
Haikal POV.
Astagaaa! Batinku.
Tiba-tiba Clara mencium bibirku kilas. Dia menatapku lalu tersenyum manis.
"Ga usah bawel!" lirihnya menyahut kemudian pergi meninggalkanku disini sendiri.
Aku menganga, tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan wanita itu. Wanita yang beberapa hari ini memang selalu mengganggu pikiranku. Wanita yang mengganggu waktu istirahatku saat pertama kali kami bertemu.
Apa dia seberani ini dengan pria yang baru dikenalnya?
Apa setiap pria diperlakukannya seperti ini?
Pikiranku kembali kacau.
Aku segera kembali ke ruanganku. Terdengar suara gemercik air dari dalam toilet ruanganku. Ku putuskan untuk duduk di sofa dan memainkan game diponselku. Mengalihkan pikiranku sementara.
Clara keluar dari toilet, aku meliriknya kilas.
"Katanya mau makan, jadi?" tanya Clara santai berdiri di samping meja kerjaku.
Aku meliriknya kembali, "Makannya di kantin bawah aja, mau?"
"It's ok."
Jawabnya santai kemudian mengambil tasnya lalu langsung melangkah cepat, aku segera mengikutinya.
Sesampainya di kantin. Banyak mata para perawat dan pekerja rumah sakit yang menatap ke arah ku berjalan. Aku merasakan tatapan itu memang tertuju ke arah ku, kami maksudku.
Sebagian ada yang sambil berbisik, entah membahas apa.
"Lu mau makan apa?" tanyaku pada Clara yang kini berdiri disampingku sambil melihat-lihat spanduk menu yang tertulis di atas dinding, hampir menyentuh langit-langit plafon.
"Emm, enaknya makanan apa?" tanyanya balik.
"Gak tau juga sih, gua jarang makan disini."
"Loh, gimana sih? Ngajakin tapi gak pernah makan disini."
"Jarang! Bukan berarti gak pernah."
"Trus kalo jarang, pasti pernah nyobain makanan disini dong?"
"Mie goreng nya lumayan. Soto ayamnya juga."
"Ya udah, makan mie goreng deh."
Aku menatap Clara, kemudian langsung berjalan menghampiri Ibuk kantin.
"Buk, pesen mie goreng dua, sama es teh dua, jangan terlalu manis."
"Iya, duduknya dimana?" tanya Ibuk kantin.
"Dipojok sana," sahutku sambil menunjukkan tempat kami akan duduk dengan jari telunjuk tangan kananku.
Ibuk kantin terlihat mengangguk dan aku segera mencolek lengan Clara, "Yuk!" ajakku.
Clara mengikuti langkah kakiku di belakang. Kemudian kami mengambil posisi duduk yang saling berhadap-hadapan.
Tak lama berselang, minuman kami datang.
"Makasih," ucapku pada pelayan lelaki yang mengantarkan minuman itu.
"Makanannya nanya, minumannya ga ditanyain."
Aku menatap Clara, "Sorry, gua kebiasaan."
Ya, aku memang memiliki kebiasaan aneh. Aku sejenis pria yang bersifat Dominan. Aku menyukai menjadi pribadi yang memiliki kekuasaan penuh dalam memutuskan suatu hal tanpa bertanya dulu sebelumnya kepada orang di sekelilingku.
Dulu saat bersama Jasmine, kebiasaan ku itu semakin parah. Jasmine selalu bersikap pasrah padaku. Apapun makanan yang ku pesan untuknya selalu di makannya. Pakaian, perhiasan, bahkan apapun yang aku inginkan dia selalu menyetujuinya.
"Maaf permisi.." ucap pelayan lelaki tadi kembali membawakan mie goreng kami dan membuyarkan pikiranku.
"Makasih," ucapku lagi pada pelayan itu.
__ADS_1
Tanpa sengaja aku dengan sigap mengambilkannya sendok dan garpu. Lalu menaruh irisan jeruk nipis ku di pinggiran piringnya. Dia kembali terdiam dan menatapku. Aku yang baru sadar akan tatapannya menjadi kembali merasa bersalah.
Shit! Umpatku dalam hati.
"Sorry," ucapku lagi, berusaha dengan raut wajahku yang datar.
Dia meraih sendok dan garpu yang ku berikan lalu menggosoknya denga sehelai tissu.
Kami makan dengan hening, tanpa membahas apapun. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang terdengar di telinga kami. Wajah kamipun tertunduk, mencoba fokus kepada mie goreng di piring kami masing-masing. Setiap kali ku tengadahkan kepalaku, aku berpura-pura minum sambil sekilas meliriknya, begitupun sebaliknya.
Beberapa kali mata kami bertabrakkan saat saling mencuri pandangan, kemudian dengan spontan pula kami sama-sama membuang pandangan ke arah lain.
Makan siang telah selesai. Ku pandangi wanita dihadapanku ini sambil aku meminum es teh ku. Tugasnya di ruanganku telah selesai. Kemungkinan keluarganya pun telah kembali sehat. Oh iya, keluarganya! Pikirku.
"Keluarga lu yang sakit kemaren siapa?" tanyaku membuka topik pembicaraan.
"Oh, Tante gua yang sakit."
"Gimana kabarnya?"
"Katanya siang ini udah boleh pulang."
"Ohh.."
Shit! Aku kehabisan bahan obrolan, pikirku lagi.
Suasana kami berdua tampak awkward. Entah hanya perasaanku saja atau memang tampak terlihat seperti itu. Yang jelas, sudah lama aku tidak seperti ini.
Mengobrol dengan wanita yang mampu membuat detak jantungku tak karuan. Makan siang bersama di public area wilayahku sendiri. Dan amazingnya lagi, wanita dihadapanku ini sebenarnya bukan typeku. Dia terlalu ceroboh dan sembrono. Kadang sikapnya terlalu liar untukku.
Bukan wanita yang patuh, kalem atau bahkan dia bukan wanita yang elegan menurutku.
Ku gelengkan kepalaku kilas saat aku memikirkan semua itu. Ku teguk kembali minumanku sampai habis.
"Udah?" tanyaku padanya yang sedang melihat sekelilingnya.
"Makannya?"
"Bukan, ngeliatin orangnya."
"Udah kok. Ternyata gini ya klo makan di kantin sama seorang Dokter. Diliatin mata-mata singa yang siap menerkam!" lirih Clara menyipitkan matanya padaku.
"Kok ketawa, ada yang lucu?" Clara kembali menyipitkan matanya dengan tubuh yang agak condong ke arahku sambil berbisik.
"Ga ada kok."
"Trus kenapa ketawa?" dia mengeryitkan dahinya.
"Makannya udah? Gua harus balik lagi ini.."
"Udah kok, yuk!" selanya lalu berdiri langsung berjalan kearah kasir.
Aku hanya mengikutinya di belakang. Sambil memberi kode pada Ibuk Kantin untuk tidak mengambil uang dari Clara.
"Buk berapa mie goreng dua trus..."
"Maaf Mbak, semuanya sudah dibayar," sela beliau.
Clara berbalik menoleh padaku. Aku hanya mengedikkan kedua bahuku, lalu melangkah keluar kantin tanpa menghiraukan dia mengikutiku atau tidak.
Sesekali aku menoleh, hanya untuk memastikan, dia mengikuti langkahku atau tidak. Dia berjalan dengan sangat lambat di belakangku.
Sesampainya di lobby rumah sakit, aku dikejutkan oleh suara seseorang yang memanggil nama 'Clara'.
"Clara.. Claraa.."
Aku berhenti, menoleh ke belakang, melihat Clara yang juga sedang kelimpungan mencari asal suara.
"Ayah! Belum pulang?" tanya Clara saat seorang pria berumur terlihat mendekatinya.
Jarak ku hanya beberapa meter saja, telingaku masih dapat mendengar percakapan itu.
"Tante kamu kan pulang bentar lagi, jadi Ayah yang antar mereka. Mobil Om Raihan tadi di pinjam Bunda kamu buat pulang duluan beresin rumah mereka. Kerjaan kamu sudah selesai?" ucap lelaki itu.
Sepertinya dia orangtua Clara, pikirku. Aku ragu-ragu ingin menyapanya atau tidak. Terlihat mata Clara menatapku dari atas pundak Ayahnya.
__ADS_1
"Belum kelar, Yah. Dikit lagi," sahutnya.
Ku putuskan untuk menghampiri mereka. Aku harus belajar sopan untuk kali ini. Ku langkahkan kakiku perlahan.
"Maaf, selamat siang," ucapku menyapa mereka.
"Yah, kenalin, ini Dokter Haikal. Salah satu dokter di rumah sakit ini." Clara memperkenalkan ku pada Ayahnya.
Aku menyodorkan tangan kanan ku untuk berjabat tangan, Ayahnya dengan sigap meraih tanganku, "Saya Haikal."
"Oh iya, saya Ayahnya Clara." ucap beliau ramah lalu melepaskan jabatan tangan kami.
"Kamu boleh pulang kok. Sisa nya nanti biar perawat lain yang beresin." ucapku sambil mengedipkan sebelah mataku pada Clara.
"Jangan! Kalau tanggung jawab Clara belum selesai, dia wajib menyelesaikannya sampai tuntas. Ga boleh orang lain yang menanggung tugasnya. Walaupun hanya sisa sedikit." sanggah Ayahnya tegas.
Aku hanya tersenyum menanggapi komentar Ayahnya, lalu menoleh kembali pada Clara.
"Iya, Ayah. Tenang aja, Clara gak bakalan lepas tanggung jawab kok." rengeknya.
"Ya sudah, Ayah balik dulu, Tante kamu pasti udah nungguin." pamit beliau.
Aku hanya tersenyum. Ayah Clara pun berlalu menuju lift. Aku menoleh menatap Clara.
"Kan tadi tugasnya udah kelar, kenapa bilang belum kelar?" tanyaku menggodanya.
Clara balas menatapku, "Meja lu belum gua beresin. Belum gua balikin berkas lu yang gua pindahin di kursi."
"Kan gua bisa beresin sendiri berkas gua?"
"Iihhh lu kenapa sih, bawel amat!" sahut Clara tegas lalu melangkah cepat meninggalkanku.
Aku tertawa terbahak-bahak meliat tingkahnya. Lucu!
Sesampainya kami diruanganku, Clara langsung menghempaskan tubuhnya di sofa sambil memejamkan matanya.
"Gua kerja dulu, kalo lu butuh apa-apa kabarin gua aja. Trus kalo lu mau pulang, kabarin gua juga." ucapku spontan.
Shit! Apa-apan gua ini? Batinku.
"Apa tadi lu bilang?" Clara kaget dengan menegapkan tubuhnya, menatapku tajam.
"Ga papa, lu denger kok kata gua tadi. Jadi gak akan gua ulang. Udah ya? Jangan nakal gua tinggal."
Kemudian aku kembali keluar ruanganku, meninggalkan Clara disana sendiri.
Ku remas rambut di kepalaku.
"Bodoh! Bodoh! Bodoh! Apa-apaan sih gua? Kok bisa mulut gua ngomong kayak tadi? Sial!" gumamku sambil melangkah menuju ruang UGD.
---------------------------------------------
Clara POV.
Ku hembuskan nafasku perlahan. Ku rebahkan tubuhku pada sandaran sofa, merilekskan pikiranku.
Lelaki ini sungguh membuatku gila.
Baru kali ini aku menemui lelaki seperti ini.
Pikirku.
Berkali-kali aku menghirup oksigen, lalu menghembuskan karbondioksida melalui mulutku dengan kasar.
"Gua kenapa sih ini!" gumamku sambil memukul pelan kepalaku dengan telapak tangaku.
Ku putuskan untuk pulang. Ku langkahkan kakiku keluar dari ruangan Haikal menuju meja perawat.
"Maaf, bisa minta tolong Mbak?" ucapku pada salah satu perawat dibalik meja itu.
"Iya?"
"Tolong kasih tau Dokter Haikal, kalo aku...." aku berpikir sejenak.
"Eh, gak jadi deh, Mbak. Makasih ya.."
__ADS_1
Aku langsung berbalik dan pergi menuju lift. Mengeluarkan ponselku dan memesan layanan ojek online untuk membawaku pulang ke rumah.
Pikiranku melayang kemana-mana. Sungguh kacau!