Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 98


__ADS_3

Clara POV.


Bahagia. Itu yang aku rasakan saat ini dan untuk beberapa hari ke depan. Rasanya tidak bisa aku ungkapkan lagi. Aku terlalu senang dengan apa yang terjadi. Tidak pernah aku menyangka bahwa akan seperti ini akhirnya.


Ayah dan bunda juga tidak menyangka bahwa Haikal akan melakukan semua itu. Tadinya mereka berpikir, mungkin Haikal hanya akan meminta untuk menjadi pacar dulu, pendekatan dan lainnya, tapi nyatanya tidak.


Kupandangi lagi cincin yang kini melingkar di jari manisku. Cincin bertahtakan berlian berkilauan. Cincin yang tidak kusangka akan menjadi milikku. Cincin yang menjadi sebuah tanda pengikat di antara kami.


"Dipandangin terus." Suara Haikal memecah lamunanku. Aku tersenyum melihatnya datang.


"Ayah sama bunda mana?"


"Em, udah panggil ayah bunda nih?" ledekku tersenyum.


Haikal berjalan mendekatiku dengan membawa sebuah kantong plastik putih. Lalu meletakkannya di meja di sampingku. Dia langsung membukakan dan menyiapkan makan siangku, dia tau aku belum makan karena nampan dari rumah sakit masih terisi penuh. Dia menemaniku makan, hingga akhirnya selesai.


"Hari ini aku mau ngomong sesuatu. Aku juga kepingin jujur sama kamu, biar ke depannya kita jalanin tanpa ada yang di tutup-tutupin." Dia kembali duduk di kursinya setelah membereskan alat bekas makanku.


Aku tersentuh mendengar dia yang akan menceritakan masa lalunya. Dia yang mau bersikap terbuka padaku. Dengan sambil menggenggam salah satu tanganku, dia bercerita.


Bahwa dulu, dia pernah mencintai seorang wanita berdarah campuran, Indonesia—Perancis. Mereka bertemu di London saat kuliah dengan jurusan yang sama, kedokteran. Jasmine nama wanita itu.


Haikal mencintainya, tapi entah mengapa wanita itu malah memilih bunuh diri untuk mengakhiri hidupnya. Singkatnya, setahu Haikal, dia memilih jalan itu karena depresi dengan kehidupan sekelilingnya. Bahkan Haikal mengira, dengan adanya dia, wanita itu tidak perlu mengambil jalan pintas. Sejak itulah, Haikal tidak pernah lagi mendekati wanita. Haikal takut jika kehadirannya tidak memberikan dampak positif pada hidup wanitanya.


"Makanya aku harap, kamu semangat melawan Asma itu. Jangan tinggalin aku." Dia mengecup punggung tanganku.


Lagi-lagi dia membuatku tersentuh.


Serangkaian pemeriksaan telah aku lalui, tapi aku memang belum di perbolehkan untuk pulang. Padahal aku sudah merasa baik-baik saja. Kata dokter Ranti, jika besok sistem pernapasanku tetap normal, barulah aku diperbolehkan pulang.


Selain perawat yang sering memberikan ucapan selamat, dokter Ranti juga tidak mau ketinggalan, dia secara khusus datang hanya untuk memgucapkan itu.


"Selamat ya, akhirnya hati bekunya Haikal bisa kamu cairkan juga," ucapnya saat menyuntikkan vitamin ke dalam selang infusku. Aku hanya tersenyum.


Kemudian dokter Ranti juga mengatakan bahwa, sangat sulit untuk memenangkan hati Haikal. Karena dia telah mencoba beberapa kali. Tapi selalu gagal. Oleh sebab itu, akhirnya dokter Ranti menyerah.


Aku sempat tidak mengerti, mengapa dokter Ranti menceritakan itu padaku. Mengatakan dengar jujurnya bahwa dia menyukai Haikal.


"Apa sampai sekarang dokter masih mencintainya?" Pertanyaan absurd ini mulai keluar dari mulutku. Pertanyaan yang mungkin tidak akan di jawab olehnya.


Dokter Ranti terkekeh pelan, lalu menatapku. "Iya, aku memang masih mencintainya, tapi bukan untuk memiliki. Mungkin aku akan lebih bahagia jika melihatnya tersenyum dengan menggenggam kebahagiaannya sendiri. Walaupun itu bukan dengan aku." Dia tersenyum mengakhiri kalimatnya.


Kemudian setelah selesai memeriksaku, dokter Ranti langsung pamit untuk memeriksa pasien lainnya.


————————————————


Tika POV.


Aku dan Jefri berbaring di atas ranjang yang pemandangannya langsung menghadap hamparan luas lautan. Begitu cantik dan begitu mengagumkan. Tidak salah memang jika sebagian orang memilih liburan ke tempat ini.


Begitu pula dengan Jefri yang selalu menginginkan liburan ke sini. Tempat yang sunyi, tempat yang hanya terdengar deru ombak. Tempat yang benar-benar bisa membuat siapapun yang datang, bisa merasakan ketenangan.


Waktu masih menunjukan pukul empat sore, aku dan Jefri masih bermalas-malasan di atas ranjang empuk penginapan ini. Bahkan Jefri berkali-kali terbangun lalu menutup matanya lagi. Kami masih merasa jetlag.


Jefri berbalik, membelitkan tubuhnya pada tubuhku, bermanja. Dia selalu saja seperti ini jika berduaan denganku, membuat hasratku muncul tak terkendali.


🎶


You so fuckin' precious when you smile


Hit it from the back and drive you wild


Girl, I lose myself up in those eyes


I just had to let you know you're mine


🎶


Ponselku tiba-tiba berdering, aku beranjak mengambil yang menyimpankan poselku di dalamnya. Ku lihat siapa namanya yang menelpon, unknowns number?


Aku mengernyitkan dahi lalu segera menggeserkan tombol hijau pada layar ponselku.


"Hallo?" Jawab Jefri yang secara tiba-tiba merebut ponselku itu dan menjawab teleponnya.


Aku tercengang melihatnya yang tiba-tiba saja bersikap tegas menjawab telepon itu. Berkali-kali Jefri mengatakan 'hallo' yang kemudian di akhirinya dengan menutup sambungan telepon itu. Dia terlihat kesal.


"Kelar liburan nanti, kamu ganti nomer aja!" ucapnya kesal. Aku hanya terkekeh geli melihatnya.


Jujur saja selama ini aku belum pernah kesal atau marah yang seperti ini. Emosi yang meledak tiba-tiba. Dia berbalik arah dan kembali menuju ranjang.


"Lama kelamaan aku bisa gila tahu gak, kalo dia selalu gangguin kamu, selalu nelponin kamu. Belum lagi selalu kasih kamu kado yang bermerk, yang mahal!" omelnya.


"Tapi kan aku gak pernah mau terima hadiah dia? Lagian ngapain juga kita mikirin itu, katanya ngajak aku ke sini mau liburan kan?" sahutku manja.


Jefri mengangguk kemudian mencium keningku. Selama menikah, aku memang belum pernah melihatnya marah. Jangankan marah, mengomel saja tidak pernah atau mungkin aku yang lupa? Entahlah ...

__ADS_1


Jefri memelukku erat. Tangannya mengelus punggungku, sesekali dia mengecupi tengkuk leherku membuatku melenguh nikmat. Dia membalikkan tubuhku, kemudian menaikiku di atas ranjang. Menciumi bibirku sambil menyelipkan lidahnya di sana, sedangkan tangannya tak mau tinggal diam, perlahan tangannya membuka kancing kemeja yang kugunakan, satu persatu hingga semua terbuka.


Ciumannya turun ke tengkuk leherku, kemudian ke bagian dadaku hingga ke perut. Membuatku mabuk akan sentuhannya.


Semua terjadi begitu cepat. Tapi tetap saling memuaskan dan saling menikmati. Hingga akhirnya malam menyapa. Langit berubah memunculkan warna jingganya, membuat pemandangan yang kami lihat dari dalam kamar semakin indah.


***


Jefri masih tertidur pulas, saat mentari bersinar. Kubiarkan dia tertidur, sementara aku beranjak pergi ke dapur, melihat isi kulkas. Karena kata Lisa, penginapan ini benar-benar memberi fasilitas sampai bagian isi dapur. Ternyata benar, kulkas terisi penuh. Rasanya sudah lama aku tidak memasak makanan komplit.


Kuikat rambutku tinggi, agar tidak mengganggu proses memasakku. Kemudian aku mulai memasak, menyiapkan bahan, memotong hingga menumis.


Tiba-tiba sepasang tangan melingkar di perutku. Kemudian mulutnya mengecup pundakku lembut. Siapa lagi kalau bukan Jefri. "Aroma masakkan kamu bikin aku kebangun dari tidur. Wangi banget!"


Aku hanya terkekeh. Kusuruh dia untuk segera duduk agar aku bisa menghidangkan masakkan ini untuk sarapannya, dia menurut. Lalu kami sarapan bersama sambil membicarakan apa yang akan kami kerjakan hari ini.


Jefti memilih ingin berkeliling di sekitar penginapan ini dan aku menyetujuinya. Karena jujur saja, aku belum pernah ke sini dan aku hanya mengetahui tempat ini dari Gugel saja.


Seharian kami habiskan di luar dari penginapan. Duduk di pinggir pantai menikmati sebongkah kelapa muda, menyisiri penginapan sambil menikmati pasir putih yang memanjakan kaki kami.


"Malam ini kita makan di luar aja gimana? Tadi aku sempet cari di Gugel, ada resto bagus, mau gak?" tanya Jefri yang mendekapku dengan satu tangannya. Aku mengangguk cepat.


Jefri selalu saja bisa membuat aku bahagia, dia selalu memanjakanku. Aku tidak butuh barang mahal atau pun bermerk. Yang aku butuhkan hanya Jefri, ya, hanya dia.


Malam kembali hadir, ini malam kedua kami berada di sini. Menikmati hari dengan santai dan penuh canda tawa. Malam ini kami memutuskan untuk makan malam di salah satu restoran di kota ini.


Aku sengaja menggunakan longdress yang baru kubeli tadi siang saat kami berkeliling di kota ini. Begitupun dengan Jefri yang hanya menggunakan baju kaos dipadukan dengan celana jeansnya.


Banyak yang kami bicarakan setelah makan malam. Ditemani dengan segelas wine untuknya dan segelas jus mangga untukku. Kami membicarakan tentang masa depan hidup anak kami kelak. Dia juga memintaku untuk segera resign dari pekerjaanku jika aku merasa jengah. Apalagi semenjak beberapa hadiah yang datang akibat ulah Dana.


Ya, entah apa maksud lelaki yang satu itu. Seolah tidak ada letihnya memberiku hadiah yang membuang uang. Padahal dia juga tahu, kalau semua barang yang diberikannya itu pasti akan aku buang atau paling tidak aku berikan kepada yang lain. Entahlah, aku tidak mengerti.


———————————————


Haikal POV.


Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam. Aku memutuskan untuk pergi ke kamar inap Clara, untuk memastikan apakah dia sudah makan atau belum.


Saat kudorong pintu kamarnya, betapa terkejutnya aku, melihat mamah sedang duduk di kursi di samping dipan di mana Clara terbaring. Mereka tertawa bersama. Kulangkahkan kakiku untuk mendekati mereka dan menyapanya.


"Mamah udah lama di sini?" tanyaku.


"Lumayan ... kamu bolos kerja?"


Mamah dan Clara tertawa. Kemudian secara tiba-tiba saja suara di televisi mengacaukan pikiranku.


Berita di televisi mengatakan bahwa sebuah perusahaan swasta, Great Company, terancam bangkrut akibat permainan dari sebuah tender. Dalam berita itu juga menjelaskan bahwa banyak perusahaan yang melindungi perkembangan dari Great Company yang baru berjalab sekitar sepuluh bulan itu.


Saat mendengar berita itu, aku memutuskan untuk pamit pada mamah dan Clara, untuk kembali ke ruang kerjaku. 'Aku harus menelepon Max,' batinku.


Kulangkahkan kakiku dengan cepat menuju ke ruang kerjaku, kemudian mengunci pintunya dan menyalakan televisi, kembali mencari saluran berita tadi. Sambil ku rogoh ponselku, mencoba menghubungi Max.


Tutt ...


Tutt ...


Tutt ...


"Hallo, Max? Dimana? Udah liat berita sore ini? Enggak ... aku bingung aja, kok itu berita Great Company bisa sampe muncul ke permukaan? Bukannya kata kamu itu udah ditutupin? Ya udah, ketemu di rumah. Bye." Kuputuskan sambungan telepon kami, kemudian aku bergegas untuk segera pergi.


Ya, aku dan Max langsung berjanji bertemu di rumahku dalam dua puluh lima menit lagi.


Tak banyak yang bisa aku pikirkan saat ini, aku hanya bisa berdoa, semoga saja Tika dan Jefri belum mengetahui tentang ini.


Sesampainya di rumahku, aku langsung memarkirkan mobil di halaman samping. Tak berapa lama kemudian, Max juga datang dan memarkir mobilnya di pinggir jalan. Dia keluar dari mobilnya sambil membawa sebuah kantong plastik.


"Apa itu?" tanyaku saat jarak di antara kami hanya beberapa meter saja.


"Camilan."


Kubuka pintu rumahku dan kami langsung menuju ke balkon samping.


"Aku gak tahu kenapa berita itu bisa sampai muncul, yang jelas asistenku sudah mencoba mengalihkan berita itu." Max membuka suara sambil menyalakan sebatang rokok yang sudah terselip di antara kedua bibirnya.


Aku melakukan hal yang sama, meminta rokoknya lalu memyalakannya.


"Tika sama Jefri lagi liburan ke Maldives. Mereka gak bakalan tahu berita ini kalo mereka gak buka berita. Lagian, Senin depan Jefri baru masuk ke perusahaan papanya. Menurut cerita Tika, dia udah pelajarin beberapa dokumen tapi gak tau dokumen Great Company dipelajarin juga apa enggak."


"Kapan Tika bilang itu?" tanya Max.


"Beberapa hari yang lalu, setelah Lisa keluar dari rumah sakit. Trus rencananya gimana?"


Max terlihat berpikir dengan sepasang mata yang sambil menatapku. Kemudian Max memutuskan untuk kembali pada rencana awal, Tika harus bicara pada Jefri, agar mereka bisa melakukan akuisisi pada Great Company. Tapi dengan catatan, nama anak perusahaan Max tidak boleh bocor. Apalagi sampai nama perusahaan utama Max tiba-tiba muncul. Itu hanya akan membuat keadaan semakin tidak terkendali. Sebab banyak perusahaan kontraktor yang ingin di akui sebagai anak perusahaan Max.


Kemudian aku juga menceritakan tentang satu lagi masalah yang di hadapi Tika, yaitu tentang Dana. Mantannya yang kini mengganggu kehidupan rumah tangga adik kami.

__ADS_1


"Maksudnya ganggu gimana?" Max terkejut. Sebab Max memang tidak terlalu dekat dengan Tika, bukan tidak bisa, hanya saja jadwal Max yang terlalu sibuk karena banyak yang harus dia kerjakan.


Aku menceritakan tentang Tika yang hampir stess dan tertekan akibat gangguan dari Dana. Gangguan yang selalu mengirimkan hadiah pada Tika, serta telepon dengan kata-kata yang tidak pantas. Padahal Dana sudah mengetahui bahwa Tika sudah menikah dengan Jefri. Bahkan Jefri dan Dana sudah pernah bertemu.


"Emang si laki-laki sialan itu kerjaannya apa?" Max terlihat kesal.


Ya, aku akui, walaupun Max terlihat cuek dengan keluarga, sebenarnya dia lah orang yang paling memperhatikan anggota keluarganya. Apa lagi semenjak papah meninggal dan dia mengambil alih pekerjaan papah.


Tidak butuh waktu lama, dalam lima tahun dia memimpin perusahaan itu, dia sudah bisa mendirikan delapan anak perusahaan. Yang dimana hingga sekarang delapan perusahaan itu terus berkembang pesat bahkan bisa berdiri sendiri. Tanpa sokongan dana dari perusahaan utama lagi.


Apa lagi jika berbicara tentang keluarga, Max pasti akan berada di barisan depan untuk menjaga keluarganya tetap utuh. Oleh sebab itu, Max tidak ingin egois jika berbicara tentang Great Company, karena dia sudah menganggap perusahaan itu juga sebagai perusahaan keluarga. Sebab adiknya menikah dengan anak pemilik perusahaan itu.


Max juga merasa memiliki tanggung jawab penuh untuk hidup Tika. Sebab sesaat sebelum papah meninggal, Max sempat berjanji pada papah bahwa dia akan melindungi kami sekeluarga. Melindungi Tika dan memberikan Tika kebahagiaan.


Oleh karena itu, jika ada suatu hal yang menyangkut kebahagiaan Tika, Max pasti akan melindunginya, begitu juga aku.


Akhirnya setelah aku menceritakan semua permasalahan tentang lelaki pengganggu itu pada Max, dia berencana akan memberikan bodyguard untuk Tika, sambil mencari tahu latar belakang Dana.


"Lisa kayaknya kenal banget siapa Dana," ucapku memberitahukan Max.


Max langsung merogoh saku celananya, mengambil ponselnya untuk menelpon seseorang.


"Dimana? Bisa ke rumah Haikal? Iya, nanti gua sharelock. Emm!" ucap Max pada ponselnya kemudian kembali meletakkan ponsel itu di atas meja, setelah mengetikkan sesuatu.


Aku tidak tahu siapa yang di teleponnya, yang jelas Max terlihat lebih serius kali ini.


***


Tingtong ...


Tingtong ...


Bel rumahku berbunyi saat aku sedang asik mengabarkan tentang Clara pada Max. Aku segera beranjak menuju pintu depan untuk membukakan pintunya. Melihat siapa yang datang.


Betapa terkejutnya aku melihat sosok Lisa yang berdiri di ambang pintu rumahku. Bersama dengan seorang lelaki yang pernah kulihat sebelumnya dibeberapa kali pertemuan.


"Max nyuruh gua ke sini. Kebetulan tadi deket daerah sini." Lisa terlihat gugup saat berbicara. Kemudian aku langsung menyuruhnya untuk masuk dan membawa mereka berdua ke balkon samping, menemui Max yang masih merokok di sana.


Max terlihat terkejut dengan kedatangan Lisa bersama seorang lelaki. Aku mempersilakan mereka untuk duduk.


"Rasanya gua pernah liat lu berkali-kali?" tegur Max pada lelaki yang datang bersama Lisa tadi.


"Iya, gua Alex, temennya Jefri, pacarnya Lisa," jawabnya santai.


Aku dan Max mengangguk. Sedangkan Lisa terlihat bingung, lalu menanyakan kepada Max alasan mengapa dia di suruh untuk datang ke sini.


Sebelum Max menanyakan tentang Dana pada Lisa, entah mengapa aku seakan memiliki inisiatif sendiri untuk membawa Alex menjauh dari obrolan Max dan Lisa. Aku meminta tolong padanya untuk menemaniku membeli makan. Dan untungnya dia menyetujuinya.


Aku sengaja membiarkan Lisa dan Max berbicara berdua secara empat mata, agar Lisa bisa lebih leluasa mengungkapkan siapa Dana. Agar hidupnya dan hidup Tika tidak lagi di ganggu oleh lelaki semacam Dana.


"Sorry, gua boleh nanya satu hal?" Alex memecah suasana dalam mobil saat kami menuju ke salah satu minimarket terdekat.


"Yap, apa?"


"Kalian bisa lindungin Lisa 'kan, kalo dia ceritain semuanya?"


Aku terperangah mendengar kalimat yang baru saja dilontarkannya. Aku menoleh pada lelaki itu sekilas, dia terlihat menatapku dengan penuh keyakinan. Sepersekian detik otakku membeku, tidak tahu harus berkata apa. Aku juga merasa sulit untuk mencerna kalimatnya itu. "Maksudnya bro?"


Dia menghela napas, kemudian duduk kembali pada posisi semula. Menatap lurus ke depan. Aku sesekali memperhatikannya sambil menyetir.


"Lisa sudah cerita sama gua tentang lelaki bernama Dana. Mantan Tika yang sekaligus juga adalah mantannya dulu," lirihnya.


Dia juga menceritakan bahwa Dana adalah adalah salah satu pemilik kawasan real estate di Bali. Yang mana salah satu villa milik Dana adalah hasil design dari tangan terampil Tika.


Alex juga menceritakan bahwa kejadian beberapa hari yang lalu, saat Lisa pingsan, itu adalah ulah Dana, yang meminta informasi lebih dari Lisa tentang Tika. Tapi Lisa menolak untuk memberitahukan lebih banyak lagi. Hingga membuat Lisa ketakutan dan akhirnya terjatuh membentur batu hingga pingsan.


"Jadi yang nganterin Lisa ke rumah sakit saat itu, lelaki biadap itu?" umpatku kesal.


Alex mengangguk. "Lisa juga baru dua hari yang lalu cerita semuanya. Dan karena itu gua tambah yakin buat ngelindungin dia. Gua tahu dia salah dalam melampiaskan kekesalannya yang berujung nafsu sesaat. Tapi gua lebih menghargai kejujurannya mengakui semua kesalahannya."


Aku hanya bisa menganggukkan kepalaku pelan mendengar penuturan Alex, dia bisa dengan berbaik hati memaafkan kesalahan fatal dari Lisa. Lalu berusaha melindungi Lisa bahkan membangun biduk rumah tangga dengan wanita yang menyakiti hatinya.


Dari cerita Alex, aku baru mengetahui bagaimana kejamnya hidup Lisa. Betapa sulitnya ia melewati hari demi harinya tanpa ada yang menyayanginya. Dan mungkin saja, jika Lisa menelan sendiri kehidupan pahitnya tanpa menceritakannya pada Tika. Apa lagi saat ini Tika sudah menikah, mereka jadi jarang memiliki waktu bersama.


Bersambung ...


—————————————


Jangan lupa ritual setelah membacanya.


Kasih like dan komeeeennn 💃


Kasih poinnya nanti aja minggu depan 🤣


Babay 😘

__ADS_1


__ADS_2