Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 192


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


Seminggu berlalu setelah beberapa persiapan pernikahanku perlahan rampung. Semua pihak vendor beserta keluarga besarku sangat membantuku kali ini. Bahkan Tika beberapa kali menemani Clara untuk melakukan ritual kewanitaan mereka. Entah itu ke salon ataupun sekedar menyiapkan hal-hal kecil untuk acara kami. Di saat aku tidak bisa menemaninya.


Seperti hari ini yang terpaksa, Clara kembali pergi dengan Tika saat jam makan siangnya. Tika yang menjemputnya untuk pergi ke salah satu toko perhiasan, mengambil cincin pernikahan kami yang telah selesai. Juga sekaligus membeli beberapa keperluan kewanitaan lainnya. Setidaknya seperti itu izinnya padaku melalui telepon beberapa menit yang lalu.


Tok tok tok!


“Masuk!” seruku dengan mata yang masih melekat menatap layar komputer di depanku. Kemudian melirik sekilas, melihat siapa orang yang berada di balik pintu itu, ternyata Dokter Ranti.


“Hei, 20 menit lagi, anak magang kembali berkumpul dan siap dilepas sesuai post-nya.” Dokter Ranti hanya menyembulkan kepalanya dari pintu yang dibukanya itu.


“Oke, aku akan ke sana sebentar lagi.”


Setelah itu Dokter Ranti mengangguk dan kembali menutup pintu. Membiarkanku menyelesaikan pekerjaan ini terlebih dahulu. Dan untuk urusan pengelolaan rumah sakit sendiri, banyak berkas yang harus segera aku tangani.


Begitu selesai satu berkas untuk saat ini, aku meninggalkan pekerjaan itu. Mengakhirinya lalu berdiri untuk mengganti pakaianku mengenakan seragam hijau muda. Kemudian segera keluar dari ruanganku untuk menemui Dokter Ranti.


Kakiku menginjakkan lantai di ruangan meeting rumah sakit ini. Biasanya, ruangan ini kami gunakan untuk proses perencanaan rekapitulasi untuk rumah sakit ini yang mana semua dokter yang ada di sini dapat ikut menghadiri perkumpulan tersebut.


“Kapan mereka semua balik lagi ke sini?” tanyaku sembari melangkah masuk mendekati Dokter Ranti.


Dia melirik jam tangannya lalu berkata, “Paling sebentar lagi, tadi Bella bawa mereka keliling.”


Aku mengangguk kemudian menarik kursi untuk duduk di sampingnya. Semenjak tadi matanya terus saja menatapi layar laptopnya, hanya teralihkan saat melirik jam tangan. Diam-diam aku mengintip isi laptop itu, melihat apa yang sedang ia kerjakan.


“Apaan sih, Kal?” tegurnya memergokiku.


Hanya sebuah senyuman yang aku kembangkan untuknya lalu kembali membenarkan posisi duduk. Sesekali mata ini melirik jam tanganku, sudah lima menit berlalu tetapi para anak magang itu belum juga sampai dan memasuki ruangan meeting ini.

__ADS_1


Gelisah. Kemudian aku memutuskan untuk berdiri dari dudukku, berjalan menuju pintu dan di saat itulah pintu terbuka secara mendadak. Menghasilkan sebuah dentuman lumayan kuat pada bagian keningku.


Debuk!!


Bagian daun pintu itu mendarat sempurna pada keningku membuat langkah kakiku sedikit terpental ke belakang. Dan dengan spontan aku mengaduh serta mengelus keningku. “Aduh!!”


“Astaga, maaf, Mas!! Aku gak tahu kalo ada orang di belakang pintu.” Suara lembut seorang wanita seraya menyentuh pergelangan tangan di keningku. Aku tersentak dan menepis jemarinya itu.


“Ehem!!” Dokter Ranti berdeham, membuat wanita itu melemparkan pandangan ke arahnya.


“Maaf, Dok!” ucap wanita itu. Kemudian para anak magang lainnya mulai memasuki ruangan dari celah di belakangnya. Begitu pula dengan aku yang mulai melangkah, kembali menuju kursiku sebelumnya.


Denyutan di kening ini masih terasa begitu aku menjatuhkan bokong ke kursi. Sedangkan para anak magang lainnya sudah mulai mengambil posisi duduknya masing-masing. Dokter Ranti mulai berdiri dan membuka pertemuan itu dengan beberapa sambutan kata dan penjelasan.


Setelah itu, barulah dia mempersilakanku untuk melanjutkannya. Aku tidak bicara banyak, hanya memberikan motivasi dan beberapa reka adegan yang sering dialami oleh para karyawan di rumah sakit ini. Sebab nantinya, mereka bukan hanya akan membantu dalam bidang perawatan saja, tetapi mereka semua akan merasakan bagaimana menjadi pendamping dokter saat dalam ruang operasi, bagaimana cara handle pasien dan masih banyak hal lainnya.


“Saya harap kalian memiliki tekad yang kuat. Sebab akan banyak kendala ke depannya yang nanti akan kalian hadapi. Bukan hanya pasien, tetapi juga beberapa tingkah laku keluarga pasien. Jadikan kesabaran kalian berada pada tingkatan yang tertinggi.” Setelah mengatakan kalimat itu, akhirnya aku mulai berpamitan pada mereka lalu meminta Dokter Ranti dan juga perawat Bella untuk mulai membagi tugas mereka.


“Habis kelar ke ruangan aku, ya? Sekalian bawa hasil anak magang sebelumnya. Kita memerlukan tenaga karyawan yang baru,” bisikku pada Dokter Ranti lalu melangkah keluar ruangan meeting itu.


“Sudah berapa lama Dokter Adam di sana?” tanyaku pada salah seorang perawat yang menjada meja center ruang UGD ini.


“Sudah lebih dari 15 menit, Dok.”


Kembali aku memandanginya dari jauh, sebab menurutku sudah terlalu lama dia melayani seorang pasien dengan jangka waktu sepanjang itu. Aku memberikan kode dengan menunjuk jam tangan pada pergelangan tanganku. Dia menyadarinya, lalu aku kembali berbalik dan bertanya-tanya pada perawat jaga tersebut.


Tak lama setelah itu, Dokter Adam menghampiriku. “Aku tunggu 15 menit lagi di ruanganku, ada yang mau aku bicarakan.” Kemudian aku pergi meninggalkannya setelah itu dengan wajahnya yang terheran-heran melihatku.


**


Kini beberapa dokumen yang aku periksa perlahan mulai menipis. Sedari tadi aku mencoba fokus untuk menyelesaikan semuanya hari ini, sebab masih banyak hal lain yang harus aku kerjakan selain mengurusi ini.


Belum lagi bagian UGD yang mulai kekurangan tenaga kerja dokter dan perawat. Aku tidak bisa lagi untuk memegang kendali pada bagian itu. Sudah saatnya bagian itu aku limpahkan pada dokter lain yang berkompeten, tetapi siapa?

__ADS_1


Perlahan aku teringat dengan keningku, lalu memijitnya pelan. Di saat yang bersamaan suara pintu ruanganku diketuk oleh seseorang.


Tok tok tok!


Tanpa berpikir lama, aku langsung menyahuti ketukan pintu itu dan menyuruh masuk. Sebab aku pikir yang mengetuk itu adalah Dokter Ranti ataupun Dokter Adam, hanya mereka berdualah yang aku tunggu sedari tadi.


Namun ternyata aku salah, seseorsng yang muncul dari balik pintu itu adalah orang lain. Orang yang tidak aku kenal—lebih tepatnya wanita—yang tidak aku tahu siapa.


“Maaf, boleh saya masuk?” tanyanya.


“Iya, silakan. Tapi maaf, apa saya punya janji dengan Anda sebelumnya?” Aku terheran-heran melihatnya. Tetapi begitu aku lebih lama memandangi raut wajah itu, rasanya tidak begitu asing.


“Oh, apa saya perlu mengatur janji temu dahulu dengan Anda? Jika iya, biar saya lakukan.” Dia seperti tidak keberatan untuk melakukan hal itu.


“Maaf, saya hanya sedikit bingung. Sebab saya sudah tidak membuka pemeriksaan pasien secara pribadi lagi. Jadi saya sedikit aneh melihat Anda.”


Wanita itu terkekeh, kemudian berjalan mendekati. Aku sontak berdiri melihatnya yang mengarah ke mejaku, rasanya tidak sopan jika menerima tamu dalam keadaan duduk.


“Saya Jovanka. Anak magang di sini. Dan bukankah tadi saya yang menyebabkan kening Anda itu memar?” Dia meneruskan langkahnya hingga memgarah pada tempatku duduk. Kemudian tiba-tiba saja tangannya meraih tengkuk leher untuk menahan lalu tangan yang satunya lagi mengelus pelan di sekitaran memar pada keningku.


Aku terkejut dengan perlakuannya itu. Sontak aku mengelak, tetapi percuma. Wanita itu mengunci kepalaku dengan menggunakan tangannya. Bertepatan dengan kejadian itu, Dokter Adam dan juga Dokter Ranti datang membuka pintu lalu terkejut. Terperangah melihat kodisi yang tidak mungkin itu.


Dengan cepat aku kembali menepis tangan wanita itu, sebelum semuanya terlambat.


Bersambung ...


——————————


Mohon maaf jika update lebih sedikit dan jarang, sebab aku sepertinya kurang bersemangat dan membutuhkan mood booster 😭


Coba tulisin di kolom komentar, gimana cara kalian biar kembali semangat??


Terima kasih 💋

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2