
Keesokan harinya, seperti biasa bangun pagi jogging. Bedanya, pagi ini aku jogging di pinggiran pantai dekat villa.
Sedangkan Jefri masih tertidur pulas saat aku tinggalkan tadi dikamar. Dia kewalahan mungkin, karna sore kemarin menemaniku jalan-jalan ke Ubud sampai malam, lalu kami memutuskan makan malam di kota daerah seminyak, pokoknya rute kemarin terlalu jauh untuk di jalani menggunakan sepeda motor.
Belum lagi kelar jalan-jalan balik ke villa, kami masih harus melakukan ritual suami istri yang seperti nya sayang kalau harus kami lewat kan begitu saja. Jadilah dia terlalu bersemangat hingga menguras seluruh tenaganya. Belum lagi ritual yang kami lakukan diulang berkali-kali alias beberapa ronde.
Sebenarnya saat bangun tadi pagi, kedua kaki ku serasa mati rasa. Namun tetap ku paksa untuk jogging, walaupun sekarang sudah berasa sekali pegalnya, padahal baru berlari beberapa kilometer saja. Ku putuskan untuk berjalan kaki santai pulang kembali ke villa sambil menikmati desiran air.
Sudah berulang kali aku mengunjungi Pulau Bali, namun pesona nya tidak pernah membuatku bosan. Bahkan aku hampir hafal jalan menuju objek-objek wisata nya. Seperti pantai ini, sudah berkali-kali aku kesini, namun tetap saja aku terpukau dengan pasir pantainya.
"Udahan jogging nya?" tegur suara lelaki yang membuat langkah kaki ku berhenti.
Aku menoleh mencari sumber suara itu, ternyata Dana. Dia duduk di pojok lorong masuk menuju villa nya. Ada rasa tidak nyaman jika aku langsung begitu saja meninggalkannya. Lagi pula aku juga bingung harus bicara apa.
"Sorry, aku ga tau kalo kamu beneran udah nikah. Tadi nya aku pikir kemaren cuman akal-akalan kamu aja. Sampe kemaren sore pegawai aku cerita apa yang dia liat di villa kamu waktu aku tanyain mereka." ceritanya.
"Sorry juga kalo pegawai aku harus cerita ke aku apa yang mereka liat, karna mereka aku paksa. Aku pikir hubungan kita bisa diperbaiki." dia menatapku.
Aku sempat sesekali melihat wajahnya yang lurus menatap lautan. Begitu mendengar ucapannya, aku memutuskan untuk duduk disebelahnya. Berjarak.
"Sorry aku ga kirim undangannya. Sorry juga nomer kamu aku block." lirihku.
"Aku ngerti kok, kamu kesel sama aku karna aku ngilang gitu aja kan? Trus tiba-tiba aku muncul lagi seakan ga pernah terjadi apa-apa, iya kan?" tanyanya yang diiringi dengan tatapan matanya.
"Aku cinta banget sama pria ini. Sampe aku sendiri yang nutup akses buat siapa pun biar gak bisa masuk lagi saat itu. Bukan karena masa lalu, aku terima masa lalu aku. Aku terima keperawanan aku ditangan kamu. Tapi bukan berarti masa depan aku juga harus ditangan kamu. Aku berhak menentukan dengan siapa bahagiaku, walaupun mahkotaku hilang!" tegasku.
Aku tidak menyangka dia dengan sombongnya berkata seperti itu. Dengan angkuhnya dia merasa aku menjauhi nya seakan aku masih memiliki hati untuknya.
Aku berdiri, berbalik hendak meninggalkannya, "Dan satu lagi yang perlu kamu ingat, Jefri nerima semua masa lalu aku dan dia tetep milih aku walaupun aku sudah gak perawan. Jadi jangan pernah berpikir untuk mencoba masuk lagi." tegasku sekali lagi lalu aku melangkahkan kaki ku meninggalkannya disana.
Baru beberapa langkah aku pergi, tiba-tiba Dana bersuara.
"Apa hebatnya dia dibanding aku? Aku bisa beliin semua yang kamu mau. Banyak cewe yang deketin aku minta di nikahin, tapi dari dulu aku cuman milih kamu, aku cuman mau kamu.."
Aku berbalik, menatapnya emosi, "Oh ya? Cuman aku? Trus kemana kamu tiba-tiba ngilang gitu aja? Tanpa bilang putus atau kabar, kamu pergi gak tau kemana! Bahkan kamu tidur sama cewek lain ato enggak mana aku tau. Dan sekarang bisa-bisa nya kamu bandingin diri kamu sama suami aku? Heh! Dia jelas lebih diatas kamu. Makanya aku pilih dia, bukan kamu. We are clear? You are nothing compared to him!!" jelasku dengan nada kekesalanku.
Itu masih setengah amarahku. Aku sengaja tidak mengeluarkan semua nya, karena aku ingin belajar ikhlas, benar-benar ikhlas. Ku tinggalkan dia berbagai kicauannya yang tidaknlagi ku gubris. Aku menyesal memutuskan untuk duduk disana tadi dan mengobrol dengannya. Ternyata dia kini berbeda dengan Dana yang ku kenal dulu. Sekarang dia begitu egois, ambisius dan juga sombong.
Sesampainya di dalam villa, ku hembuskan nafasku panjang berkali-kali melalui hidung.
"Tenang Tik.. Tenang.. Cooling down Tik.. Huuufft.." gumamku dalam hati.
Aku kembali melangkah menuju kamar tidur, ku lihat Jefri masih mendengkur tidur tengkurap dengan pulas tanpa baju hanya mengenakan celana panjang piyamanya. Ku dekati dia, kemudian ku elus rambutnya lembut. Dia terbangun.
"Hm." dehemnya menangkap lenganku lalu membuka matanya perlahan.
__ADS_1
"Habis jogging?" tanyanya dengan suara serak berat khas bangun tidur.
Jefri memang mudah di bangunkan jika tidak di tidur diranjangnya sendiri. Seperti di rumahku, awal-awal dia selalu bangun pagi sendiri, tapi begitu terbiasa, dia mulai susah dibangunkan. Maunya dimanja terus.
"Iya, kamu mau sarapan?" tawarku.
"Nanti aja, kan bisa minta antar ke kamar sarapan nya." ucapnya melepaskan lenganku lalu membalikkan tubuhnya.
Aku ragu untuk mengatakan kejadian tadi, "Sayang.." panggilku.
"Ya?" sahutnya sambil memainkan jemarinya kesana kemari menyentuh setiap bagian tubuhku.
"Ta-tadi a-aku ngobrol sama Dana." ucapku terbata-bata.
"Truuuusss?"
Aku merebahkan tubuhku di sampingnya, membelakanginya. Kemudian aku menceritakan satu persatu dialog ku dengan Dana. Jefri memelukku dari belakang, erat.
"It's ok sayang. Kalo sekarang kamu mau nangis ga papa kok, aku ngerti. Tapi ini tangisan kamu yang terakhir buat dia. Kan dari awal aku udah bilang, aku terima masa lalu kamu, mau itu suka ato duka. Yang jelas masa depan kamu harus sama aku sekarang. Ya?" ucapnya tulus.
Dia semakin memelukku erat, perlahan airmataku membasahi sudut mataku, kemudian menetes ke ranjang. Jefri masih menemani ku menangisi kebodohanku waktu itu. Kemudian aku berpikir kembali, begitu beruntungnya aku memiliki Jefri sekarang.
Lelaki yang ku goda dengan ribuan kebodohanku. Lelaki yang ku relakan menikmati tubuhku dengan tanpa status apa pun, just friend!
Dan sekarang dia mendekapku sebagai suamiku. Menerimaku apa ada nya bahkan berusaha mengerti dan membahagiakan hari-hariku.
"Makasih kamu mau nemenin aku sampai detik ini." lirihku.
"Aku yang makasih, kamu sudah mau jujur sama aku." Jefri mengecup bibirku lembut.
Dia memelukku erat, ku benamkan wajahku pada dada bidangnya. Ku hirup aroma tubuhnya yang maskulin. Ya bagian dadanya ini mampu membuat aku tenang, bisa membuat pikiranku lebih rileks. Mungkin untuk ke depannya, jika aku emosi atau sedang sedih, aku hanya cukup menyematkan wajahku didada nya seperti ini, batinku.
"Udah ya, kita mandi ya? Trus sarapan. Hari ini kamu mau jalan kemana? Pesawat kita sore juga kan?" ucapnya lalu mengangkat daguku kemudian mengecup keningku.
"Aku mau disini aja sampe pulang, sama kamu." rengekku.
Jefri terkekeh, "Ya udah, aku nelpon receptionist dulu, minta anterin sarapan buat kita." sambil duduk dan meraih telepon.
"Aku mandi bentar." izinku lalu ku cium kembali bibirnya sensual lalu mengedipkan sebelah mataku.
Dia tertawa. Ku tinggalkan tawanya lalu masuk ke kamar mandi.
-------------------------------
Jefri POV.
__ADS_1
Kami selesai sarapan. Aku menyulut rokok ku. Ku lirik jam tanganku, masih jam sembilan pagi. Tika duduk disebelah ku, berkutat dengan ponselnya. Ku sandarkan tubuhku pada sofa empuk yang terbuat dari rotan kemudian bawahnya di lapisi semacam busa.
Tika mengangkat lengan kiri ku, lalu menyelipkan kepalanya untuk bersandar pada dadaku. Aku membiarkannya melakukan itu, sepertinya dia senang.
"Kamu yakin gak mau jalan-jalan? Ntar jam empat kita udah harus jalan ke bandara loh, sekarang masih jam sembilan lewat dikit, masih bisa jalan kalo mau." tawarku.
Dia melirikku, "Enggak ah ntar kamu kecapean, besok kita mesti langsung ngantor kan?" ucapnya lalu kembali fokus pada ponselnya, lebih tepatnya pada komik yang dibacanya.
"Ga papa kalo mau jalan, toh besok jum'at trus weekend. Bisa istirahat lagi."
"Ga mau!"
"Trus kita ngapain disini? Gini-gini aja?"
Tika menarik daun telingaku pelan, lalu berbisik, "Aku mau coba di kolam lagi, tapi polos."
"Enggak enggak, gak mau! Kita mana tau nii kamar ada cctv nya apa enggak. Aku juga jadi nyesel kemaren main di kolam."
"Kok gitu?" tanyanya.
"Habisnya dari cerita kamu tadi, kayaknya dia beneran obsessed banget sama kamu. Aku sih liatnya jadi freak. Jadi ya takut aja."
"Trus kalo aku horny gimana dong?"
Aku membalikkan tubuhnya jadi menghadapku, "Sekarang lagi horny?"
"Hm." dehemnya.
"Bo'ong! Alasan kamu aja tuh biar di kamar seharian." elakku.
"Serius.." ucapnya sambil menciumi pipi ku, lalu terus ke telingaku.
"Hei.. Hei.. Aku ngerokok ini." sanggahku.
Tika tidak perduli. Dia terus saja menciumi telingaku, bahkan menjilati daun telingaku, hingga membuat bulu kuduk ku berdiri.
Ku jatuhkan rokokku ke lantai, lalu ku injak dengan sendal kamar. Ku ***** sebentar bibirnya yang seksi. Lalu ku angkat tubuhnya. Ku gendong seperti anak koala, dia menjepitkan kedua kaki nya di pinggangku.
Ku hempaskan tubuhnya ke tengah ranjang. Dia tertawa kecil.
"Kami seneng banget ya bikin aku terangsang. Suka banget kayaknya liat suami nya jadi buas." ucapku penuh penekanan.
"Masa aku horny sendirian? Ya harus ngajak-ngajak kamu lah!" rengeknya.
Sesekali aku memperhatikan raut wajahnya.
__ADS_1
Ku cium bibirnya kilas, lalu aku kembali berdiri, melakukan lagi hubungan suami-istri.