
Behind The Writer.
Author : “Aku mau cerita sedikit tentang plus minus menjadi seorang penulis sama kalian, boleh? Bolehlah, 'kan ini naskah aku, haha.”
Reader : “Sakarepmu ae, Thor! Asal cepetan up.”
A : “Nah ini, untuk nulis 1000-2000 kata aku butuh waktu sekitar 5—8 jam, itu kalo ide lancar di otak ini.”
R : “Berarti bisa banyak lagi dong nulisnya, 'kan sehari ada 24 jam?”
A : “Masa iya seharian aku nulis aja kerjaannya, gak makan, minum, tidur, baca, nonton film, bisa stress aku kalo nulis gak ada istirahatnya. Tuh, 'kan jadi emosi.”
R : “Sabar, Thor. Kami akan tetap menunggu updateanmu.”
A : “Iya, aku sabar, kok, ini. Aku santai aja. Udah ah ntar kepanjangan. Lain kali kita sambung lagi. Babay.” 😋
Selamat membaca ...
——————————
Haikal POV.
Setelah pendonoran darah Max pada Jefri dinyatakan sesuai dan kami melanjutkan proses operasi. Semua berjalan dengan lancar dan juga terkendali. Jefri hanya mendapatkan satu titik luka jahitan yang tergolong parah. Namun, semua masih bisa kembali seperti sedia kala.
Untuk beberapa saat, aku dan Max menunggunya hingga tersadar kembali. Dan untungnya semua itu tidak memerlukan waktu yang begitu lama. Aku dan Max akhirnya melihat Jefri membuka matanya dengan perlahan. “Aku akan panggilkan Tika,” ucapku pada mereka.
Segera aku berlari untuk menemui adikku itu, yang ternyata dia sedang tertidur manis di atas pangkuan mamah. Aku membangunkannya lalu membawanya masuk ke ruang tunggu operasi. Tanpa mengatakan apa pun kepada yang lainnya. Tika sempat melontarkan beberapa pertanyaannya, entah sejak kapan ia menjadi sangat bawel seperti ini.
__ADS_1
Aku kembali menariknya tanpa mengatakan sepatah kata pun, begitu dia selesai mengenakan pakaian pelindung khusus sanitasi, untuk masuk ke dalam ruang pasca operasi. Ruangan di mana suaminya telah sadarkan diri. Kami berjalan melewati lorong-lorong kamar operasi dan seharusnya Tika sudah mengenali beberapa jenis ruangan di sini.
Akhirnya, kami sampai pada sebuah pintu ruangan yang masih tertutup. Kemudian aku menyuruhnya untuk membuka sendiri pintu itu dan melihat apa yang terjadi di dalam sana. “Bukalah,” bisikku dengan wajah yang sengaja tanpa memperlihatkan ekspresi apa pun.
“Kamu jangan becanda!” ucapnya tegas, menatapku dengan sorotan mata tajamnya lalu beralih memandangi kenop pintu. Jemarinya tertahan mencengkeram gagang itu, bahunya terlihat turun naik akibat deru napasnya yang menggebu. Aku sangat yakin, saat ini jatungnya pasti berdetak begitu hebat.
Kemudian terdengar embusan napasnya yang begitu kuat, akibat lorong yang memang sangat sepi, tidak ada orang lain selain kami berdua. Lalu Tika mendorong pintu itu, aku tidak melihat bagaimana ekspresi wajahnya. Yang aku lihat, dia meangkat tangan ke arah wajahnya lalu berlari menghampiri Jefri yang sudah bersandar duduk pada sebuah brankar.
Tika memeluknya, rintihan tangisnya pecah begitu saja. Sesekali Jefri juga merintih karena pelukan erat dari istrinya yang begitu kuat, hingga mengenai lilitan perban penutup jahitan luka tembak pada bagian dada kanannya.
Jefri pun membalas memeluknya lalu mengelus punggungnya. Untuk saat ini mereka tidak berkata apa-apa, karena mungkin hanya dengan sebuah pelukan hati mereka saling berbicara—mungkin.
Kedua sudut bibirku tertarik sempurna melihat kebahagiaan mereka berdua kali ini. Berkali-kali ujian datang menghampiri, seakan tiada hentinya mengganggu hidup mereka. Bahkan, rasanya hanya sesaat mereka bisa menarik napas dengan tenang. Semoga saja, kali ini ujian mereka benar telah usai.
Sekilas aku melihat Max menoleh padaku. Kemudian dia berjalan keluar dari ruangan itu dan menghampiriku. “Kamu gak mau hidup bahagia gitu?” ucapnya melontarkan pertanyaan itu dengan tiba-tiba.
Tiba-tiba Max tertawa cekikikan. "Kamu kenapa sih?” hardikku sambil memukul lengannya.
"Ck! Bilang aja sekarang kamu takut buat nikah, iya 'kan? Udah mulai mikir 'kan kalo nikah tuh gak semudah yang dibayangkan.” Max mulai mengatakan hal-hal lainnya yang semakin membuat otakku berpikir keras.
Aku berdecak kesal mendengarkan ocehannya. Sambil berjalan menuju ke pintu keluar ruangan ini bersama-sama.
'Mengapa saat ini semua orang mendadak menjadi cerewet, sih?' batinku.
Rencananya kami akan mengabarkan kepada mereka semua yang sudah menunggu di luar sana, tentang kondisi Jefri yang sudah sadar dan akan segera dipindahkan ke ruangan rawat inap, setelah melewati beberapa pemeriksaan lagi.
Tiba-tiba suara derap langkah kaki di belakang kami, menarik perhatianku. Aku menoleh dan mendapati seorang perawat yang sedang berlari. Dalam ruangan khusus ini memang tidak diperbolehkan untuk berteriak. Apalagi jika untuk memanggil seseorang.
__ADS_1
“Maaf, Dok,” ucapnya terengah saat berada di depanku, “dokter Brian mencari Anda di ruang operasi tujuh.” Dengan sisa napasnya yang masih terputus.
“Baiklah, saya akan segera ke sana,” jawabku kemudian menoleh melihat Max, “kamu aja yang ngomong sana. Aku masih ada urusan.” Aku menyuruh Max yang keluar melewati pintu di depan kami ini. Di mana di baliknya terdapat semua keluarga kami yang berkumpul.
Bukannya aku tidak mau mengabarkan berita baik, hanya saja aku memiliki urusan lainnya yang lebih penting. Masih ada orang lain yang jauh lebih membutuhkan diriku saat ini.
“Oke.” Max mengangguk kemudian melangkah keluar melewati pintu tadi, sedangkan aku bergegas untuk masuk ke dalam ruang operasi kembali.
Sesampainya di ruang operasi nomer tujuh, aku melihat seorang pasien wanita yang sepertinya aku kenali. Perlahan aku melangkah mendekati letak pasien yang terbaring lemah di atas brankar. Dan ternyata aku benar, pasien itu adalah bundanya Clara.
Aku memundurkan langkah kakiku dengan perlahan lalu kembali ke salah satu ruangan pengawas berlangsungnya operasi itu. Di sana sudah ada dokter Brian yang berdiri. Mengawasi jalannya semua tahap demi tahap dokter praktik yang melakukan operasi.
“Beliau kenapa?” tanyaku dengan napas tersengal, layaknya seperi olahraga.
Dokter Brian mendekatiku lalu berkata dengan pelan, “Beliau masuk ke sini karena gagal bernapas.”
Bersambung ...
——————————
Hanya dengan menekan tanda like dan memberikan komen kalian pada cerita ini, sudah cukup untuk membuatku senang.
Dan jika ingin memberikan vote koin/poin silakan klik karya terbaru aku yang berjudul "The Hand of Death" atau klik akun profile-ku di beranda depan dan berikan vote ke judul itu.
Terima kasih.
IG : @bossytika
__ADS_1