Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 215


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Haikal POV.


Sosok wanita itu terus saja melangkah mendekat ke arahku. Setelah semakin dekat aku baru menyadari jika itu adalah sosok Jonvanka. Sontak aku mendengus malas lalu kembali melempar pandanganku ke arah lain.


“Gimana kondisi dokter Ranti?” tanyanya membuka suara.


“Baik. Dia sudah sadar tadi.”


“Bagus deh kalo gitu.”


Hening. Suasana kembali sepi di antara kami berdua, hanya embusan angin malam yang terdengar semakin kencang. Tiba-tiba pikiranku menjadi kosong dan kembali mengeluarkan sebungkus rokok dan mengambil sebatang lagi untuk menyulutnya.


“Sejak kapan, Dokter Haikal merokok?” tanya wanita ini lagi.


“Sejak kamu belum ada di sini.”


Tiba-tiba dia terkekeh lucu begitu mendengar jawaban yang aku lontarkan, rasanya tidak ada sedikitpun terdengar menggelitik hati. Lantas apa yang dia tertawakan saat ini?


Perlahan aku menggerakan leher ini, menoleh ke arahnya yang masih saja tertawa pelan sambil menutupi mulutnya sendiri dengan telapak tangannya.


“Ada yang lucu?”


“Ada.”


“Apa?”


“Kamu.”


“Jangan main-main! Bukannya aku sudah pernah bilang? Untuk tidak—”


“Iya ya ya ya! Aku ngerti kok.” Jovanka mencebik. “Gak bisa apa ngomongnya yang santai aja? Gak usah formal.”


“Gak bisa, kita masih dalam lingkungan rumah sakit!”


“Kalau gitu mestinya kamu gak boleh ngerokok dong?” sentaknya. Aku mematung seketika. Lalu membuang pandanganku ke lain arah. Sialan!


Kali ini dia sungguh menyebalkan hingga membuatku merasa jenggah. Dan selalu saja seperti ini jika berhadapan dengannya. Di mana pin dan kapan pun.


Kembali aku menyesap sebatang rokok yang terselip di ujung jemari kananku. Mencoba untuk tidak menghiraukan keberadaan wanita yang satu ini. Menganggapnya tidak ada saat ini mungkin adalah keputusan yang paling tepat.


“Kenapa sih orang-orang selalu memandang orang lain dari luarnya saja? Tanpa mau mencari tahu terlebih dahulu tentang latar belakang orang yang dipandangnya?”

__ADS_1


Aku meliriknya sekilas lalu kembali menatap lurus ke depan. Mengembuskan napas lalu membantunya menjawab, “Karena orang tersebut malas untuk mencari tahu, makanya apa yang sudah terlihat di depan mata, ya itulah pandangan yang lainnya.”


“Lantas kamu sendiri memandang aku seperti apa?” tanyanya dengan lantang.


Kali ini aku menatapnya dengan keanehan yang teramat sangat. Aku tatapi wajahnya selama sepersekian detik, lalu menggelengkan kepala dengan pelan. Aku sungguh tidak mengerti dengan cara pemikirannya saat ini.


Bukan, bukan hanya saat ini, tetapi semenjak dia berani datang ke ruanganku dengan berniat mengobati keningku yang tertabrak pintunya. “Aku memandang kamu hanya sebagai perawat dan anak magang di sini. Tidak lebih!”


Kemudian aku segera mematikan rokokku dengan membuangnya ke lantai lalu menginjak putungnya yang tersisa sedikit. Lalu melangkah berlalu di depannya.


Tiba-tiba saja jemari Jovanka menangkap erat lenganku hingga membuat langkah kaki ini terhenti dan spontan menoleh menatapnya. Dia sungguh bernyali sebagai wanita dewasa. Mengingatkanku dengan Clara saat awal pertemuan kami.


“Benarkah tidak ingin memandangku secara lebih?” lirihnya sambil memiringkan kepala dengan raut wajahnya yang innocent.


Untuk beberapa detik aku kembali tercengang karena membayangkan dia yang benar-benar menyerupai Clara. Tetapi itu jelas-jelas sangat mustahil. Aku menutup mata sejenak lalu mengembuskan napas. Clara lebih baik dan lebih segalanya dari pada dirinya ini.


“Lepasin tangan kamu!” Aku membentaknya tanpa kontrol. “Jadi wanita jangan murahan. Dan harus berapa kali aku bilang, kamu boleh menggoda dokter lain di rumah sakit ini, bebas. Tapi jangan saya.” Aku menghentakan lenganku dari genggaman tangannya hingga terlepas.


Namun, di saat aku hendak melangkah pergi tiba-tiba dia terkekeh pelan lalu berucap lumayan nyaring, “Ternyata benar dugaan saya, Anda salah satu di antara mereka yang memandang rendah diri saya tanpa mau tahu bagaimana latar belakang saya terlebih dahulu. Saya pikir Anda pimpinan yang bijak, Dok?” ucapnya seraya memiringkan tubuhnya lalu menengok wajahku untuk mencari perhatian, mungkin.


“Saya pikir seorang pimpinan rumah sakit tidak akan termakan issue tentang perawatnya. Ternyata—”


Aku membalikan tubuh lalu mendekatkan diriku padanya, tepat di depan wajahnya. “Ternyata saya juga seorang manusia yang memiliki kesalahan dan juga pola pikir yang sederhana. Menjadi seorang pimpinan dan juga seorang dokter, bukan berarti membuat saya bertindak seperti Tuhan. Penuh Keadilan, Maha Mengetahui ataupun berlaku tidak acuh.”


Selangkah aku memundurkan diri lalu menatapnya seolah sedang mengintimidasi. Dengan cepat mataku bergerak, melihatnya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Walaupun cahaya di tempat ini sangat minim, tapi aku yakin dia bisa melihat gerakan kedua bola mataku yang sedang memerhatikannya.


“Apa salahnya bermain-main sebelum menikah, Dok? Anggap saja saya memberikan penawaran secara gratis!” Lagi-lagi wanita ini berseru saat aku hampir menarik gagang pintu di depanku.


“Maaf. Saya bukan lelaki yang senang bermain. Mau itu berbayar, apalagi yang gratisan. Tapi terima kasih sudah menawarkan diri.”


Kemudian dengan gesit aku menarik pintu itu lalu kembali masuk ke dalam gedung rumah sakit, meninggalkan wanita itu di sana.


Wanita yang meledak-ledak tidak jelas. Wanita yang tiba-tiba meratapi hidupnya dengan penuh penyesalan dan kekesalan. Lalu beberapa detik kemudian kembali senang. Semacam sebuah penyakit yang sedang tren saat ini, yaitu Bipolar Disorder.


Penyakit ini merupakan gangguan yang berhubungan dengan perubahan suasana hati mulai dari posisi terendah depresif/tertekan ke tertinggi/manik. Penyebab pasti gangguan bipolar masih tidak diketahui dengan jelas, hanya saja kombinasi genetika, lingkungan, serta struktur dan senyawa kimia pada otak yang berubah mungkin sangat berperan atas terjadinya gangguan tersebut.


Bukankah sama dengan ciri-ciri yang sering diperlihatkan oleh Jovanka?


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas malam saat ini. Aku melangkah menuju ke ruangan ICCU untuk memeriksa kondisi dari dr. Ranti. Begitu sampai di sana, betapa terkejutnya aku melihat sesosok pria yang rasa-rasanya pernah aku lihat beberapa kali, tetapi aku lupa di mana tepatnya dan kapan.


“Ehem!!” dehamku seraya berdiri di ambang pintu kaca.


Dokter Ranti yang melihatku langsung spontan tersenyum lebar dan lelaki itu juga melakukan hal yang sama.


“Ayolah ... aku butuh teman untuk mengobrol dan mataku masih belum bisa untuk diistirahatkan,” rengek dr. Ranti padaku.

__ADS_1


Aku melangkah masuk lalu berjalan ke sisi lain dari lelaki itu duduk. Dengan saksama aku memerhatikan wajah lelaki itu. Benar, wajahnya memang terlihat familiar. Dalam diam aku sambil kembali mengingat-ingat di mana aku pernah bertemu dengan lelaki ini.


“Please , Kal, malam ini aja.” Dokter Ranti kembali merengek. Aku paham maksud rengekannya itu. Agar aku membiarkan lelaki itu menemaninya padahal saat ini bukanlah jam besuk lagi.


Dokter wanita yang satu ini memang sudah lama hidup terpisah jarak dari kedua orang tua. Dan kalau tidak salah, besok siang mereka baru bisa sampai ke sini untuk menjaga dr. Ranti. Dan selama dia bekerja di sini, aku benar-benar jarang melihatnya memiliki pasangan ataupun melihatnya dekat dengan seorang lelaki.


Tapi sekarang?


“Dokter Haikal! Bisakah Anda menjauhkan jenis tatapan itu?” tegurnya yang membuatku tertawa. “Tatapan menjijikan. Apa pernikahan kamu itu cuman kamuflase buat nutupin jiwa yaoi yang bergetar itu?” ejek dr. Ranti sangat gamblang padaku.


Dengan rasa tidak percaya, sambil menyipitkan kedua mata dan juga menganga lebar, aku menatap dr. Ranti begitu tajam. Jahat juga ternyata pemikirannya itu.


“Awas Brandy, bentar lagi kamu pasti dimintain nomer hape sama dia!” ucap dr. Ranti menutup sedikit mulutnya membuat suaranya semakin terdengar lebih keras.


Dan saat dr. Ranti menyebutkan nama lelaki itu, barulah aku menyadarinya. Memang benar aku pernah bertemu dengannya beberapa kali dan itu di rumah sakit ini.


“Ah iya!!! Brandy!! Dari tadi aku ngingetin, rasanya pernah lihat, pernah ketemu juga. Iya iya.” Aku mengangguk-anggukkan kepala menatap mereka berdua secara bergantian.


Brandy hanya tersenyum, sama dengan tadi. Sedangkan dr. Ranti seketika wajahnya memerah, malu padaku. “Kamu asisten-nya Jefri, 'kan?”


Brandy mengangguk. “Lalu sejak kapan kalian dekat?” tanyaku lagi layaknya sedang melakukan penyelidikan.


“Udah lama kenalnya, sebelum dia jadi asisten adik ipar kamu. Udah sana, pulang!! Ganggu aja!!” hardik dr. Ranti yang merasa sangat malu padaku.


Aku melangkah menjauh sambil mengejeknya tertawa tanpa suara. Hingga tiba-tiba sebuah bantal melayang menghantam wajahku. Tapi tetap saja aku menggodanya. Aku senang membuatnya kesal sekaligus malu seperti itu.


Bersambung ...


——————————


Hallo lohha 😝


Em, jadi gini guys, aku mau spoiler sedikit.


Karena akhir bulan sebentar lagi datang menjelang, kemungkinan untuk undangan pernikahan agak telat aku posting di IG yang pake nama kalian, yang udah komen di bab sebelumnya itu. Tapiii ..... undangan borongannya nanti aku share di episode selanjutnya yah 😝


Ya udah deh itu aja sopiler-nya 😂


Oh iya, jangan lupa juga buat vote ya, soalnya dua minggu ke depan aku mau lihat mana pembaca yang loyal vote buat aku dan menghargai tulisan aku ini 🧐


Dan mana pembaca yang minta up tapi gak kasih feedback ke aku 😒 Karena itu akan menjadi bahan pertimbangan aku buat bikin karya yang lainnya di platform ini 😊🙏


Sekian dulu, #salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2