-neck. Aku merutuki diri sendiri.


"Bicaranya sambil jalan gimana?" tawarku.


Wanita itu terlihat berpikir sejenak kemudian mengangguk dan segera masuk ke dalam mobil, duduk tepat di sebelahku.


"Punya aku 'kan ini?" Diangkatnya sepasang heels yang tadi sempat kulihat tergeletak di sana. Aku hanya menjawab pertanyaannya dengan sebuah anggukkan pelan. Kunyalakan mesin mobil kemudian segera menginjak pedal gas-nya dan melaju dengan stabil melewati jalan raya utama.


Benar, wanita yang sedang duduk di sebelahku ini adalah Clara. Wanita pengalih duniaku. Sejujurnya saat ini detak jantungku sangat tidak beraturan dengan kehadirannya yang begitu mendadak, mengagetkanku saja!


Aku masih mencoba mengatur napas dan menormalkan detak jantungku, saat ia hendak memulai pembicaraannya.


"Bunda kapan boleh pulang?" tanyanya memecah keheningan di antara kami.


Aku meliriknya kilas sebelum pandanganku kembali fokus ke arah jalanan di depan. "Bunda kamu harus melakukan serangkaian perawatan insentif dulu. Untuk memastikan kondisi tubuhnya secara menyeluruh."


Tiba-tiba Clara mengubah posisi duduknya. Diangkatnya sebelah kaki kanannya kemudian ditindihnya dengan kaki yang satunya lagi. Clara duduk menghadap ke arahku, dengan lengan atas kanannya menyender pada sandaran jok mobil. Aku kikuk dengan sikapnya yang seperti ini, seakan aku adalah seorang anak TK (taman kanak-kanak) yang sudah melakukan kesalahan fatal.


"Kok berasa di intimidasi ya ini?" celetukku asal sambil sesekali meliriknya lalu kembali fokus pada setir mobilku.

__ADS_1


Clara berdecak kesal. "Kalo udah berdua aja ngajakin becanda. Heran sama para pria zaman now ini. Kok kayaknya gampang banget gitu mainin perasaan wanita. Tarik ulur sesuka hati, kayak wanita tuh gak ada harganya."


Aku tesentak begitu mendengar ucapan yang keluar dari mulut Clara itu. Kupandangi ia sekilas, lalu ia membuang arah pandangannya ke lain, lalu kembali membetulkan posisi duduknya agar menghadap ke depan.


Aku berusaha untuk tetap diam, tidak ada satu kalimatpun yang keluar dari mulutku untuk menjawab perkataannya itu. Bukan karena aku tidak ingin membela diri, melainkan aku ingin mengetahui apa isi hati dan pemikirannya selama ini kepada ku. Apalagi setelah aku mengajaknya makan malam bersama keluargaku dan setelah insiden bundanya yang masuk rumah sakit.


Setelah itu tidak ada lagi kalimat atau percakapan apapun yang kami lakukan ataupun kami bicarakan. Masing-masing terdiam, seolah kembali menjadi orang asing yang sama-sama saling tidak mengenal. Dan malas untuk berkenalan kembali.


Aku mencoba menekan tombol 'ON' pada layar audio di dashboard mobilku, berharap ada lagu atau suara siapapun yang terdengar, agar suasana di antara kami jadi tidak terlalu canggung maupun sepi. Baru saja kunyalakan dan terdengar suara lagu dari Labrinth dengan judul Jealous melantun indah dan penuh makna. Membuat aku menjadi semakin merasa salah tingkah lagi, tapi aku ragu untuk mematikan audio itu.


*I'm jealous of the rain


That falls upon your skin


It's closer than my hands have been


I'm jealous of the rain


I'm jealous of the wind


That ripples through your clothes


It's closer than your shadow


Oh, I'm jealous of the wind


'Cause I wished you the best of


And I told you when you left me


There's nothing to forgive


But I always thought you'd come back,


tell me all you found was


Heartbreak and misery


It's hard for me to say, I'm jealous of the way


You're happy without me*


Namun tiba-tiba di tengah bait lagu itu, jari telunjuk Clara menekan tombol 'OFF' pada audio hingga membuat suasana kembali menjadi hening. Untungnya saat ini perjalanan kami sudah memasuki komplek perumahan mamah. Aku memang membawanya ke rumah mamah, karena rencana awalku memang ingin ke sini menyusul mamah yang tadi siang di antarkan Max pulang setelah menjenguk Lisa di rumah sakit.


"Ini kemana?" pekik Clara, aku menatapnya kilas ternyata dia sedang menoleh menatapku sejak tadi.


Aku hanya membalasnya dengan senyuman lebar sambil mengarahkan mobilku memasuki halaman rumah mamah lalu memarkirnya tepat di dekat pintu depan. Aku matikan mesin mobilku lalu mengajaknya turun.


"Yuk turun!"


"Rumah siapa ini?" Clara kembali bertanya saat aku memutuskan untuk membuka pintu mobilku lalu segera turun.

__ADS_1


Aku langsung memutari mobil lalu membukakan pintunya. "Ayo turun."


Clara terlihat ragu-ragu saat hendak mengeluarkan kakinya dari dalam mobil. Ia menatapiku dengan begitu serius. Seoalah aku akan mengajaknya ke tempat yang mengancam keselamatannya. Walaupun akhirnya Clara keluar dari mobil dan mengikuti langkah kakiku memasuki rumah mamah. Sesekali aku meliriknya yang masih berjalan di belakangku dengan bola matanya yang ke sana kemari melihat-lihat isi rumah mamah.


"Maaahhh!!! Ma—" teriakkanku terhenti akibat bekapan dari tangan Clara.


Ia melingkarkan tangannya membekap mulutku dari belakang sambil berjinjit. Ada sesuatu yang aku rasakan menempel di punggungku. Tertempel jelas hingga membuat jantungku seketika berdegup kencang. Sangat kencang!


"Emh ... Mmh ...." Aku mencoba melepaskan bekapan tangan Clara dari mulutku itu.


"Oke gua lepasin, tapi jangan teriak dulu ... janji?" Clara mencoba membuat kesepakatan denganku. Aku menyetujuinya lalu menganggukkan kepalaku dengan cepat. Clara melepaskan bekapannya.


Aku langsung berbalik arah, menangkap kedua tangannya yang tadi membekapku lalu menatapnya. Aku menanyakan mengapa ia tiba-tiba saja bersikap seperti itu padaku.


"Ini rumah mamah kamu?" tegasnya lagi sambil membelalakkan kedua bola matanya.


Aku mengangguk pelan. Kemudian perlahan aku mendorong tubuhnya dengan bantuan kedua tangannya yang ku cengkram menjadi satu di depan perutnya. Langkah kakinya perlahan bergerak mundur akibat doronganku hingga ia tersudutkan, punggungnya melekat sempurna pada dinding pintu.


Aku sengaja ingin menggodanya kali ini. Aku bungkukkan tubuhku sedikit lalu aku dekatkan wajahku pada wajahnya. Raut wajah Clara berubah menjadi agak sedikit pucat dan tercekat. Kedua bola matanya semakin terbelalak membulat sempurna, menatapku tajam. Napasnya terhenti, tidak ada lagi kurasakan hembusan napas yang melalui lubang hidungnya. Bibirnya tertutup rapat, semakin lama semakin di sembunyikannya bagai mengulum bibirnya sendiri.


Aku menyeringai melihat keadaannya saat ini, ingin sekali aku tertawa terbahak-bahak melihat Clara yang mampu menahan napasnya begitu lama.


Kudekatkan kembali wajahku, semakin dekat hingga hanya berjarak sekitar dua senti meter saja antara hidungku dengan hidungnya. Sedangkan Clara semakin menarik mundur kepala dan bibirnya hingga akhirnya memejamkan kedua matanya.


Wajahnya sangat lucu saat ini.


"Astagaaaaa!!!" pekik mamah yang membuatku sangat terkejut dan langsung melepaskan cengkraman tanganku pada tangannya.


Aku memundurkan langkahku lalu berbalik menghadapi mamah yang sudah berdiri sambil meletakkan kedua tangannya di masing-masing sisi pinggangnya. Dengan mata yang melotot dan raut wajah yang ... yahh lumayan menyeramkan bagiku. Namun aku mencoba menutupi ketakutanku.


Sempat kulirik wajah Clara, dia segera berdiri di sampingku dengan tampang polosnya yang sengaja dibuat seakan tertindas oleh sikapku.


"Kamu ini ya!! Anak orang mau kamu apain?! Hah?! Astaga ...." Mamah mulai mengeluarkan segala omelan khas emak-emak zaman now. Padahal apa yang mamah lihat itu tidak seperti apa yang terjadi.


"Mah, aku cuman mau ngerjain dia aja kok. Habisnya dia u—" Lagi-lagi ucapanku disela.


"Gak ada alasan ya! Sini Clara sama tante!" Mamah melambaikan tangannya, menyuruh Clara untuk segera mendekat padanya.


Sebelum Clara melangkahkan kedua kakinya, ia sempat berbalik kemudian menjulurkan lidahnya ke arahku, memperolokku.


'Sialan!!' batinku.


Bersambung ...


———————————————


Lohaaaaa 💃


Cuman mau bilang, jangan lupa ritual setelah membaca yaa 😌


#SalamOtakMeeee ... 🤭

__ADS_1


#salambucin💋


__ADS_2