Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 217


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Still Tika POV.


Siang harinya, Jefri segera pulang ke rumah. Aku langsung memeluknya saat melihat dia berdiri di ambang pintu. Dengan sangat erat. Aku juga sudah menceritakan padanya melalui telepon. Tepat sesaat setelah Metta memutuskan untuk kembali ke kantor.


“Kamu sudah hubungin Lisa?”


Aku mengangguk. Lalu Jefri mengusulkan untuk mengantar Nathan dan juga Naila ke rumah kedua orang tuanya, untuk dititipkan sementata. Selama perihal kunci yang Dana berikan pada aku dan juga Lisa ini. Aku menyetujuinya.


Dengan sigap, Jefri langsung mengangkat Naila beserta tas perlengkapan milik mereka, sebab sebelumnya aku memang sudah mempersiapkan segalanya. Lalu aku mengangkat Nathan yang sedamg tertidur pulas.


Secara bergantian Jefri memasukkan si kembar ke dalam car seat-nya dan meletakkan perlengkapan mereka di bagian depan di bawah kakiku. Sedangkan aku langsung kembali untuk mengunci pintu rumah.


Di sepanjang perjalanan menuju ke rumah mertua, aku tidak berbicara sepatah kata pun. Pandanganku melayang begitu saja entah ke mana. Tidak ada yang aku pikirkan secara spesifik. Dari pergi mengantar si kembar hingga kembali pergi ke alamat yang tertera pada label kunci.


Lisa dan Alex sudah terlihat sedang menungguku dan juga Jefri pada lobby sebuah bank nomer satu di Indonesia. Ya benar, Dana memberikan sebuah kunci save deposit box kepadaku.


“Udah lama?” tegurku.


Lisa menggelengkan kepalanya. “Baru aja.”


Kemudian kami masuk ke dalam sebuah ruangan yang disediakan setelah aku memperlihatkan sebuah kunci dari Dana itu dan menunjukkan tanda pengenal. Setelah menunggu beberapa saat, seorang lelaki paruh baya dengan pakaian rapi dan elegant-nya masuk


“Selamat siang. Ini tanda pengenal kalian. Perkenalkan saya Fahmi Andara, pimpinan save deposit box di sini. Maaf boleh saya kembali melihat anak kunci secara keseluruhan?” ucapnya sopan lalu membuatku berdiri.


Aku perlihatkan langsung kunci itu kepadanya. Lalu tidak berapa lama kemudian lelaki itu meminta aku dan Lisa untuk mengikuti langkah kakinya di belakang. Untuk memasuki sebuah pintu lain yang ada di dalam ruangan tersebut.


Dia membawa aku dan juga Lisa memasuki sebuah ruangan yang mana isinya terdapat ratusan pintu lemari box yang terbuat dari besi dengan berbagai macam ukuran. Lalu terdapat sebuah meja besi di tengah-tengah ruangan.


Lalu beliau menunjukkan salah satu pintu yang mana ukurannya tidak terlalu besar tetapi juga tidak terlalu kecil. Kemudian beliau memasukkan anak kunci yang ada padanya, membuka pintunya lalu memasukan sebuah digit kode dan meminta aku untuk membuka lapisan kotak itu dengan anak kunci yang aku miliki sekarang.


Sambil menggenggam tangan Lisa, aku maju selangkah dengan anak kunci di tanganku, menatap sekilas pada Lisa dengan detak jantungku yang berpacu terlalu kuat. Lalu aku masukkan anak kunci itu pada lubangnya dan memutarnya.


Cklik!


Pintu lapisan besi kedua itu terbuka sedikit, membuatku spontan meloncat mundur. Pak Fahmi selaku pimpinan bagian ini, membantu kami untuk menarik dan mengeluarkan sebuah box besi lain yang ada di dalamnya dan meletakkannya di atas meja yang telah di sediakan.

__ADS_1


Aku berpaling memeluk Lisa, begitu melihat ukuran kotak itu. Dan aku tidak bisa membayangkan apa isinya.


“Saya akan menunggu di luar.” Pak Fahmi melangkah hendak keluar tetapi aku malah dengan refleks berbalik kembali dan menangkap lengan beliau.


“Maaf, bolehkah suami saya masuk ke sini? Saya tidak siap untuk membuka kotak ini,” pintaku memelas.


Untuk beberapa saat beliau menatap aku dan Lisa secara bergantian, membuatku perlahan melepaskan lengannya yang aku pegangi kuat. Lalu entah mengapa tiba-tiba saja beliau mengizinkan dan mengatakan bahwa akan segera memanggilkan kedua lelaki yang tadi mendampingi kami.


Aku dan Lisa menunggu untuk sejenak sambil berpelukan menatapi kotak kokoh itu hingga akhirnya Alex dan juga Jefri datang. “Permisi, silakan, saya akan menunggu di depan pintu.” Lagi-lagi beliau mengatakan hal itu, seakan kalimat tersebut wajib untuk beliau lontarkan.


“Aku gak sanggup,” ucapku menatap Jefri yang juga memandangiku. Lalu dia melangkah mendekati kotak itu di atas meja. Bersama dengan Alex.


Jefri menyentuh permukaan kotak, tetapi begitu dia hendak membukanya, tiba-tiba Lisa memekik, “Tunggu!!” Dia memandangi kami bertiga secara bergantian lalu kembali berkata, “Apa pun isinya, semua gak akan mengubah apa yang telah terjadi di sini 'kan? Di antara kita semua?”


“Apa pun, Lisa.” Aku menjawab tegas.


“Bukan. Bukan kita berdua, tetapi mereka.”


Entah mengapa Lisa mengatakan kalimat itu, seakan dia ingin memastikan sesuatu. Kemungkinan di antara dia dengan Alex. Sedangkan Jefri, saat ini menatapku.


“Apa pun yang ada di dalamnya, semuanya adalah masa lalu kalian.” Alex mulai mengambil sikap.


“Bener apa kata Jefri. Bukannya kita sudah berdamai dengan masa lalu kalian yang satu ini?” goda Alex yang kemudian tersenyum tipis.


Kami semua saling memandang lalu Jefri pun akhirnya perlahan mengangkat penutup kotak itu. Aku terperangah melihat isinya, spontan menutup mulutku yang menganga dengan telapak tangan kiriku dan meneteskan air mataku lagi.


Namun, berbeda dengan Lisa yang langsung ambruk jatuh ke lantai tanpa sempat aku memegangi tubuhnya lagi. Tangisnya meledak begitu saja saat melihat beberapa isinya yang mungkin dia kenali.


**


Saat ini aku, Jefri, Alex dan juga Lisa sudah kembali pulang ke rumah dengan membawa isi deposit box. Kami berempat sengaja lamgsung pulang dan membawa semua itu ke sini, ke rumah aku dan Jefri.


Lisa masih menangis tersedu sejak di dalam ruangan yang memiliki banyak kotak besi itu tadi hingga saat ini aku membantunya duduk di sofa samping rumah ini. Agar dia bisa menghirup udara segar. Lalu Alex datang dengan secangkir cokelat hangat untuknya.


Jefri sudah meletakkan sebuah tas di atas meja yang memuat semua isi kotak di bank tadi. Dan setelah Lisa menghirup beberapa kali cokelat hangatnya, akhirnya dia meraih pembuka tas itu dengan jemarinya yang gemetar.


Memang ada beberapa benda yang juga aku kenali tapi sepertinya benda lain itu milik Lisa.


Beberapa kali aku menghela napas dengan pelan, melihat kondisi Lisa yang seperti ini. Lalu tiba-tiba Lisa bersuara, “Maaf, kalau aku harus kembali mengenang semua ini,” ucapnya gemetar tanpa menoleh sedikit pun.

__ADS_1


Saat ini mungkin, hati dan perasaan kami semua terasa kacau. Terlalu emosional jika dipaksa mengenang masa lalu dengan cara yang seperti ini dan di depan pasangan masing-masing. Aku rasa omong kosong, jika Jefri dan Alex tidak cemburu ataupun sakit hati jika melihat aku atau Losa menangisi masa lalu.


Karena bagiku, menangisi masa lalu sama artinya dengan sebuah penyesalan akan apa yang telah terjadi. Dan secara tidak langsung bukankah itu kurang baik?


Tetapi kami semua yang ada di sini juga sepertinya tidak bisa membohongi hati. Karena di saat mengenang, itu artinya mengingat kembali setiap kebaikan orang tersebut yang mana semua kejelekan pasti secara otomatis akan terhapus. Tergerus oleh rasa sesal yang membelenggu.


Dan jika sudah seperti ini, apa yang harus kami semua lakukan?


Bukankah ini juga namanya berselingkuh secara terang-terangan?


Mengkhianati rasa di hati dan kalimat yang pernah di ucapkan selama ini?


Karena secara tidak sadar, otak ini bekerja memikirkan orang lain, bukan pasangan sendiri. Ya, ini adalah salah satu golongan berkhianat yang awam diketahui. Namanya 'selingkuh emosional'.


Hal ini biasanya jarang disadari secara menyeluruh oleh diri sendiri. Dan bisa jadi, hal ini menjadi lebih fatal akibatnya karena tidak bisa dideteksi dan pelan-pelan akan menjadi pemicu keretakkan dalam suatu hubungan. Lantas, bagaimana cara mengatasinya?


Semua kembali lagi ke tahapan 'berdamai kepada diri sendiri'.


Dengan begitu artinya kita berusaha memaafkan diri sendiri atas semua kesalahan yang pernah dilakukan. Tidak mencari alasan dan tidak mencari kesalahan. Mungkin seperti itu. Karena aku juga masih mencobanya, mencoba berdamai kepada diri sendiri.


Lisa menarik sebuah amplop cokelat dari beberapa tumpukan amplop lain di sana dan membukanya. Dia kembali menangis saat membaca isinya. Alex meraih dokumen itu lalu membacanya, “Surat pengalihan saham perusahaan Winston Property.” Alex memberikan dokumen itu pada Jefri yang kini duduk di sampingku.


Aku ikut membacanya, di sana tertera nama lengkap Lisa sebagai penerima pengalihan saham itu. Hanya kurang tanda tangan Lisa di sana. Aku tercengang lalu menatap Jefri sambil kembali meneteskan air mata.


Setelah itu menatap Lisa yang satu per satu mengeluarkan beberapa benda yang ia kenali. Bahkan aku melihat sebuah tas yang dulu pernah ia pakai saat aku pergi mengunjunginya di London dulu. Tas itu masih kokoh dan juga awet hingga saat ini.


Aku, Jefri dan tentunya Alex, membiarkan Lisa kembali mengenang masa lalunya. Mungkin tidak hanya untuk saat ini tetapi untuk selamanya. Tetapi mungkin, hal ini akan sulit bagi Alex, karena selamanya dia akan hidup dalam bayangan masa lalu Lisa itu. Atau mungkin juga, Lisa memilih jalannya yang lain untuk berdamai dengan dirinya.


Entahlah, yang bisa aku lakukan hanya satu, tetap berada di sampingnya dengan apa pun yang akan terjadi nantinya. Menyadarkannya dengan sebuah pelukan, karena aku juga membutuhkan pelukannya. Pelukan orang pertama yang menarikku saat aku terjatuh pertama kali dalam kesedihan.


Bersambung ...


——————————


Jangan lupa juga buat vote 🤭 masih aku pantau 🧐😝


Sekian dulu, #salambucin


Babay ...

__ADS_1


@bossytika 💋


__ADS_2