
Lisa POV.
Aku membuka mataku, pandangan gelap gulita menghiasi mataku. Aku tidak dapat melihat apa-apa. Tidak ada seberkas cahaya ataupun sinar yang menerangi tempat ini. Membuat aku semakin sulit untuk mengenali di mana aku berada sekarang.
"Argh!!" ringisku saat hendak menggerakkan tubuhku. Terasa sakit di bagian punggungku, seperti rasa nyeri akibat suatu benturan. Tapi tetap saja aku berusaha bergerak. Memaksakan berdiri lalu merasarasa dengan tanganku untuk mengenali ruangan yang menghitam ini.
Tanganku bergerak perlahan menyusuri dinding ruangan ini. Hingga akhirnya kakiku menabrak sesuatu dan itu membuat lututku berdenyut, sakit sekali. Tapi tanganku tetap meraba benda yang aku tabrak itu, ternyata sebuah kursi.
Kemudian aku terus melanjutkan penelusuranku pada dinding itu, berharap dapat menemukan sebuah pintu. Di mana pintu itu dapat membawaku keluar dari ruangan yang semakin terasa kelam ini.
Namun tiba-tiba secara tidak kusangka, seberkas cahaya masuk dari belakangku. Membuat aku seketika menoleh lalu mengerjabkan mataku berkali-kali, silau akibat sorotan cahaya itu.
"Sudah sadar?" sapa seorang lelaki. Ya, itu memang suara bariton dari seorang lelaki yang rasanya pernah aku kenali.
Aku mengerjabkan mataku sekali lagi, berharap dapat melihat dengan jelas sosok lelaki yang berdiri di tengah-tengah ambang pintu itu. Akibat dari cahaya yang bersinar di belakangnya itu, aku masih tidak bisa mengenali siapa lelaki itu. Dan aku memang sengaja tidak menjawab pertanyaannya. Untuk apa?
Lelaki itu perlahan bergerak mendekatiku. Lalu menyentuh daguku, memaksaku untuk melihat wajahnya. Baru lah aku dapat melihat dengan jepas jika lelaki itu adalah Dana. Lelaki breng*sek yang sudah membuat hidupku semakin menderita.
"Heh! Kamu pikir kamu bisa lolos gitu aja dari tangan aku? Jangan harap ya. Perjanjian kita belum selesai!!" gertaknya sambil sedikit membuang wajahku, melepaskan tangannya dari ujung daguku.
Aku hanya mampu menahan amarah, sebab aku tidak ingin lelaki ini semakin berbuat yang tidak-tidak padaku saat ini. Lututku terasa lemas, tubuhku ambruk ke lantai. Terduduk pada dinginnya lantai. Aku baru sadar, jika aku belum makan apapun, minum juga tidak. Mungkin sudah seharian aku di tempat ini. Terkurung layaknya seorang binatang. Dan itu membuat Dana tertawa terbahak-bahak.
Kini dia menurunkan tubuhnya, mensejajarkan dengan tubuhku, berjongkok sambil masih memperhatikanku. Aku hanya bisa menunduk, menatap ke arah lututku sambil sesekali meliriknya. Dengan kedua tanganku yang kini menekan-nekan perutku, berharap bisa menghilangkan rasa nyeri akibat lapar dan haus.
"Mau makan? Atau mau minum tequila? Seperti waktu kita di bali ...," ucapnya lagi diiringi dengan kekehan. Jemarinya meraih anakkan rambutku lalu menyelipkannya ke belakang telingaku. Jujur saat mendengar kalimat yang baru saja ia ucapkan, aku seketika menjadi takut.
__ADS_1
Kilas balik semua kejadian yang terjadi beberapa bulan lalu saat aku berlibur ke bali kembali terlintas di benakku. Kebodohan dan keserakahan yang timbul dalam jiwaku, sungguh membuatku gelap mata. Pasalnya tidak hanya kecemburuan Alex saja yang memicu langkahku untuk melakukan itu, tapi juga kesempurnaan hidup sahabatku.
Dia selalu mendapatkan apa yang dia mau dengan begitu mudahnya. Mungkin, hanya dengan menjentikkan jarinya, semua keinginan itu akan terkabul. Sedangkan aku?? Aku harus berjuang, bekerja keras demi mendapatkan segalanya. Bahkan Om Reza yang memegang aset milik mendiang orangtuaku pun harus bersikap tega padaku. Menyita semua aset pemberian papahnya Tika. Hingga aku harus mengikuti kemauannya untuk kuliah di luar negeri.
Aku iri dengan kehidupan Tika yang bergelimang harta dan mampu menjadikannya ratu. Tapi mengapa dia terus bersikap biasa saja? Seakan dia adalah anak dari keluarga yang sederhana. Aku juga iri dengan orang-orang yang menyayanginya. Mencintainya dengan tulus tanpa memandang apapun. Bahkan saat aku mengetahui jika dulu, Alex juga pernah menyukainya. Bahkan Alex pernah memintanya untuk menjadi pacarnya.
Tidak terasa tetesan air mata kembali jatuh membasahi pipiku dan mendarat pada pangkuanku. Apa aku salah jika aku ingin menjadi wanita sepertinya?
"Hei hei, kenapa nangis?" tegur Dana membuyarkan kilasan ingatanku, dengan jemari kotornya ia menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipiku lalu membawa wajahku untuk menatapnya. Aku sudah kehabisan tenaga saat ini, bahkan untuk sekedar menepis tangannya saja, aku sudah tidak mampu.
"Oke oke, aku bakalan kasih kamu makan, tapi kamu mesti nurut, jangan jadi wanita nakal yang gak penurut. Ya?" lirihnya perlahan sambil menghapus air mataku. Kemudian ia mengangkatku dan membawaku keluar dari ruangan itu. Memghadirkan cahaya terang yang benar-benar menyilaukan mataku.
Beberapa kali aku mengerjabkan mata hingga akhirnya Dana membawaku masuk ke dalam rumah utama yang terlihat sederhana, lalu menurunkanku pada sebuah kursi di meja dapur yang berhadapan langsung dengan kitchen set. Dengan sigap ia mengambilkan sebuah kotak minuman jus dari dalam kulkas lalu menuangkannya pada sebuah gelas dan meletakkan gelas itu di hadapanku.
Untuk beberapa saat aku baru mengambil gelas itu, tetapi tidak untuk langsung aku minum, melainkan hanya aku pegang saja. "Ya udah terserah kalo kamu gak percaya." Ia berbalik lalu membuka sebuah sudut lemari di sekitarnya. Mengambil beberapa butir telur, dua bungkus mie instan dan sebuah panci kecil. Sepertinya untuk merevus mie instan itu.
"Aku cuman punya ini di sini. Kalau kamu nurut, aku akan pesankan makanan yang lebih enak," ucapnya menatapku lalu memulai kegiatan memasaknya di depan mataku. "Lagi pula, jika aku pesankan makanan di luar, belum tentu kamu mau makan. Karena kamu takut aku racunin kamu. Iya kan?" tebaknya lagi.
Boleh jujur? Ya aku memang takut itu. Tapi untuk apa dia bersikap baik padaku saat ini?
—————
Jefri POV.
Tubuhku ambruk seketika, lemas jatuh ke lantai jika mengingat kembali saat tadi pagi terakhir aku meninggalkan istriku di rumah ini. Aku menundukkan kepalaku, menyelipkannya di antara kedua kakiku lalu menjambak rambutku sendiri.
__ADS_1
Lagi-lagi aku ceroboh dan selalu membahayakan nyawanya dan kali ini aku malah ikut membahayakan nyawa sahabatnya dan mertuaku sendiri. Sebagai seorang suami aku merasa gagal melindunginya saat ini. Aku sudah tidak tahu lagi apa yang harus aku lalukan dan harus ke mana aku mencari mereka.
Cukup lama aku tenggelam dalam rasa kesedihanku. Air mata yang sengaja kutahan, sedari tadi kini tidak mampu lagi terbendung hingga akhirnya menetes membasahi kedua pipiku. Aku acuhkan bi Mince yang mencoba menenangkanku dan menepuk pundakku. Rasanya aku sudah tidak tahu malu untuk menangis di depannya. Aku tidak peduli jika bi Mince menganggapku sebagai suami yang lemah. Karena Tika memang satu-satunya kelemahanku dan juga sumber kekuatanku.
Mungkin sudah berjam-jam berlalu sampai akhirnya aku menangis bersimpuh pada bi Mince. Lalu tiba-tiba suara pintu mobil berbunyi. Aku memahan isak tangisku lalu menoleh, ternyata Max yang datang. Seketika Max bertanya padaku dengan nadanya yang lumayan tinggi. "Maksud kamu Tika hilang gimana?!"
Dengan terbata aku menjelaskan semuanya, berawal dari telepon Alex yang mengatakan bahwa Lisa menghilang lalu dia yang menelpon Tika, berniat untuk menanyakan keberadaan Lisa. Dan sialnya Tika pun tidak bisa dihubungi. Lalu aku yang bergegas ke rumah mencari Tika dan tidak menemukan adiknya beserta mamahnya itu.
"Kamu gimana sih? Aku kan udah bilang, aku gak bisa terus-terusan suruh anak buah aku buat jagain Tika, mereka harus ngerjain proyek kita. Dan aku bukan mafia hebat seperti di kisah-kisah novel yang berkuasa sedunia dan bisa semena-mena. Dan kamu tau itu." Max mendengus kesal lalu melayangkan tinjunya yang tertahan di depan tubuhnya sambil menendangkan kaki kanannya ke udara.
Aku sadar, dia pasti kesal sekali padaku, bahkan mungkin marah. Aku kembali menundukkan kepalaku, menatap tanganku yang menjadi penyangga tubuhku. Sedangkan bi Mince sudah berdiri saat melihat Max memasuki pintu depan. Lalu beberapa saat kemudian aku mendengar suara Max yang menelpon seseorang memintanya untuk mencari Tika dan mamah mertuaku.
Aku sempat menoleh padanya, lalu berusaha untuk berdiri dan duduk di sofa ruang televisi. Aku sadar, aku tidak bisa berbuat apa-apa, aku tidak memiliki anak buah atau orang-orang kepercayaan yang bersedia mengorbankan nyawanya untuk menolongku, membantu mencari istriku sendiri. Bahkan aku juga tidak bisa melindungi calon buah hatiku. Aku meratapi nasibku yang terlalu lemah tidak berdaya.
"Maaf, sudah kasar. Aku kebawa emosi. Aku masih merasa Tika adalah tanggung jawabku, padahal kamu sudsh menggantikan posisiku," lirih Max yang kemudian duduk di sampingku, menepuk pundakku.
"Dia memang tanggung jawabku, tapi aku gak bisa berbuat apa-apa. Aku gak punya orang-orang kepercayaan seperti kamu. Bahkan aku gak bisa ngelacak keberadaannya di mana kalau hapenya sudah gak aktif kayak gini." Aku seakan pasrah. Tapi aku juga memahami penyesalan yang Max rasakan.
"Jika benar Tika menghilang karena ulah Dana, aku sendiri yang akan mendatanginya. Bahkan jika itu artinya mengharuskan aku pergi ke vilanya," tegasku sambil menoleh menatap Max.
"Gak perlu. Jangan kotori tangan kamu hanya karena lelaki itu. Kamu masih harus menjaga buah hati kalian, sampai mereka lahir. Sisa, biar jadi urusanku." Max kembali menepuk pundakku lalu ponselnya kembali berdering.
Max berdiri dari duduknya kemudian beranjak menjauh untuk menerinta telepon itu. Sedangkan aku kembali meraih ponselku lalu menekan nomer Alex. Memintanya untuk segera mendatangiku ke sini. Sembari menunggu kabar dari orang-orang suruhan Max.
Bersambung ...
__ADS_1