
Selamat membaca ...
——————————
Still Jefri POV.
Tika menghela napasnya lalu meletakkan piring makan yang ada di tangannya. Memutar duduk untuk menghadap padaku. Lalu dia juga menangkupkan kedua tangannya pada kedua sisi pipiku, menatap bola mataku dengan begitu lekat.
“Tanyakan semua sama hati kamu,” Tika menyentuh dadaku, “semua jawaban ada di sana. Mungkin sulit buat kembali percaya, tapi selalu ada cara untuk mengatasinya.”
Aku tersenyum menatapnya, lalu meraih tangan itu dan mengecupnya. Rasanya ... tidak percaya memiliki istri yang berhati mulia sepertinya. Sungguh bagai bidadari di mataku dan aku merasa sangat beruntung karena tidak salah dalam memilih seorang ibu untuk anak-anakku. Karena dengan hatinya itu, dia mampu mengajari semua kebaikan untuk keturunan kami.
Tingtong tingtong!
Suara bel rumah kami berbunyi. Aku memutuskan untuk membukakannya, membiarkan Tika untuk tetap duduk dan kembali memberikan makan kepada Nathan juga Naila. Melakukan tugasnya untuk kedua buah hati kami.
Namun, begitu aku berhasil membuka pintu, berapa terkejutnya aku dengan kehadiran seorang wanita yang dulu pernah mengisi hari-hariku. Ya, Paula berdiri di balik pintu itu.
“Ngapain kamu ke sini?! Tahu alamat rumahku dari siapa?” hardikku seketika.
Aku memang seperti ini jika melihatnya. Apalagi semenjak mengetahui segala kebohongan yang pernah ia lakukan padaku. Bahkan, aku semakin membencinya, saat mengetahui bahwa dia adalah anak dari pak Hardi.
“Aku cuman mau minta tolong sama kamu, kasih papah aku pekerjaan lagi. Aku bener-bener gak tahu, kalau ternyata papah aku itu kerja di perusahaan kamu.” Paula menundukan kepalanya.
“Lantas kalau kamu tahu itu perusahaan aku, apa kamu bakalan semakin memeras orang tua kamu sendiri?! Hah?!” Aku semakin menghardiknya.
“Aku minta maaf dan aku janji, setelah ini aku gak bakalan gangguin kehidupan kamu lagi. Tapi tolong, biarin papah aku kembali kerja,” tambahnya lagi, memohon dengan suara yang lirih.
Aku hanya memandanginya dengan perasan kesal, hingga tiba-tiba tangan Tika membelai lembut pinggangku. “Ada apa? Hm?” Kemudian dia terkejut melihat Paula yang berdiri sambil menundukan wajahnya.
Tiba-tiba Paula menjatuhkan lututnya menempel pada lantai lalu berkata, “Aku mohon sama kalian, sudah gak ada lagi yang ngurusin papah aku dan sekarang dia harus kehilangan pekerjaan untuk membiayai hidupnya. Tolong kembalikan pekerjaan itu pada papahku.”
Kemudian saat Paula maju hendak meraih kaki Tika, dia sontak memundurkan kakinya. “Apa-apaan ini? Lebih baik kamu pikirkan lagi tujuan kamu ke sini itu apa, sudah pantas atau belum.”
Paula mengangkat wajahnya yang sudah penuh dengan air mata. “Kamu yang bertanggung jawab untuk merawat pak Hardi sebagai anaknya, bukan kami. Dan kalau kamu mau memohon, bersujudlah dengan beliau, memohonlah permintaan maaf pada beliau karena sudah membuatnya sengsara.”
__ADS_1
Dan tanpa kata lainnya, Tika bergerak mundur sambil menarikku lalu menutup rapat pintu rumah kami. Aku tidak dapat berkata apa-apa saat melihat itu, semuanya terjadi dengan begitu cepat.
Tika menoleh padaku lalu berbalik, melangkah pergi kembali menuju dapur untuk meneruskan kegiatan sebelumnya. Aku hanya memandangi punggungnya yang semakin menjauh. Diikuti dengan suara tangisan dan juga gedoran pintu dari Paula.
Buuk buuk buuk!!
“Jef ... aku mohon ... cuman kalian harapan aku biar papah aku gak terlantar ...,” raungnya dari luar sana. Berkali-kali terus menggedor dan juga berteriak.
Setelah mengembuskan napas, aku memutar kunci pintu untuk menguncinya, takut Paula berbuat nekat dan menerobos masuk ke dalam rumah.
“Lebih baik kamu pulang! Benar kata istri aku, memohonlah sama papah kamu. Sebab semuanya terjadi karena ulah kamu. Keserakahan kamu.” Kemudian aku pergi, kembali menuju ke kursi makanku di samping Tika. Kamu mengabaikan perbuatan Paula di luar sana.
Perlahan gedoran pintu itu mulau mereda, raungan suaranya pun terhenti dan sirna seketika. Hanya mampu bertahan beberapa menit saja. Lalu aku kembali menyelesaikan sarapanku. Begitu pula dengan Tika yang tetap memberi makan Nathan dan Naila.
Aku sempat merasa speechless, tidak menyangka jika Paula akan senekat itu mendatangi kami ke rumah. Dan dengan tujuan yang sedangkal itu. Berbanding jauh dengan apa yang dikatakan oleh pak Hardi kemarin malam padaku. Yang seolah menyalahkan segalanya pada mantan istri dan anaknya.
“Kamu ngerasa ada yang aneh gak sih, Sayang?” tebakku berkata pada Tika. Dia menoleh lalu mengangguk.
“Bukannya kamu bilang semua gara-gara Paula dan ibunya? Trus ngapain dia sampai rela berlutut begitu?”
“Sudahlah, lupain aja. Semoga aja mereka sadar kesalahan masing-masing. Dan buat masalah pekerjaan, semuanya tergantung dengan hati kamu, apa pun keputusan yang kamu ambil, semoga itu yang terbaik dan jangan pernah kamu ragu sama keputusan itu.”
Aku mengangguk mengerti dengan apa yang dimaksudkan oleh Tika.
——————————
Haikal POV.
Setelah tadi malam mengantarkan Clara pulang ke rumahnya dengan beberapa barang belanjaannya, hari ini rencananya aku akan menemaninya untuk memilih menu makanan yang akan disajikan pada saat acara pernikahan kami nanti.
Tepat jam delapan pagi, aku sudah siap dan keluar dari kamar tidurku dan mendapati mamah yang sedang memasak di dapur.
“Pagi, Mah!!” seruku lalu mengecup pipinya.
“Loh, kamu tadi malem tidur di sini?”
__ADS_1
“Iya! Untung bi Mince belum tidur dan belum kunci pintunya. Kalo enggak aku bisa balik ke rumah sakit buat tidur,” alasanku sambil terkekeh.
“Trus sekarang mau ke mana lagi?”
“Aku mau ke tempat katering sama Clara. Mau tentuin menu masakan buat acara pernikahan nanti. Mamah mau ikut?” tawarku sembari mengambil sebotol jus dari dalam kulkas.
“Enggak deh! Mamah gak mau ganggu kalian.”
“Uhuk uhuk!” Aku tersedak begitu mendengar kalimat yang mamah ucapkan itu. Terlalu kekanak-kanakan bagiku. “Mamah apaan sih?”
“Ya, 'kan gak enak aja kalau mamah ganggu waktu kalian berdua. Jadi mending mamah di rumah aja deh.”
Aku tertawa lalu berkata, “Mah, nanti juga kami bakalan punya waktu yang banyaaaaaaakk banget buat berdua aja. Jadi gak apa-apa sekarang mamah gangguin, aku rela kok!” godaku yang dapat membuat mamah ikut tertawa.
“Ikut aja ya? Nanti aku bilangin ke Clara, kalau mertuanya ikutan,” godaku lagi.
“Iya iya, ya udah ini kamu makan dulu. Mamah ganti baju dulu.” Dan mamah pun beranjak pergi menaiki tangga menuju ke kamarnya.
Aku merogoh saku celanaku dan mengambil ponselku dari sana. Menekan sebuah aplikasi pesan singkat untuk mengirimkan informasi kepada calon istriku. Di sana aku mengetikan, memberitahukannya bahwa mamah ikut mendampingi acara kami hari ini.
Tidak berapa lama kemudian, Clara membalas pesanku dan mengatakan jika dirinya sama sekali tidak keberatan apabila mamah ikut. Dan nyatanya, dia malah sangat senang jika mamahku mau ikut membantu kami dalam menentukan pilihan.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbit.
Ingat, jangan lupa kasih komen. Mau itu kritik, saran, atau abahkan ide cerita selanjutnya 😂
Babay 💋
@bossytika
__ADS_1