Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 194


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Cepat-cepat aku menepis tangan wanita ini lalu berdiri. Dan tiba-tiba saja Dokter Ranti berkecak pinggang lalu berkata, "Jangan kurang ajar ya. Dokter Haikal bukan cuman seorang dokter di sini tapi beliau juga pimpinan di rumah sakit ini. Bukannya tadi beliau sudah memperkenalkan diri saat pembukaan anak magang?”


“Bukannya saya sedang ada di dalam ruangan beliau? Bukan di tempat kerja saya ataupun di ruangan meeting. Saya hanya ingin memeriksa keningnya yang memar akibat ulah saya, keteledoran saya. Apa itu salah?” Dengan santai wanita muda ini menjawab perkataan Dokter Ranti.


“Sudah-sudah,” sahutku. “Untuk kamu, tolong hargai semua senior di sini. Dan ini masih di dalam lingkungan kerja, di dalam gedung rumah sakit. Terima kasih untuk perhatiannya, tapi tolong jangan sembarangan menyentuh. Apalagi menyentuh saya.” Aku berkata dengan tegas untuk melerai mereka berdua.


“Sudah selesaikan? Kami ada pertemuan penting,” ucap Dokter Adam berusaha dengan sopan sambil menatap wanita di sampingku ini lalu menggeserkan tubuhnya, membuka jalan menuju pintu keluar dari ruangan ini.


Setelah itu wanita tersebut langsung melangkah keluar dengan tatapan tajamnya pada Dokter Ranti, aku dapat melihat itu dengan begitu jelas. Aku menahan tawa.


Dokter Adam segera menutup pintu ruanganku, sedangkan Dokter Ranti langsung menarik kursi di depan meja kerjaku dan menjatuhkan dirinya di sana. Menghela napas panjang yang disambung dengan gelak tawa Dokter Adam.


“Kamu kenapa, Ran? Emosian banget,” celetuk Dokter Adam yang sembari ikut menjatuhkan dirinya pada sebuah kursi lainnya yang ada di depan meja kerjaku. Begitu pun dengan aku yang perlahan kembali duduk.


“Kamu apaan sih, Kal?! Ngebiarin dia begitu?” protes Dokter Ranti padaku yang membuat aku terkejut.


“Kamu cemburu, Ran? Kamu suka sama Haikal?” tebak Dokter Adam.


Aku hanya diam saja dan mencebik mereka berdua. Beginilah tingkah mereka, jika kami bertiga sedang berkumpul bersama. Akan lebih santai dan juga lebih terdengar akrab satu sama lain. Tetapi jika keluar dari ruangan ini, kami bertiga akan kembali bersikap layaknya seorang rekan kerja, bukan teman.


“Bukan cemburu, Dam, tapi anak magang itu emang seenaknya banget. Kamu tanya aja sama Dokter Brian, dia juga digenitin. Belum lagi Dokter Sam. Baru resmi jadi anak magang di sini aja udah begitu.” Dokter Ranti memulai kecerewetannya.


Namun, dari kalimatnya itu justru membuat aku tertarik untuk membuka suara dan bertanya, “Kalau sudah tahu begitu, kenapa kamu lolosin tahap akhir pendaftaran magangnya? 'Kan masih bisa didiskualifikasi sebelum resmi dalam meeting tadi? Walaupun itu caranya terbilang tidak profesional, tetapi attitude juga diperlukan di sini.”


Dokter Ranti terlihat bingung menjawab pertanyaanku. Begitu pula Dokter Adam yang memandanginya dengan menganggukkan kepala, seolah membenarkan kalimatku dan menunggu jawaban darinya.


“Nilainya lebih tinggi dari yang lainnya,” lirih Dokter Ranti yang seakan menyesal menerima wanita itu, membuatku seketika bersandar pada kursiku. Begitu pula dengan Dokter Adam yang membentuk bibirnya membentuk sebuah lingkaran tanpa menghasilkan bunyi.


“Mana ... coba liat nilainya.” Aku menjulurkan tanganku, meminta Dokter Ranti memberikan dokumen yang aku perlukan.


Dia meletakkan beberapa map tipis di atas mejaku, yang sedari tadi memang sudah ada dalam genggaman tangannya, sejak dia memasuki ruanganku. Lalu membuka beberapa kertas hingga akhirnya memberikan selembar kertas itu padaku. Di sana aku melihat nama Jovanka Yoseph tertulis pada bagian paling atas, dengan nilai 96 dan total kesalahan jawaban hanya ada dua.


“Kamu yakin ini? Kamu sendiri 'kan yang periksa?” Aku memastikan sekali lagi.


Dokter Ranti menganggukkan kepalanya. Kemudian aku memberikan lembaran jawaban itu pada Donter Adam, sebab ia juga ingin melihat isi dari kertas ujian ini. “Wah, seumur-umur kita buka program magang, gak pernah ada yang melebihi nilai 88 loh,” tukas Dokter Adam cuek, membuatku menatap Dokter Ranti penuh selidik.


“Beneran gak pernah ada yang nilainya segitu selama beberapa kali kita buka program magang ini?”


Dokter Ranti seakan tercekat dengan pertanyaanku, sebab selama ini aku memang jarang ikut andil dalam urusan anak magang. Karena menurutku, biarkan itu menjadi urusan mereka berdua untuk memimpin.

__ADS_1


Setelah itu aku meminta Dokter Ranti untuk memberikan data anak magang sebelumnya, yang memiliki data tertinggi. “Cuman tiga orang ini? Gak ada yang cowok apa?”


“Ada yang cowok, tapi nilainya cuman 79.”


“Mana CV-nya? Ada fotonya?”


“Ada, sebentar ... ini ...,” sahutnya seraya memberikan data diri yang aku pinta.


Kemudian aku meminta Dokter Ranti untuk menghubungi keempat orang yang berhasil lulus magang dari rumah sakit ini. Sebab nantinya untuk bagian UGD pasti akan memerlukan lebih banyak perawat dan juga dokter di sana. Dan untuk sementara waktu, biarkan bagian perawatnya dulu yang aku tambahkan. Lalu untuk bagian dokter, mungkin aku akan menghubungi rekanku ataupun universitas-ku dahulu.


“Dan kamu, Dam. Kenapa akhir-akhir ini kinerja kamu menurun drastis?”


Dokter Adam membenarkan posisi duduknya, sambil sekilas menoleh pada Dokter Ranti. “Maksudnya gimana, Kal?”


Aku menghela napas. “Kamu gak sadar atau pura-pura gak tahu? 'Kan sudah ada peraturan tentang minimal waktu dalam mengatasi pasien di ruang UGD. Akhir-akhir ini kamu mengabaikan itu, apalagi semenjak aku dan Ranti tidak di sana lagi.”


Dia ikut mengembuskan napasnya dengan berat lalu berkata, “Dokter pendamping yang kalian berikan itu benar-benar membuat aku kewalahan. Dia belum bisa dilepas sendiri, masih harus tandem dengan dokter andal. Dan itu bikin aku jenuh.”


“Apa aku harus turun lagi hanya untuk sekedar mengajarinya?” tawarku.


“Bukan begitu, Kal. Lebih baik dia kembali belajar terlebih dahulu untuk mengatasi emosional pasien dan juga keluarga pasien.”


“Iya, Kal. Kayaknya pelajaran itu juga perlu buat para perawat. Karena beberapa kali aku sempat melihat para perawat yang lari masuk ke gudang hanya untuk menangis dan meluapkan emosinya saat pasien ataupun keluarga tidak dapat dikendalikan,” usul Dokter Ranti.


Sejenak aku memikirkan masalah itu dengan memandangi mereka berdua, karena jujur saja, aku mendapatkan pelajaran itu dari universitas di mana aku mengenyam pendidikannya sampai selesai. Dan pelajaran itu juga aku dapatkan karena jam terbang yang sudah tinggi.


Aku menatap lekat mereka berdua. “Kita akan menambah karyawan, otomatis juga akan menambah biaya. Gimana kalau semua itu juga diajarkan pada anak magang?”


“Masalahnya siapa dokter atau perawat senior di sini yang mau ngajarin?” tanya Dokter Adam.


“Aku akan pikirkan masalah itu. Tapi tolong, kalian berdua jaga kualitas kinerja, jangan setengah-setengah.” Aku memohon pada mereka berdua yang dijawab dengan anggukan kepala.


Setelah semua selesai, mereka kembali ke pekerjaan masing-masing, tetapi tanpa sengaja aku menarik lengan Dokter Ranti saat di depan pintu ruanganku, di mana Dokter Adam mulai melangkah menjauh.


“Ada apa?” tanya dengan nada suara pelan setelah melihatku mengarahkan jari telunjukky padanya.


“Aku ingin menawari program beasiswa buat kamu, dari kampusku dulu. Aku sudah membicarakannya dengan pemilik rumah sakit ini dan beliau setuju. Gimana, kamu minat?”


“Kenapa aku?”


“Cuman kamu dan Adam yang akan aku rekomendasikan. Tapi begitu melihat kinerja Adam, aku jadi ragu dengan timing management-nya selama menempuh pendidikan nanti.”


“Berapa lama pendidikannya?”


“Semua tergantung bagaimana cara otak kamu memahami setiap materi.”

__ADS_1


Kemudian aku juga menjelaskan secara singkat, bahwa para pemilik rumah sakit ini juga ingin mengenal dokter andal di sini secara langsung. Dan tidak tanggung-tanggung, pemilik rumah sakit ini yang tidak lain juga adalah dosenku saat kuliah dulu, juga akan memberikan akomodasi penuh selama mengenyam pendidikan tersebut. Sepertiku dahulu, saat awal-awal aku bekerja di tempat ini.


Ternyata, fasilitas itu juga tidak berubah semenjak beberapa puluh tahun yang lalu.


“Aku pikir-pikir dulu ya, Kal? Ini aja pekerjaan masih banyak yang numpuk.”


“No problem. Pikirin aja dulu. Untuk tugas kamu yang sekarang, bisa aja aku limpahkan pada yang lain, jika kamu memang berminat buat ngikutin program studi itu.”


Lalu Dokter Ranti menganggukkan kepalanya dengan pelan dan berpamitan padaku, untuk kembali menuju ke ruangan kerjanya. Kembali berkutat dengan beberapa pekerjaan yang dia handle di rumah sakit ini.


Sedangkan aku kembali menutup pintu ruanganku, bersamaan saat dering ponselku berbunyi dengan begitu nyaring dari dalam laci meja kerjaku yang masih dalam keadaan terkunci.


🎶


So don't call me baby


Unless you mean it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


Before I dive right into you


🎶


Begitu berhasil mengambil ponsel itu, aku mendapati nama Dokter Brian muncul di sana. Kemudian aku menerima panggilan itu dengan sangat antusias. “Hallo?! Ada apa?”


Setelah itu dia mengatakan padaku jika dia berhasil mendapatkan waktu kosongnya untuk memeriksa kondisi kesehatan calon istriku. Sebab jadwal janji temu kami sebelumnya, sempat dia batalkan karena ada suatu hal yang mendesak yang harus dia lakukan. Yang mana akhirnya, itu membuat Clara sedikit badmood menerima keputusan itu.


“Kali ini gak bakalan batal lagi, 'kan?” ucapku khawatir seraya kembali tersenyum tipis.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa untuk mendukung karya ini.


Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.


Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.


Terima kasih 💋

__ADS_1


@bossytika


__ADS_2