
Still Tika POV.
"Hallo, Lisa! Dana lu apain Lisa, kalo dia sampe ke—"
Tuutt ... Tuutt ...
Dana memutuskan sambungan telepon itu. Aku kesal setengah mati. Aku mencoba menghubungi kembali tetapi gagal. Nomer teleponnya sudah tidak aktif. Lalu aku langsung mencari nomer telepon Alex dan menghubunginya.
Saat Alex menerima panggilan teleponku, aku langsung menyanyakan apakah Lisa ada menghubunginya atau tidak. Tapi jawaban Alex malah membuatku semakin gusar. Ia mengatakan bahwa terakhir Lisa menghubunginya saat Lisa sedang bersamaku di rumah sakit.
Belum sempat aku mengatakan pada Alex jika barusan Dana menelponku menggunakan ponsel Lisa, sekarang tiba-tiba saja ponsel Jefri yang berdering.
Ia memang meletakkan ponsel itu di atas meja televisi, di samping pintu kamar mandi. Dengan nada yang lumayan nyaring. Membuatku terpekik saat mendengar nada deringnya. Aku menatap ke arah benda ajaib itu. Perlahan beranjak dari tempat tidur menuju ke depan pintu kamar mandi lalu menggedor pintu itu.
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
Tokk ... Tokk ... Tokk ...
Dengan tidak sabaran aku terus menggedor pintu itu. Tanpa memanggilnya, tanpa suara. Mulutku terasa melekat, lidahku terasa kelu.
"Iya iya," seru Jefri dari kamar mandi. Ia membuka pintunya. "Kenapa sih yang?" ucapnya bersamaan dengan berhentinya nada dering teleponnya itu. Kami saling menatap. Kemudian aku mengarahkan pandanganku pada ponselnya.
"Kenapa sih?!" Jefri mencengkram bahuku lalu meregangkan jarak di antara kami dan menatapku. Ia paham maksud arah pandanganku lalu segera meraih ponselnya. Lalu ia menatapku dengan mengernyitkan alisnya. "Yang nelpon Alex, kenapa?"
Aku mengembuskan napasku dengan lega. Tapi tidak terlalu plong. Kemudian aku langsung menceritakan apa yang telah aku alami saat menerima panggilan telepon dari Lisa tadi. Jefri terkejut, akan tetapi beberapa detik kemudian dia tertawa. Entah apa yang membuatnya merasa lucu.
"Kok ketawa?" protesku lalu memukul dadanya. Aku kembali duduk di sudut ranjang. Dengan wajah yang sedikit kesal.
Jefri menghela napasnya dengan kasar hingga aku dapat mendengar helaan itu. Lalu perlahan mendekatiku, berlutut di hadapanku. Ia meraih kedua tanganku lalu mengecupnya. "Hei, selama ini kamu sama Lisa dalam pengawasan suruhan Max. Hampir setiap hari mereka laporan. Hari ini tadi aja katanya mereka kehilangan jejak kamu sama Lisa. Untung Max ngasih tau aku klo kamu di sini." Sekali lagi ia mengecup punggung tanganku.
"Kok Max gak bilang, kalo aku dijagain?" Pertanyaan konyol yang keluar dari mulutku malah kembali mengundang tawa Jefri yang terbahak-bahak.
"Ya ngapain juga Max bilang?!" Jefri mengajakku berdiri lalu membawaku untuk kembali berbaring ke atas ranjang. "Udah, kamu tenang aja. Lisa pasti baik-baik aja kok."
Ya, mungkin tadi hanyalah halusinasiku saja. Karena akhir-akhir ini otakku terlalu lelah. Banyak sekali yang mengganggu pikiranku. Yang mau tidak mau harus aku pikirkan. Untung saja masalah kesalahpahaman antara aku dan Jefri sudah selesai. Setidaknya satu masalah teratasi. Dan aku bisa bernapas lega untuk hal ini.
Saat Jefri menarikkan selimut untukku, aku baru menyadari jika dia hanya mengenakan selembar handuk yang melilit di pinggangnya. "Tadi kamu mandi?"
Jefri hanya mengangguk lalu merapikan selimut yang menutupi tubuhku. Saat itu terjadi, aku dapat menghirup aroma wango dari sabun mandi yang ia kenakan dan itu membuatku tertawa pelan.
"Ada yang lucu?" tanyanya padaku, lalu duduk di sampingku.
__ADS_1
Kami saling menatap. "Sudah lama rasanya kamu gak se-sweet ini." Aku meledeknya lalu mengulum senyumku.
"Setiap malam, kalo aku kebangun dari tidur trus liat selimut kamu melorot, selalu aku benerin. Nyentuh tubuh kamu doang yang aku gak berani." Pernah memang aku merasakan selimutku yang kembali menutupi perutku.
"Kenapa takut, kan aku istri kamu." Saat ini pasti berlipat-lipat kerutan di keningku, bingung mendengar alasannya yang tidak berani menyentuhku. Bukankah aku masih istrinya? Walaupun berbulan-bulan tidak bertegur sapa?
"Alu takut tiba-tiba ditendang lagi," tegasnya saat memgunggapkan alasannya. Yang mana alasan itu kembali mengingatkanku akan kejadian itu. Saat di mana sekilas mata ku melihat bayangan lelaki ba*jingan itu yang menggerayangi tubuhku. Hingga aku menciptakan tendangan maut, yang membuat suamiku sendiri jatuh terjungkal. Seketika aku tertawa mengingat semuanya.
Jefri mengelus pipiku, lalu tiba-tiba terdengar pintu kamarku diketuk oleh seseorang. Aku dan Jefri saling bertatapan, lalu perlahan aku bangkit dari posisiku berbaring. Jefri menahanku untuk berdiri, seperti sedang menunggu sesuatu.
"Jeff ... Tika ... ini mamah. Kalian sudah tidur?" Seketika suara mamah di balik pintu itu membuat kami berdua merasa lega.
Jefri menyuruhku untuk tetap berada di atas ranjang, sedangkan ia beranjak melangkahkan kakinya menuju ke arah pintu kamar untuk membuka kunci pintu.
Ceklek ...
"Belum tidur kok, Ma." Tanpa sadar, Jefri membukakan pintu dengan tampilannya yang bertelanjang dada. Hanya menggunakan handuk yang terlilit di pinggangnya. Membuat mamah yang spontan terkejut melihat penampilan menantunya.
"Oh, mamah ganggu ya? Maaf! Mamah cuman mau nyuruh kalian makan dulu, sudah mamah siapin." Suara mamah di luar sana terdengar terburu-buru.
Aku juga baru ingat, jika aku tidak boleh lagi melewatkan makan malamku. Sebab ada dua nyawa yang harus mendapatkan asupan gizi seimbang dari apa yang aku makan. Perlahan aku menuruni ranjang. Melirik jam meja di dekatku, masih jam 9 lewat beberapa menit. Belum terlalu malam untuk makan.
"Iya Mah, aku mau makan kok." Aku mencoba untuk menyahut perkataan mamah. Lalu berjalan mendekati mereka. "Sana pakai baju, aku tunggu di bawah." Aku dorong tubuhnya menjauhi pintu lalu menutupnya. Tersenyum pada mamah dan menggandeng tangannya untuk menemaniku ke dapur.
Mamah menggiring langkahku menuruni tangga lalu mengarahkanku menuju dapur. Kulihat meja makan masih terdiri kokoh pada tempatnya. Rupanya mamah memang sudah bisa menerima lagi semua kenangan yang ada pada meja itu. Aku menoleh melihat mamah, diam-diam memperhatikan raut wajahnya yang semakin hari sudah semakin terlihat lelah.
"Masalah kalian belum clear?" selidik mamah dengan suara berbisik. Lalu duduk di sebelahku, mengelus pundakku dengan lembut.
Aku menjawab pertanyaan mamah dan mengatakan bahwa kami hanya memiliki kesalahpahaman saja. Bukan masalah yang besar. Walaupun sebenarnya itu adalah masalah besar bagiku. Hanya saja aku tidak ingin membuat mamah pusing dengan kami berdua. Aku tidak ingin mamah cemas.
Aku tahu hal ini tidak baik untuk aku tutupi. Tapi entah mengapa, aku tidak tega jika harus membuat mamah memikirkan masalahku, masalah kami. Biarlah kami berdua yang mengatasinya.
Belum lagi masalah mantan ba*jingan itu. Jangan sampai mamah tahu masalah tersebut. Aku tidak ingin membuatnya mencemaskan aku dan kandunganku. Apa lagi mencemaskan Lisa.
"Mamah makan juga kan?" Aku memegang lengannya. Berharap ia mau menemaniku makan malam ini. Tapi sepertinya tidak, mamah berdiru lalu tersenyum. Membungkukkan tubuhnya lalu mengecup pelipisku.
"Biar suami kamu yang temenin kamu makan." Lalu mamah memberikan kode padaku seolah ada Jefri di sekitar kami.
Begitu aku menoleh, yap! Benar saja, Jefri sudah berdiri tidak jauh dari kursiku duduk. Kemudian mamah berlalu dengan sekilas menepuk pundak Jefri yang di balas dengan senyuman olehnya.
"Makan ya? Temenin aku," pintaku pelan, sebelum mamah menghilang di balik lemari kaca di dekat sana.
Jefri menganggukkan kepalanya lalu menarik kursi di sampingku dan duduk, menungguku mengambilkan piring dan nasinya. Sudah lama sekali aku tidak melayaninya untuk makan seperti ini.
__ADS_1
***
Keesokan paginya aku bangun pagi sekali. Sebab tadi malam sebelum tidur, Jefri memintaku untuk memasang alarm di jam 4 dini hari. Jadilah saat ini aku terbangun untuk mematikan alarm yang berasal dari ponselku di atas meja. Lalu aku membangunkan Jefri. Karena rencananya ia akan pulang dulu ke rumah kami untuk mengambil setelan kerjanya.
Di lemari pakaian yang ada di kamarku ini hanya ada beberapa pakaian rumahnya dan beberapa kemeja yang sudah tidak muat lagi jika ia kenakan, terlalu ketat di tubuhnya saat ini. Ya, Jefri semakin tambah berisi semenjak menikah denganku. Bahkan beberapa bulan yang lalu dia masih sempat untuk berolahraga disela kesibukkannya, berbeda dengan sekarang.
"Sayang ... bangun. Katanya mau pulang ngambil baju." Aku menggoyangkan tubuh Jefri dengan pelan. Lalu secara tiba-tiba saja Jefri menarik lenganku, membuatku jatuh ke dalam dekapannya.
Diselipkannya wajahnya pada ceruk leherku, mengecup perlahan. Membuatku setengah kegelian. Tangannya juga tidak tinggal diam, perlahan menyusuri hingga terselip masuk ke dalam piyamaku. Mengelus lembut dari dalam. Aku hanya terkekeh merasakan kenakalan tangannya pagi ini.
"Kamu kalo kayak gini bisa telat loh! Katanya ada rapat pagi ini." Aku kembali mengingatkannya, jika pagi ini ia akan menghadiri rapat pertama kali bersama seluruh karyawan di perusahaannya itu.
Namun ia tidak menjawab, tangannya terus saja bergriliya ke mana-mana di tubuhku dengan mulutnya yang masih mengecap leherku. Lalu dia berhenti, memandang wajahku. "Kan aku kangen istriku. Makanya aku minta bangunin lebih pagi."
Aku dapat melihatnya yang menggerakkan alisnya naik dan turun dalam temaram cahaya lampu meja yang redup, seolah menggodaku. Lagi-lagi ia membuatku tertawa. Jika sudah seperti ini sikapnya, aku merasa seperti kembali disayangi olehnya. Diperhatikan dan diayomi dengan baik oleh seorang suami.
Dan pagi ini pun kami lewati dengan serangan fajar hubungan suami-istri. Kewajiban yang semestinya selalu dilakukan untuk mempererat hubungan kami. Mempererat kasih dan sayang yang selama ini tidak terjalin.
Bersambung ...
—————
Lohaa ...
Jangan lupa buat ikut memeriahkan acara:
Late Give Away Party 🥳🥳🥳🥳
Untuk merayakan 1M visitors 'Kebahagiaan Tak Sempurna' 🤪🥳
Yang belum gabung di grup chat NovelToon, segera gabung lalu wajib untuk melakukan subscribe 🤪 Cara subscribe gampang! Cukup follow akun penulisku ini dan akun Instagram (@bossytika), trus kasih like, komen dan favorite di antara kedua akun itu 😜 Kalo berkenan buat kasih poin di judul ini juga monggo, dengan senang hati 😍
Pertanyaan give away nanti akan muncul pada episode weekend besok, nanti di Instagram juga ada 😊
Syarat dan ketentuan mengikuti give away akan dishare selanjutnya.
Hadiahnya ada voucher pulsa, kuota, koin dan poin.
Makanya baca Kebahagiaan Tak Sempurna dulu, biar tau jawabannya 😘 Kalau perlu dari buku pertama yang judulnya Milik Wanita Lain.
Sampai jumpa 😘
With love, Tika.
__ADS_1
Masih ingat hastagnya apa???
#Salam????