
Selamat membaca ...
——————————
Clara POV.
Bergegas aku menuruni tangga kantor lalu memasuki sebuah lift, sebab Tika telah mengatakan bahwa dia sudah hampir sampai di depan lobby gedung ini melalui sambungan telepon yang sebelumnya kami lakukan. Dan benar saja, bertepatan saat aku keluar dari lift, kedua mataku sudah melihat mobilnya yang melintas, aku segera menghampirinya. Kemudian tika menurunkan kaca mobilnya dan menyapaku, “Hai, ayo masuk.”
Sebuah senyuman lebar aku berikan padanya lalu segera memasuki mobil dan mengenakan safety belt-nya. “Beneran nih gak apa-apa nemenin aku?” Aku merasa tidak nyaman karena selalu merepotkannya.
“Udah, gak apa-apa, kok! Santai aja.”
“Trus si kembar sama siapa?” Aku sangat menyukai kedua anaknya itu, sangat lucu dan juga menggemaskan.
“Mereka sama mertua aku. Tenang aja. Jadi kita langsung ke store-nya di Kemang, 'kan?” Tika kembali memastikan ke mana arah tujuan kami, yang aku jawab dengan sebuah anggukan saat dia hendak menjalankan mobilnya.
Di sepanjang perjalanan menuju wilayah Kemang, cukup banyak yang kami perbincangkan. Tidak hanya membahas tentang pernak-pernik pernikahan saja, aku juga menanyakan tentang bagaimana caranya dia dan juga Jefri bertahan bersama, dengan ujian yang terus saja menghampiri hubungan mereka.
Tika tetap terlihat santai, bahkan dia seakan sudah berpengalaman banyak tentang hubungan pernikahan. Tanpa ragu dia berbagi pengalaman hidupnga padaku. Seakan kami sudah lama kenal. “Jadi dulu Jefri juga gak ngelarang kamu buat terus kerja?”
“Enggak. Dia support banget. Sampai akhirnya aku hamil terus masalah muncul. Aku jadi waswas juga kalo kerja terus. Akhirmya aku sendiri yang bilang sama dia, kalo mau resign.”
“Trus responnya?” Aku penasaran.
“Awalnya dia biasa aja, nanya-nanya alasannya, trus nanya apa yang bakalan aku lakuin kalau semisalkan aku bosen di rumah. Sampai akhirnya aku ngeliat dia kayaknya ngerasa bahagia banget waktu aku sendiri yang memutuskan buat resign. Tapi dia sembunyiin rasa senengnya, gak mau terlalu nampakin gitu.”
Aku tertawa ringan. “Kayaknya rata-rata cowok tuh gitu ya? Bisa nyimpen perasaannya biar gak terlalu nyakitin perasaan ceweknya.”
“Iya, tapi juga mesti hati-hati sama cowok yang tipe begitu, tipe yang kelihatannya menjaga banget sama perasaan pasangan. Tapi tahunya, saking menjaganya, dia malah selingkuh di belakang. Dan semua itu dibungkus rapet banget. Sampai gak kecium baunya.” Tika melanjutkan ceritanya.
“Jefri pernah gitu?!”
“Untungnya sih belum pernah dan semoga aja gak akan pernah. Kalau sampai kejadian, bisa-bisa aku bawa kabur tuh Nathan sama Naila.”
“Iya, bener, jangan sampai deh. Amit-amit!”
Masih banyak lagi yang kami bicarakan saat itu, lebih tepatnya yang aku tanyakan. Aku lebih merasa nyaman untuk bertukar pendapat dengan Tika, jika dibandingkan dengan Shilla, istri Max. Tika juga terlihat lebih welcome padaku daripada istri calon kakak iparku itu.
Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk kami sampai ke tempat tujuan. Kemudian segera turun begitu Tika selesai memarkirkan mobilnya. Pengambilan cincin itu telah selesai, aku juga sudah mencobanya sebelum akhirnya kami memutuskan untuk kembali meninggalkan toko itu dengan beberapa kali mengucapkan rasa terima kasihku pada pemilik store.
“Sampaikan salam saya pada, Pak Haikal. Terima kasih sudah mempercayakan kami sebagai pilihan utama untuk memghiasi hari bahagia kalian.” Sang pemilik store itu berujar.
“Maaf jika saya terlalu cerewet untuk menentukan design.” Aku membalasnya dengan sopan.
__ADS_1
“Kami bisa mengerti dan semua itu hal wajar, karena semua pasangan ingin impiannya terwujud dan ingin semuanya sesempurna mungkin.”
“Sekali lagi terima kasih, saya akan sampaikan salamnya kepada Haikal. Permisi,” tuturku kemudian keluar dari store itu dengan membawa sebuah tas khusus yang berisi cincin pernikahanku dengan Haikal.
Setelah itu, aku dan Tika kembali melangkah menuju mobil. Tika juga sempat mengatakan pendapatnya begitu melihat cincin tadi sebelum aku mencobanya. Dia mengatakan bahwa design cincin pernikahan kami begitu mewah dan terlihat sangat elegant. Aku menyukainya.
“Kita makan dulu ya? Habis itu mau ke mana lagi?” tawar Tika, aku menyetujuinya untuk makan siang terlebih dahulu, sebelum kami melanjutkan kegiatan lainnya.
Satu per satu rencana kami berdua hari ini terselesaikan. Aku juga menemani Tika dalam berbelanja bulanan untuk kebutuhan kedua anaknya. Sambil sesekali membicarakan beberapa perihal penting.
Sampai akhirnya ada sebuah tangan yang menepuk pundakku, saat aku dan Tika sedang menikmati segelas kopi pada sebuah coffee shop.
“Clara?!”
Kepalaku langsung menoleh ke arah belakang, mencari tahu siapa pemilik suara yang memanggil namaku. Ternyata dia adalah Jovanka, temanku semasa sekolah dulu. “Hai,” balasku menyapanya lalu berdiri memeluknya, “apa kabar?” seraya menempelkan kedua sisi pipiku bergantian.
“Baik. Kamu juga apa kabar?”
“Baik banget dong. Kerja di mana sekarang?”
“Iih malah nanyain kerjaan. Masih aja suka kasih pertanyaan gak normal.” Jovanka menepuk pelan punggung tanganku.
Aku tertawa pelan. “Tadinya mau nanyain udah punya anak berapa, tapi ntar malah jadi pertanyaan boomerang.”
Aku hanya menganggukkan kepala dan kembali berseru memanggilnya saat dia sudah sedikit menjauh dariku. “Joo!!” Sambil berlari kecil aku menghampirinya.
“Kenapa?”
“Minta nomer kamu dong. Ada sesuatu yang mau aku tanyakan nanti.” Aku menyerahkan ponselku padanya dan Jovanka langsung menuliskan beberapa angka pada layar ponselku. Lalu menyodorkannya kembali.
“Jangan lupa miss call, biar aku juga bisa save nomer kamu. Aku pergi dulu, bye!” Aku melambaikan tanganku padanya.
Dulunya Jovanka juga salah satu teman masa kecilku, sebelum pindah ke rumah yang sekarang keluargaku tempati. Di rumah yang dulu, aku banyak memiliki teman. Bahkan ada yang seumuran dan ada pula yang lebih tua dariku. Ah—aku jadi kembali mengingat masa kanak-kanakku.
Aku pandangi punggung teman kecilku yang berjalan semakin menjauh itu, hingga dia menghilang di balik pintu lift. Dia sempat tersenyum dan melambaikan tangannya, sebelum memasuki lift itu. Lalu aku kembali melangkah masuk ke dalam coffee shop, duduk di depan Tika.
“Udah lama gak ketemu ya?” tegur Tika.
“Iya, kok tahu?” tanyaku setelah mengangguk.
“Kelihatan aja. Trus udah dapet nomernya?”
“Udah, ini lagi aku save. Dia temen aku dari kecil juga. Dulu aku pernah punya rumah sebelum rumah yang sekarang.”
__ADS_1
Tika menganggukkan kepalanya dan juga ikut tersenyum senang melihatku yang gembira seperti ini. Bagaimana tidak gembira jika aku bisa bertemu dengan teman-temanku yang dahulu?
Ya, sebelum pindah dan saat aku masih anak-anak, aku adalah salah satu anak perempuan lumayan ceria dan juga lumayan jahil. Aku akui itu. Sebab tidak jarang aku mengerjai teman sekomplek.
Namun, beranjak memasuki dunia sekolah, ayah dan bundaku mengajakku pindah, sebab lingkungan perumahan itu tidak lagi nyaman seperti dahulu dan juga kurang kondusif. Sampai perlahan satu per satu tetangga kami yang lain juga mulai berpindahan. Keluar dari kompleks perumahan itu dengan alasan untuk melindungi anaknya.
Begitu pula dengan ayah dan bunda saat itu. Ketidakharmonisan dari salah satu tetangga di sebelah rumah kamilah yang menjadi penyebabnya. Entah apa yang terjadi dahulu, belum terlalu jelas bagiku dan aku pun tidak ingin mencari tahunya. Aku hanya ingin mengenal teman masa kecilku di masa sekarang. Masa saat kami sudah menjadi lebih dewasa.
Pletak!!
Tika menjentikan jarinya, membuat mataku kembali terfokus menatapnya, membuyarkan semua lamunanku. “Trus bengong aja ... kamu gak balik ke kantor lagi nih, udah sore gini?”
“Oh enggak, tadi aku udah sekalian izin juga buat ngurusin ini semua.”
“Oh ya udah, gimana kalo kita ke salon?” ajak Tika.
“Salon? Ngapain?”
“Perawatan. Aku juga gak sering sih ke tempat-tempat perawatan gitu, biasanya ngelakuin sendiri di rumah, sembari jagain anak tidur. Tapi beberapa hari ini selalu gak sempat. Gimana?”
Aku berpikir berkali-kali lalu melirik Tika sekilas. Menimbang-nimbang tawaran calon adik iparku ini. Hanya saja, aku benar-benar belum pernah ke salon kecantikan. Tidak pernah melakukan perawatan seperti itu dan lagi aku tidak mengerti tentang beberapa istilah yang ada di dalam sana nantinya.
“Tapi aku enggak ngerti sama sekali tentang salon dan perawatan sejenis itu ...,” bisikku pelan sembari melirik ke kanan dan ke kiri. Takut jika ada yang mendengarnya.
“Udah gampang nanti aku yang pilihin, paling lama juga dua jam. Kita ambil yang bentaran aja, jadi malem udah bisa balik.”
Aku mengangguk setuju. Setelah kami menghabiskan minuman serta camilan yang tersaji di atas meja, kami berdua segera pergi meninggalkan sebuah mall di kawasan Kemang itu, langsung menuju ke sebuah tempat khusus untuk perawatan wanita. Aku mengikuti langkah Tika dan menyetujui beberapa treatment yang dia pilihkan untukku.
Semua perawatan yang Tika anjurkan begitu aku nikmati hingga tidak terasa aku sampai tertidur pulas di dalam kamar perawatan. Mungkin suatu saat nanti aku harus kembali mencobanya.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.
Babay.
Terima kasih 💋
__ADS_1
@bossytika