Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps. 29


__ADS_3

Tika POV.


Rumah itu memang agak lebih jauh dari rumah orangtua kami berdua. Bahkan jika di ukur dari kantorku ataupun kantor Jefri, bisa-bisa membutuhkan waktu satu jam jika jalan utama padat di jam-jam sibuk. Ada lagi satu jalan tikus, lumayan memangkas jarak, namun terlalu banyak belokan karena melewati perumahan sederhana di wilayah sana.


Setelah seharian di rumah, akhirnya kami memutuskan untuk jalan-jalan ke mall. Melihat-lihat beberapa perabotan untuk dapur. Membeli piring, sendok, garpu, gelas, rice cooker, panci, wajan, dan beberapa jenis lainnya lagi. Karena rencananya kami akan mulai pindah dan menempati rumah itu besok.


"Sayang, kata Mama jangan lupa beli karpet anti slip, buat lantai shower deket kolam," ucapku pada Jefri saat kami selesai memilih perabot untuk dapur.


"Oh, kalo itu di lantai atas," sahutnya sambil mendorong trolley belanjaan kami.


Kami pun segera menuju lantai atas di toko shop ini. Memilih-milih beberapa barang yang kami perlukan. Aku menyukai kegiatan ini, berbelanja kebutuhan keseharian berdua bersama suami. Aku juga menyukai kegiatan yang bersifat bersih-bersih ataupun menata suatu benda, menyenangkan rasanya. Bisa membuat otak ku lebih segar dan bahagia tentunya.


"Habis ini kita ngopi dulu ya? Baru nganter semua ini trus pulang," usul Jefri.


"Iya, aku juga haus," sahutku.


Lalu kami mengarah menuju kasir untuk menyelesaikan kegiatan berbelanja kami ini.


Jefri mendorong trolley yang boleh digunakan untuk berkeliling mall dengan membawa belanjaan kami tadi. Kemudian kami parkirkan trolley itu di tempatnya di dalam salah satu coffee shop. Lalu kami memesan menu di meja order.


"Itu Haikal bukan? Yang lagi suapan di pojok," bisik Jefri sambil menunjuk dengan mulutnya.


Aku menoleh arah yang ditunjuknya, speechless.


"Trus itu siapa yang disampingnya?" bisik Jefri lagi.


"Aku kesana duluan ya?" izinku.


"Iya duluan aja."


Aku berjalan ke arah mereka, "Haikal!" seruku.


Haikal menoleh, "Loh, Tika? Ngapain disini?" kagetnya kalang kabut, terlihat jelas. Karena ia membenarkan cara duduknya.


Aku langsung duduk di sofa depan mereka, "Ya kamu yang ngapain disini? Biasanya sibuk di UGD."


"Emang ga boleh apa sesekali santai?" sewotnya.


"Kayaknya kita pernah ketemu deh?" tegur wanita disampingnya.


Aku menoleh, "Oh iya ya? Lu yang kemaren nabrak gua di tempat Haikal kan?" seingatku.


"Oh iya, bener, Tika kan ya?" tebaknya lagi.


"Yaps! Siapa nama lu kemaren?"


"Clara, sampe sekarangpun nama gua masih Clara." candanya tersenyum.


Haikal tertawa lepas. Aku kaget. Sereceh itu bisa membuat Haikal tertawa seperti itu. Good girl!!


"Hai! Kami gabung disini ya?" izin Jefri sambil membawa nampan pesanan kami.


"Silahkan!" sahut Haikal tersenyum.


Jefri langsung duduk disampingku. Meletakkan kopiku.


"Lu hari ini off, Kal?" tanya Jefri.


"Enggak, cuman break aja sampe jam enam," jawabnya lalu meminum air mineralnya, "Kalian udah lama di mall? Ato emang mau kesini ngopi aja?"


"Udah lumayan lama," jawabku.


"Trus tadi kemana aja?" tanya Haikal lagi.


"Belanja perabot. Oh iya, besok kami udah tinggal di rumah kami sendiri. Trus rencananya weekend depan kami mau adain acara makan-makan disana. Dateng ya? Bisa kan?" ajak Jefri.


"Iya, sekalian aja lu juga dateng ya? Bisa kan?" ucapku pada Clara.


Clara hanya tersenyum.


"Ga papa kan, Kal? Kamu ajak Clara aja, biar bisa dikenalin ke Mamah sekalian," candaku frontal.


"Hah?" Clara kaget.


"Apaan sih Tik! Jangan asal ngomong deh!" sewot Haikal.


"Asal ngomong gimana? Kalian pacaran kan?" frontal ku lagi.


"Iya, kan tadi suap-suapan?" tambah Jefri.


"Ho'oh, lu asal tau aja ya? Haikal ini paling anti kalo makan minum dari gelas sendok ato garpu punya orang. Apa lagi kalo kayak tadi tuh pake garpu yang sudah lu ...."


"Udah udah! Kalian kok cerewet banget sih? Gua ngebolehin kalian gabung disini bukan buat mojokin gua," protes Haikal.


Aku dan Jefri tertawa puas.


"Emang dia beneran gitu?" Clara membelalakkan matanya menatapku, "Elu fobia ya?" dia menoleh serius pada Haikal.


Aku dan Jefri seketika berhenti tertawa, saling memandang.


Haikal memutarkan bola matanya, "Serah kalian aja deh. Gua angkat tangan." sahut Haikal pasrah.


Aku dan Jefri kembali tertawa terbahak-bahak.

__ADS_1


Lalu kami larut dalam obrolan santai yang menyenangkan. Clara pun sudah mulai terbiasa dengan candaan kami dan mulai akrab. Sampai tak terasa langit di luar sudah mulai mengeluarkan warna jingganya.


"Astaga udah jam enam!" pekik Haikal setelah melirik jam tangannya, "Yuk balik, gua udah telat ini. Dari sini ke rumah sakit butuh waktu dua puluh menitan."


"Slow bro! Kan di udah ada temen lu yang handle?" sahut Clara.


"Iya, Kal, santai dikit kenapa sih?" selaku.


Haikal kembali duduk dan menghembuskan nafasnya. Kemudian mengambil ponselnya diatas meja lalu menelpon seseorang.


"Hallo? Bisa panggilin Dokter Ranti? Iya ini Dokter Haikal. Dia lagi sibuk gak? Oh oke," ucapnya menghela nafas, "Iya Ran, aku balik ntar malam deh ya? Ga papa kan? Iya, oke oke, thanks ya. Bye," lalu ia meletakkan kembali ponselnya diatas meja.


"Everything is fine?" tanya Clara menatap Haikal.


Haikal hanya menganggukan kepalanya sambil tersenyum tipis.


"Sayang aku keluar sana bentar ya, rokoan," izin Jefri padaku, aku menganggukkan kepala ku pelan.


"Jeff, gua ikut. Lu ga papa kan gua tinggal sama adek gua?" tanya Haikal.


"Hah? Oh iya, ga papa," jawabnya kaget dengan raut wajah ****-nya.


Jefri dan Haikal berjalan keluar coffee shop dan menyulut rokok mereka, menikmati setiap hisapan asap rokok itu. Aku memperhatikan mereka.


"Lu adeknya Haikal?" tanya Clara tidak yakin.


Aku menoleh tersenyum, "Iya, lu pikir gua siapa?"


"Gua pikir lu pacarnya bahkan sempet mikir istrinya, soalnya kemaren waktu sebelum nabrak gua ngintip kalian kayak akrab gitu. Pegangan tangan pula sebelum pulang," jelasnya.


Aku tertawa terbahak-bahak.


"Trus wajah kalian hampir-hampir mirip. Kan kata orang kalo udah jodoh wajahnya pasti terliat mirip," tambah Clara lagi.


Aku memegang perutku, sakit tertawa terus dari tadi.


"Kok bisa mikir gitu? Malah kalo gua mikirnya elu pacarnya Abang gua. Soalnya ya itu tadi, dia jarang hangout apa lagi izin di jam kerja, trus makan dari garpu yang elu pake. Belum lagi dia keliatan enjoy sama lu." ceritaku takjub.


Pipi Clara merona, terlihat jelas dibawah sinar jingga yang terbias dinding kaca coffee shop ini. Lalu Clara melemparkan pandangannya pada para lelaki diluar sana.


"Lu sama Jefri udah nikah?" tanyanya dengan mata yang masih memperhatikan objek di luar sana.


"Udah, jalan dua bulan. Kenapa?"


"Oh ga papa, nanya aja. Kalian terlihat saling mencintai dan cocok."


"Masa sih?" tanyaku.


Clara mengangguk, "Seriusan."


Clara gelagapan. Dapat ku tangkap sinyal itu. Mungkin dia masih gengsi, pikirku.


"Gua baru kenal sama kakak lu. Baru dua hari."


"Begitu kenal langsung pacaran?" kaget.


"E-enggak lah! Siapa yang pacaran. Masa baru kenal langsung pacaran."


Aku agak heran. Kalo mereka gak pacaran trus kok mau Haikal nongkrong di jam kerja sama dia? Pikirku.


Aku menyendokkan strawberry cake ku dan mengunyahnya sambil memperhatikan Clara kilas.


"Eh, emang Haikal ga punya pacar?" lirih Clara tiba-tiba.


"Setahu gua sih belum," jawabku santai lalu meneguk minumanku.


"Belum? Berarti ada yang dia deketin?"


"Gua kurang tau sih. Soalnya kan Haikal udah punya rumah sendiri."


Kami larut dalam orbrolan kami seputar Haikal. Banyak pertanyaan yang Clara tanyakan padaku. Sesekali Clara melemparkan pandangannya keluar hanya untuk sekedar memperhatikan sosok Kakak ku itu. Aku menangkap aura jatuh cintanya.


Tidak terasa hari semakin larut, langit telah berubah warna menjadi hitam pekat. Bulan memancarkan sinarnya dengan begitu indah. Mengiringi langkah kaki kami menuju ke mobil masing-masing.


Kami berpisah saat di coffee shop tadi. Haikal dan Clara pulang ke rumah sakit. Sedangkan aku dan Jefri pulang ke rumah kami untuk meletakkan belanjaan kami tadi disana lalu segera pulang ke rumah mertuaku.


"Sayang, kamu mau makan lagi gak?" tanya Jefri saat diperjalanan.


"Aku udah begah ini. Ga tahan lagi buat makan."


"Trus aku laper," rengeknya.


Ku elus kepala belakangnya, ia tersenyum kilas menatapku.


"Gini aja, bungkus gimana? Makannya di rumah kita," saranku.


"Apa? Rumah kita?" Jefri terkekeh geli.


Aku memukul pundaknya lembut, "Kamu ini ya? Emang salah aku ngomong gitu?"


"Enggak salah kok, cuman kedengeran seksi aja kalo kamu bilang gitu," kedip sebelah matanya kilas.


Aku tersipu, untung langit udah gelap jadi gak keliatan pipi tomatku.

__ADS_1


Kami berhenti di salah satu warung pinggir jalan yang menjual makanan seafood. Jefri turun dari mobil lalu memesan makanannya.


------------------------------


Jefri POV.


"Bang, pesen kerang dara nya satu porsi sama cumi asam manis nya satu," ucapku.


"Yang kerang nya mau di masak saos apa, Bang?"


"Em.. Saos telur asin deh, tapi dua-duanya jangan pedes ya? Ntar dower bibir saya," candaku.


Segera setelah itu Abangnya membuatkan pesanan ku. Setelah jadi tak lupa aku membeli sebungkus nasi putihnya. Membayar lalu kembali masuk ke dalam mobil.


"Tumben cepet?" tanya Tika.


"Biasalah, di duluin sama Abang nya," aku sambil mengerdikkan kedua bahuku.


Lalu ku jalankan mobil menuju ke rumah kami. Sesampainya disana, aku membantu Tika menurunkan barang belanjaan kami. Lumayan banyak, sampai aku harus bolak-balik ke mobilku dua kali.


"Capek?" seru Tika mendekatiku yang sedang mengistirahatkan tubuh sejenak di sofa rumah kami.


Aku menyandarkan kepalaku di sandaran sofa sambil memejamkan mata saat Tika duduk disampingku lalu membelai rambutku. Aku membuka mata dan menoleh padanya.


"Gimana dapurnya? Sesuai keinginan kamu gak?" ku selipkan jemariku masuk ke dalam kaosnya, mengelus pinggangnya.


Dia tersenyum, "Suka kok sayang, sesuai ekspektasi. Makasih ya?"


Aku tersenyum kilas padanya lalu mengecup bibir merahnya kilas.


"Kamu mau makan sekarang?" tanyanya lembut sambil mengusap tengkuk leherku.


Aku mengangguk. Dia segera berdiri, meraih bungkusan makanan yang tadi ku letakkan di atas meja didepan ku dan membawanya ke dapur. Tak berapa lama aku bangkit dari sofaku, menyusulnya ke dapur. Dengan telaten dia memindahkan makanan tadi kedalam piring-piring yang dia sediakan.


Aku memeluknya dari belakang, menyibakkan rambutnya yang terurai kesalah satu bahunya. Lalu membenamkan wajah ku diantara tengkuk leher dan pundaknya. Bermanja.


Dia terkekeh pelan, "Kenapa ini?" lirihnya curiga.


"Aku capek seharian ini jalan muter, belanja sama kamu." ucapku masih dengan membenamkan wajahku.


"Masa capek?"


"Banget." lalu ku kecup tengkuk lehernya.


"Ya udah, makan dulu." sarannya melepaskan kedua tanganku yang melingkar di perutnya lalu berbalik menatapku.


Tiba-tiba dia mencium bibirku, lembut. Sangat lembut. Lalu tiba-tiba dia melepaskan ciuman itu. Spontan aku memasang raut wajah cemberutku, dia tertawa.


"Cepet makan." titahnya.


Ku lepaskan dekapan kami lalu aku berbalik menuju kursi di balik meja kitchen di belakangnya.


Plak!!!


Dia memukul bokongku, membuat aku tertawa pelan sambil meneruskan langkahku ke kursi tersebut. Aku memulai makanku sambil memperhatikannya kegiatannya yang lincah menyusun setiap belanjaan kami tadi. Sambil sesekali melirik dan mengedipkan mata indahnya itu.


"Udah kenyang," ucapku saat semuanya sudah habis masuk dalam perutku.


Dia tersenyum padaku, membersihkan piring makan ku tadi.


"Sini deh, yang!" panggilku.


Dia berjalan santai menghampiriku, "Hm?"


Ku sambut tubuhnya dengan melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya. Dia pun menyematkan kedua lengannya di atas bahuku lalu mengelus kepalaku.


"Kita malam ini aja ya tidur disini? Gak usah besok. Aku udah gak tahan nyetir, pegel," manjaku.


Dia mengangguk, "Mau aku pijitin?"


"Boleh,"


"Tapi kamu mandi dulu, ya?"


"Trus aku mandi kamu ngapain?" lirihnya penasaran.


"Ya gantian kita mandirinya."


"Gini aja, aku mandi di kamar mandi sana. Kamu mandi di atas. Ya?"


Tika tidak meolaknya. Lalu kami segera membersihkan tubuh kami masing-masing. Sesudahnya, aku tersentak kaget. Baru ingat kalau di rumah ini belum ada sehelai benang pun pakaian kami. Yang ada hanya bathrobe yang baru kami beli tadi.


Tookk..


Tookk..


Tookk..


Suara pintu kamar mandi yang ku ketok. Tika menggeser pintunya sedikit dari dalam, ku lihat dia di celah kecil pintu.


"Nih, kita ga ada bawa baju kesini. Aku baru ingat." ucapku sambil menyodorkan bathrobe miliknya.


Namun tiba-tiba Tika membuka lebar pintu kamar mandi itu, memperlihatkan tubuh putih mulusnya tanpa sehelai benang pun dengan percaya dirinya. Mendekat lalu menggantungkan kedua lengannya di leherku. Aku menatapnya sejak tadi tidak berkedip.

__ADS_1


"Ka-kamu..." ucapku seketika tergagu.


__ADS_2