Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 167


__ADS_3

Jangan lupa jempolnya ya!


Buat kasih love, like, komen dan juga VOTE. Entah itu poin ataupun koin. Sedikit juga tak apa, akan sangat aku hargai πŸ€—


γ€€


γ€€


Selamat membaca semuanya ...


γ€€


γ€€


β€”β€”β€”β€”β€”


γ€€


γ€€


Tika POV.


γ€€


γ€€


Siang ini Jefri mengirimkan sebuah pesan singkatnya padaku yang mengatakan bahwa dia akan melewati makan siangnya bersama dengan kedua orang tuanya. Dan aku menerimanya, membiarkannya untuk berkumpul di sana karena bisa jadi Jefri sedang membicarakan permasalahan kantornya dengan kedua orang tuanya.


γ€€


γ€€


Menurutku itu adalah hal yang penting. Walaupun perusahaan itu sudah sepenuhnya berada di bawah kendali Jefri, dia harus tetap berkomunikasi denganΒ  papanya. Entah itu untuk sekedar meminta saran ataupun untuk bertanya kembali tentang relasi dari perusahaan itu sendiri.


γ€€


γ€€


Untungnya, komunikasi dua arah yang aku dan Jefri lakukan hingga saat ini masih tergolong lancar dan baik-baik saja. Oleh karena itu, aku sebagai istrinya selalu berusaha untuk percaya padanya. Bersikap sewajarnya dan juga mencoba mengerti akan hak dan kewajiban sebagai istrinya.


γ€€


γ€€


Tok tok tok!


γ€€


γ€€


Aku dikejutkan dengan suara ketukan pintu kamarku, segera aku beranjak dari dudukku dan melangkah untuk membukakan pintu itu. Begitu aku membuka pintu, ternyata bi Mince yang berdiri di balik pintu untuk menawarkan makan siang padaku.


γ€€


γ€€


Dengan segera aku melangkahkan kakiku menuju ke ruang makan, lalu duduk di dekat mamah.


"Jefri gak pulang?" tanya mamah padaku, memecah keheningan di sela makan siang kami.


γ€€


γ€€


"Dia lagi di rumah orang tuanya, Mah," sahutku.


γ€€


γ€€


"Kenapa kamu gak ikut?" tambah mamah lagi.


γ€€


γ€€


"Dia 'kan langsung dari kantornya, lagian dia juga ada urusan penting di sana. Bukannya cuman asal main ke sana, Mah."


γ€€


γ€€


Setelah menyahuti mamah dengan kalimat itu, mamah malah memgeluarkan ceramahnya padaku. Panjang dan lebar, tambah dan kali, semua mamah lontarkan membuat aku, Shilla dan juga Max seketika terdiam. Karena tidak biasanya mamah menjadi secerewet ini.


γ€€


γ€€


Semua nasihat yang mamah ucapkan itu tidak hanya untuk aku saja, tetapi Max dan Shilla pun mendapatkan porsinya masing-masing. Membuat kami bertiga saling melemparkan pandangan. Merasa aneh dengan sikap mamah kali ini.


γ€€


γ€€


"Tumben, Mamah lancar banget," celetuk Max.


γ€€


γ€€


"Mamah cuman kasih tahu kalian aja. Kalau hidup berumah tangga itu selalu ada saja cobaannya. Bukan dari orang lain, tapi dari diri kalian sendiri. Maka dari itu, kalian harus bisa menjaga hati kalian sendiri, jangan meminta orang lain untuk melakukan hal yang kalian pikirkan. Tapi kalian sendirilah yang melakukan apa yang kalian pikirkan."


γ€€


γ€€


"Emang bener ya, Mah, kata orang selalu ada ujian dalam rumah tangga saat usia pernikahan menginjak angka ganjil?" tanya Shilla tiba-tiba.


γ€€


γ€€

__ADS_1


Mamah mengangkat wajahnya lalu berkata, "Mamah gak tahu itu mitos atau fakta. Tapi kalian sudah pernah mengalami, 'kan? Mamah juga begitu dulu, waktu sama papah." Mamah melanjutkan menyuap makanannya.


γ€€


γ€€


Ya, benar saja. Usia pernikahan Shilla dan Max saat ini menginjak angka tiga tahun. Lalu beberapa bulan lalu mereka berdua mengalami sebuah masalah yang untungnya bisa terselesaikan karena rasa cinta keduanya begitu kuat, hingga mereka akhirnya memutuskan untuk saling memaafkan dan kembali hidup berdua.


γ€€


γ€€


Dan aku juga masih ingat betul dengan beberapa kejadian dan permasalahan yang selalu datang menghampiri hubunganku dengan Jefri. Yang mana saat itu umur pernikahan kami berjalan setahun lamanya. Dan mungkin permasalahan perusahaan Jefri ini akan menjadi permasalahan terakhir kami berdua di tahun ini. Semoga saja.


γ€€


γ€€


Setelah selesai melakukan makan siang bersama, aku memutuskan untuk kembali ke kamarku untuk menjaga kedua anakku yang masih tertidur dengan pulasnya. Memerhatikan wajah lelap mereka berdua, sungguh membuat pikiran dan hatiku tenang.


γ€€


γ€€


Tak berapa lama berselang, pintu kamarku kembali diketuk.


γ€€


γ€€


Tok tok tok!


γ€€


γ€€


Aku kembali melangkah menuju pintu untuk membukanya. Yang ternyata Max ada di sana. Dia yang mengetuk pintu kamarku. "Masuk." Aku membukakan pintu dengan lebar dan menyuruhnya untuk masuk ke dalam kamarku. Mengikuti langkahku yang kembali mendekati tempat tidur Naila dan juga Nathan.


γ€€


γ€€


Max duduk di tepi ranjang, sedangkan aku duduk di sebuah sofa yang sengaja di letakkan di dekat sana untuk memudahkanku dalam proses pemberian asi pada mereka.


γ€€


γ€€


"Kenapa, Max?" tanyaku pada Max yang siang ini terlihat aneh.


γ€€


γ€€


Bagimana tidak? Sejak makan siang dia hanya berdiam diri. Hanya sekali dua kali dia melontarkan suaranya untuk menyahuti pertanyaan mamah. Begitupun setelah selesai makan, dia langsung menuju ke kamarnya. Bukan ke halaman belakang untuk merokok, seperti biasa yang ia lakukan.


γ€€


γ€€


γ€€


γ€€


"Kalian beneran mau balik ke rumah kalian?" tanyanya dengan semangat.


γ€€


Aku memandanginya lalu menjawab, "Kemungkinan iya, Max. Aku rindu rumah kami. Bukankah kalian juga seharusnya gitu?"


γ€€


"Lalu mamah?"


γ€€


"Mamah bisa tinggal secara bergantian dengan kita. Aku hanya ingin bersikap adil, Max. Semenjak aku di sini kedua orang tua Jefri hanya sekali menjenguk cucunya. Bukannya kalian dulu juga begitu? Memilih tinggal di rumah sendiri agar mereka masing-masing orang tua dapat dengan bebas mengunjungi cucunya?" Aku membuat pernikahan Max dan Shilla sebagai contoh untukku.


γ€€


Max terdiam, dia menundukkan wajahnya, menatap hampa ke arah ujung jari kakinya. Entah dia melihat kakinya atau melihat lantai, yang jelas dia tiba-tiba saja menutup mulutnya, rapat.


γ€€


Aku penasaran dengan sikapnya itu, Max benar-benar aneh dan membuatku sedikit takut. "Max, kamu baik-baik aja, 'kan? Jangan bikin aku takut," lirihku pelan.


γ€€


Max masih menundukkan wajahnya, membuat pikiranku menghasilkan berbagai macam pimikiran aneh dan juga tidak masuk akan. Sungguh tidak biasanya dia bersikap seperti ini. "Max?"


γ€€


Seketika dia mengangkat wajahnya, lalu menatapku dengan lekat. Kemudian suaranya melemah, dia berpamitan untuk segera pergi ke kantornya dengan nada suaranya yang juga merendah. Semakin membuatku bingung.


γ€€


***


γ€€


Malam harinya, di saat aku dan Jefri sudah bersiap untuk tidur dan sudah mematikan lampu baca di nakas samping tempat tidur. Aku menceritakan padanya perihal sikap Max yang tiba-tiba aneh. Pasalnya, saat makan malam tadi, Max juga bersikap tidak wajar, tidak seperti biasanya.


γ€€


γ€€


"Mungkin dia banyak urusan di kantornya dan mendengar kita akan segera pulang malah membuatnya khawatir. Kamu 'kan adiknya, wajar dia begitu. Aku bisa ngerti perasaan dia." Jefri mengusap lenganku lalu mengecup keningku.


γ€€


γ€€

__ADS_1


"Kapan kamu bilang keinginan aku ini sama Max?" Aku penasaran.


γ€€


γ€€


Jefri mengatakan jika dia memang sudah menceritakan niatku yang ingin hidup kembali di rumah kami sendiri pada Max, kemarin malam. Tetapi Jefri mengatakan jika itu adalah keputusan kami berdua, bukan salah satu di antara kami. Dan mungkin itulah yang membuat Max terlihat gusar dan aneh hari ini.


γ€€


γ€€


Setelah membahas tentang Max, kini giliran Jefri yang menceritakan apa saja yang terjadi di kantornya pagi ini hingga kejadian di rumah orang tuanya. Saat dia membeberkan kebohongan pak Hardi. "Lalu Paula?" Entah mengapa kalimat itu meloncat begitu saja dari mulutku.


γ€€


γ€€


"Apanya yang lalu? Aku gak peduli sama dia. Mau dia anaknya pak Hardi kek atau wajahnya hancur sekalipun. Semua terserah dia. Yang jelas, dia gak gangguin kita. Itu sudah cukup." tegas Jefri kali ini padaku.


γ€€


γ€€


Kemudian di saat kami sedang asik bercerita dan memberi tanggapan, tiba-tiba saja ponsel Jefri berdering.


γ€€


γ€€


🎢


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎢


γ€€


γ€€


Kami segera melepaskan dekapan ini lalu Jefri segera beranjak berdiri dari tempat tidur. Melangkah menuju ke depan televisi, sebab ponselnya ia letakkan di atas buffet televisi. Sedangkan aku langsung meraih sakelar lampu kamar lalu menyalakannya. Dari kejauhan terlihat kening Jefri yang berlipat dan gua dia terdiam selama beberapa detik. Baru menerina sambungan telepon itu.


γ€€


γ€€


Dia memandangiku sambil mendengarkan suara dari ponselnya. Tanpa kata dan tanpa ekspresi. Kemudian demgan tenang ia kembali memutuskan sambungan telepon itu. Setelahnya barulah Jefri kembali ke sisiku dengan meletakkan ponselnya di atas nakas samping tempat tidur kami.


γ€€


γ€€


"Siapa?" Lagi-lagi aku penasaran dengan siapa yang menghubunginya itu. Namun dia hanya mengatakan bahwa telepon itu hanya dari telepon yang salah sambung.


γ€€


γ€€


Jefri kembali merengkuhku lali menarik selimut untuk menutupi tubuh kami. Dia menyuruhku untuk segera tidur. Malam itu kami lalui sekali lagi dengan begitu tenang. Hingga aku tertidur dalam dekapan di dadanya.


γ€€


γ€€


Bersambung ...


γ€€


γ€€


β€”β€”β€”β€”β€”


γ€€


γ€€


Hallo lohha ...


Jangan lupa buat kasih like, komen dan vote yah buat judul ini, sebagai bentuk dukungan kalian untukku.


Aku sangat berterima kasih pada kalian yang masih setia membaca cerita ini. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian semua.


γ€€


γ€€


Sekali lagi aku ucapkan terima kasih.


Babay,


salambucinπŸ’‹

__ADS_1


__ADS_2