
Happy reading ...
—————
Max POV.
"Hallo? Loh kok bisa? Ya udah gua ke sana sekarang." Aku membentak pada orang suruhanku melaui telepon. Lalu memutuskan panggilan telepon itu. Aku berpikir sejenak, sekarang apa yang harus aku lakukan?
Kepalaku mulai terasa kembali berat. Lalu aku memutuskan untuk kembali ke dalam ruangan Tika untuk segera berpamitan, sebab ada beberapa urusan yang harus segera aku selesaikan. Jika tidak, semuanya akan kembali kacau. Bahkan lebih parah dari ini.
"Aku pamit pulang dulu ya? Jef, lu gak apa-apa 'kan gua tinggal sendiri di sini?"
"Dia 'kan sama aku Max." Tika menyela dengan cepat. Aku terkekeh mendengar kalimat manjanya.
"Iya maksud aku gitu. Nanti sore aku balik lagi."
"Mamah gimana keadaannya?" tanya Tika.
Kemudian aku katakan padanya bahwa tadinya mamah datang ke ruangan ini untuk melihat kondisinya, tapi karena dia dan Jefri tidur dengan begitu lelapnya hingga akhirnya mamah memutuskan untuk tidak usah membangunkan dia dan Jefri.
Aku juga mengatakan pada Tika jika kondisi mamah baik-baik saja dan sekarang mamah tinggal di rumahku dulu, bersama Shilla dan juga bi Mince. Sebab di rumahku tidak memiliki asisten rumah tangga. Semua Shilla lakukan sendiri. Dia terlalu kelewat mandiri.
Lagi pula Shilla tidak begitu membutuhkan seorang asisten rumah tangga jika sekedar untuk melayani keperluan perutku. Bahkan terkadang ia bisa menghandle kedua anak kami sendiri sekaligus memasak untuk menyiapkan makanan untukku. Yang jelas, aku sangat beruntung memiliki Shilla.
"Ya udah kalo gitu hati-hati ya?" ucap Tika saat aku mengecup puncak kepalanya. Lalu pergi meninggalkan ruangan ICCU.
Baru saja aku melangkah tak jauh dari pintu keluar ruangan itu. Haikal sudah berseru memanggilku. "Max ... Max ...."
Membuatku sontak berpaling dan melihatnya yang setengah berlari mendekatiku. "Kenapa?" tanyaku saat ia sudah berdiri dekat di hadapanku.
Napas Haikal sedikit tersengal. "Kamu buru-buru?"
Aku mengangkat tanganku lalu melirik jam tangan yang tersemat di pergelangan tangan kiriku. "Aku cuman punya waktu lima menit. Kenapa?"
Haikal terlihat menurunkan keda bahunya, aku paham betul itu artinya apa. Kemudian aku mengatakan pada Haikal jika nanti sore kami bisa mengobrol dengan santai.
"Nanti sore aku free, kita bisa bicara. Gimana?" tawarku padanya yang terlihat sedang berpikir keras. Lalu Haikal menyetujui saranku. "Oke, nanti aku hubungi kamu," tambahku lalu segera pergi berlalu meninggalkannya.
Entah apa yang ingin Haikal bicarakan padaku yang jelas aku merasa bahwa itu merupakan suafu hal yang penting baginya. Mungkin ia akan meminta pendapatku untuk hubungannya bersama Clara. Bisa jadi 'kan?
Sebab jika Haikal sudah berbicara seperti tadi, meminta waktuku untuk sekedar mengobrol, pasti akan ada hal penting yang akan ia sampaikan. Karena begitu lah Haikal. Dia akan lebih suka jika hal-hal penting di bicarakan dengan serius dan terfokus.
Di sepanjang perjalanan menuju ke tempat orang suruhanku menelepon tadi, pikiranku melayang kembali memikirkan perasaanku sendiri. Perasaan yang tiba-tiba terasa goyah, padahal sebelumnya aku sangat yakin bahwa hati ini sudah kuat. Jika aku harus mengubur dalam-dalam hatiku yang dulu pernah menyukai Lisa.
Apa lagi saat bertemu dengannya di rumah Haikal. Saat aku memintanya untuk menjelaskan duduk perkara dalam permasalahan yang ia dan Tika alami. Dan aku harus mencari tahu, apa penyebab sebenarnya dari semua ini. Rasanya tidak mungkin jika hanya karena ingin bersenang-senang. Lalu dengan mudahnya ia memberikan informasi kehidupan Tika kepada Dana.
Sialnya lagi, begitu tadi malam aku melihat tubuh polos Lisa, rasanya hati ini sakit sekali. Apa lagi saat melihat tubuhnya di nikmati oleh orang lain. Bukan, bukan karena iri. Tapi entah mengapa perasaan itu muncul begitu saja.
Dan begitu melihatnya di rumah sakit saat mendatangiku. Aku seakan tidak bisa mengontrol emosiku untuk tidak memarahinya. Untuk tidak mencaci maki mengancamnya. Lalu saat mendengarnya kecelakaan ... apa aku terlalu kasar padanya? Hingga membuatnya seolah berniat untuk bunuh diri?
Sudah begitu lama perasaan itu aku pendam, bahkan aku kubur dan tertimpa dengan rasa cintaku untuk Shilla. Dia mampu membuatku lupa akan rasa bersalahku pada Lisa. Hingga perlahan aku mencintainya dan meyakinkan dirinya, bahwa hanya dia yang pantas menjadi istriku melahirkan anak untuk keturunanku.
Lalu saat ini? Perasaan apa ini?
__ADS_1
Mengapa tiba-tiba aku menjadi kembali mengingat semua kejadian di masa lampau?
Wajar kah rasa ini?
Aku memejamkan kedua mataku di saat mobilku sedang berhenti pada lampu lalu lintas yang berwarna merah. Mencoba untuk menenangkan detak jantungku yang secara perlahan kembali tenang. Setelah sebelumnya tidak beraturan.
Perasaan kalut kembalumi menyegapi diriku, bahkan saat ini lebih parah dari sebelumnya. Setelah lampu berwarna hijau, aku segera menancapkan pedal gas mobilku. Bukan untuk melesat menuju ke arah tujuanku, melainkan melesat pergi memutar arah, kembali ke rumah sakit.
Sesampainya di parkiran outdoor rumah sakit, aku kembali ragu. Belum pernah aku kembali ragu seperti ini. Seakan bukan diriku sendiri.
"Aku hanya ingin melihat keadaannya. Tidak lebih," gumamku pada diriku sendiri.
Aku memutuskan untuk turun dari mobil. Lalu segera kembali masuk ke dalam rumah sakit. Bukan menuju UGD, melainkan menuju meja resepsionis utama yang berada di lobby rumah sakit. Sebab jika aku ke UGD ada kemungkinan aku akan bertemu dengan Haikal.
Beberapa langkah lagi aku sampai di meja resepsionis, tiba-tiba perkataan bi Mince kembali terlintas di benakku. Saat beliau kembali ke kamar mamah dan Shilla tepat sedang berada di dalam kamar mandi.
"Iya, Den. Soalnya, temannya den Jefri sudah datang untuk menggantikan bibi. Dan den Haikal juga meminta bibi buat meninggalkan mereka," ucap bibi saat itu.
Aku memundurkan langkah kakiku. Lalu kembali mengembuskan napas. Pasti seorang teman itu adalah Alex. Ya, kini sudah ada Alex yang sangat mencintai Lisa. Semestinya aku tidak lagi memikirkannya. Kami sudah memilih jalan hidup kami masing-masing. Bukankah seharusnya aku dan dia sama-sama menjalani kehidupan kami masing-masing?
Kembali aku memutar balik arah langkah kakiku dan bergegas untuk kembali ke mobil. Menenangkan perasaanku yang lagi-lagi tidak dapat aku kontrol.
Dengan napas yang tersengal dan mencoba menghirup oksigen di sekelilingku, lalu mengembuskannya melalui mulutku. Aku merutuki perbuatanku saat ini. Berkali-kali aku menghempaskan kedua tanganku pada setir kemudi. Yang pada akhirnya semakin membuat emosiku memuncak. Aku membenci diriku sendiri saat ini.
Dengan penuh amarah, aku kembali menyalakan mesin mobil lalu menginjak pedal gas-nya. Melesat pergi meninggalkan wilayah rumah sakit menuju ke tempat tujuanku.
***
Aku membelokkan setir mobilku memasuki sebuah bangunan tua. Di mana bangunan itu memang sengaja untuk tidak di selesaikan tahap pembangunannya, karena kesepakatanku bersama dengan Reza.
Dan lagi, lingkungan sekitaran bangunan itu juga tidak ladi memungkinkan untuk kami memvuat apartemen. Lalu karena tidak di teruskan lagi rencana pembanguna tersebut, maka aku dan Reza sepakat menjadikan gedung ini sebagai sebuah tempat berkumpulnya anak buah Reza selama ini. Dan sekarang sebagai tempat menyekap lelaki bejat yang merusak kehidupan keluargaku.
Setelah menuruni mobil dan melangkah menuju lift, aku dengar suara ponselku yang berbunyi singkat. Yaitu suara notif dari pesan singkat whatsapp. Aku merogoh saku celana ku sambil berjalan lalu menekan tombol lift, menunggu sebentar kemudian memasuki lift itu.
Aku menekan tombol lantai paling atas, enam. Lalu kembali mengarahkan pandangan mataku, menatap layar ponselku. Dari Shilla.
'Sayang, kamu masih di rumah sakit? Kamu mau makan apa siang ini? Biar aku masakin. Mamah lagi di rumah sama mama aku, sama anak-anak juga. Aku pergi ke supermarket setelah antar mamah kamu ke rumah tadi," gumanku membaca isi pesannya.
Hatiku kembali tersentuh mendapatkan isi pesan seperti itu dari istriku. Kedua sudut bibirku tertarik mengembangkan senyuman. Hampir setiap hari Shilla melakukan itu padaku. Bahkan ia seakan tidak pernah bosan untuk menghubungiku sekedar untuk menanyakan 'aku ingin makan apa'. Hingga membuatku merasa nyaman untuk selalu makan di rumah.
Kami selalu menjaga komunikasi ini, sejak berpacaran hingga saat ini memiliki dua anak. Tidak pernah sekali pun terbesit untuk menaruh curiga padanya. Begitu pun sebaliknya, mungkin.
Setelah kubalasi pesan dari Shilla, aku langsung kembali memasukkan ponselku ke dalam saku celana. Dan menunggu pintu lift terbuka.
Ting!
Suara riuh dari bunyi keyboard yang ditekan menyambut telingaku seketika, begitu aku melangkah keluar dari pintu lift. Para orang lalu lalang di hadapanku sambil tak lupa untuk menyapaku. Aku hanya menganggukan kepala untuk membalas sapaan mereka.
Yang ada di hadapanku saat ini adalah para pekerja rahasia dari seluruh perusahaanku. Mereka memiliki keahliannya masing-masing pada bidangnya. Mereka yang membantuku untuk mencari atau bahkan menganalisis data dari perusahaanku dan perusahaan Reza di luar negeri. Dan sebagian dari mereka adalah para pemuda dan pemudi yang memiliki IQ di atas rata-rata.
Mereka juga yang menangani semua kasus dunia hitam yang aku jalani setelah kepindahan Reza ke London. Ya, Reza yang menyiapkan semua ini, sebab ujarnya, semakin banyak perusahaan yang aku miliki maka akan semakib banyak pula musuh yang akan melakukan kekerasan. Dan itu pernah terjadi berkali-kali.
Kakiku terus melangkah, menuju sebuah ruangan yang di desain khusus agar kedap suara. Tempat di mana mereka menyekap salah seorang dari dua lelaki yang menjadi dalang permasalahan selama ini.
__ADS_1
Aku menempelkan telapak tanganku pada sebuah mesin pemindai untuk membuka pintu di hadapanku. Setelah masuk aku mendapati Igo yang berjalan mendekat ke arah ku, lalu membawaku melihat seorang lelaki yang masih dalam pengawasan kami.
"Tersisa dia. Yang satunya berhasil kabur saat di perjalanan." Igo mengatakan demgan sangat jelas.
Aku mencoba menelisik wajahnya dari balik kaca di kejauhan. Bukan Dana, melainkan lelaki lain yang bergelut denganku dan lelaki ini pula yang sudah menodongkan pistol ke arahku, hingga peluru itu meleset mengenai Tika.
Mendadak hawa kegelapan menyelimutiku. Dapat aku merasakan amarahku saat ini begitu menggelora. Bahkan lelaki itu juga yang merayap terakhir kali di atas tubuh Lisa.
"Setelah di teliti, ternyata dia adalah salah satu pemilik saham Mahatma Corp yang ada di London. Yang berhasil di akuisisi di menit terakhir tahun lalu oleh Reza." Igo menjelaskan.
Aku sontak terkejut. Mengapa begitu kebetulan?? Mengapa semua seakan terkait satu sama lain?
"Lalu sudah dicari tahu, alasan dia kenapa melakukan semua ini?" tanyaku lagi.
Kemudian Igo menjelaskan, bahwa dirinya sudah mencari tahu bagaimana awal perkenalan lelaki bernama Dave itu dengan Lisa. Yang mana ternyata, Dave merupakan saudara kandung dari Dana. Bahkan Igo juga mendapatkan fakta jika semua yang Dana lakukan pada Lisa merupakan sebuah puncak dari rencananya.
Dana adalah seorang psikopat. Dia hidup dengan dua kepribadian palsu, yang sering ia gunakan untuk berinteraksi pada orang lain. Pertama, ia akan tunduk jika disuruh oleh kakaknya, Dave. Sebab dari kecil hanya Dave yang mengasuhnya. Sehingga tidak ada kasih sayang yang ia rasakan.
Bertemu dengan Tika, merupakan hal yang memperhatikannya merupakan kesalahan besar. Sebab cara Tika mencintainya membuatnya hilang kendali.
"Kalau dia cinta Tika, lalu kenapa harus berpaling ke Lisa?" Aku semakin penasaran.
"Karena saat kembali ke London, ia ditugaskan oleh Dave, sebab Dave masih berada di Bali, untuk bertemu dengan rekan bisnis kakaknya pada sebuah bar. Yang mana akhirnya mempertemukannya kembali pada Lisa, yang sebelumnya pernah bertemu di dalam pesawat. Lalu 'boom' terjadilah one stand night."
Mendengar sekilas penuturan Igo itu sedikit membuatku terkejut. Namun aku berusaha mengontrolnya. Igo juga mengatakan bahwa Lisa melakukannya pertama kali dengan Dave, hal itu diakui sendiri oleh Dave. Semua itu terjadi karena Dave sedang kalut sekaligus bahagia bertemu wanita seperti Lisa yang berwawasan luas. Dan mau menurutinya.
Sejenak aku berpikir kembali. Lalu entah mengapa, tanganku tergerak untuk meraih pistol yang tergeletak di atas meja di depanku. Pistol itu milik Igo. Lalu dengan amarah aku masuk ke dalam ruangan yang mengikat Dave di sisi seberangku.
Lelaki itu mengangkat kepalanya. Dengan kedua tangannya yang terikat pada untaian tali di atas kepalanya. Wajahnya sudah penuh dengan lebam bekas bogem mentah yang berasal dari kepalan tanganku tadi malam.
"Jadi elu yang namanya Max? Cih!" tanyanya sambil meludah, seolah ingin menginjak harga diriku. "Yang begini yang mau jadi pahlawan kesiangannya Lisa?" Lagi-lagi dia mengatakan hal yang tidak aku mengerti lalu tertawa terbahak-bahak.
"Lalu lelaki yang gimana yang pantas disebut pahlawan? Yang mengambil kesuciannya?" seruku.
"Setidaknya aku menikmati tubuhnya tidak gratis. Semua aku gantikan dengan hal yang sepadan yang ia butuhkan." Dia terkekeh.
"Dan untuk pertunjukan tadi malam ... sebenarnya itu untuk adikku dan Tika. Aku senang melihat jeritan adikmu saat adikku menikmati tubuh ******* itu."
"Lisa gak sehina itu!!" Suaraku menggema dalam ruangan sempit itu. Bersamaan dengan tawanya.
"Lalu apa namanya?! Gua kasih semua yang dia mau, semua yang dia butuhkan. Tapi nyatanya apa?! Dia malah nyari lelaki lain cuman buat memuaskannya!!" teriak Dave semakin tak terkontrol. Lalu ia menundukkan kepalanya, menatap kedua lututnya. Lalu terkekeh pelan.
"Lu pikir gua gak tanggung jawab sudah ngambil perawannya? Dia yang gak tahu di untung! Malah dengan cuma-cuma nyuruh lelaki lain di sana buat nyicipin tubuhnya!" tambahnya lagi.
Saat mendengar kalimat yang terlontar dari mulutnya, tiba-tiba membuatku gelap mata dan dengan cepat mengangkat tanganku, mengarahkan ujung pistolku padanya lalu menarik pelatuknya.
DORR!!
Timah panas keluar dari ujung pistol yang ada di tanganku dan melesat cepat hingga bersarang pada dadanya. Tepat di bawah jantungnya. Darah segar mengucur dengan derasnya. Mengalir hingga membasahi tempat di mana ia terikat. Perlahan kedua matanya terkantup. Diiringi dengan darah yang juga keluar dari mulutnya.
Napasku terengah melihatnya yang perlahan kehilangan nyawanya. Aku tidak percaya dengan apa yang telah aku lakukan sendiri. Dan ini pertama kalinya aku melakukan semua ini, mengotori tanganku sendiri. Aku benar-benar gelap mata.
Aku tidak terima lelaki itu mencaci maki Lisa dengan begitu rendahnya. Selalu ada alasan di balik semua jalan yang telah kita lalui, begitu pun Lisa. Setidaknya aku mencoba mengerti akan hal itu.
__ADS_1
Igo segera mengambil senjata api itu dari tanganku lalu membawaku keluar dari ruangan itu. Menenangkanku.
Bersambung ...