Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 66


__ADS_3

Haikal POV.


Setelah pesan singkatku dibalas oleh Clara, kami jadi saling menyahut bertukar pesan. Hingga akhirnya urusanku di Bank ini selesai. Kemudian aku segera kembali ke mobilku, meletakkan ponsel dikursi sebelahku lalu menyalakan mesin mobil dan segera meluncur menuju ke rumah sakit.


Selama di perjalanan aku teringat kembali akan wajah Clara. Mengingat kembali bagaimana awal pertemuan kami.


'Sepertinya aku sudah gila!' batinku.


Lagi-lagi kedua sudut bibirku mengembangkan senyuman itu. Senyuman yang sudah jarang aku perlihatkan. Bahkan otak ini rasanya selalu mengelak apa yang telah dikatakan oleh hati.


'Sudah lama aku tidak seperti ini,' batinku kembali berseru.


Ku pacu dengan cepat mobilku menuju ke rumah sakit. Aku harus kembali sibuk dengan urusan rumah sakit agar aku bisa berpikir jernih. Karena jujur saja, aku takut jika apa yang aku rasakan ini hanyalah rasa yang sementara.


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung memarkirkan mobilku di parkiran basement. Kemudian beranjak segera memasuki lift dan menuju ke ruanganku. Ternyata ada Ranti yang sedang duduk di sana.


"Hai, Ran. Udah lama?" sapaku kemudian duduk di kursiku.


"Gak juga, lu habis dari mana?"


"Dari rumah. Ada apaan sih?" tanyaku yang seraya menatapnya setelah menyalakan komputerku.


"Gak papa. Gua boleh istirahat di sana?" tanya Ranti lagi sambil menunjuk sofa di ruanganku.


Aku berpikir sejenak sambil menatap wajahnya yang memelas. Sempat kutanyakan padanya tentang bagaimana keadaan ruangan UGD sesaat sebelum dia tinggalkan ke sini. Lalu akhirnya aku mengizinkannya untuk menggunakan sofa itu sebagai tempat beristirahat.


Tak lama kemudian ponselku berbunyi, kali ini bunyi pesan singkat yang kudengar. Aku segera merogoh saku celanaku untuk mengambilnya lalu melihat siapa yang sudah mengirimi ku pesan.


Tika : Aku lupa kapan jadwal check-up ku.


Me : Trus?


Tika : Ya tolong liatin dong.


Me : Kan bisa telepon ke lobby bawah buat nanya. Jangan males!


Tika : Kan kamu atasan, tinggal klik langsung bisa dapet, 'kan?


Me : Kamu pikir aku Deddy Corbuzier, bisa sulap!


Tika : Ga asik!


Aku menghela napas membalas pesan anak manja satu ini, sambil menggelengkan kepalaku kilas. Kemudian aku berhenti menanggapi Tika. Sempat ku lirik barisan chat dari Clara, tidak ada balasan.


'Mungkin dia sibuk,' pikirku.


--------------------


Tika POV.

__ADS_1


Selama di perjalanan aku menghubungi Haikal melalui pesan singkat Whatsapp, untuk menanyakan kapan jadwalku kembali untuk melakukancheck-up kandungan. Tapi emang dasar typenya Haikal gak mau repot, jadinya dia juga seakan tidak mau di rempongin.


Aku menghela napasku. Lalu kembali mengedarkan pandanganku ke dapan, melihat ke arah jalanan.


"Kenapa?" tanya Jefri tiba-tiba.


"Kenapa apanya?" sahutku bingung dengan pertanyaan yang baru saja dilontarkannya sambil sekilas menatapnya.


"Kamu buang napasnya kayak terpaksa gitu. Makanya aku tanya kenapa."


Aku kembali mengarahkan pandanganku ke samping, melihatnya yang sedang mengemudi. Jefri membalas tatapanku kilas, kemudian tangan kirinya meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Lalu terdengar suara dehamannya, seakan tanda bahwa pertanyaannya tadi meminta sebuah jawaban.


Aku menghela napasku lagi, lalu membuangnya perlahan. Tanganku membalas genggamannya, lalu tiba-tiba Jefri menarik tangan kananku, membawanya menyentuh bibirnya. Ia mengecup punggung tanganku mesra. Aku tersenyum.


"Nah gitu dong, smile!" ucapnya setelah itu sambil menatapku kilas lalu fokus lagi pada setir mobilnya.


Dengan tangan yang masih saling menggenggam di atas pangkuanku, ia menghentakkan tangannya. "Kenapa?" tanyanya lagi.


"Gak papa kok."


"Pasti banyak yang lagi kamu pikirin. Iya 'kan?" tebaknya.


Aku menjawab dengan anggukkan lalu berkata, "Kayaknya aku bakalan ambil resign deh!"


Seketika Jefri menatapku berkali-kali, berganti pandang menatap jalanan. Ia seakan tidak percaya dengan apa yang telah aku ucapkan kali ini. Jefri melepaskan genggaman tangannya padaku, lalu mencengkram setir mobil. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, ia hanya semakin melajukan kecepatan mobilnya.


"Aku minta pendapat kamu, gimana kalo aku resign?" tanyaku lagi penuh harap, agar dapat mendengar jawaban dari mulutnya..


Jefri menyampingkan duduknya, menatapku lalu membelai pipi kiriku. Sudah lama aku tidak merasakan telapak tangannya yang membelai pipi ini.


"Kamu yakin sama keputusan kamu itu?" sahutnya yang terlihat serius.


Mendengar pertanyaannya itu, tiba-tiba aku menjadi bimbang dengan rencana keputusanku. Aku sudah terbiasa untuk bekerja. Terbiasa dengan rutinitas kantor yang hectic dan jadwal meeting yang padat.


Lagi-lagi aku menghembuskan napasku dengan berat sambil menatapnya lekat.


"Besok hari terakhir aku kerja di kantorku yang sekarang. Trus aku mau libur dulu tiga hari sebelum aku masuk ke perusahaan papa. Gimana kalo kita liburan?" ajak Jefri yang kini raut wajahnya memunculkan keceriaan.


"Gak akan semudah itu aku dapat izin."


"Katanya mau resign?" Jefri mengejekku dengan alis yang sengaja digerak-gerakkannya.


Ku pukul bahunya pelan, ia tertawa puas. Kemudian diraihnya kedua tanganku, menariknya dan membawa tubuhku masuk ke dalam dekapannya. Memelukku erat sambil mengecup pucuk kepalaku. Salah satu tangannya tak tinggal diam, ia mengelus rambutku dengan lembut.


Namun ada sesuatu yang mengacaukan pikiranku saat ini. "Sayang?" gumamku.


Jefri menjawabnya dengan dehamannya yang khas.


"Mau sampai kapan begini?"

__ADS_1


"Apanya?"


"Aku bisa telat loh, udah masuk siang, masa masih telat?" lirihku dengan lembut.


Jefri terkekeh pelan lalu melepaskan dekapannya. Lalu ia mengecup keningku sebelum aku turun dari mobilnya. Aku melakukan hal yang sama, hanya saja aku mengecap bibirnya sensual. Itu kelemahannya jika denganku.


Aku terkekeh geli melihat raut wajahnya setelah itu. Kemudian tak lupa aku menyampaikan perhatianku padanya agar tidak mengebut di jalan, menuju ke kantornya, ia menjawab dengan dehamannya yang khas.


***


Belum lagi aku menduduki kursi kerjaku, dari kejauhan sudah kulihat ada sebuah box berwarna merah maroon yang tergeletak mejaku, di atas tumpukkan dokumen yang tak henti-hentinya terus bertambah.


Aku berjalan perlahan menuju meja kerjaku dengan dahi yang berkerut, kuletakkan handbag-ku diatas kursi. Lalu kusentuh box itu, mataku sambil mengedarkan pandangan mencari sosok Metta yang belum terlihat batang hidungnya.


Kembali aku menundukkan pandanganku, menatap box maroon itu dengan seksama sambil mengira-ngira siapa pengirimnya. Ku hempaskan bokongku pelan dikursi kerjaku yang empuk, masih dengan pemikiran yang mencurigakan.


Tak berapa lama setelah ku sandarkan punggungku pada sandaran kursi, Metta muncul di balik bilik pembatas meja kami. Menyapaku dengan acuh. 'Kayaknya dia abis kelar meeting sama customer deh!' batinku saat sekilas melihat raut wajahnya.


Kuurungkan niatku untuk bertanya padanya tentang box bingkisan maroon yang ada di atas mejaku ini. Kemudian kuraih gagang telepon di sudut meja kerjaku, mencoba menghubungi Rossi di lobby depan lantai bawah kantor ini.


Tuutt..


Tuutt..


Tuutt..


Bunyi nada sambung telepon yang tak kunjung berhasil terhubung. 'Mungkin Rossi sedang menerima telepon lain,' pikirku.


Ku singkirkan sejenak box maroon itu lalu kunyalakan komputerku. Mataku kembali melirik box itu sekilas, hatiku mulai penasaran dengan isinya, bukan dengan siapa pengirimnya. Berkali-kali kuacuhkan namun berkali-kali pula aku meliriknya kembali. Otak dan hatiku sangat tidak sinkron saat ini. Aku menghirup banyak-banyak udara oksigen di sekelilingku, lalu menghembuskannya perlahan. Dan aktivitas itu ku ulangi hingga berkali-kali.


Ku putuskan untuk meraih box itu lalu membukanya perlahan. Ku temukan suatu kertas tipis licin berwarna putih yang membungkus isi dari kotaknya. Ku singkap kertas itu lalu ku temukan sebuah tas mewah bermerk Hermès, lengkap dengan kartu garansi dan semua tetekbengeknya.


Dengan tidak sengaja, mataku menemukan sepucuk kertas yang menempel di balik tutup box yang ku letakkan di samping box itu.


Kuambil kertas itu lalu membuka lipatannya. Tertulis :


Aku akan senang jika kamu mau menerima hadiahku yang satu ini. Semoga hadiah ini tidak bernasib sama dengan hadiah sebelumnya, yang kini sudah menjadi milik orang lain.


From, Dana.


Aku menghirup udara oksiden di sekelilingku lalu menghela napas perlahan. Ku ulangi gerakkan itu berkali-kali hanya untuk menenangkan pikiranku, sambil menggerakkan bola mataku ke sana dan kemari, untuk sekedar mengingat kembali dengan hadiah sebelumnya yang dikirimkan olehnya.


Ku raih gagang telepon di sudut mejaku lagi, ku tekan nomer intercall ke receptionist untuk menghubungi Rossi di lantai bawah. Terdengar langsung suara Rossi yang menyahut teleponku, lalu kutanyakan padanya tentang 'siapa yang mengantarkan paketan' ini ke kantor?


Rossi hanya menjawab bahwa seorang driver dari ojek online yang mengantarkannya sampai ke meja lobby. Bahkan awalnya sang driver memaksa untuk memberikannya langsung padaku. Namun setelah Rossi menginfokan bahwa aku tidak ada di tempat, barulah sang driver mengalah dan langsung menitipkan box ini pada Rossi. Lalu Rossi lah yang menaruhnya sendiri di atas meja kerjaku.


Ku ucapkan terimakasih untuk informasi yang diberikannya seraya menutup telepon.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2