Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 171


__ADS_3

Jangan lupa ritual sebelum dan sesudah membuka episode ini ya :)


Arahkan jempolnya untuk like, vote dan komen 😘


Selamat membaca ...


—————


Jefri POV.


Hari demi hari kini berlalu. Aku sudah terbiasa akan sebuah kejutan yang aku terima di kantor dan itu hampir setiap hari. Sudah seperti melakukan pendekatan denganku saja. Seperti pagi ini di mana aku mendapati ada sebuah papan karangan bunga yang menyatakan rasa duka dan belasungkawa untukku.


Aku mengulas senyuman tipis di ujung bibirku saat melihat benda itu. Aku tahu pasti, pengirimnya pastilah lelaki gila itu. Aku mencibir, lalu mengatakan pada salah satu karyawan di bagian resepsionis untuk segera menyingkirkan karangan bunga itu.


"Pagi, Pak." Brandy menyapaku yang masih berdiri di depan meja resepsionis. Aku hanya menoleh padanya lalu mengulas senyum tipis.


Mata Brandy langsung tertuju pada papan karangan bunga itu dan membulat sempurna. Lalu melirikku dengan wajahnya yang bingung. Tanpa mengatakan sepatah kata pun, aku langsung melangkah meninggalkannya menuju lift untuk pergi ke ruangan kerjaku.


Kuhempaskan bokong ini pada kursi kerjaku lalu kuembuskan napasku dengan perlahan. Brandy sudah terlihat di ambang pintu ruanganku, aku menyuruhnya masuk dengan kode tanganku, sebelum ia mengetuk pintu itu.


"Sepertinya lelaki itu semakin kehilangan akal sehatnya. Selalu mengirimkan barang yang tidak penting dan tidak berguna." Dengan kalimat halus Brandy menyampaikannya padaku.


Aku berdecih lalu berkata, "Biarkan aja, selama dia gak muncul, saya menganggapnya hanya angin lalu. Jadwal saya hari ini apa?" tanyaku sambil menyalakan komputer di depanku.


Brandy langsung membuka iPad-nya lalu memeriksanya. Kemudian dia mengatakan jika hari ini aku tidak memiliki jadwal apa pun. Minggu depan, sudah genap satu tahun aku memegang kendali perusahaan ini. Banyak rintangan yang sudah berhasil aku lalui hingga sampai pada titik ini.


Kondisi perusahaan juga perlahan mulai membaik dan meningkat. Beberapa investor sudah aku dapatkan dengan beberapa kerjasama yang juga sedang berjalan. Aku sungguh berterima kasih pada Brandy yang benar-benar membantuku mengurus kantor ini. Dan terlebih lagi ucapan terima kasihku pada Max, dialah yang banyak membantuku. Mengajariku tentang banyak hal.


Sebelum aku memutuskan menyuruh Brandy keluar dari ruanganku, tiba-tiba saja ponselku berdering.


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎶


Aku merogoh benda tipis bernilai jutaan yang sejak tadi sudak mengisi saku celanaku. Lalu mendapati nama Haikal tertera di layar depan.

__ADS_1


"Hallo?" sahutku dengan menempelkan ujung speaker dari ponselku. Dengan tangan satunya yang memberikan kode pada Brandy untuk meninggalkan ruanganku.


Di seberang sana, aku mendengar suara dari Haikal yang menyampaikan bahwa, malam ini akan ada acara makan malam penting di rumah mamah mertuaku. Dan dia memintaku secara khusus untuk ikut berhadir di sana. Haikal juga sudah menghubungi Tika dan ia juga mengatakan untuk mengajak kedua orang tuaku pada acara malam ini. Aku menyetujuinya.


Tak lama berselang setelah sambungan teleponku dan Haikal berakhir, kini giliran Tika yang menghubungiku. Aku tersenyum dibuatnya saat melihat nama serta fotonya muncul di layar ponselku.


"Rasanya belum sejam deh aku ninggalin rumah, sudah nelpon aja. Kangen ya?" Aku menggodanya.


Tika tertawa pelan di seberang sana. Lalu menyampaikan hal serupa yang baru saja di katakan oleh kakaknya—Haikal.


"Aku sudah kasih tahu mama sama papa, jadi nanti pulangnya jangan telat." Tika mengancamku.


"Iya, nanti siang aku sudah pulang. Tenang aja." Aku berkata santai.


Begitu selesai, segera aku putuskan sambungan telepon itu. Kemudian kembali berkutat dengan beberapa laporan dari Brandy yang harus aku periksa. Lalu kembali memanggil Brandy melalu telepon intercom di atas meja kerjaku.


"Ke sini sekarang," titahku padanya.


Tok tok tok!


"Permisi, Pak." Brandy selalu saja bersikap sesopan itu jika berada dalam lingkungan kerja. Aku mengagumi sikap profesionalisme yang dia tunjukkan padaku.


"Kemari." Kemudian aku menyuruhnya untuk duduk. "Ini di luar pekerjaan, tolong kenalin gua sama anak buah lu itu. Yang kemarin bantuin gua buat mata-matain pak Hardi." Aku memohon pada Brandy. Dia menatapku dengan curiga.


"Buat apa? 'Kan urusan sama pak Hardi udah kelar?" tanya Brandy heran.


"Bukan buat pak Hardi, itu udah gak penting."


"Trus buat siapa?"


"Buat bini gua, sama anak-anak gua. Gua mau mereka dijagain dari jauh. Gak tahu kenapa, tiba-tiba perasaan gua gak enak aja. Mending gua jaga-jaga 'kan daripada ada apa-apa?"


Karena cepat atau lambat, orang-orang licik pasti akan bermunculan untuk menjatuhkanku. Untuk menghancurkan perusahaan ini, setidaknya itu yang aku pelajari dari Max. Dan dengan cara ini juga aku bisa melindungi perusahaan ini. Entah itu dari orang-orang sejenis pak Hardi ataupun dari orang-orang yang kelak akan menjadi rekan bisnisku.


—————


Max POV.


Hari ini rumah mamah dibersihkan, semua orang sibuk lalu-lalang menyiapkan segala sesuatunya yang diperlukan untuk acara Haikal. Tadinya hanya ada rencana acara makan-makan santai untuk memperingati hari kelahirannya. Tapi kemudian mamah malah membuat acara makan-makan itu menjadi lebih luas lagi ruang lingkupnya.


"Kamu jangan lupa kabarin mertua kamu ya? Adik ipar kamu juga diundang," titah mamah padaku. Aku hanya menganggukkan kepalaku.


Dan hari ini, aku sengaja tidak masuk ke kantor. Sebab mamah meminta bantuan pada Shilla—istriku. Untuk ikut mempersiapkan semuanya. Jadilah aku tinggal di kamar saat ini menemani anak pertamaku untuk bermain. Menjadi baby-sitter sementara.


Pagi tadi aku langsung menghubungi mertuaku dan adik iparku, mengundang mereka untuk datang ke sini. Ikut merayakan hari kelahiran adik lelakiku dan mereka mengatakan pasti akan datang. Shilla terlihat senang saat itu, apalagi saat mengetahui jika orang tuanya pasti akan datang.


Saat itu aku baru menyadari, mungkin benar apa kata Tika. Mertuaku juga pasti segan untuk mendatangi cucunya jika aku berada di rumah mamah. Dan Shilla pasti diam saja, sebab dia adalah tipe-tipe istri yang menurut pada suami. Lalu, apakah aku juga harus mulai pindah kembali ke rumah kami?


Entahlah, mungkin aku akan memikirkannya nanti.


***


Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore, saat Tika dan juga Jefri datang ke rumah dengan kedua anak mereka. Mereka sengaja datang lebih cepat untuk membantu menyiapkan segala keperluan. Sabab baru kali ini acara untuk Haikal diadakan seperti ini. Biasanya hanya hari ulang tahun Tika yang kami adakan. Kali ini entah mengapa mamah menyulapnya menjadi semua ini.


Persiapan hampir rampung, makanan sudah selesai dibuat. Ya, mamah dan bi Mince sengaja memasak sendiri semua hidangan, membuat semuanya terlihat lebih spesial. Tiba-tiba ponselku berdering.


🎶

__ADS_1


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


My location unknown tryna find a way back home to you again


I gotta get back to you gotta gotta get back to you


🎶


Tanganku segera menyambar benda tipis yang tadinya kuletakkan di atas nakas. Lalu melirik layarnya, tertulis nama Haikal di sana. Segera aku menerima panggilan telepon itu lalu menggeserkan tombol hijau pada layar dan menempelkan ujung ponsel pada telingaku. "Hallo?"


Terdengar suara Haikal dari seberang sana. Dia menanyakan padaku bagaimana kondisi di rumah saat ini, sebab ia baru saja pulang dari rumah sakit dan sedang menuju ke rumahnya sendiri untuk membersihkan diri terlebih dahulu.


"Bukan dihiasi, cuman dibersihkan aja. Lagian kamu mendadak banget bilangnya. Ya udah cepetan, aku tunggu." Aku terkekeh geli, sebab di seberang sana Haikal mengatakan bahwa dia merasa gugup. Entah apa yang membuatnya gugup.


Semua persiapan telah selesai saat aku mencoba untuk keluar kamar, memeriksa apa yang sedang mamah lakukan saat ini. Dan ternyata mamah sudah tidak ada lagi di dapur.


"Mana mamah, Bi?" tanyaku pada bi Mince yang masih berada di dapur.


"Sudah naik, Den, ke atas buat siap-siap."


Aku mengangguk-anggukan kepalaku pelan. Setelah itu, aku langsung menuju ke halaman belakang untuk melihat para katering kue yang sedang mempersiapkan beberapa sajian pencuci mulut. Semua tersaji begitu mewah dan tertata dengan rapinya. Lalu tiba-tiba seseorang menepuk pundakku yang membuatku spontan menoleh.


"Ini kok persiapannya udah kek mau lebaran aja?" protes Tika yang membuatku tertawa.


"Ini ngalah-ngalahin open house buat lebaran, tinggal kurang toples kue keringnya aja lagi." Aku menambahi sambil tertawa cekikikan.


Kemudian aku berjalan menuju sofa dan duduk di sana, Tika mengikuti. Kami berbincang panjang dan lebar tentang suasana rumah ini semenjak dia tidak lagi menginap di sini. Tika juga menanyakan tentang beberapa teror dari Dana yang aku dapatkan di kantor.


Teror yang lelaki itu lakukan, lambat laun membuatku terbiasa dengan semua keekstreman yang dia lakukan. Pernah satu waktu aku menerima sebuah bingkisan yang mana isinya ternyata sebuah boneka yang tanpa kepala dan penuh dengan bercak kemerahan layaknya darah. Dan masih banyak hal lainnya yang dia kirimkan padaku. Untungnya, semua teror itu aku terima di kantorku, bukan di rumah. Sehingga tidak membuat Shilla dan juga mamah merasa cemas.


Tanpa terasa matahari mulai meredup, langit mulai menggelap dan semilir angin sejuk mulai terasa, sebagai penanda bahwa malam akan segera hadir. Ada rasa bahagia aku melihat Tika sore ini, saat dia menceritakan tentang kesehariannya di rumah mertuanya yang begitu menyayanginya. Setidaknya dia tidak merasakan langsung teror dari mantan pacarnya yang gila itu.


"Hai ... hai ...," seru Haikal yang tiba-tiba datang dan bergabung dengan aku dan Tika.


Kami mengucapkan selamat ulang tahun padanya. Haikal terlihat begitu senang, bahkan sudut bibirnya selalu tertarik, menampilkan senyumannya.


"Kenapa tiba-tiba minta dirayain begini? Udah tuek juga," godaku sambil menatapnya.


"Ada yang ingin aku lakukan malam ini. Kalian gak siap-siap apa?" protes Haikal yang memandangiku dan Tika secara bergantian.


Kemudian aku dan Tika segera beranjak berdiri dan meninggalkan Haikal tanpa pamit.


—————


Haikal POV.


Aku berdiri dari dudukku setelah kakak dan adikku pergi. Kepalaku menoleh ke kanan dan ke kiri, memerhatikan ke sekelilingku. Semua sudah terlihat rapi dan mengesankan. Sepertinya mamah benar-benar tidak memberitahukan pada siapa pun jika aku akan melakukan sesuatu malam ini. Semoga saja rencana ini berhasil.


Kemudian aku segera berjalan menuju lantai atas, ke kamar mamah.


Tok tok tok!


"Mah ... Mamah ...," panggilku dari luar kamar.


Perlahan aku mendorong kenop pintu kamar mamah, setelah mendengar suara mamah dari dalam kamar yang mengizinkanku masuk. Lalu aku berbicara empat mata dengan mamah.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2