
Still Jefri POV.
Jam 11.30, ku ambil ponselku dari saku celana. Ku kirimi istri ku chat WA.
Me :
Sebentar lagi aku jemput, siap untuk ronde kedua? 🤭
Ku kirim text itu. Centrang dua abu-abu. Ku pandangi ponselku sebentar sambil membayangkan hal yang kami lakukan tadi pagi. Aku tersenyum sendiri.
Pletak!!!
"Aw!!! Sialan lu..." seruku sambil memegang kepalaku.
Brandy melemparkan pulpen nya ke kepalaku.
"Senyum-senyum sendirian, udah hampir gila lu?" kekehnya pelan.
"Sakit tau. Emang ga boleh apa gua senyum?"
"Boleh sih boleh, tapi jangan kelamaan juga, kasian yang tiba-tiba ngeliat, ntar mikirnya lu gila."
Tak berapa lama ponselku berbunyi, notif WhatsApp. Segera ku raih kembali ponselku yang sempat ku letakkan diatas meja saat Brandy melemparkan pulpen ke kepalaku.
MyWife :
Di mobil lagi?
Aku terkekeh pelan membaca isi chat nya. Kadang dia terlalu dewasa namun bisa juga menjadi terlalu innocent dalam segala hal. Segera ku balas chatnya.
Me :
Ya enggak lah, pokoknya aku ada gaya baru, mau coba gak?
Centrang dua biru. Langsung dibacanya, batinku.
Typing....
MyWife :
Boleh, tapi nanti malam ya? Siang ini aku ada meeting sama Bos habis break.
Aku agak kecewa.
Me :
Aku mau nya siang ini, gimana dong?
Typing..
MyWife :
Ya udah, kalo gitu jemputin aku dari sekarang aja.
Gimana?
Aku membelalakkan mataku,
Me :
Oke. Meluncur....
Ku matikan layar komputerku. Dan ku bereskan sebagian berkas yang menumpuk diatas mejaku.
"Ndy, gua break duluan ya?" izinku.
"Waduh-waduh, mau makan sama bini nih?" godanya.
"Ya iyalah, masa udah punya bini makannya masih sama lu sih?" ejekku santai.
"Makan apa nerkam nih?" goda Brandy lagi dengan suara yang dibuat-buatnya.
"Keduanya, bawel!!" ucapku ketus lalu pergi meninggalkannya sendiri dengan tawanya yang menggelegar.
Segera kutancapkan gas mobilku menuju kantor Tika. Begitu sampai di depan kantornya, aku melihat Bos nya sedang berbincang dengan lelaki yang ku hafal jelas wajahnya.
"Ngapain lagi sih tu anak ke sini? Belum kelar-kelar apa project nya?" sewotku sambil memarkirkan mobil.
Aku turun dari mobil, sengaja tidak mengabari Tika jika aku sudah sampai didepan kantornya. Lalu aku berjalan santai menuju depan pintu kantornya.
"Hei Jeff!!" seru bos nya.
"Hai Pak.." ku hampiri dan ku jabat tangan beliau.
"Mau jemputin istri makan siang bareng ya?" goda beliau sambil terkekeh pelan.
"Iya, Pak, masih kepingin makan disuapin istri." candaku lalu ikut terkekeh pelan, "Kalo gitu saya permisi kedalam dulu Pak, permisi."
Aku segera ke dalam dan menemui reception nya, "Maaf bisa panggilkan Tika, bilang suami nya sudah menunggu." ucapku lantang.
"Oh iya, Mas ini kan Mas yang dulu ngasih surprise buat Mba Tika ya? Akhirnya Mas nya juga yang jadi suaminya. Bahagianya.." ucap wanita dibalik meja reception itu.
Aku memang lupa-lupa ingat dengannya. Dulu dia memang pernah membantuku untuk memanggil Tika saat aku memberinya surprise. Tapi entahlah, bukan itu yang harus aku pikirkan. Dan bodohnya lagi, kenapa aku tidak menelpon Tika sendiri dengan ponselku? Mengapa harus minta bantuan telepon dari receptionist lagi? Pikirku.
Ku ambil ponselku dari saku celana ku, ku tekan nomer telpon nya.
Tuuttt...
__ADS_1
Tuuttt...
Tuuttt...
"Iya sayang, ini aku udah turun, coba liat ke tangga deh, aku aja udah liat kamu.." sahut Tika.
Dengan sigap aku segera menoleh ke arah tangga. Benar saja, dia sedang berjalan menuruni tangga dengan tas ditangannya. Kemudian tangan satunya lagi memegang ponsel yang menempel di telinganya. Dia tersenyum manis padaku.
"Udah liat kan?" tegurnya lagi.
"Kok kamu tau sih aku udah dibawah? Padahal si receptionist masih nyoba nelpon kamu tuh.." ucapku.
"Ya tau dong, kan ikatan batin suami istri itu kuat." kekehnya pelan.
Aku hanya tersenyum melihatnya berlenggang berjalan ke arahku, ku matikan sambungan telepon kami. Dia mendekat dan langsung mengalungkan kedua lengannya di pundak ku, lalu mengecup bibirku kilas.
Ku sisipkan kedua tangan ku di pinggangnya yang tertutup dengan coatnya.
"Ini public area sayang, kamu ga malu?" tanyaku.
"Kenapa mesti malu? Kan aku nyium suami sendiri. Kamu malu?" tanyanya balik.
"Malu kalo di kantor kamu, tapi kalo ditempat lain sih bodo amat. Kan kita udah sah!"
Tika tertawa kecil, "Cabut sekarang?"
"Ya ampun mbak! Pantesan telepon di meja nya gak diangkat-angkat, tau nya udah disini aja. Aku nya loh nelponin mulu. Astagaaaaaaa.." sewot si wanita receptionist.
Tika kembali tertawa, "But thanks ya, udah usaha banget nelponin. Kita pergi dulu, byee. Muach!" goda Tika.
Lalu ku balas mengecup keningnya kilas sebelum kami beranjak meninggalkan wilayah kantor.
Tadinya aku berniat untuk menyombongkan diri pada lelaki yang asik mengobrol pada bos nya Tika tadi. Tapi begitu keluar pintu lobby, ku lihat kedua lelaki itu sudah tidak ada ditempatnya lagi.
"Nyari apaan sih yang?" tanya Tika yang sambil merangkul ku, melilitkan sebelah tangannya di pinggangku.
Aku asik celingak celinguk mencari kedua sosok lelaki tadi, "Emh. Ga papa kok." ucapku pasrah lalu mengajak Tika kembali berjalan menuju mobilku.
Aku mengajaknya untuk pulang ke rumah Mama Alena karena jaraknya lumayam dekat dari kantornya. Aku juga sudah memesan makan siang untuk kami dan Mama.
"Maaaa, Mamaaaaa.." seruku saat mendorong pintu depan dan masuk bersama dengan Tika.
"Aku langsung mandi di kamar kamu ya?" izin Tika.
"Iya, nanti aku kasih tau Mama." sahutku.
Tika langsung menaiki tangga menuju ke kamarku, sedangkan aku masih berkeliling mencari keberadaan Mama. Ku buka pintu kamar Mama.
"Sssttt!!" lirihnya.
Ternyata Mama sedang menidurkan Jordy. Aku kembali menutup pintu kamar pelan dan merebahkan tubuhku pada sofa di ruang tengah. Meregangkan otot tubuhku.
Lalu dengan cepat aku beranjak dan pergi menuju kamar ku. Ku dengar suara gemercik air di dalam kamar mandi, "Klek.." pintunya tidak di kunci.
Ku lihat tubuh istri ku yang sempurna dari belakangnya. Lekukan demi lekukan tubuhnya begitu membuatku terangsang. Air yang mengucur pada shower membasahi tiap helai rambutnya. Sepertinya dia baru membalurkan sabun pada tubuhnya, batinku.
Dengan sigap ku tutup pintu kamar mandi dan ku kunci. Ku lepaskan satu persatu pakaian yang menempel pada tubuhku sambil memperhatikan gerakan Tika yang sedang membalurkan sabun ke seluruh tubuhnya.
Setelah polos, aku mendekatinya, ku sentuh pundaknya yang belum terkena sabun dengan bibirku, ku kecup lama. Ku selipkan kedua telapak tanganku, menangkup masing-masing kedua payudaranya dan membiarkan tubuhnya bersandar pada tubuhku. Dia mendesah sambil memejamkan matanya.
Dibawah guyuran hujan, ku remas, ku pijat dan ku pilin ****** payudaranya dengan sensual. Sambil ku hisap-hisap daun telinganya. Tak lama kemudian Tika berbalik, ******* habis bibirku, kemudian dia dengan bebasnya mengeksplor setiap jengkal tubuhku.
Aku hanya bisa mengerang ditahan, agar tidak terlalu gaduh. Kemudian ku suruh dia berbalik, lagi-lagi kami melakukan quick play.
"Duull, makanan kalian udah datang. Tikaaa?" seru Mama memasuki kamar.
Ya dapat ku dengar jelas suara Mama yang tengah memanggil kami. Namun tak ku jawab, permainan kami disini lebih membutuhkan titik fokus ku.
"Duulll..."
Astaga, Mama! Batinku.
"Iya Maa, iya, kami lagi mandi, habis ini kami langsung turun!" seruku dari dalam kamar mandi.
Tika tertawa. Terkekeh geli setelah mendengar teriakkan ku.
"Kenapa?" tanyaku heran.
"Kami lagi mandi, habis ini kami turun." diulangnya kalimatku dengan penuh penekanan.
Aku terjerat, kami?
Astaga, aku terlalu frontal pada Mama, batinku lagi.
"Kita lanjutin nanti malam aja ya? Kayaknya welly butuh istirahat tuh." bisik Tika sambil memelukku kemudian mengecup pipiku kilas.
----------------------------
"Mana Tika?" tanya Mama saat aku menghampiri nya di meja makan.
Mama sudah menyiapkan makanan yang sudah sengaja aku pesan online sebelumnya.
"Lagi dandan." ucapku singkat, malu lebih tepatnya.
"Hari ini hari pertama kalian masuk kerja kan?" tanya Mama lagi.
"Iya Ma."
__ADS_1
"Emang tadi pagi kalian ga sempet apa begitu bangun..."
"Eewh! Ma!!" seruku sambil melotot menoleh padanya.
Aku tau kemana arah pembahasan obrolan Mama ini. Sengaja ku pangkas, aku tidak terbiasa membahas soal ini dengan orangtua ku. Terlalu vulgar menurutku.
"Loh kenapa? Bukannya tadi kalian lagi mandi bareng? Pasti ga sekedar mandi biasa dong." bahas Mama lagi.
"Ma udah ya! Cukup bahas itu."
Mama terkekeh geli sambil menyodorkan piring makan untukku.
"Apa yang lucu Ma?" tanya Tika yang tiba-tiba muncul memasuki ruang makan.
"Enggak, Mama cuman heran aja. Kalian tadi pagi enggak pemanasan apa?" frontal Mama.
Aku terdiam. Tika terkekeh geli, "Maa kita ini lagi usaha, doain aja, ga usah mikirin yang aneh-aneh. Siapa tau cepet jadi kan?" ucap Tika santai sambil menyiapkan makanan di piring makan ku.
"Iya iya, Mama doain deh." jawab Mama pasrah.
Aku hanya terdiam melihat dua wanita ini dengan santainya mengobrol membicarakan hal itu.
"Loh loh loh, ada anak Papa toh di rumah?" seru Papa yang muncul tiba-tiba.
"Ayo makan sama-sama Pa." ajak Tika.
Papa menghampiri kami dan segera duduk di kursi kejayaan nya.
"Kalian ngantor?" tanya Papa.
"Iya Pa, hari pertama balik ngantor lagi." jawabku singkat sambil memulai makan.
"Trus kenapa kalian jadi makan siang di rumah?"
"Mereka memanfaatkan waktu luang Pa." sahut Mama muncul membawakan piring makan untuk Papa.
Tika tertawa, "Mama bisa aja deh." sambil duduk disampingku dan memulai makannya.
"Waktu luang apa Ma?" Papa heran.
"Kasih tau sama Pak Andre, suruh cepet kelarin itu rumah, sudah saatnya mereka tinggal di rumah sendiri Pa." jelas Mama.
Aku hanya melirik Tika yang sedang makan dengan santainya.
"Apa hubungannya rumah sama waktu luang Ma? Papa gak ngerti." sambil menyuap sendok makan.
"Ya jadi mereka berdua bisa bebas kalo di rumah nya sendiri Pa. Lagian kan sekarang rumah itu jadi lebih deket dari kantor mereka Pa sejak ada jalan baru." jelas Mama lagi.
"Oh maksud Mama biar mereka gampang pulang kalo istirahat siang ya? Iya iya iya, ntar Papa kasih tau Pak Andre deh."
"Ih Papa ga paham-paham ya? Maksud Mama tuh supaya mereka bebas buat...."
"Ma... Udah-udah, kita lagi makan. Bahas yang lain aja." tegasku.
-------------------------
Tika POV.
Setelah makan siang, aku dan Jefri segera kembali ke kantor. Melanjutkan pekerjaan kami. Sesekali Jefri mengirimi ku chat yang isi nya menggodaku, namun hanya ku baca saja. Ya dia tau, aku sedang meeting internal. Banyak pekerjaan yang menumpuk akibat cuti, karena kebanyakkan client ku sangat menyukai cara kerja ku. Padahal bukan aku yang mendesign atau pun menghasilkan produk yang client mau, tapi aku seakan mengerti apa yang di butuhkan oleh client ku, jadi mereka rela memundurkan jadwal mereka hanya agar aku yang menghandle pekerjaan ini.
"Maaf Pak, jadi project Pak Dana tetap saya yang tangani? Mestinya kan sebulan yang lalu Metta handle buat finishing di villa nya?" tanyaku bingung.
Aku memang tidak ingin lagi melanjutkan menangani project Dana. Dulu dia sempat menawarkan untuk pergi ke villa nya dan mengecek untuk finishing dengan jaminan seluruh akomodasi ku dia yang menanggungnya. Ku setujui, bukan karena aku mau, tapi agar project ini tidak lepas di tengah jalan. Lalu saat aku menikah, semua itu sengaja ku serahkan pada Metta.
"Iya dan beliau terkejut Metta yang datang kesana. Kemudian keesokkan hari nya Metta kembali kesini." jelas Pak Bos.
Aku menoleh pada Metta, "Seriously?"
"Iya Tik, beliau mau nya lu langsung yang ngecek kesana." lirih Metta.
"Kalian bilang kalau aku cuti nikah?" tanyaku tidak lagi formal.
Pak Bos dan Metta saling menatap lalu dengan serempak mereka berkata, "Enggak!"
Aku yang tadinya berdiri, kini ku jatuhkan bokongku lemas di sebuah kursi empuk.
"Bos, tolong, aku sangat terbebani dengan project ini. Hanya satu project ini, dampak nya akan ke project lain nya." pintaku.
"Tapi beliau tetap meminta kamu yang handle. Tinggal selangkah lagi Tik, kalo ini goal, kita akan di kenal di dunia yang lebih luas." Pak Bos memberi saran.
Aku berpikir sejenak, "Boleh aku pikirin lagi semuanya?" tanyaku.
"Hanya 2 hari, besoknya langsung pulang. Suami kamu pasti ngerti perjalanan dinas ini." pinta Bos.
Bos ku memang tidak tahu kalau aku dan Dana memiliki masa lalu. Metta pun hanya mengetahui sebagian tapi tidak dengan detailnya.
"Hmm. Boleh saya pikirkan kembali Pak?" ucapku kembali formal.
"Iya, lebih cepat lebih baik. Agar produksi cepat berjalan." sahut Bos yang kemudian berdiri dan keluar dari ruangan meeting.
Aku kembali menyandarkan tubuhku pada sandaran kursi. Menghembuskan nafasku kasar berkali-kali.
"Sorry Tik, gua pikir ga bakalan serumit ini. Makanya gak gua kasih tau ke dia kalo lu cuti nikah. Lagian si Bos **** banget, apa ga bisa liat kalo client nya aneh gitu." sewot Metta.
"It's ok Mett, ntar coba gua pikirin lagi, sekalian gua cerita ke Jefri."
"Ato enggak gini aja Tik, lu tetep ke sana, tapi pergi nya sama Jefri. Lumayan kan sekalian honeymoon kedua. Biar tu cowok tau, kalo gak gitu ya pasti tetep ngedeketin lu lah." lirihnya.
__ADS_1
Iya ya, pikirku.