
Alex POV.
Sebelum bergerak, aku melihat Max yang kembali menyimpan pistolnya ke tempat semula, di balik punggungnya lalu menutupinya dengan kemeja yang melekat pada tubuhnya. Seseorang kembali datang mendekati Max, mengatakan sesuatu dengan begitu pelan, hingga aku tidak dapat mendengar apa perkataannya. Namun aku dapat melihat reaksi dari wajahnya yang semula terlihat santai kini ia malah mengerutkan keningnya. Membuat lawan bicaranya menundukkan kepala.
"Serius?? Jadi berapa banyak orang di dalam sana?" tegas Max yang masih sambik berbisik. Aku berjalan mendekatinya, berdiri tepat di sebelahnya.
"Puluhan, Pak. Kami gak memperkirakan, kalau ternyata di sana ada ruang bawah tanahnya," jawab salah seorang pria. Max terlihat frustasi. Lalu akhirnya ia merubah rencananya berkat usul dari salah seorang pria lainnya. Dia mengusulkan agar aku dan Max masuk paling akhir, sementara mereka maju lebih dulu untuk berhadapan dengan orang-orang dari Dana. Max berpikir sejenak.
Tak berapa lama kemudian, seorang pria datang lagi, kali ini membawa berita yang begitu membuat Max kesal, "Maaf, Pak. Dari arah berlawanan di depan rumah sana, ada sebuah mobil yang datang dan yang turun seorang wanita sedang hamil, sepertinya itu adik, Bapak." Dengan tersengal-sengal pria itu menyampaikan apa yang telah mereka lihat.
Langit sudah mulai gelap, silih berganti dengan malam yang minim akan pencahayaan. Semburat amarah muncul seketika di wajah Max. Tanpa suara, ia langsung mencengkram kemeja depan pria yang berkata-kata tadi. Menatapnya dengan penuh amarah, sedangkan pria itu hanya diam, menatap hampa tanpa berani berkata-kata lagi. Tubuhnya bergetar,bahkan untuk mengucapkan kalimat untuk membela diri saja dia tidak mampu.
Situasi semakin menegang dapat aku rasakan. Aku atau bahkan pria lainnya yang berdiri di sekitar Max tidak berani berucap atau bergerak sedikit pun. Untuk bernapas saja aku harus dengan pelan sekali mengembuskan dan menghirupnya. Aku sempat merutuki detak jantungku yang terasa berdegup dengan sangat kencang. Dan entah datang dari mana keberanian yang tanganku miliki, hingga bergerak menyentuh pundak Max lalu berkata, "Max, gak ada gunanya." Kalimat itu lolos begitu saja dari mulutku yang hampir kehilangan napas.
Seketika Max melepaskan cengkramannya pada kerah baju pria itu lalu mendorong tubuhnya. Aku melihat bahunya yang bergerak naik dan turun, bernapas dengan rakus.
"Bisa tolong bantu aku? Sebutkan merek mobil yang dibawa oleh wanita hamil itu, aku hanya ingin memastikan." Aku menepuk pundak pria yang yang masih bergetar ketakutan akibat perbuatan Max. Dengan pelan ia mengatakan bahwa mobil yang datang itu adalah mobil bermerk buatan perusahaan otomotif asal Jerman, Mercedes-Benz, berwarna hitam pekat.
Sudah tidak usah diragukan lagi, itu memang lah mobil Jefri. Max luruh seketika ke permukaan tanah, lututnya membentur dengan begitu keras hingga membuatku menoleh terkejut. Kedua tangannha menapak pada tanah, wajahnya ia sembunyikan menghadap ke bawah, menatapi kedua lututunya.
Posisi kami saat ini memang tidak jauh dari rumah yang kami kepung, tapi juga lumayan jika kami bergerak seperti rencana awal yang diam-diam dengan langkah kaki. Aku bisa merasakan beratnya pundak Max sekarang, saat menatapi rumah itu dari tempat aku berdiri.
"Max, kita harus bergerak." Hanya kalimat itu yang mampu aku ucapkan untuk membuat Max kembali sadar.
Tanganku segera merogoh saku celanaku untuk menghubungi Jefri. Aku sampai tidak mengerti apa yang sudah terjadi, sehingga Jefri tidak bisa menahan Tika untuk menyusul Lisa ke tempat ini. Kelalaian apa lagi yang Jefri perbuat!
—————
Jefri POV.
Selesai mandi untuk menyegarkan diri, aku keluar dari kamar mandi dan tidak menemukan Tika di atas ranjang. Bukankah tadi dia sedang berbaring? Ah, mungkin dia ke bawah untuk mengambil minum, sebab kulihat gelas minumnya sudah kosong di atas meja di samping ranjangnya.
Aku berjalan menuju lemari pakaian dan mengambil pakaianku, mengenakannya di saat ponselku tiba-tiba berbunyi.
🎶
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
__ADS_1
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Figure out where we're growin'
🎶
Lagu itu terulang hingga dua kali, sebab aku memilih untuk menyelesaikan mengenakan pakaianku terlebih dahulu, baru menerima panggilan itu. Di saat aku beranjak ingin meraih benda tipis yang sedari tadi berbunyi melantunkan lagu Khalid yang berjudul Talk itu, tiba-tiba saja lagunya berhenti. Tanda bahwa sang penelpon sudah memutuskan sambungan teleponnya, membuatku tidak jadi untuk mengambil ponsel itu.
Namun saat baru beberapa langkah aku menuju ranjang, benda tipis itu kembali berdering. Aku lamgsung memutar langkah dan kembali menuju buffet di bawah televisi untuk mengambil ponselku. Lalu melihat nama pak Hardi yang muncul di layar depan. Aku membuang napas dengan kasar. Sebab juju saja aku sudah mulai malas menghadapi pria tua ini. Karena semakin hari, tingkahnya semakin membuatku hilang kesabaran.
Dengan malas aku menerima panggilan teleponnya. Kugeserkan tanda hijau pada layar ponsel lalu menempelkan benda tipis itu pada telingaku. "Hallo?"
Di seberang telepon sana, pak Hardi lagi-lagi membahas tentang masalah seorang sekretaris yang wajib aku miliki, untuk mengatur segala jadwal dan persiapam meeting yang aku perlukan. Sebab beberapa jam yang lalu aku melupakan sebuah meeting dengan salah satu bagian Human Resource Departement atau yang lebih dikenal dengan singkatan HRD dalam bidang sumber daya manusia di kantorku.
"Shit!! Ya udah, Pak, besok saya hubungi lagi. Saya mau nelpon HRD-nya dulu." Aku segera memutuskan sambungan telepon itu. Tapi bukan karena akan segera menghubungi org HRD itu, melainkan aku jengah mendengar saran beliau yang selalu saja sama. Dan itu selalu diulang olehnya berkali-kali sampai membuatku kesal.
Belum selesai rasa kesal di hatiku mereda, tiba-tiba ponselku kembali berdering.
🎶
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Figure out where we're growin'
🎶
Dengan sisa amarah yang ada, aku menerima telepon yang kulihat sebuah panggilan dari Alex. Setidaknya begitu nama yang tertera pada layar ponselku. "Hallo? Lu di mana sih? Gua mintain dateng ke sini dari siang sampe malam gini gak muncul-muncul!" semburku setelah aku menerima teleponnya. Aku tidak membiarkannya bicara terlebih dulu.
__ADS_1
Kemudian dengan nada suara yang tidak kalah ketusnya, Alex memakiku, mengatakan bahwa betapa tidak becusnya aku untuk menjaga istri sendiri. Hingga harus memicu perkelahian amtara kami dan menyebabkan Tika pergi menyusul Lisa.
Aku tersentak!!
"Tunggu dulu, gua gak berantem sama Tika. Maksud lu nyusul??" Aku semakin tidak mengerti dengan apa yang sudah Alex katakan.
Aku dapat mendengar suara embusan napas Alex melalui telepon ini dengan jelas. Lalu Alex mengatakan jika saat ini ia sedang bersama Max, memantau tempat persembunyian lelaki breng*ek yang sedang mencoba mengacaukan pernikahan kami. Tanpa berpikir panjang lagi, tanganku segera meraih ke atas meja tapi tidak menemukan kunci mobilku di sana dan itu bersamaan dengan Alex yang mengatakan jika Tika datang ke sana menggunakan mobilku.
"Share loc sekarang! Gua ke sana!" tegasku tanpa mengatakan apa-apa lagi lalu langsung memasukkan ponselku pada saku celana.
Dengan langkah cepat aku keluar dari kamar dan bertemu dengan bi Mince yang hendak menuruni tangga. "Bi, kunci mobil Tika di mana?" tanyaku mencoba menahan panik.
"Emm, beberapa bulan yang lalu, den Haikal tuker mobilnya sama non Tika. Jadi yang ada di garasi sekarang itu mobilnya den Haikal," jawab bi Mince dengan raut wajah kebingungan.
"Ya udah, kuncinya mana?" cercaku tanpa perduli apapun lagi. Kemudian bi Mince membawaku ke lantai bawah, lalu menunjukkan di mana letak kunci mobil Haikal di gantung. Dengan cepat aku meraih kunci itu lalu meminta tolong pada bi Mince untuk membukakan pintu garasi mobil. Kami berjalan cepat melalui pintu dapur dan aku langsung membuka pintu mobil dan menyalakan mesinnya. Sembari menunggu bi Mince membuka rolling door, lalu aku memanggil beliau.
"Bi, tolong bilang sama mamah kalo aku nyusulin Tika. Itu kalau mamah tanya, tapi kalo enggak jangan dikasih tahu." Aku berpesan pada bi Mince lalu menginjak pedal gas dan pergi dari rumah menuju sebuat tempat yang sudah aku dapatkan lokasi alamatnya dari pesan singkat yang Alex kirimkan.
—————
Lisa POV.
Dana mencecapi leherku dengan brutal. Bahkan tak jarang ia melakukan gigitan kecil di sana, membuatku setengah berteriak di balik sebuah perekat yang begitu kuat menempel di mulutku. Ia juga sempat menyesap tengkuk leherku dan serasa sedang mencoba meninggalkan jejak kepemilikannya di sana. Aku sudah kehabisan tenaga, tidak bisa lagi untuk mencoba menepis semua yang Dana lakukan padaku. Tetesan air mataku menjadi saksi atas kepedihan yang aku alami.
"Hei, siapa yang suruh kamu buat diem? Aku suka Lisa yang memberontak dan kasar, sangat seksi." Dia menjamah daguku dengan kuat, tersirat sebuah rasa kesal yang teramat dalam padaku.
Habis sudah seluruh airmata yang aku tumpahkan, mengalir dengan begitu cepat. Membawa segala duka bahkan mampu menghapus rasa ketakutan yang sedari tadi merasuki jiwaku. Entah benar atau tidak semua perkataan yang sudah diucapkan oleh Dana, aku tidak tahu.
Tiba-tiba Dana tertawa menatapku, dengan seringaian di wajahnya, kedua tangannya sudah menyentuh puncak bukit milikku saat ini. Membuat tubuhku kembali bergidik ngeri sekali lagi. Atmosfer dalam kamar ini semakin menjadi panas dan pengap. Angin dari mesin AC seperti tidak ada rasanya, seakam mesin itu sedang rusak.
Dana menggerakkan tangannya dengan pelan di atas sana, aku hanya bisa memejamkan mata. Bukan menikmati, melainkan aku takut jika Dana melakukan hal aneh yang lainnya lagi padaku. Dan benar saja!
Breeeetttt!!!
Dengan tangan kosong ia berhasil merobek blouse yang kugunakan saat ini. Membuatku semakin mengerang ketakutan. Berkali-kali aku menggoyangkan tubuhku, menghempaskan kepalaku pada ranjang yang menjadi alas tubuhku saat ini. Tenagaku seakan kembali terisi, tak rela rasanya jika lelaki bejat ini menyentuh tubuhku sekali lagi.
"Hei hei, ini kenapa berdarah? Apa aku sudah melukai kamu? Astaga, maaf!! Aku tidak tahu!!" seru Dana yang diakhiri lagi dengan gelak tawanya yang membahana, semakin membuatku takut.
Aku terus saja memberontak. Namun apa daya, kini ia sudah berhasil mengunci gerak tubuhku. Lalu dengan sengaja ia menji*ati goresan pisau yang melukai bagian atas perutku, lalu mencecapnya dengan rakus. Aku menjerit kesakitan, ada rasa perih di sana yang mau tak mau semakin terasa saat mulutnya menghisap tanpa ampun.
Bersambung ...
__ADS_1