
Happy reading ...
Stay safe, di rumah aja ya π
Happy fasting ...
βββββ
Seperti katanya kak Ika Natassa:
Rasa itu sesederhana sapaan hangat dari orang yang tepat.
βββββ
Still Max POV.
Dengan langkah pasti, aku berjalan meninggalkan pintu kamar Lisa. Sambil mengembuskan napas lega. Setidaknya, aku sudah melihatnya baik-baik saja dan itu cukup untuk mengatasi kecemasanku.
Jika semua yang dikatakan Haikal adalah kebenaran, tentang aku lah orang yang terpenting dalam hidup Lisa. Maka aku tidak bisa mencegahnya. Itu adalah hak Lisa, karena aku pikir dia sudah melupakan segalanya. Tapi kenyataannya tidak.
Tak terasa langkah kakiku sudah membawaku hingga sampai ke depan ruangan ICCU, tempat di mana Tika dirawat. Dengan perlahan aku mendorong pintu itu dan masuk ke dalam. Aku langsung menuju bilik tempat Tika di paling ujung. Tepat di depan meja para perawat jaga.
Aku terkejut melihat dia yang hanya seorang diri. Terbaring sambil memejamkan matanya lalu tiba-tiba membuka matanya, menatapku.
"Baru datang, Max?" lirihnya pelan.
Aku menjawab hanya dengan anggukkan pelan lalu menarik kursi yang ada untuk segera duduk. Tetapi Tika menepukkan tangannya di atas ranjang, memberi isyarat agar aku duduk di sampingnya. Aku menurutinya.
"Aku belum sempat ngucapin makasih, kamu selalu ngelindungin aku. Selalu ngejaga aku." Dengan sangat pelan Tika mengucapkan kalimat per kalimat itu. Sambi menggenggam tanganku. Aku mengelus jemarinya lalu tersenyum padanya.
Kemudian aku menanyakan padanya ke mana perginya suaminya itu? Ternyata Jefri sedang ke ruangan inkubator anaknya, bersama dengan keluarganya. Lalu secara tiba-tiba Tika menanyakan padaku, tentang Lisa.
"Max, kamu tahu gimana kabar Lisa?" lirihnya lagi.
"Dia baik-baik aja. Udah sama Alex."
"Oh, baguslah. Aku pikir dia kenapa-kenapa."
Tidak sanggup rasanya mulutku untuk mengatakan pada adikku ini, jika Lisa sebenarnya kecelakaan, tepat pada saat ia merasakan sesak napas dalam lelapnya kemarin. Tapi entah mengapa, aku tetap merasa ada yang janggal dengan semua ini. Dengan semua kejadian yang menimpa mereka berdua.
Aku lupakan sejenak semua rasa yang mengganggu pikiranku saat ini. Ada baiknya jika aku hanya fokus pada keluargaku. Lagi pula sudah ada Alex yang akan menjaga Lisa.
"Suami kamu mana?" Sejak aku masuk Tika hanya sendiri tanpa di dampingi oleh siapa pun.
"Oh, dia lagi liatin si twins sama keluarganya. Tadi mereka dateng ke sini."
Aku menganggukkan kepalaku lalu aku juga mengatakan pada Tika bahwa mamah menitipkan salam untuknya.
***
Seminggu setelahnya ...
Hari ini Tika dinyatakan boleh pulang dan tetap mengikuti rawat jalan. Namun tidak dengan anaknya, kedua bayi kembar itu tetap harus tinggal di rumah sakit sebab masih memerlukan serangkaian perawatan lainnya.
Tak banyak yang menjemput Tika untuk pulang dari rumah sakit. Sebab Tika dan Jefri sendiri sudah memutuskan untuk pulang ke rumah mereka sendiri. Karena mereka berdua juga ingin mempersiapkan sebuah kamar untuk kedua anak kembarnya.
"Aku mau lihat si kembar dulu boleh?" Tika meminta izin pada suaminya saat dirinya hendak berpindah dari ranjang ke kursi roda.
"Pasti, aku juga mau ke sana dulu." Jefri tersenyum pada istrinya.
Aku membantu mereka untuk membawakan beberapa barang yang sebelumnya sudah aku masukkan ke dalam mobil Jefri. Lalu mengikuti mereka yang menuju ke ruangan perawatan bayi untuk melihat keadaan si kembar yang masih berada dalam ruang inkubator.
Keduanya nampak sedang tertidur. Terlihat dari matanya yang terpejam dan juga dada mereka yang bergerak naik dan turun. Beberapa alat juga terpasang pada tubuhnya. Tak lupa selang oksigen yang menancam pada kedua lubang hidung si kembar.
Kami melihat semua itu dari luar ruangan yang bersekat dinding kaca tebal.
"Kalian sudah mau pulang?" sapa Haikal yang muncul tiba-tiba di samping kursi roda Tika.
Mendengar kalimat yang diucapkan Haikal itu sontak membuat hatiku terenyuh. Sudah seperti kalimat perpisahan saja. Aku menepuk pundak Haikal lalu mengatakan padanya untuk menjaga si kembar dan melakukan tugasnya. Haikal hanya mengangguk pelan.
Lalu Haikal juga menawarkan Tika agar dia bisa masuk ke dalam ruangan untuk menyentuh si kembar dah tentu saja Tika menginginkan itu. Haikal lalu mengambil alih tugas Jefri lalu mendorong kursi roda yang Tika yang tidak sabar ingin menyentuh langsung anaknya.
Sedangkan aku dan Jefri hanya menunggu di sini.
βββββ
Tika POV.
Haikal mendorong kursi roda yang kukenakan untuk menuju ke dalam ruang inkubator, agar aku dapat menyentuh anakku secara langsung. Ya, aku memang menggunakan kursi roda, bukan karena tidak bisa berjalan, melainkan agar aku bisa lebih cepat pulih dari luka hasil operasi dan lainnya.
Keadaan luka bekas tembakan di dadaku juga perlahan sudah mulai berangsur-angsur membaik. Bahkan darah yang tadinya sering keluar, merembes dari sana, sekarang tidak lagi terjadi. Hanya saja aku tidak boleh mendapatkan guncangan yang terlalu keras dulu untuk sementara waktu.
Aku dan Haikal sudah sampai di depan pintu ruang inkubator, seorang perawat membantuku untuk mengenakan baju pelapis khusus sebelum memasuki ruangan itu. Setelah siap barulah Haikal mendorongku masuk melewati pintu kamar itu.
Suara tangis salah satu anakku begitu nyaring. Entah mengapa ia menangis. Hatiku terenyuh mendengar suara tangisannya. Lalu Haikal juga memperbolehkan aku untuk menggendong mereka satu persatu.
Inilah enaknya kalau punya kakak yang bertanggung jawab dengan seluruh keadaan rumah sakit.
Saat ini si bayi laki-laki sudah ada dalam dekapanku. Dia yang tadinya menangis, kini sudah mulai kembali tenang. Aku menidurkannya lalu menciumnya sebelum akhirnya aku kembali kan pada sang perawat. Begitu pun dengan si bayi perempuan yang sebelumnya memang sudah tertidur saat sang perawat mengangkatnya dan memberikannya padaku. Entah memgapa wajah mungilnya selalu saja membuatku meneteskan airmata.
Haikal meremat pundakku, aku kembali mencium kening si mungil ini lalu mengembalikannya pada perawat. Setelah itu barulah Haikal kembali membawaku keluar dari ruangan itu.
"Kapan mereka boleh aku bawa pulang?" tanyaku sesaat setelah keluar dari ruangan inkubator itu.
Haikal menatapku, lalu meletakkan tangannya ke atas kepalaku dan mengelusnya. "Secepatnya, doakan saja."
"Aku boleh setiap hari ke sini?" pintaku.
"Lebih baik kamu di rumah istirahat. Setiap hari, selama si kembar di sini, aku akan kirimkan videonya."
Haikal kembali mendorong kursi rodaku setelah sebelumnya, aku melepaskan baju khusus tadi. Jefri dan Max sudah menungguku di depan pintu lainnya. Lalu kami bersama-sama berjalan menuju ke lobby rumah sakit.
Jefri melangkah lebih dulu untuk mengambil mobilnya dan membawanya ke depan lobby agar bisa lebih dekat.
__ADS_1
"Istirahat yang cukup di rumah ya? Jangan jalan-jalan." Max berpesan padaku.
"Kal, apa nanti bekasnya akan hilang?" Aku mengkhawatirkan bekas luka dan operasi yang ada di tubuhku saat ini.
"Pasti hilang tapi butuh waktu."
Aku menghela napas lega.
***
Sesampainya di rumah ternyata sudah ada mamah, Shilla dan juga bi Mince.
"Aku mau jalan sendiri aja, pelan-pelan," pintaku pada Jefri, dia tidak melarangku, malah membantuku untuk melakukannya.
Dengan sabar ia memapahku hingga akhirnya kami sampai di dalam kamarku, setelah sebelumnya aku menaiki tangga dengan begitu pelan.
"Nanti bi Mince biar di sini sekalian bantuin kalian ya? Mamah juga sudah ngomong sama mama mertua kamu." Mamah menyarankan agar bi Mince untuk sementara waktu tinggal di rumah kami. Untuk membatuku dalam mengurus urusan dapur dan rumah.
"Lagian mamah juga nginap di rumah Max, ada Shilla juga di sana, jd gak apa-apa," tambah mamah lagi.
Hari ini aku benar-benar merasakan letih, bukan karena banyak bergerak. Melainkan karena pikiranku sendiri. Otakku terlalu letih. Bahkan berkali-kali aku sudah mengembuskan napasku untuk mengurangi rasa tidak nyaman yang aku rasakan, semenjak pergi meninggalkan rumah sakit.
Tak lama mamah dan Shilla berpamitan untuk pulang. Membiarkan aku untuk kembali beristirahat. Dilihat dari kedua bola mata mamah saat dia mengecup keningku, aku dapat melihat jika mamah memang sedang mengkhawatirkanku, hanya saja ia mencoba untuk tetap diam.
Sampai akhirnya mereka berdua pergi menghilang di balik tangga kamar, lalu Jefri yang juga turun ke bawah untuk mengantarkan ke depan rumah.
Aku menatap ke sekelilingku. Kamar tidur yang sudah hampir dua bulan tidak aku tempati. Aku merindukan kamar ini. Sekelebat pikiranku melayang, kembali mengulang dengan sendirinya adegan demi adegan yang terjadi saat aku mencoba menyelamatkan Lisa, semua seakan begitu nyata.
Bahkan di saat Jefri kembali mendatangiku, lalu duduk di sampingku di atas ranjang. Seketika airmataku kembali jatuh, membahasi kedua pipiku.
Jefri juga sudah menceritakan padaku tentang keajaiban yang aku alami. Tentang kedua anakku yang benar-benar melayang akibat kecerobohanku. Dan jika mengingat semua itu, aku selalu merasa emosional.
Merasa bersalah pada diri sendiri. Bagaimana bisa saat itu aku tidak memikirkan kedua buah hatiku? Hampir saja karena ulahku, aku kehilangan dua malaikat kecil yang selalu aku nantikan kehadirannya.
"Tidurlah, aku ke kantor sebentar ya, ada yang perlu di tanda tangani." Jefri meminta izinku lalu mengecup keningku.
Aku hanya membalas kecupannya itu dengan kedua bola mataku yang semakin mengantuk. Lalu tertidur, memejamkan mata.
***
Tiba-tiba aku mengerjabkan mataku, tersentak akibat mimpi yang merasuk menghampiri dalam tidurku. Mimpi yang berulang aku coba untuk lupakan. Tapi selalu hadir, semakin kuat aku mencoba untuk menghapusnya, maka semakin sering mimpi itu hadir.
Saat aku membalikkan tubuhku betapa terkejutnya aku mendapati bi Mince yang ternyata duduk di sofa tunggal di pojok kamarku. Beliau sedang membaca salah satu koleksi buku novel milikku. Lalu ikut terkejut saat melihatku tersadar dari tidurku.
Beliau langsung menghampiriku, lalu membantuku untuk bangun dan duduk bersandar pada kepala ranjang.
"Bi, Jefri belum pulang?" tanyaku di sela dudukku.
"Belum, Non. Bibi tinggal ke dapur sebentar ya, Non. Udah waktunya makan, biar bibj masak dulu. Tadi bibi mau ninggalin gak enak."
Aku mengangguk saat bi Mince meminta izin untuk segera memasak. Menyiapkan makan malam. Aku melirik jam dinding yang menggantung di atas televisi. Sudah jam enam sore.
Perlahan aku menoleh, meraih segelas air putih yang ada di nakas di samping tempat tidurku. Lalu meminumnya hingga tersisa setengah.
Tubuhku masih terasa pegal, bahkan kedua mataku masih saja merasakan kantuk yang tidak berkesudahan. Sangat berat untuk menahan kelopak mataku untuk tidak kembali terlelap.
Aku mencoba untuk berdiri sendiri. Perlahan menurunkan kedua kakiku dari atas ranjang. Lalu mencoba kuat untuk berdiri, menghampiri sebuah tas yang tergeletak di atas meja di samping pintu kamar. Mencari benda tipis yang merupakan salah satu benda terpenting bagi manusia saat ini, yaitu ponsel.
Namun nyatanya nihil. Aku tidak menemukan ponselku di sana. Beberapa tas sudah aku periksa tapi tetap saja hasilnya tidak ada.
Kemudian dengan menyusuri dinging, aku mencoba untuk kembali duduk di atas ranjang. Melupakan ponselku sejenak dengan menyalakan saluran televisi. Tetapi tetap sama saja. Pikiranku tetap kalut dan entah apa yang membuat hatiku merasa resah seperti ini. Kelopak mataku juga sudah tidak bisa di kompromi, yang semakin membuatku mengantuk.
βββββ
Jefri POV.
Sesampainya di kantor, aku menandatangani beberapa berkas yang memang sebelunya sudah kubaca dan kembali kuberikan pada pimpinan HRD di kantorku.
Tokk tokk tokk!
Tiba-tiba saja pintu ruanganku kembali di ketuk. Aku mengalihkan pandangan mataku ke ambang pintu, ternyata pak Hardi sudah berdiri di sana. Aku mempersilakannya untuk masuk. Kemudian pandangan mataku kembali terfokus pada layar laptop-ku.
"Permisi. Bagaimana kondisi istrinya?"
"Baik, Pak. Silakan duduk." Aku mempersilakannya untuk duduk di kursi depan mejaku.
"Ada apa, Pak?" tanyaku yang sedikit agak terganggu dengan kehadiran beliau.
"Gini, saya jadi gak enak. Beberapa waktu lalu saya pernah mengatakan kalau kamu butuh sekretaris. Nah, saya sudah mendapatkannya dan dia selalu bertanya kapan bisa memulai bekerjanya."
Aku mengernyitkan alisku. Aku memang tidak pandau dalam menyembunyikan ekspresi ataupun perasaan yang aku rasakan. Apa lagi dalam situasi seperti sekarang ini.
"Loh, bukannya saya sudah pernah bilang, kalau saya gak membutuhkannya?" Aku sudah menduga ini sebelumnya, pasti beliau datang menemuiku hanya untuk mendesakku menerima seorang sekretaris.
"Tapi saya sudahβ"
"Pak, harus berapa kali saya bilang? Jika saya membutuhkannya saya bisa mencarinya sendiri. Lagi pula untuk apa menerima karyawan baru, jika beberapa bulan yang lalu saya malah banyak memberhentikan karyawan?" Aku mulai tersulut emosiku lagi.
Entah mengapa pak Hardi memang mulai berani melampaui batas posisiku saat ini. Aku menghargai kerja kerasnya selama ini, tapi bukan seperti ini caranya.
"Ini untuk terakhir kalinya saya katakan pada bapak, jangan membahas tentang sekretaris lagi dengan saya. Masih banyak yang harus saya lakukan. Dan bukannya pekerjaan bapak juga masih banyak yang belum selesai? Saya belum menerima laporan tentang proyek di sekolah Pandan Arum." Aku menghela napas setelah mengatakan itu.
Tatapan mataku sengaja aku arahkan pada beliau yang kini menundukkan wajahnya. Entah apa latar belakang wanita yang diajukan oleh pak Hardi ini, hingga beliau berani berkali-kali membahas masalah ini padaku. Mendesakku untuk menerima sekretaris itu.
"Maaf, Pak, kalau tidak ada lagi yang perlu dibicarakan, bapak bisa melanjutkan tugas laporan bapak dan segera kirimkan ke email saya. Saya tunggu secepatnya." Aku kembali menatap layar kaca laptopku, tidak lagi aku menatap raut wajah pak Hardi yang berbalik dan segera keluar dari ruanganku.
Tak terasa waktu sudah begitu cepat berlalu. Saat kulihat jam dinding sudah menunjukkan pukul enam sore. Saat seorang lelaki paruh baya yang bekerja sebagai office boy di kantorku yang secara tidak sengaja masuk ke ruanganku dan terkejut karena melihatku yang masih ada di dalam.
"Maaf, Pak, saya pikir bapak sudah pulang. Jadi saya main langsung masuk saja. Sekali lagi maaf, Pak!" ucap beliau panik sambil menundukkan kepalanya.
Aku yang terkejut melihat bapak itu sudah berada di dalam ruanganku, juga menjadi tidak enak. "Gak apa-apa, Pak. Saya juga sudah mau pulang. Tolong bapak bersihkan saja." Aku menekan tombol power pada laptop-ku untuk segera mematikannya. Mengakhiri pekerjaanku hari ini. Setelah sekian lama aku tidak berhadir ke kantor.
Setelah aku membersihkan mejaku dan kembali membawa pulang laptop-ku, aku berpamitan kepada lelaki paruh baya yang menjadi office boy itu. Lalu segera beranjak pergi meninggalkan beliau, agar tidak mengganggu cara kerjanya.
__ADS_1
Baru saja aku membuka pintu mobil, tiba-tiba ponselku berdering.
πΆ
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Talk about where we're goin'
Before we get lost
Let me out first
Can't get what we want without knowin'
I've never felt like this before
I apologize if I'm movin' too far
Can't we just talk?
Can't we just talk?
Figure out where we're growin'
πΆ
Kubiarkan ponselku itu berdering sementara aku meletakkan tas laptoo dan beberapa dokumenku ke kursi belakang. Setelah itu baru lah aku merogoh saku celanaku untuk melihat siapa orang yang menghubungiku.
Nama Max muncul di layar ponselku, aku sempat berpikir, ada urusan apa lagi Max menghubungiku? Apa ingin menanyakan kabar adiknya?
Segera kutepis pemikiran itu, lalu menggeser tombol hijau pada layarnya dengan menggunakan jempolku. "Hallo?"
"Tika udah tidur, Jeff?" tanya Max tiba-tiba.
"Aku lagi ada di kantor. Dia di rumah sama bi Mince. Tapi ini udah mau balik ke rumah sih," jawabku seadanya.
"Kebetulan kalo gitu, aku mau ngomong berdua. Bisa 'kan?"
Aku berpikir sejenak, "Oke, bisa. Di mana?"
"Bentar lagi aku sampai ke tempatnya. Nanti aku share location."
"Oke." Aku memutuskan sambungan telepon kemudian masuk ke dalam mobil. Duduk di balik kemudi setir. Menunggu Max mengirimkan tempat di mana kami akan bertemu.
Setelah aku mendapatkan alamat lokasi yang menjadi titik pertemuan kami berdua, aku segera menyalakan mesin mobil. Lalu langsung menuju ke tempat tersebut.
Begitu dari kejauhan aku menemukan tempat restoran yang dimaksudkan, aku langsung membelokkan setir dan memarkirkan mobilku. Kemudian berjalan memasuki tempat itu, mencari sosok Max yang ternyata sedang duduk di salah satu sudut meja. Menungguku.
Aku segera menghampirinya lalu menyapanya. "Hei, sorry lama."
"It's ok. Pesen dulu aja."
"Em, aku minum aja. Aku mau makan di rumah bareng Tika," tolakku halus lalu memanggil salah satu pelayan di tempat itu dan memesan secangkir kopi hitam.
"Ada apa, Max?" Aku sudah tidak sabar dengan kabar apa yang akan ia bicarakan padaku. Bahkan di sepanjang perjalanan menuju ke tempat ini saja, pikiranku melayang, memikirkan berbagai macam kemungkinan kabar tidak baik yang akan ia sampaikan.
"Dana kabur sehari setelah Tika melahirkan." Max dengan mantap mengucapkan kalimat itu setelah sebelumnya ia menghirup oksigen dengan begitu banyak.
DEG!!
Jantungku langsung berdegup kencang! Aku membelalakkan mataku menatapnya. Napasku terasa terputus mendengar kabar ini. Aku tidak tahu apa yang harus aku ucapkan.
Aku mengangkat kedua tanganku, menempelkan sikuku di atas meja lalu meremat rambutku dengan begitu kencang. Pikiranku kalut seketika.
"Tapi lelaki yang satunya sudah akuβ" ucap Max terputus, membuatku sontak kembali mendongakkan kepalaku menatapnya.
"Sudah apa Max?" lirihku pelan.
Max menoleh ke sisi kanan dan ke sisi kiri kami. Memerhatikan ke sekeliling lalu sedikit memajukan tubuhnya. "Aku bunuh," bisiknya hampir tak terdengar di telingaku. Tapi dari gerak bibirnya aku mengerti apa yang ia katakan.
Tatapan tajam dari mata Max semakin membuatku terasa terintimidasi. Oksigen semakin sulit aku hirup dan napasku semakin sulit untuk aku embuskan. Jantung yang terus terpacu menjadi satu alasanku untuk bernapas melalui mulutku.
Tidak pernah terpikirkan sebelumnya jika harus membunuh orang. Sebab tadinya aku berpikir hanya untuk menjebloskan mereka ke penjara. Tapi nyatanya Max malah mengambil jalan pintas.
"Semua gak ada hubungannya sama kamu. Ini murni keputusan aku."
Aku menutup mulutku dengan telapak tanganku. Hawa panas langsung menyelimutiku. Keringat dingin muncul di seluruh tubuhku. Aku benar-benar tidak bisa berkata apa-apa lagi.
"Jef, aku cuman minta kamu buat bujuk Tika balik ke rumah mamah. Karena mamah dan keluarga aku juga akan aku sarankan untuk tinggal di sana. Bisa 'kan? Seenggaknya sampai aku bisa nangkap Dana."
Lagi-lagi aku berpikir, tidak mudah jika mendadak aku mengubah keputusanku sendiri lalu meminta Tika kembali tinggal ke rumah mamah.
"Begitu anakku keluar dari rumah sakit, aku bisa membawa Tika balik ke sana. Akan ada banyak alasan. Tapi kalau sekarang, aku gak bisa."
"It's ok, Jeff. Gak apa-apa."
***
Tepat pukul setengah delapan malam aku sampai di halaman depan rumahku. Aku tidak langsung turun dari mobil. Melainkan asyik menatapi rumah yang aku bangun bersama dengan Tika.
Sebenarnya aku tidak menyangka bahwa akan menjadi seperti ini sekarang. Aku harus berjuang, bekerja keras untuk perusahaanku sendiri. Agar aku bisa melindungi keluargaku sendiri tanpa harus melibatkan orang lain.
Bukannya aku tidak senang, hanya saja, aku merasa lemah dan tidak ada artinya sebagai seorang suami. Jika aku sendiri tidak bisa melindungi keluarga kecilku. Lalu sekarang, apa yang harus aku lakukan?
Setelah beberapa lama aku berdiam diri di dalam mobil, akhirnya aku memutuskan untuk segera masuk ke dalam rumah, dikarenakan keadaan perutku yang tidak bisa lagi diajak kompromi. Beberapa kali terdengar bunyi cacing yang berdemo meminta makan.
"Kok malem banget pulangnya?" sapa Tika yang sudah duduk di kursi meja makan.
"Loh kenapa gak makan duluan aja?" tanyaku yang melihat beberapa hidangan masih rapi belum tersentuh sama sekali.
"Aku mau makan bareng," manjanya padaku. Aku terkekeh sambil meletakkan laptop dan beberapa dokumenku di atas meja makan.
__ADS_1
"Ya udah, bi Mince mana? Kita makan sama-sama." Aku mengecup puncak kepalanya.
Bersambung ...