Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 53


__ADS_3

Haikal POV.


Setelah makan malam selesai, kami semua berpamitan. Ku biarkan Tika dan Jefri untuk segera pulang, sebab yang ku tahu, sejak siang mereka tak ada istirahatnya. Sedangkan Mamah biar menjadi tanggung jawabku untuk ku antar pulang.


"Kamu kalo ada apa-apa langsung telpon Mamah ya? Kabarin Mamah!" mandat Mamah pada Tika.


"Iya, Mah." Kemudian Mamah memeluk Tika sekali lagi sebelum Mamah memasuki mobilku.


Lalu langsung ku ijak pedal gas mobil menuju ke arah rumah. Selama di perjalanan, suara musik jazz kesukaanku mengalun dengan lembutnya. Volume yang tidak terlalu keras namun juga tidak terlalu pelan, menemani perjalanan ini.


Beberapa kali aku perhatikan sekilas, Mamah seakan melamun. Pandangannya jauh terlempar di luar hamparan jendela, namun matanya seakan tidak melihat pemandangan itu ada.


"Kenapa, Mah?" tanyaku sambil menyentuh lengan Mamah kemudian menoleh kilas menatap Mamah.


"Oh, ga papa. Mamah cuman kekenyangan," sahutnya yang membalas senyumanku. Lalu menepuk lenganku berkali-kali.


Ku tarik kembali lenganku untuk memegang setir mobil. Sambil sesekali masih memperthatikan Mamah.


"Jadi bener kamu lagi deket sama cewek?" tanya Mamah tiba-tiba.


"Eh hmm, enggak kok, Mah!" sahutku sambil tetap berusaha fokus menyetir.


"Kamu itu gak pinter buat acting, jadi gak usah bohongin Mamah."


"Beneran, Mah. Aku gak ngerasa lagi deket sama siapa-siapa buat urusan hati. Kalo urusan kerja sih ada tuh, si Ranti, cewek."


"Tuh kan, kamu bohong sama Mamah."


Shit! Umpatku dalam hati.


Ngapain pake ngejelasin panjang lebar sih.


Mamah tertawa cekikikan. Pelan.


"Ga ada yang lagi aku deketin, Mah," jelasku lagi."

__ADS_1


"Trus bukannya kamu sudah jalan bareng?"


"Jalan bukan berarti deketin dong, Mah?"


"Kamu gak ada niat, mau hidup kayak Max atau Tika?"


"Ada, Mah. Cuman pasangannya aja lagi yang belum ada. Sama Clara itu juga baru kenal, jadi gak ada yang gimana-gimana."


"Jadi bener namanya Clara?" Mamah bertanya menggodaku sambil cekikikan.


Aku hanya menggelengkan kepalaku pelan. Setelah diperjalanan selama tiga puluh menit lebih, akhirnya kami sampai juga masuk ke dalam halaman rumah.


"Mah, aku langsung balik ke rumah sakit ya?" izinku saat Mamah sudah membuka pintu mobilnya untuk segera turun.


Mamah menoleh padaku, "Pikirkan lagi jalan hidup kamu ke depannya mau gimana. Semakin hari umur semakin berkurang. Kamu harus egois sedikit untuk diri kamu, jangan hanya membantu kebahagiaan keluarga pasien kamu aja. Lalu lupa dengan kebahagiaan keluarga kamu."


Aku menghembuskan nafasku kasar, membuka pintu mobilku berniat untuk mengantar Mamah sampai masuk ke dalam rumah.


"Gak usah di antar, Mamah bisa sendiri," ucap Mamah yang kemudian ku kecup pipinya.


Kemudian Mamah turun dan menutup pintu mobil. Berjalan santai menuju ke dalam rumah. Aku masih disini memperhatikan Mamah masuk ke rumah hingga menghilang di balik pintu depan.


Disepanjang perjalanan kembali menuju ke rumah sakit, terlintas lagi semua kalimat yang tadi Mamah ucapkan padaku. Ya benar apa kata Mamah, aku terlalu egois. Mungkin sebaiknya aku mulai memikirkan kepentinganku. Batinku.


Sesampainya di rumah sakit, aku berjalan santai menuju ke ruanganku untuk beristirahat sebentar lalu berganti pakaian seragam. Tapi siapa sangka, aku malah mendapati seseorang yang sepertinya ku kenal sedang duduk di lorong kursi rumah sakit.


"Loh, kamu kok disini? Sama siapa?" tanyaku pada seorang anak kecil dengan mainan robot ditangannya.


Ya, anak itu adalah anak mantannya Jefri. Eh salah, bukan begitu kalimatnya. Yang benar adalah anak itu adalah anak seorang wanita yang dulunya mantan Jefri. Sudah benar kan kalimatnya?


"Sendiri om. Om yang dulu dokter disini kan? Masih kerja disini?" tanyanya.


"Iya dong. Kamu kok bisa kesini sendiri?"


"Naik taksi."

__ADS_1


Aku heran, "Emang punya uang?"


Dia menggelengkan kepalanya, lalu menunjukkan tangannya pada seseorang yang berdiri lumayan jauh di belakangku, "Kamu duduk disini aja, tunggu om disini jangan kemana-mana."


Aku langsung menghampiri seorang lelaki yang sedang berdiri di depan mesin belanja minuman otomatis, "Hei, sorry, elu kenal sama anak yang diduduk disana itu?"


Lelaki itu langsung menoleh dan mengikuti arah jari telunjukku, "Iya, gua yang bawa dia kesini. Katanya mau nemuin temen Papinya."


"Berapa ongkos taksinya?"


"Lu temen Papinya?"


"Iya."


Lelaki itu seperti tak percaya, kemudian mengambil minuman yang telah berhasil keluar dari mesin otomatis itu, lalu melangkah menuju anak itu.


"Nih," ia memberikan minuman susu kotak untuk anak itu, "jadi dia temen Papi lu?" tanyanya.


"Iya, Om itu temen Papi," sahut anak itu.


Lelaki itu kembali berdiri lalu mendekatiku, "Ongkosnya tiga ratus delapan puluh dua ribu. Trus tadi susu kotaknya sepuluh ribu."


Ku ambil beberapa lembar uang berwarna merah, kemudian ku berikan pada lelaki itu, "Makasih."


Tanpa sepatah kata lagi, lelaki itu segera pergi meninggalkan kami. Kembali ku tatap anak kecil itu, ia sedang asik dengan sebuah minuman susu kotaknya.


"Ikut Om ke ruangan mau? Disini berisik."


Anak itu hanya menganggukan kepalanya. Kemudian turun dari kursinya dan ku ulurkan jari telunjukku untuk menggandengnya. Kami berjalan santai menuju ruanganku. Tanganku yang satunya lagi dengan segera mengirimkan pesan singkat pada Jefri, mengabarkan bahwa anak ini ada disini sendirian.


Ya aku mengetahui informasi hilangnya anak ini. Karena sebelum jadwal periksa Tika, Jefri sempat menchat dan memberitahukan alasan, mengapa ia sampai telat untuk jadwal pemeriksaan yang telah di janjikan.


Baru saja aku membuka pintu ruanganku, aku kembali dikejutkan dengan sesosok wanita. Dengan rambut hitam yang terikat rapi, seperti buntut kuda.


Aku menarik anak tadi untuk masuk dan duduk di sofa. Wanita itu menoleh melihatku. Ya, aku mengenalinya kali ini, sangat kenal.

__ADS_1


------------------------


Jangan lupa sumbangin koin dan poinnya guys 🥳🥳🥳


__ADS_2