
Still Tika POV.
Aku dan Lisa sudah menempati sebuah meja persegi, makanan kami pun sudah di pesan, tinggal menunggu datang. Aku memperhatikan Lisa yang sedang asyik dengan ponselnya, sedari selesai memesan makanan.
Tiba-tiba sang pelayan lelaki datang, membawa sebotol wine kemudian menuangkan di gelas Lisa. Saat pelayan itu hendak menuangkannya di gelasku, dengan sigap aku menolaknya. Kemudian aku meminta untuk digantikan dengan air mineral saja. Pelayan lelaki itu menyetujui permintaanku.
Tak lama kemudian, pelayan itu kembali dengan membawakan sebotol kaca air mineral. Ia meletakkannya di atas meja lalu berpamitan. Aku hanya membalas dengan senyuman kecil.
Ku tuang air mineralku ke dalam gelas, sambil memperhatikan tingkah Lisa. Ya, dia masih sibuk dengan ponselnya. Dia sungguh berbeda, seperti bukan Lisa yang dulu aku kenal. Lisa yang sekarang ada di depan ku ini adalah pribadi yang berbeda.
"Ini ceritanya makan sambil liatin lu main hape?" tanyaku.
Lisa terkekeh pelan. "Ya enggaklah."
Lisa mulai menyingkirkan ponselnya, menatapku dengan kedua tangan diatas meja, satunya menopang dagu, mengarah padaku. Sambil tersenyum tipis ia memandangiku. Aku memang merindukan sahabat ku satu-satunya ini.
"Jadi selama ini lu kemana aja?" tanyaku yang kemudian meraih gelas dan meminum air mineralku.
Lisa terkekeh lagi kemudian mengambil gelas wine-nya dan meneguknya beberapa teguk. Memandangi gelas itu sebentar, kemudian meletakkannya. Tersenyum kilas padaku, lalu membuang pandangannya keluar jendela restaurant. "Gua di Bali, liburan."
"Sama Alex?" Aku hanya memancingnya. Aku memang sudah mengetahui tentang mereka, tapi itu hanya panuturan dari Alex. Bukan dari kedua belah pihak. Jadi aku rasa, aku perlu mencari kebenarannya sendiri.
"Gak lah, ngapain sama Alex? Kalo sama dia bukan liburan namanya," sanggah Lisa.
__ADS_1
Kemudian aku memaksanya bercerita tentang dirinya. Ya, tentang kemana saja dia selama ini dan apa saja yang dia lakukan. Tapi belum sempat semua itu terjadi, seorang pelayan tadi kembali menghampiri meja kami. Menghidangkan makanan yang kami pesan, serta menuangkan kembali sedikit wine pada gelas Lisa.
"Tolong tinggal aja satu botol ini disini," pinta Lisa pada pelayan itu. "Kita makan dulu, habis itu gua ceritain," ucapnya padaku sambil mengedipkan sebelah matanya.
'Dasar centil!' batinku.
Kami mulai memakan makan siang kami dalam hening. Hanya terdengar bunyi dentingan dari sendok dan garpu yang beradu pada piring kaca. Dengan perlahan aku menghabiskan makananku, sesekali mata ku melirik ke arah Lisa. Memperhatikan caranya makan.
Mungkin baru sekitar dua minggu aku tidak bertemu dengannya, entahlah, aku tidak menghitung dengan tepat berapa lama. Yang jelas, Lisa benar-benar sudah berubah. Gaya berpakaiannya, caranya berjalan, caranya makan, bahkan caranya berbicara padaku pun telah berubah.
Tak berapa lama kami selesai menyantap makan siang kami. Dengan sigap sang pelayan membersihkan piring makan kami tadi, kemudian menggantinya dengan piring kecil yang menyajikan dessert pesanan kami di awal tadi.
Dan kali ini Lisa angkat bicara. "Setelah pulang dari Inggris sama Alex, gua langsung ke Bali."
"Gua bareng Dana." Lisa langsung menatapku saat selesai menyebutkan nama lelaki itu.
Aku hanya bisa terdiam, menelan ludahku sendiri dengan begitu sulitnya. "Trus?" tanyaku berusaha tenang.
"Gua tau, Dana gak hanya sekedar rekan bisnis kantor lu ... tapi dia juga mantan lu kan?" tanya Lisa dengan santai.
Kali ini, caranya bertanya padaku seperti seorang Lisa yang aku kenal. Lisa yang selama ini selalu menemaniku. Aku menganggukkan kepala ku pelan, kemudian tertunduk. Menatap sepotong cake yang tadinya belum sempat memasuki rongga mulutku.
Lisa kemudian kembali angkat bicara, menceritakan awal pertemuannya dengan Dana hingga minggu lalu Dana menghubunginya. Memintanya pergi ke Bali untuk menemuinya. Lisa juga memaksa Dana untuk menceritakan ada hubungan apa Dana denganku, selain sebagai partner kerja.
__ADS_1
Dan akhirnya, Lisa tau bahwa aku adalah mantan Dana. Dia sudah mengetahui bahwa lelaki yang dulu pernah aku ceritakan padanya itu adalah Dana. Lelaki yang meninggalkanku, sesaat sebelum dia akhirnya memutuskan untuk tinggal di Inggris. Lelaki yang membuatku terpuruk saat itu.
"Gua minta maaf, Tik!" tegasnya.
"For what?"
"Mungkin gegara kecentilan gua di pesawat waktu itu ... gua centil banget godain dia. Sampai akhirnya dia ninggalin lu!" jelas Lisa sambil meraih tangan kananku yang ku letakkan diatas meja.
Dengan cepat aku menggelengkan kepalaku, aku menolak permintaan maafnya. Ku jelaskan padanya bahwa, semua yang terjadi saat itu bukan salah siapa-siapa. Tidak ada yang salah, semua hanya kebetulan. Lagi pula aku sudah tidak mau membahas lelaki itu lagi. Aku juga sudah tidak memiliki perasaan apapun lagi kepadanya. Sekarang aku sudah bahagia dengan apa yang aku miliki.
Ku balas genggaman Lisa lalu berkata, "Lupain yang dulu. Yang gua mau tahu, beberapa minggu lu hilang gak ngabarin gua itu, lu kemana? Ngapain aja?"
Lisa kembali menjelaskan padaku, jika kepergiannya ke Bali bukannya tak beralasan. Dia memiliki alasan kuat.
Sebelum pulang dari Inggris, Lisa memang sudah mendapatkan pesan dari Dana. Isi pesan itu hanya obrolan biasa yang menanyakan kabar dan lainnya. Sampai pada akhirnya, Dana bertanya tentangku pada Lisa. Dana terlalu mengorek informasi, hingga akhirnya membuat Lisa mencoba mengerjainya.
Lisa mau memberikan semua informasi tentangku pada Dana, asalkan Dana mau memberikan tiket, akomodasi dan semua fasilitas kebutuhan Lisa selama dia di Bali. Dan tentunya Lisa bersama Alex. Dana menyanggupinya.
Namun justru hal sial yang terjadi. Alex merasa tidak dihargai oleh Lisa selama beberapa hari terakhir menjelang kepulangan mereka kembali ke kota ini. Dan itu membuat pertengkaran yang hebat. Lisa berang, Alex kesal. Akhirnya saat kembali ke kota ini, Lisa memutuskan langsung pergi lagi ke Bali keesokan paginya, tanpa Alex.
Hanya masalah sepele yang membuat Alex kesal. Lisa yang selalu sibuk dengan ponselnya saat bersama dengannya. Lisa menyadari itu. Tapi entah kenapa Alex jadi lebih mudah cemburu saat itu. Alex juga menjadi lebih posesif dan selalu menaruh curiga pada Lisa. Hingga akhirnya semua itu terjadi. Padahal rencananya, tanggal pernikahan mereka sudah di tentukan, yaitu enam bulan lagi.
Sesampainya di Bali, Lisa langsung di jemput oleh karyawan Dana. Dibawa menuju villa-nya. Ya, seperti cerita Lisa, villa itu adalah villa dimana aku dan Jefri pernah menginap disana. Villa yang pernah menjadi project besar dari Bos-ku.
__ADS_1
Kemudian, Dana langsung mengajak Lisa untuk makan siang, sambil menikmati hamparan pasir pantai dan suara deburan ombak yang menghempas batu karang di sekitar villanya. Hingga akhirnya, Dana menawarkan sesuatu yang lebih menggiurkan bagi Lisa saat itu ...