Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 129


__ADS_3

Happy reading ...


—————


Tika POV.


Setelah sebelumnya aku merasakan kedinginan dan sulit untuk bernapas, akhirnya aku kembali larikan ke ruang ICCU. Sebenarnya bisa saja di ruangan sebelumnya, hanya saja Haikal terlalu panik dan over, hingga aku akhirnya harus di ruangan ini.


"Udah di sini aja, lagian Jefri juga gak keberatan kok! Biar deket sama perawat jaga." Haikal mengomel padaku.


"Tapi 'kan masih banyak pasien lain yang butuh ruangan ini, Kal," ucapku dengan napas terengah sambil menggunakan selang oksigen.


"Jangan bandel ya! Udah cukup bandel kamu!" tegasnya saat itu, membuat nyaliku menciut.


Andai kata aku sebuah balon yang besar, siap terbang, tiba-tiba kebocoran udara dan merosot begitu mendengar Haikal yang kali ini keras padaku. Belum pernah aku melihatnya seperti itu, terlebih lagi padaku.


Jadilah saat ini aku berada di sini, ruangan ICCU. Hanya boleh ada satu orang yang menemaniku dan itu sudah pasti suamiku sendiri, Jefri.


"Sayang?" panggilku pelan padanya yang sedang meletakkan sebotol air putih di atas nakas. Ia hanya menjawab dengan dehaman dan sekilas menoleh padaku. Kemudian ia duduk di atas ranjang di sisiku. "Kenapa? Ada yang sakit?"


Aku menggelengkan kepalaku pelan lalu meraih tangannya. "Temani aku tidur, mataku masih mengantuk." Aku menggeserkan tubuhku, memberinya ruang untuk berbaring di sampingku.


"Sini," ucapnya menyuruhku untuk berbaring di atas lengannya, masuk dalam dekapannya. Aku menyandarkan kepalaku pada dada yang bidang. Menghirup wangi khas tubuhnya.


"Sayang ...," lirihku dengan napas yang masih tersengal.


"Hm?" dehamnya sambil mengelus lenganku.


"Dari tadi aku gak ada liat Lisa, dia baik-baik aja 'kan?"


Jefri menghela napasnya, "Kamu kenapa senekat itu?"


"Dia gak punya siapa-siapa."


Jefri mengecup keningku. "Dia punya kamu, aku, Alex bahkan keluarga kamu."


"Aku gak pernah punya saudara perempuan, cuman dia. Dan kalau dia punya masalah, dia selalu ngatasin sendiri."


"Ya udah, jangan mikirin ke sana dulu. Nanti aku minta Alex buat jagain dia. Kamu pikirin diri kamu, sama anak kita aja dulu. Ya?" pintanya tegas. Aku hanya mengangguk dalam dekapannya.


—————


Alex POV.


Aku membuka mataku di saat seorang perawat masuk ke dalam ruanganku. Aku mencoba menggerakkan tubuhku untuk bisa duduk.


"Maaf, Pak, jangan bergerak dulu. Sebab lukanya—"


"Gak apa-apa. Badan saya pegel." Aku menyela teguran sang perawat dan dia membiarkanku untuk duduk, lalu membantu memutarkan tuas di bawah kakiku agar sandaran ranjang terangkat.


Kemudian dengan telaten perawat wanita itu mengecek satu per satu luka lebam di wajahku. Lalu mengecek perban pada bahuku yang terluka


"Maaf, wanita yang barengan saya tadi malam gimana ya kondisinya?" tanyaku pada perawat itu. Ia memandangiku dengan raut wajah yang bingung.


"Maaf, Pak. Saya kurang tahu. Soalnya saya baru masuk pagi ini," jawabnya sopan lalu menyelesaikan tugasnya untuk mengecek dan menguntikkan sesuatu pada selang infus yang menancap pada tanganku.


Aku segara membiarkan perawat wanita ini menyelesaikan pekerjaannya. Sebab jika aku turun dari ranjang sekarang dan pergi keluar, dia pasti akan melarangku. Dan bisa jadi dia meminta teman-temannya yang lain untuk menjagaku.


"Baik, Bapak, saya tinggal dahulu. Nanti kalau Bapak membutuhkan yang lainnya bisa menekan tombol ini. Dan barang-barang milik bapak sudah kami kumpulkan di sebelah sini," ucapnya sambil mengarahkan tangannya pada lemari nakas di samping ranjangku. "Mari, Pak, permisi."


Setelah perawat rumah sakit itu selesai dan ia pergi berlalu, aku sengaja menunggunya keluar dari pintu kamarku dan menunggu dulu sekitar sepuluh sampai dua pulih menit. Baru lah aku memutuskan untuk keluar. Pelan-pelan melewati ruang rawat inap lainnya.


Aku berjalan menyusuri lorong demi lorong, mencari jalan menuju ke meja resepsionis. Menyelinap melewati meja perawat jaga hingga akhirnya sampai ke tempat tujuanku.


"Maaf, Mba, saya mau tanya, pasien atas nama—"

__ADS_1


"Alex?!" seru seorang lelaki yang tidak lain adalah kakak kedua Tika, yang juga seorang dokter di rumah sakit ini, dokter Haikal.


"Hai, untung ketemu di sini."


"Udah mendingan? Kenapa bisa di sini?"


"Sorry gua ngelanggar aturan. Gua cuman mau tahu kondisi Tika gimana?" Aku sedikit mengkhawatirkannya. Sebab saat dibawa ke rumah sakit ini, kondisi Tika terlihat memprihatinkan. Bahkan sangat tragis. Demi sahabatnya ia rela datang sendiri menerjang halangan.


Saat memikirkan itu aku baru menyadari akan satu hal. Lalu bagaimana kabar dari Lisa, calon tunanganku itu pasti trauma dan tertekan. Aku hanya bertemu dengannya sebentar saja saar di ruangan UGD. Ia terlihat tertekan dengan apa yang telah ia alami.


Tiba-tiba saja Haikal menarik tanganku, meminta aku untuk mengikuti langkah kakinya hingga akhirnya kami menuju suatu tempat. Haikal memintaku untuk mengenakan baju khusus untuk memasuki ruangan tertentu dalam lingkungan urmah sakit. Di mana ruangan itu disebut dengan nama Unit Gawat Darurat.


'Apa kondisi Tika masih mengkhawatirkan?' batinku.


Namun seteleah aku selesai mengenakan semuanya, Haikal membawaku ke sebuah bilik yang dari kejauhan aku melihat seorang wanita berumur yang sedang terduduk. Dan perlahan aku seperti familiar dengan wajah wanita itu. Begitu dekat, ada yang lebih mengagetkanku lagi, yaitu melihat Lisa yang terkapar di atas ranjang.


Aku terperangah, panik sampai Haikal menenangkanku dan mencoba menjelaskan apa yang telah terjadi padaku. Sebab saat aku bertemu dengannya di ruangan ini, dia masih baik-baik saja. Tidak separah saat ini. Dan masih sadarkan diri.


Kuacuhkan wanita paruh baya yang tadinya duduk menunggui Lisa. Aku langsung mengambil posisinya saat ia yang sontak berdiri dan memundurkan diri.


Lalu pusat perhatianku terfokus pada Lisa. Hingga aku melupakan botol infus di tanganku. Dan Haikal yang menggantungkannya pada tiang infus Lisa.


"Sebentar lagi Lisa bakalan gua pindahkan ke ruang rawat inap. Dia sudah berhasil melalui masa kritisnya. Kalian akan gua tempatkan dalam satu kamar. Tunggu lah di sini, jangan ke mana-mana." Haikal berlalu.


Tadinya aku pikir Lisa akan baik-baik saja. Tidak menyangka jika ia malah berani melakukan semua ini. Berniat untuk bunuh diri di jalan tol. Rasanya seperti bukan sosok Lisa yang aku kenal selama ini.


Sekitar beberapa jam setelah itu, Haikal beserts perawat lainnya membawa aku dan Lisa ke sebuah ruang rawat inap, yang di dalamnya memiliki dua deretan peralatan rumah sakit dan satu buah ranjang. Aku di sarankan untuk menempati ranjang kosong itu. Sedangkan ranjang Lisa berada di samping ranjangku.


"Kalian istirahat. Lu terutama, luka itu belum terlalu kering. Berbaringlah," titah Haikal.


Lidahku kelu, tidak mampu lagi berkata apa-apa. Aku hanya memandangi Lisa sambil duduk di sebuah kursi yang letaknya di antara ranjang kami. Begitu Haikal keluar dari ruangan ini, perlahan aku mengecup kening Lisa lalu aku beranjak menuju ranjangku dan beristirahat. Sambil memandangi wajahnya dari jarak berjauhan.


Dan perlahan-lahan mataku mulai mengantuk dan kembali terlelap.


—————


Setelah selesai memasukkan Tika ke ruang ICCU dan dengan Jefri yang menjaganya, aku kembali mendapatkan sebuah kabar buruk.


Ranti berlari mengejarku yang baru keluar dari ruang ICCU. Tadinya aku berniat akan ke ruangan mamah untuk mengecek kondisi beliau dan beristirahat sebentar di sana. Namun kabar buruk yang Ranti bawa seolah kembali membuatku panik. Rasanya baru sebentar batinku merasa lega dan tenang.


"Kal ... Haikal!" seru Ranti, membuatku menoleh. Terengah-engah napasnya saat berada di depanku. Ia membungkuk, kedua tangannya memegang lututnya sambil mencoba mengatur kembali napasnya. Lalu perlahan berdiri tegak dengan menyematkan salah satu tangannya di pinggangnya sendiri.


"Gua barusan kelar operasi kecelakaan ...," ucapnya, masih dengan napas yang terputus-putus.


Aku hanya bisa memerhatikannya, bingung dengan apa yang sedang ia ucapkan. Bukan kah setiao hati juga kami melakukan operasi? Lalu untuk apa ia mengatakan itu padaku? Seolah sedang memberikan laporan kerja saja.


"Lu kenapa? Tiap hari juga kita menangani proses operasi." Aku terus saja heran. Hingga akhirnya Ranti mengatakan jika yang ia operasi adalah seorang wanita yang dahulu pernah ia lihat sebelumnya. Wanita yang dahulu juga pernah di rawat di rumah sakit ini.


Lalu yang lebih mengejutkannya lagi. Wanita itu memangil nama Max pasca operasi. Oleh sebab itu, Ranti segera mencariku sejak tadi. Berputar-putar mencari keberadaanku, lalu mendatangiku, hanya agar aku mau ikut bersamanya dan memastikan kondisi wanita yang ia bicarakan itu.


Dan tidak kusangka, wanita yang dimaksudkan oleh Ranti adalah Lisa. Wanita yang tadinya adalah korban penculikan Dana. Wanita yang memicu semua kekacauan ini terjadi.


"Max ...," "lirih Lisa dalam ketidaksadarannya.


Aku terkejut, mendengar secara langsung dengan apa yang dikatakan oleh Lisa. Mengapa dia bisa-bisanya menyebut nama kakakku dalam kondisi seperti ini? Bukan hanya sekali, bahkan berkali-kali.


Aku pernah memperlajari tentang dunia alam bawah sadar manusia. Dalam ketidaksadaran seseorang dapat berkata dan berperilaku sebenarnya apa yang dia alami atau dengan kata lain, dia mengucapkan sebuah kejujuran.


Lalu apa hubungannya Lisa dengan Max, hingga dia menyebutkan nama Max saat ini?


Sekali lagi aku memeriksa kondisinya dan dengan Ranti yang berdiri di belakangku, sambil menceritakan apa yang telah Lisa alami hingga mengalami kondisi ini.


"Dari mana lu tahu semuanya?" tanyaku sambil memeriksa keadaan mata Lisa.


"Anak-anak di meja daftar UGD yang cerita."

__ADS_1


Aku menghela napasku, berdiri tegak, berbalik menghadap Ranti. "Gua bisa minta tolong?" Lalu mengembuskan napasku.


"Apa?"


"Lu ke kamar nyokab gua, panggil Max ke sini. Kalau istrinya ada, bilang gua yang nyari dia. Tapi kalo istrinya gak ada, lu ceritain tentang Lisa dan jangan bilang gua tahu kalo Lisa nyebut nama dia. Bisa 'kan?" pintaku tegas.


Ranti menatapku dengan keningnya yang berkerut dan kepalanya yang perlahan bergerak miring. "Gua gak ngerti."


Aku kembali mengembuskan napasku dengan kasar melalui mutut dan mata yang terpejam, khas anak kecil yang sedang merajuk. "Kalo istrinya Max gak ada, lu kasih tahu Max keadaan Lisa begini. Tapi kalo—"


"Gua paham yang itu," sela Ranti. "Yang gua gak paham, kenapa kakak lu gak boleh tahu kalo lu sebenernya udah tahu kondisi Lisa?"


Aku menatap Ranti sambil kembali mengembuskan napasku. "Anggap aja ini prosedur dari atasan ke bawahan. Prosedur seorang dokter pada keluarga pasien. Jadi anggap Max sebagai keluarga Lisa. Bisa?" Aku sengaja semaki menegaskan nada bicaraku. Jika tidak, Ranti akan lebih cerewet lagi.


Kulihat kedua bahu Ranti yang tadinya normal, kini mendadak merosot turun. Dengan wajahnya yang di tekuk. "Iya iya." Kemudiaia berlalu dari hadapanku.


***


Di dalam ruangan kantorku, aku mencoba menenangkan diri. Baru saja aku merasa bahagia akan apa yang terjadi pada Tika dan kedua bayi kembarnya. Sebuah keajaiban yang sangat jarang terhadi. Hanya satu berbanding seribu yang bisa mengalami semua ini.


Mungkin ketulusan hati Tika yang dapat membuat ia mendapatkan keistimewaan ini. Dalam keadaan genting, ia tidak memikirkan bagaimana keadaannya tapi malah memilih memikirkan keadaab orang lain.


Tapi aku juga menyayangkan sikap yang Tika perbuat. Dia selalu saja gegabah, tidak memikirkan resiko dari lagkah yang ia ambil. Dan mungkin untuk ke depannya, Jefri harus lebih keras padanya. Tapi aku belum mendengar semua kejadiannya dengan begitu jelas.


Aku kembali berdiri, berjalan ke arah lemari loker lalu membukanya. Mengambil sebuah benda tipis yang berlayarkan kaca kecil, untuk menghubungi kakakku, Max. Namun selintas, ingatanku kembali pada kondisi Lisa. Kuurungkan niatku untuk menghubungi Max. Lalu aku kembali duduk ke kursiku sambil membawa serta ponselku itu.


🎶


So don't call me baby


Unless you mean it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


Before I dive right into you


🎶


Aku melamun hingga tiba-tiba suara ponselku berbunyi. Segera kulirik layar ponselku, nama 'Clara My Love' tertera jelas di sana, membuat kedua sudut bibirku tertarik sempurna. Aku merindukan wanita satu ini.


Bersambung ...


—————


Loha ...


Jangan lupa subsrek (like, love and komen) 🤭


Pengumuman:


Guys, aku tidak pandai dalam membuat episode per seasons kek novel-novel yang lain, jadiiii ... untuk selanjutnya akan aku gabung di judul ini. Entah itu tentang kehidupan Max maupun Haikal.


Lalu untuk cerita Tika Jefri di judul awal 'Milik Wanita Lain', nanti akan aku revisi awal Juli dan aku gabung di judul ini. Biar satu judul jadi enak bacanya gak pindah-pindah.


Truussss di judul Milik Wanita Lain, nanti aku isi tentang perjalanan kehidupan Lisa, full Lisa, karena jalan hidupnya terlalu berliku 🤭


Sekali lagi aku katakan, aku harap kalian bisa menerima keputusanku kali ini.


Terima kasih.


With love,

__ADS_1


Tika 💋


__ADS_2