
Jefri POV.
Aku segera berlari kecil, menuruni tangga. Penasaran juga siapa yang datang ke rumah kami. Ku tarik knop pintu tanpa mengintip lubang pintu terlebih dahulu.
"Hai, sorry malam-malam kesini," ucap Alex di depan pintu rumahku.
Aku terkejut, "Masuk, Lex!"
Aku mempersilahkan Alex memasuki rumahku. Kemudian ku persilahkan ia duduk disofa yang tadi sore aku tempati dengan Tika.
"Gua boleh ngerokok?" tanya Alex padaku.
"Silahkan."
Aku langsung menggeser pintu kaca disamping, membukanya agar udara masuk.
"Tika ada dirumah, Jef?" tanya Alex lagi sesaat sebelum menyulut rokoknya.
"Hm? Ada kok di kamar, paling bentar lagi juga turun. Kenapa, Lex?" tanyaku sambil kembali menuju ke arah sofa dimana Alex duduk.
"Enggak papa. Rumah lu gede juga ya?"
"Gak lah, biasa aja. Ada apaan? Tau dari mana lu alamat rumah gua?" cecarku.
"Dari Jerry, gua nelpon dia tadi. Eh sorry, gua gak tau kalo bokap lu masuk rumah sakit. Sakit apa?"
"Kemaren kena stroke. Tapi udah agak baikan kok."
"Oh, syukur deh."
"Trus kenapa lu nelpon Jerry? Bukannya nelpon gia langsung?"
"Hape lu kagak aktif, Bambaaang!!"
"Oh ya?"
"Seriusan. Cek deh!"
Ku lihat Tika menuruni tangga, "Sayang, kamu udah enakkan?" seruku.
Tika hanya menganggukan kepalanya. Kemudian dia kembali perlahan menuruni tangga. Berjalan pelan ke arah kami duduk.
"Hai, Lex? Apa kabar?" sapa Tika.
"Baik, Tik. Lu gimana?"
"Baik juga kok. Bentar ya gua bikinin kalian minum. Mau kopi?"
"Iya, sayang, aku black coffee ya? Lu mau minum apa, Lex?" tanyaku pada Alex.
"Samain aja, Tik. Thanks!" pinta Alex langsung.
"Oh ya udah, lanjutin aja ngobrolnya."
Kemudian Tika mengarah berjalan menuju dapur. Mulai berkutat dengan mesin espresso-nya.
Aku kembali menoleh pada Alex. Ia merokok dengan raut wajah tampak santai namun seperti berpikir keras.
__ADS_1
"Ada apaan lu kesini?" tanyaku setelah berhasil ku sulut sebatang rokokku.
"Lisa," lirih Alex.
"Kenapa Lisa?"
"Gua break sama dia." Alex kembali menghisap rokoknya kemudian menghembuskan asapnya kesembarang arah.
"Kok bisa?"
"Pulang dari Inggris kami cekcok. Trus dia langsung pergi lagi ke Bali."
"Cekcok kenapa? Tumben lu gitu.." cercaku.
"Gua liat dia chattingan sama cowok. Katanya sih temen lamanya. Tapi kayak intim banget!" jelas Alex mulai menggebu.
"Intim gimana? Lu liat isi chatnya?" aku tak kalah menggebunya.
"Ya gak liat sih, kan gua ngikutin saran lu. Buat percaya sama pasangan dan tetep kasih mereka privasi."
"Trus?"
"Ya dia kalo udah chattingan, pegang hand phonenya, mantengin layarnya, udah kayak sejenis lupa gitu sama gua."
"Lu cemburu ya, Lex?" sahut Tika sambil berjalan membawakan nampan berisi cangkir kopi kami, di letakkannya perlahan di atas meja.
"Siapa yang enggak cemburu coba? Gua jelas-jelas udah ada disampingnya, eh dia malah sibuk sama hapenya!" ketus Alex.
Aku menatap Tika kilas, lalu Tika duduk di sampingku.
"Kami ngerokok loh," ucapku sambil berdiri, agak menjauh sedikit dari Tika duduk.
Tadinya yang bola mataku agak sedikit melotot, kini mencoba menghembuskan nafas terpaksa. Aku tidak menjawab pertanyaan Tika itu, lalu segera ku tarik sofa kecil bundar yang berfungsi sebagai sandaran kaki.
"Trus, Lex? Lu gak coba langsung ngomong apa?" tanyaku lagi, beralih pada masalah Alex.
"Boro-boro mau ngomong, dianya udah kepalang emosi, ngerasa gua nuduh dia selingkuh."
"Trus?" sahut Tika.
"Ya gua pikir, habis cekcok, cooling down dong. Gua balik ke apartment. Tau-taunya gak ada kabar dua hari. Gua ke rumahnya, di kulkas ada note, dia bilang pergi ke Bali buat nenangin diri."
"Itu kapan kejadiannya?" tanyaku.
"Seminggu yang lalu."
"Trus seminggu ini Lisa gak ada hubungin lu?" cercaku lagi.
"Gak ada. Makanya gua kesini. Gua mau nanya, Lisa ada hubungin kalian gak?"
"Lisa udah lama gak nelpon, gak chatting juga. Terakhir dia ngechat waktu dia bilang udah nyampe Inggris sama lu. Itu aja!" jelas Tika.
Lagi-lagi Alex menghembuskan nafasnya berat, mematikan rokok yang telah mencapai batas habisnya. Lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran sofa.
"Apa gua terlalu posesif ya?" lirihnya sambil memejamkan mata.
Aku dan Tika saling bertatapan.
__ADS_1
Aku sebagai teman Alex mengakui, aku belum pernah melihat Alex seperti ini. Dia termasuk type pria yang cuek. Sering bergonta-ganti pasangan, bahkan terlalu sering.
Pernah dulu dia membawa tiga wanita, dalam kurun waktu berbeda dan dalam satu hari. Sungguh luar biasa. Namun tidak pernah aku melihatnya sefrustasi sekarang ini.
"Lex, lu udah coba telpon Lisa?" saranku.
Alex membuka matanya, langsung menatapku, "Belum, gua takut dia masih marah."
"Trus waktu lu di Inggris ketemu tante sama keluarganya gimana?" tanya Tika menambahkan.
Alex duduk tegak, meraih secangkir kopinya lalu menyeruput perlahan, "Biasa aja, mereka semua welcome kok. Bahkan gua sempet nginap dirumah mereka."
"Udah sampe bahas tanggal juga?" tanya Tika lagi.
"Iya udah, bulan depan."
"Apa?!" seruku dan Tika berbarengan, kaget.
Alex menatap kami secara bergantian dengan wajah polosnya, "Wah sehati sepikiran ya kalo udah nikah?"
"Sebulan lagi dan kalian belum nyiapin apa-apa?" seruku.
"Dan kalian malah mutusin buat break??" Tika menambahi kekagetanku.
"Iya, kami nikahnya biasa aja. Gak kayak kalian yang pake acara mewah, heboh sana-sini. Pake wedding organizer."
"Kok bisa?" tanya Tika aneh.
"Ya bisalah!" jawab Alex sambil menyeruput kembali kopinya.
"Lisa yang gua kenal bukan begini," jawab Tika.
"Begini gimana maksud lu?" Alex bingung.
"Ya.. Lisa pernah cerita ke gua, kalo suatu saat dia nikah, dia maunya dirayain. Besar-besaran. Gak papa katanya kalo sampe harus menguras habis uang tabungannya. Karena dia emang mau begitu," jelas Tika.
"Oh ya?" terlihat raut wajah Alex yang makin aneh, "Ini malah kemauannya Lisa loh! Keluarganya malah maksa dia buat rayain besar-besaran dan Lisa dengan keras menolak semuanya." jelas Alex menatap Tika.
Tika tersandar pada sofa sambil menatapku. Aku pun melakukan hal yang sama. Aku tidak terlalu memgenal pribadi Lisa seperti apa, karena bagitu cukup Lisa sebagai wadahku bertanya. Jika suatu saat aku membutuhkan informasi dari Tika yang tidak alu ketahui.
"Mending lu telpon deh Lisa-nya," saran Tika.
Alex hanya meruncingkan kedua sudut matanya, "Why?"
"Ya ga papa. Lu ngapain gengsi sih? Kalo cinta, yakin, ya udah, kejarlah. Ngapain masih mikir sih. Heran!!" saran Tika lagi.
----------------
Hai semua.
Makasih buat kalian yang selalu senantiasa menunggu updatean ku ini.
Siapa yang nunggu-nungguin kisahnya Haikal dan Clara????
Yuks cuuss kepoin Instagramnya @bossytika 😊
Maaf jika ini terlalu singkat, semoga bisa menghibur kalian walau sesaat.
__ADS_1
😘😘😘