Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 216


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Tika POV.


“Daddy pergi kerja dulu ya, Sayang! Muah!” pamit Jefri pada kedua anaknya dan mengecup puncak kepala keduanya secara bergantian.


Aku yang masih mengenakan celemek sehabis selesai mencuci piring saat itu sedang menatapnya lekat. Dari balik meja kitchen set yang menghiasi dapur ini. Setelah itu Jefri tersenyum menatapku lalu dia menghampiri, melingkarkan kedua tangannya di perutku. Dia memeluk dari belakang, kemudian salah satu tangannya menyelip masuk ke dalam celemek.


Telapak tangannya mengusap permukaan perutku dengan lembut sambil bibirnya yang menyapu pelan ceruk leher ini. “Katanya mau dipanggil ayah, kenapa malah ngajarin anak manggil daddy?” tanyaku penasaran.


Dia melepaskan bibirnya lalu menjawab, “Dipanggil daddy-mommy lebih romantis kayaknya.”


Aku terkekeh pelan sedangkan dia melanjutkan menyesap leherku berkali-kali hingga berjalan ke punggungku. “Hei! Kamu jangan begini dong di depan anak!” tegurku yang malah membuatnya semakin liar. Sebelah tangannya yang ada di dalam bajuku menjadi menjelajah ke mana-mana. Membuatku tertawa karena geli akan sentuhan itu.


“Kalo kayak gini kamu bisa telat ke kantor loh!”


“Gak apa-apa. 'Kan sekarang kantor sendiri. Mau gak masuk pun juga bisa!” sombongnya.


“Wah, sombong ya sekarang?” Spontan aku berbalik, hingga membuat tangannya terlepas dari gerakan di dalam bajuku.


Kedua tangan ini langsung melingkari lehernya, lalu kedua bola mata kami saling beradu dengan masing-masing senyuman yang mengembang pada wajah kami.


“I love you.” Jefri selalu mengucapkan kalimat itu di setiap pagi dan di setiap kami bercumbu. Bahkan akhir-akhir ini dia sering sekali mendadak mendatangiku hanya untuk mengatakan kalimat itu. Walaupun sesekali dia sampaikan melalui sebuah chat singkat.


Entah apa alasannya melakukan itu. Yang jelas, saat ini aku merasa bisa hidup dengan tenang bersamanya. Aku akan berusaha sekuat tenagaku untuk menjadi seorang istri yang terbaik untuknya dan menjadi seorang ibu bagi anak-anak kami. Bahkan terkadang, aku masih sering berusaha menempatkan diriku sebagai teman untuknya, saat dia membutuhkan tempat untuk berkeluh-kesah, tanpa harus menghakiminya ataupun memberikan solusi. Karena terkadang menjadi seorang pendengar yang baik saja, sudah sangat berarti.


Aku memperlakukannya selayaknya aku ingin diperlakukan olehnya. Kami tidak lagi membicarakan cinta, tapi kami membicarakan masa depan. Karena jika cinta, mungkin hanya bisa sesaat. Tetapi masa depan, akan kekal abadi.


“Love you more!” lirihku sambil menangkupkan kedua telapak tangan ini pada pipinya lalu menarik wajahnya untuk aku kecup bibir tebalnya itu.


Kecupannya masih terasa seperti dulu, tidak berubah hingga saat ini. Perlahan dan begitu lembut. Tidak menggebu ataupun kasar. Aku menyukainya. Dan lagi, jemari jahilnya itu selalu saja mampu membangkitkan gairahku hingga detik ini. Benar-benar tidak berubah.


“Siang ini kamu ada rencana ke mana?” lirihnya menempelkan kening dan hidungnya di wajahku, tepat pada posisi yang sama.


Sejenak aku berpikir, rasa-rasanya aku tidak memiliki janji apapun dan dengan siapa pun. “Belum ada rencana apa-apa. Memang kenapa?”


Dia menggelengkan kepala dengan pelan lalu melepaskan tautan hidungnya dan mengecup keningku. Lumayan lama hingga bel rumah kami berbunyi.

__ADS_1


Tingtong! Tingtong!


Jefri langsung melepaskan dekapannya sekaligus kecupan pada keningku. Lalu sekilas dia sempat mencuri sebuah kecupan pada bibirku, barulah setelah itu dia benar-benar melepaskanku dan segera melangkah menuju ke pintu depan untuk melihat siapa yang sudah sepagi ini datang untuk bertamu.


Sedangkan aku tersenyum mendapat perlakuan seperti itu darinya, sambil kembali membenarkan pakaianku dan melepaskan celemeknya.


Samar-samar aku mendengar suara seorang wanita di depan pintu. Lalu tidak berapa lama kemudian wanita itu berteriak, “Tikaa!!”


Dengan sebuah senyuman aku menyambutnya, begitu aku lihat dari kejauhan ternyata wanita itu adalah Metta. Rekan kerjaku di kantor dulu, yang juga sekaligus teman keseharianku.


Metta berlari menghampiri aku yang berdiri tepat di belakang baby chairs dari Nathan dan juga Naila. Dia langsung memeluk, tentu saja aku membalas pelukannya. “Elu tuh ya, punya anak kembar tadi badan bisa balik lagi kek perawan!”


“Hust! Ada anak gua inih! Jangan ngomong sembarangan.” Aku menepuknya sembari memekik.


“Dih, mereka masih kecil juga. Mana paham.”


“Ya kali aja, pas ada setan lewat keselimpet! Tiba-tiba inget aja gitu mereka sama kosa kata itu, gimana?”


“Ya kali 'kan ada begituan ....” Metta mencebik lalu kami berpandangan dan sama-sama tertawa.


Lalu tiba-tiba Jefri menyela obrolanku dengan Metta untuk berpamitan pergi ke kantor. “Aku berangkat dulu ya?” Dia mengecup keningku dan lagi-lagi mencuri ciuman di bibir dan ini.


“Hati-hati ya, jangan ngebut.” Aku berpesan seraya dia berbalik lalu memberikan sebuah kiss bye yang mengarah pada kami.


Lagi-lagi Metta kesal melihat itu. “Astaga!! Udah pergi ngantor sana! Kebanyakan gaya deh ah!”


Aku terkekeh melihat mereka berdua. Lalu akhirnya tersisa kami berempat di dalam rumah. Lalu aku mengajak Metta untuk berbincang di ruangan bermain anak. Tentu saja dengan membawa Nathan dan Naila ikut bersama kami di sana.


Sengaja aku biarkan mereka berdua bermain di dalam playdate home-nya, agar mereka bisa sambil belajar berdiri sambil memegangi pinggiran tempat bermain yang terbuat dari pagat kasur. Jadi jika mereka tiba-tiba letih berdiri dan menghempaskan tubuh ke lantai, mereka tidak akan merasakan sakit pada tulang ujung bokongnya.


“Tumben elu ke sini? Biasanya juga lewat chat. Ada apaan?” tanyaku pada akhirnya.


Metta terkekeh cengengesan. Kemudian dia menceritakan maksud hati dari kedatangannya itu, yaitu ingin memberikan sesuatu padaku. Dia mengeluarkan sebuah kertas amplop cokelat dari dalam tasnya, lalu memberikannya padaku.


“Apa ini?” Aku menerimanya dengan bingung, terkejut, merasa aneh bahkan perasaan tidak nyaman lainnya langsung seketika datang menggerogoti diri ini.


“Gue juga gak tahu. Paketan ini datang dua hari yang lalu. Dan seperti yang bisa elu liat di sana, namanya atas nama elu, tapi alamatnya pake alamat kantor trus ditujuin ke gue.” Metta menjelaskan lalu dia ikut bermain dengan kedua anakku.


Dengan sesekali menatap Metta, tanganku sambil membuka bungkusan amplop cokelat itu. Lalu menemukan sebuah kotak hitam berukuran sedang dan juga selembar kertas surat.

__ADS_1


Aku embuskan napas sebelum membuka isi surat itu lalu membacanya dengan perlahan:


Hi Tika ...


Aku tidak tahu surat ini akan sampai atau tidak, yang jelas, jika surat ini sampai di tangan kamu, itu artinya aku sudah gak ada. Entah itu karena habis usia atau yang lainnya. Tapi tolong, baca surat ini sampai habis.


Sebelumnya aku ingin meminta maaf atas segala kekacauan yang terjadi. Maaf jika dulu aku membuat kamu terluka. Aku yang salah karena aku yang sebenarnya takut untuk menjalin komitmen yang lebih rumit. Sampaikan kalimat maaf ini juga pada Lisa.


Mungkin aku yang memengaruhinya berpikiran kotor seperti itu, menjadikannya sebagai pemuas nafsuku dan juga menyuruhnya melayani teman-temanku. Aku yang merusaknya. Padahal kakakku Dave begitu mencintainya.


Dan untuk keluaraga, suami serta anak kamu, tolong sampaikan permohonan maaf aku dan juga Dave. Karena saat tahu jika aku sudah kehilangan saudaraku satu-satunya, aku emosional dan rasanya ingin membalas dendam.


Aku akui, semua yang aku lakukan hanya karena aku ingin melihat wajahmu, senyumanmu, tapi sepertinya mustahil. Maaf jika aku menggunakan cara kekerasan atau kasar kepada kamu. Mungkin kamu tidak akan mengerti, bagaimana perasaanku, hingga semua cara aku lakukan


Dan ini ada sebuah kotak yang aku kirimkan padamu. Semoga saja isinya bermanfaat..


Maaf jika aku tidak bisa berhenti mencintai kamu begitu saja, walaupun akhirnya aku tahu, kita tidak akan mungkin bersama. Terima kssih atas segalanya.


From 2DWinston


Tidak terasa air mataku menetes begitu saja membasahi pipi. Lalu aku membuka kotak hitam tersebut dan mendapati sebuah kunci dengan sebuah gantungan yang berlabel.


Di sana tertulis sebuah pesan dengan jelas, jika aku harus pergi dengan Lisa ke sebuah tempat yang dimaksudkan itu. Untuk menemukan barang lainnya.


Lalu di balik tutup kotak itu, lagi-lagi tertulis sebuah pesan kecil. 'Kita akan bermain Sherlock Holmes untuk yang terakhir kalinya.'


Seketika isak tangisku pecah begitu saja, tidak bisa lagi aku menahannya. Padahal dalam hati, aku sudah berjanji untuk tidak menangisi siapa pun lagi selain orang-orang yang aku kasihi..


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa juga buat vote ya, dua minggu ini aku mau memantau hasil voting 🧐


Sekian dulu, #salambucin


Babay ...


@bossytika 💋

__ADS_1


__ADS_2