
Di tempat yang berbeda..
Jefri POV.
Aku masih memeluk istriku ini dengan penuh gembira. Hal yang selama ini aku nantikan akhirnya menjumpai hidupku.
Ku bawa ia duduk dibibir ranjang, ku tatap ia yang sedang meneteskan airmata. Ku usap airmata itu.
"Kok malah nangis? Hm?" tanyaku.
"Aku seneng liat kamu seneng."
"Kamu masih takut, gak bisa jaga anak kita nanti?"
Tika menganggukan kepalanya. Aku langsung mengecup keningnya sambil memeluknya.
"Tapi kamu gak ada pikiran yang aneh-aneh kan?" ucapku mencari kepastiannya.
"Aneh-aneh gimana?"
"Ya, gugurin ...."
"Enggaklah! Kamu ini apaan sih!" sanggahnya.
"Syukurlah kalo gitu. Janji ya? Kamu harus jaga anak kita. Anak pertama kita?" tegasku.
Tika menganggukan kepalanya lalu merengkuhku. Ku biarkan ini berlangsung lama. Hingga ku elus lembut punggungnya.
Perlahan ku raih dagunya, ku tatap matanya yang kini sudah berbinar-binar. Sudut bibirnya tertarik, menghadirkan senyuman indah pada wajahnya. Istriku begitu sempurna. Ku kecup bibirnya perlahan, ia membalas kecupanku. Kami saling beradu menikmati suasana ini.
Malam harinya, setelah aku selesai mandi, membersihkan tubuhku. Ku lihat Tika yang masih tertidur diatas ranjang. Hampir semalaman dia terjaga menunggu Papa, bergantian denganku namun tetap saja tidur kami semua tidak ada yang senyenyak dulu.
Ku dekati ia yang sedang lelap itu, ku pandangi wajahnya. Seketika terlintas kembali pertikaian kami di siang hari tadi. Dari dulu Papa memang menyatakan, jika pada akhirnya nanti, semua yang terlah dimilikinya akan menjadi milik anak-anaknya kelak. Namun aku selalu menolak itu.
Sekarang kondisinya sudah berbeda. Papa sakit, waktu recovery yang Papa butuhkan pun cukup lama. Jerry juga tidak mungkin untuk menggantikan posisi, karna ia memiliki jabatan penting juga di kantornya yang sekarang. Hanya tersisa aku, harapan Papa dan juga Mama.
Tika bergerak, kemudian perlahan membuka matanya, "Kamu udah mandi?" tanyanya sambil mendekap selimut yang menutupi tubuhnya.
"Hm," dehamku.
"Kamu kok masih handukkan? Mikirin apa?" lirihnya.
Aku tersenyum, "Mikirin kamu lah, mikirin siapa lagi?"
Tika terkekeh pelan. Diraihnya tanganku, lalu menarikku untuk lebih dekat dengannya. Ku geser sedikit posisi dudukku. Dia membelai lembut lengan atasku, mengelus serta mencubit-cubit pelan otot lenganku.
"Kenapa?" tanyaku.
Dia bergelut manja, tangannya kesana kemari tak mau diam. Tatapan matanya seakan biasa saja padahal itu tatapan mata yang paling mematikan, bagiku. Jika sudah begini biasanya, ada sesuatu yang ia inginkan.
"Kamu mau apa?" tanyaku pelan.
__ADS_1
"Hmm.. Sini dong!" pintanya untuk lebih dekat lagi dengannya.
"Kan tadi udah, yang?"
"Siapa yang mau gituan lagi?" tawanya meledak.
Astaga!
Aku pikir dia ingin melakukan adegan panas itu sekali lagi. Ternyata aku salah!
"Kita jam berapa balik ke rumah sakit?" tanya Tika padaku.
Aku berpikir sejenak, "Jam delapan lewat deh ya?"
"Oh ya udah! Kamu mau aku masakin makan malam dulu gak?"
"Nanti kita makan diluar aja ya? Sekalian beli buat yang lain."
Aku menggeser lagi posisi dudukku. Ku senderkan tubuhku pada kepala ranjang, lalu Tika juga langsung bersandar pada dada bidangku. Memelukku penuh hangat, ku kecupi puncak kepalanya berkali-kali. Kami kembali terbuai akan suasana yang ada, hingga terbawa akan sentuhan masing-masing.
---------------------
Tika POV.
Kini waktu sudah menunjukkan pukul tujuh kurang lima belas menit. Aku dan Jefri sempat kembali terlelap lagi tadi, kami benar-benar dikendalikan oleh nafsu.
Kepalaku terasa pening luar biasa, "Ah!" rengekku pelan.
Aku menoleh, "Kepalaku tiba-tiba aja sakit."
"Kamu diem disini dulu deh, aku ambilin minum ya?"
"Hm."
Jefri langsung mengambil handuknya, menyingkap selimut, lalu membalutkan handuk itu pada setengah bagian bawah tubuhnya. Segera berjalan turun kebawah untuk mengambilkan ku minum.
Ku sandarkan tubuhku pada tumpukkan bantal yang telah ku susun. Ku pejamkan mataku sebentar. Rasanya seperti berputar-putar. Tak lama kemudian Jefri datang.
"Sayang," tegurnya sambil mengelus lenganku.
Aku membuka mata, ku lihat buram berbayang wajahnya, ditangannya seperti memegang sebuah gelas. Ku raih tangannya untuk membantuku duduk tegak.
"Pusing banget ya? Nih minum dulu," ucap Jefri pelan.
Ku raih gelas itu sambil sesekali mengedipkan mataku. Berharap penglihatanku bisa menjadi lebih jelas lagi. Tapi hal itu percuma.
"Awas, panas!" seru Jefri sesaat sebelum jemariku menyentuh gelas.
Tidak terlalu panas, batinku.
Ku teguk perlahan air itu. Terasa hangat mengalir dalam saluran tenggorokkanku, nyaman.
__ADS_1
"Kamu istirahat dulu deh," saran Jefri.
Aku hanya mengangguk. Kembali ku pejamkan kedua mataku. Ku sandarkan kembali punggungku pada tumpukkan bantal. Semakin ku tarik selimut yang menutupi tubuh polosku. Tak lama berselang, ku rasakan bibir Jefri menyentuh keningku. Telapak tangannya mengelus lembut pipiku.
"Bawa tidur lagi aja," sarannya.
"Kan kita mau balik ke rumah sakit?"
"Yang penting kamu dulu, disana udah ada Jerry kok,"
"Kasian Mama, pasti kecapean kan," ucapku yang masih dengan mata terpejam.
"Kamu gak usah mikirin itu dulu, yang penting kamu dulu deh!"
Teettt...
Teettt...
Suara bel rumah kami.
Aku membuka mata, langsung menatap Jefri.
"Kamu tunggu disini, aku liat dulu siapa yang dateng," titah Jefri padaku.
"Hm."
Jefri beranjak turun ke bawah, meninggalkan ku sendiri dikamar untuk melihat siapa yang menekan bel rumah kami.
Kepalaku masih agak sedikit pusing, tapi ku putuskan untuk berdiri, menuju ke ruang wardrobe dimana letak semua pakaian kami berada dan segera menggunakan pakaian santaiku. Ku raih kembali segelas air minum tadi, lalu ku reguk perlahan hingga habis tak bersisa.
Ku dengar suara Jefri berbincang dengan seseorang, suara laki-laki. Aku penasaran..
------------------------------
Terimakasih untuk kalian yang sudah memberikan vote koin dan poin untuk contest novel ku ini π
Lagi-lagi aku meminta kebesaran hati kalian untuk vote lagi π
Jika kalian masih memiliki sisa poin kalian silahkan untuk vote lagi, sebagai tanda kasih kalian untukku π
Dan kalian juga masih bisa mengumpulkan poin kalian untukku di hari ini dan besok.
Bagaimana caranya mendapatkan poin?
Kalian bisa memasuki beranda aplikasi MangaToon atau NovelToon, kemudian selesaikan misi yang tertera di dalam fitur PUSAT MISI itu.
Jika ada hal lain yang ingin kalian tanyakan padaku, kalian bisa menghubungiku via Instagram dengan nama akun @bossytika.
Sampai bertemu di episode selanjutnya π
Itu pun jika kalian memberikan banyak poin kalian untuk judul karya ku yang ini π
__ADS_1
Dan ingat!! Aku tidak pernah memaksa kalian π