
Jangan lupa ritual sebelum dan sesudah membuka episode ini ya :)
Selamat membaca ...
—————
Still Haikal POV.
Satu per satu para tamu mulai berdatangan. Sebenarnya tamu yang diundang hanya dari kalangan keluarga saja. Seperti keluarga Shilla, keluarga Jefri, keluarga Reza dan tentu saja keluarga Clara—pacarku.
Ya, aku secara khusus mengundang kedua orang tua Clara. Sebab aku ingin melamar anak mereka secara formal saat ini. Di depan keluargaku. Ide mamah ini memang awalnya sempat membuatku terkejut. Tapi setelah aku pikir lagi, benar apa kata mamah, mungkin Clara selalu menunda semuanya karena hal ini. Mungkin dia ingin aku benar-benar mengakui posisinya dalam hatiku.
Aku dan Max menyambut para tamu dengan gembira, menyuruh mereka masuk dan menikmati hidangan pembuka. Sambil menunggu tamu utamaku berhadir.
"Mana pacar kamu? Ini sudah jam berapa? Aku lapar ...," rengek Max sambil berbisik padaku.
Aku menoleh padanya, dia menunjukkan wajah memohonnya padaku, mengesalkan. "Aish! Jangan kek anak kecil deh, Max. Sabar dikit." Max sungguh mengesalkan kali ini.
Sudah setengah jam aku berdiri di pintu depan rumah, sambil memanjangkan leherku, menoleh ke sana dan kemari. Tidak juga aku temukan tanda-tanda jika Clara akan datang. Padahal tadi sore aku sudah memastikan kembali padanya dan dia mengatakan pasti akan datang bersama dengan kedua orang tuanya. Lalu sekarang?
'Tidak, aku tidak boleh berkecil hati. Mungkin mereka sedang terjebak macet,' pikirku dalam hati.
Kemudian aku memutuskan untuk masuk ke dalam rumah, meninggalkan Hans dan Roni yang sedang berjaga. Mereka selalu saja tampak on di setiap saat, heran, entah kapan mereka memiliki waktu untuk tidur.
Aku membalikkan badanku dan melangkah masuk ke dalam rumah, menghampiri mereka semua yang sedang bersama di ruang tengah. Riuh. Itu yang terjadi saat ini. Suara mereka yang sedang mengobrol satu sama lain terdengar begitu ramai dan menggema. Saling memantul pada sisi dinding rumah ini.
Beberapa dari mereka menyapaku dan mengajakku untuk berbincang, hingga seseorang tiba-tiba menepuk pundakku. Aku menoleh dan menemukan kedua orang tua Clara kini berdiri di belakangku. Seketika sudut bibirku tertarik, mengulas sebuah senyuman untuk mereka berdua. Lalu tiba-tiba lampu rumah padam.
Blup!!
Seketika semua menjadi hening. Dalam kegelapan aku mencoba menoleh dan merabaa ke sekelilingku yang tiba-tiba kosong. Padahal sebelumnya ada Max dan juga kedua orang tua Clara berdiri di dekatku. Hingga akhirnya sebuah cahaya muncul. Terlihat wajah wanita pujaan hatiku di balik temaram cahaya itu. Dia berjalan mendekat mengarah padaku sambil menyanyikan lagu untukku dengan sebuah kue ulang tahun yang dia sodorkan padaku.
🎶
*Hari ini saat bahagia untukmu
Bertambah satu tahun usiamu
Kunyanyikan sebuah lagu
Agar istimewa harimu
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Happy birthday to you
Hari ini istimewa
Karena ini ulang tahunmu
Hari ini berbahagia
Nikmati saja*
🎶
Aku terperangah dibuatnya. Dia menyanyikan lagu Happy Birthday yang dipopularkan oleh band ternama Ten 2 Five. Begitu merdu dan begitu memesona kedua mataku. Lelaki mana yang tidak senang jika diperlakukan seperti ini?
'Baiklah, sebentar lagi giliran aku yang akan membuat kamu terkejut,' ucapku dalam hati sambil menatap wajahnya.
Begitu ia selesai menyanyikan lagu itu, suara riuh tepuk tangan seketika terdengar. Semakin diangkatnya kue ulang tahun itu tepat di depanku. Kemudian dia berkata, "Jangan lupa make a wish," saran Clara padaku dengan senyuman manisnya.
Sambil tersenyum bahagia aku memejamkan kedua mataku lalu berdo'a dalam hati;
'Tuhan, lancarkan rencanaku untuk meminangnya. Menjadikannya wanita ketiga setelah ibuku dan juga adikku. Untuk menyempurnakan tugasku kepadamu. Menjaganya serta membahagiakannya disisa akhir hidupnya dan hidupku.' Kemudian perlahan aku membuka mataku, menatap wanita di depanku lalu mengedipkan sebelah mataku padanya, sebelum akhirnya aku meniup semua lilin yang menyala di atas kue ulang tahun itu.
Beberapa detik kemudian lampu kembali dinyalakan. Kini aku dapat melihat dengan jelas wajah cantik dari wanita yang berdiri di depanku ini. Dengan senyumannya yang merekah berpoles lipstick merah muda cerah di bibirnya. Membuat wajahnya terlihat segar.
"Makasih," lirihku padanya.
Prook prook prook!!
Suara tepuk tangan semakin jelas terdengar begitu aku berbalik dan mendapati mereka semua yang berhadir sudah berkumpul. Kemudian Max mengajak semua orang untuk beranjak menuju ke ruang makan di mana semua hidangan utama sudah tersaji di sana.
Aku menangkap tangan Clara begitu dia menyerahkan kue ulang tahun tadi kepada bi Mince untuk disimpan. Lalu menariknya perlahan agar menghadap kepadaku, di saat semua orang sudah berhasil menuju ke ruang makan.
Dia menatapku dengan kedua bola matanya yang begitu jernih. Membuatku selalu ingin berlama-lama untuk terus melihatnya. Percayakah kalian dengan cinta pada sebuah pandangan? Bukan pandangan pertama, tetapi untuk kesekian kalinya dengan orang yang sama. Aku merasakan itu dan aku semakin mencintainya. Sungguh!
"Ayo makan ... aku sudah lumayan lapar karena kemacetan dalam perjalanan ke sini tadi," ajaknya dengan penuh semangat padaku.
"Ini acara aku, seharusnya aku yang ajak kamu."
"Justru itu, kalo nunggu kamu yang ngajakin bakalan lama. Keburu aku pingsan." Dia menarik tanganku dan membawaku berjalan menuju ruang makan. Aku terkekeh mendengar jawabannya itu.
__ADS_1
Sesampainya di sana, semua sudah mulai memilih tempat duduknya masing-masing. Memang tidak beraturan dan terkesan acak, tapi itu membuat kami semua semakin menjadi akrab. Dan yang lumayan membuat aku terkejut saat itu adalah mamah, beliau akhirnya menduduki kursi papah. Kursi yang selama ini selalu kami kosongkan. Kursi yang selalu kami anggap sakral dan tidak ada yang bisa menggantikan posisi papah.
Lalu tiba-tiba Max menepuk bahuku, aku menoleh menatapnya kilas. Lalu dari kejauhan kami melirik adik kami—Tika, yang ternyata juga terlihat heran melihat posisi mamah duduk, seakan tidak percaya. Lalu kami bertiga kembali memandangi mamah, dan akhirnya kami berempat mengullum senyuman dari posisi masing-masing.
Semua sudah duduk di tempatnya dan mamah juga sudah mempersilakan semuanya untuk memulai makan malamnya. Meja makan yang semula kami anggap terlalu besar, kini terasa terlalu kecil dengan kursi-kursi tambahan yang sengaja digunakan agar semuanya bisa makan di atas meja makan yang sama.
Meriah. Mungkin kata itu sangat tepat untuk menjelaskan suasana yang terjadi saat ini. Gelak tawa, obrolan hangat, bahkan dentingan suara sendok dan garpu yang beradu dengan permukaan piring kaca begitu terdengar sangat merdu. Malam ini semua terhanyut akan suasana yang begitu gembira. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk berdiri, setelah kulihat semua tamu rata-rata sudah menghabiskan makan malamnya. Kemudian aku mengambil gelas minumku dan juga sebuah sendok kue yang masih bersih di depanku.
Ting ting ting!
Kubenturkan sendok itu pada gelas kaca di tanganku. Lalu seketika semua hening, hiruk-pikuk yang tadinya begitu menggema, mendadak hening dan semua mata kini tertuju padaku.
Sambil kuletakkan kembali gelas dan sendok lalu berkata, "Malam ini aku mau ngucapin terima kasih yang sebesar-besarnya, terutama buat Mamah, yang sudah mau direpotkan dengan acara ini. Trus buat saudara-saudara aku dan juga para ipar aku, yang membantu mewujudkan ini. Terima kasih juga buat semuanya yang mau hadir, walaupun diundang dadakan. Dan sekali lagi terima kasih buat kalian semua." Dengan tegas dan penuh senyuman aku menyampaikan isi hatiku.
"Sebenarnya malam ini bukan hanya acara ulang tahun dan juga makan malam bersama. Tetapi malam ini aku mau kalian semua jadi saksi, aku mau mengatakan sesuatu pada pujaan hatiku sekali lagi." Sambil tertawa bahagia aku merogoh saku celanaku dan mengeluarkan sebuah kotak hitam yang berukuran kecil dan menunjukkannya pada semua.
Dari posisiku berdiri saat ini, aku dapat melihat Clara yang duduk di samping ayahnya terperangah menatapku. Menutupi mulutnya dengan kedua telapak tangannya.
Suara riuh kembali terdengar. Beberapa dari mereka ada yang bersorak, bertepuk tangan, bahkan aku melihat Max yang menggodaku dengan siulannya. Suasana saat ini sudah seperti dalam acara festival musik.
"Semuanya sudah pasti tahu gadis mana yang akan aku datangi," tambahku lagi saat aku meminta mereka untuk tenang sejenak dengan tanganku sebagai isyarat.
"Mah, boleh aku lakukan?" seruku meminta izin kepada mamah yang kemudian dijawabnya dengan anggukan serta senyuman manisnya.
Aku memundurkan kursiku lalu berjalan perlahan menuju ke arah di mana Clara duduk. Diiringi dengan sebuah senyuman yang selalu aku perlihatkan pada semua orang, terutama pada Clara.
Sesampainya langkah kakiku berhenti tepat di dekat kursi Clara duduk, aku menjatuhkan diri, menempelkan salah satu lututku pada lantai lalu membuka kotak hitam kecil tadi dan menyodorkannya pada Clara. Sebuah tetesan air mata di sudut matanya sudah siap menyambutku saat ini, sebelum aku mengatakan sebuah kejujuran padanya.
"Aku sudah pernah ngelamar kamu sebelumnya dan aku gak mau mengulangi lagi. Jadi ... kamu mau gak nikah sama aku dua bulan lagi? Tepat pada tanggal sebelas Juli tahun ini."
"Dih, apaan itu, Kal?! Kamu mau ngajak Clara kawin apa mau ngajak dia liburan sih?" protes Tika.
"Ga romantis banget," seru Shilla.
"Haikal udah kepingin banget itu. Mupeng dia!" goda Max.
Sedangkan yang lainnya hanya tertawa. Aku menghiraukan mereka semua. Mataku hanya memandang kedua bola mata Clara yang kini sudah dibanjiri dengan air matanya sendiri. Dan aku masih setia berlutut untuk menantikan jawaban darinya.
Kuraih salah satu tangannya yang menutupi mulutnya. Bertepatan saat ayahnya menepuk pundaknya. Seolah memberi isyarat padanya untuk kembali tersadar dengan apa yang dilihatnya saat ini. Kemudian secara perlahan dia menganggukkan kepalanya, hingga akhirnya anggukan itu menjadi semakin jelas terlihat. Perlahan tapi pasti.
Suasana kembali gemuruh menggambarkan rasa gembira dan kehabagiaan untuk semuanya. Dan di sela-sela keramaian itu, Clara melepaskan tangan yang satu lagi, yang tadi menutupi mulutnya lalu mengatakan, "Aku mau."
Senyumanku begitu lebar, aku dapat merasakan itu. Perasaan ini begitu bahagia. Detak jantung yang tadinya tidak karuan, seketika sirna berganti sebuah rasa yang sulit untuk aku jelaskan.
***
Semua kini berada pada tempatnya masing-masing di sudut rumah ini, setelah acara makan malam selesai. Saling berbincang dengan satu sama lain. Ada pula yang sedang menikmati kue pencuci mulut di halaman belakang.
Sedangkan aku masih berduaan dengan Clara di ruang makan. Sedari tadi dia terus saja menangis, tetapi juga tersenyum. Sebentar-sebentar dia menghapus air matanya yang terus jatuh tanpa dia inginkan.
"Kamu 'kan sudah pernah ngelakuin ini, kenapa diulangi lagi?" gerutu Clara padaku.
"Kan aku sudah bilang, kalau yang ini bukan mengulang. Jadi ini bukan lamaran." Aku bersikeras tidak menganggap ini sebagai lamaran.
"Trus apaan dong?"
"Ini ngajak nikah. Kalau lamaran itu belum pasti. Sedangkan ini pasti karena tanggalnya sudah aku tentukan."
Clara menepuk tanganku pelan. Wajahnya tersipu, pipinya merona dengan begitu jelas. Aku sungguh menyukai wajahnya yang seperti ini. Terlihat lucu dan juga mengemaskan.
"Trus kenapa jadi milih tanggal sebelas bulan Juli?" selidiknya lagi.
Aku menghela napasku. Kemudian menceritakan pada Clara bahwa tanggal itu sebenarnya adalah tanggal kelahiran papah. Di mana biasanya pada saat tanggal itu, dua wanita yang aku miliki sebelum dirinya selalu menangisi papah. Ya benar, mamah dan Tika selalu merasa sedih saat tanggal itu. Dan aku berniat ingin berubah kesedihan mereka ditanggal itu menjadi sebuah kebahagiaan.
"Aku ingin melihat mamah dan Tika tersenyum bahagia pada tanggal itu dan kalaupun mereka harus menangis, setidaknya yang keluar itu adalah air mata yang bercampur dengan kebahagiaan," ucapku pelan.
Clara tersenyum padaku lalu menangkupkan salah satu tangannya pada sisi pipiku dan berkata, "Kamu yakin sama semua ini? Kamu tahu 'kan semua risikonya? Masih ingat kalau aku punya penyakit, 'kan?"
Aku mengembuskan napasku. "Aku gak peduli sama penyakit itu. Dan aku maunya kamu. Bukan yang lain," jawabku pasti dan tegas.
Malam semakin larut. Setelah semua rangkaian selesai, satu per satu dari mereka semua mulai berpamitan padaku sambil mengucapkan sekali lagi atas ulang tahunku dan juga proses penentuan tanggal yang sengaja aku lakukan. Sebab jika tidak seperti itu, aku yakin Clara pasti akan kembali bimbang untuk hidup berdua denganku.
Kini tersisa kedua orang tua Clara yang terakhir berada di ruang tengah rumah ini. Mamah mengajak mereka untuk duduk berdampingan dengan serius. Bersama dengan aku dan juga Clara tentunya—anak mereka.
"Mohon maaf jika anak saya terlalu lancang, melamar gadis secantik Clara dengan hanya bermodalkan sebuah tanggal." Mamah memulai pembicaraan yang membuatku malu serta ingin tertawa dalam waktu yang bersamaan.
"Tidak apa-apa, lagi pula kami menyetujui tanggal itu. Dan mengingat umur mereka, memang sudah sepantasnya untuk disegerakan." Ayah Clara tersenyum menatapku.
Kemudian semakin lama, obrolan itu semakin serius. Membahas segala macam hal yang bersangkutan dengan keperluan prosesi pernikahanku dengan Clara. Mereka—para orang tua, terlihat begitu bersemangat dan juga antusias membahas semua detailnya. Sedangkan aku dan Clara hanya mendengarkan dan menyimak dengan baik apa kemauan dari orang tua Clara.
Setelah semuanya selesai dibicarakan, mereka akhirnya berpamitan untuk pulang.
"Maaf, Om, Tante, mestinya saya yang membawa keluarga saya untuk bertemu dengan kalian. Membicarakan tentang semua ini." Dengan sopan aku meminta maaf pada mereka tentang kejanggalan acara ini.
Mereka memaklumi semuanya dan mereka malah mengucapkan rasa terima kasihnya padaku karena aku bisa seserius ini meminang anaknya.
__ADS_1
Setelah kepulangan Clara dan juga kedua orang tuanya, adikku Tika, Jefri serta kedua anak mereka pun juga ikut untuk berpamitan. Mereka pulang ke rumah orang tua Jefri. Aku dan mamah mengantarkannya sampai ke depan pintu rumah.
"Hati-hati di jalan ya," seruku sambil menepuk pundak Jefri yang dibalasnya dengan anggukan kepala. Dan mereka segera masuk ke dalam mobil kemudian berlalu, hilang dari jarak pandangan mataku.
"Kamu mau balik ke rumah sakit lagi?" tanya mamah tiba-tiba selepas rumah kembali sunyi.
Aku merangkul mamah sambil melangkahkan kaki, berjalan memasuki rumah lagi lalu berucap, "Malam ini aku tidur di sini. Kamar aku belum mamah sewain ke anak orang, 'kan?" candaku seraya terkekeh pelan.
Dan mamah mendaratkan cubitannya pada bagian pinggangku. Yang lagi-lagi membuatku tertawa terbahak-bahak.
Segera aku menyuruh mamah untuk pergi beristirahat. Di saat bi Mince dan juga Shilla sedang membersihkan meja makan dan juga bagian lainnya di rumah ini. Pada awalnya, mamah menolak dan ingin ikut membersihkan rumahnya, tapi aku bersikeras melarangnya dan berjanji akan membantu membersihkan rumah untuk mengambil alih tugasnya. Mamah mengalah dan akhirnya pergi menuju kamarnya untuk mematuhi saranku, membersihkan diri lalu beristirahat.
Dengan hati-hati serta teliti aku membantu meringankan tugas bi Mince dan juga Shilla pada malam ini. Mengangkat peralatan makan yang tadi digunakan di atas meja makan menuju dapur untuk dicuci oleh bi Mince. Dan sebagiannya lagi aku masukan ke dalam rak otomatis pencuci peralatan makan.
Shilla mengambil sebuah lap meja makan yang diberikan oleh bi Mince dan bersiap hendak mengelapnya. Namun, aku menghalanginya dan memintanya untuk memberikan tugas itu padaku.
"Sudah sini lapnya, biar aku yang bersihin. Kamu masuk kamar sana. Sudah seharian kamu bantuin mamah. Iya, 'kan?" tebakku asal.
"Ta—tapi ...." Kalimat Shilla itu segera kusela.
"Udah sana, Max pasti nungguin," selaku.
Aku langsung merebut selembar kain lap pada tangannya lalu mulai membersihkan semuanya. Setelah semua pekerjaan itu selesai, barulah aku bisa bernapas dengan lega dan izin meninggalkan bi Mince juga bisa aku lakukan. Bi Mince mengizinkan sebab pekerjaan beliau pun hanya tersisa sedikit lagi.
Aku qlangkahkan kakiku keluar dari area dapur, kemudian beranjak berjalan menuju kamar tidurku. Sesampainya di dalam kamar, aku langsung menghempaskan tubuhku di atas tempat tidurku.
Aku mengembuskan napasku dengan lega, berbaring di atas tempat tidurku dan memandangi langit-langit kamarku yang terlihat amat polos. Tidak berubah, isi kamarku ini tetap sama. Mamah tidak pernah merubah letak benda apa pun di dalam kamarku ini.
Sekilas pikiranku melayang, menerawang kembali di saat pertemuan aku dan Clara pertama kali di rumah sakit. Dengan begitu polosnya dia memilih untuk tidur di sampingku. Setelah sebelumnya dia dijatuhi oleh beberapa tumpukan berkas pasien rumah sakit.
Lalu dengan polosnya, dia mau saja aku kerjai untuk menyusun berkas itu selama berhari-hari. Yang mana sebenarnya semua itu hanya akal-akalanku saja, agar dia dihukum. Ditambah lagi dengan beberapa kecerobohan yang dia lakukan padaku.
Tanpa sadar, seutas senyuman kembali mengisi raut wajahku. Clara sungguh membuat hari-hariku kembali bergairah, kembali berwarna. Hanya dia yang mampu meruntuhkan pertahanan diriku selama ini. Dan perlahan aku pun menutup mata untuk mencoba masuk ke alam mimpi.
***
Gedebak gedebuk!
Brak bruk!
Aaaakkk!!
Suara heboh, gempar dan juga berisik terdengar dari luar kamarku. Membuatku terpaksa harus membuka mata dan segera beranjak berjalan keluar untuk mengecek sumber suara apa itu. Semua suara rusuh itu terdengar begitu jelas sebab pintu kamarku tidak tertutup dengan rapat tadi malam dan aku tidak menyadari itu.
'Mengganggu mimpi indahku saja!' rutukku dalam hati.
Aku raih kenop pintu dengan sebelah tanganku yang lainnya sedang menggosok mataku serta mengusap wajahku dengan kasar. Lalu betapa terkejutnya aku begitu mendapati Shilla di depan meja makan dengan wajah pucatnya dan sebuah kotak di hadapannya.
Aku mendekat saat Max, mamah, Hans dan juga Roni sudah berdiri tak jauh dari aku dan juga Shilla. "Kamu dapat kotak ini dari mana?" hardikku saat melihat isi kotak itu. Lalu menatap Shilla yang sudah terduduk jatuh di lantai.
"Apa isinya?!" pekik Max yang kemudian mendekat dan melihat isi kotak itu. Aku dapat melihat raut wajahnya yang tiba-tiba berubah begitu saja.
Max menutup kotak itu lalu mengembuskannya napasnya, menghampiri Shilla dan membantu istrinya untuk berdiri. "Ko—kotak itu su—sudah ada di sana dan ada nama aku di tu—tutupnya," jelas Shilla agak terbata.
Kemudian aku dan Max serempak menatap Hans dan juga Roni, sebab mereka yang menjaga pintu depan rumah dan juga pintu belakang rumah ini.
"Ma—maaf, saya tertidur tadi malam," ucap Roni yang terlihat gemetar.
Begitu pula dengan Hans. "Sa—saya juga tidak sengaja tertidur.
"Sudah, sudah. Kita gak usah saling menyalahkan. Semenjak Hans dan juga Roni ada di sini, kita selalu merasa aman. Bahkan mamah lihat, mereka jarang beristirahat, sedangkan kita tidur nyenyak dibatas kasur tanpa waspada. Bukankah seharusnya kita berterima kasih pada mereka berdua? Jadi jangan saling menyalahkan lagi." Mamah mendekati Roni dan juga Hans lalu meminta mereka untuk segera menyingkirkan kotak di atas meja itu.
Kemudian mamah menyambut Shilla dan membawanya kembali ke kamarnya. Sedangkan aku dan Max kini saling berpandangan.
"Bukannya kata kamu rumah ini aman?" tanyaku geram pada Max yang masih diam membeku. Dia mematung sejak mamah membawa Shilla.
"Rumah ini dijaga beberapa orang dari jauh, gak mungkin bisa sampai begini." Max bergumam yang mana gumamannya itu bisa kudengar dengan begitu jelas.
Tatapan mata Max terlihat kosong tetapi juga mengisyaratkan sebuah amarah. Belum pernah aku melihatnya seperti itu. Kemudian tiba-tiba saja Max beranjak, mengambil kunci mobilnya yang ada di atas buffet dan pergi hanya dengan menggunakan piyamanya.
"Max ... Max ...," teriakku sambil berjalan mengikutinya, berniat untuk menghentikannya sampai aku dapat meraih tangannya lalu kembali berkata saat dia menoleh padaku, "Kamu mau ke mana?"
Max menepis tanganku dengan begitu keras, lalu masuk ke dalam mobilnya tanpa mengatakan sepatah kata pun padaku. Dia menyalakan mobilnya dan melesat pergi hingga menghilang dari balik pagar rumah.
Aku tidak mengerti dengan apa yang dia pikirkan saat ini.
Jika benar teror pagi ini juga berasal dari lelaki gila itu, apakah ini sebuah pertanda darinya bahwa balas dendam akan segera dimulai?
Sebab perlahan lelaki gila itu terus saja mengganggu hidup kami. Bahkan kini merambat pada anggota keluarga yang lainnya. Apa lelaki itu sudah mengetahui kematian saudaranya? Hingga dia berani melakukan hal-hal yang lebih gila lagi dsri sebelumnya.
Semua ini harus segera di akhiri, tapi bagaimana caranya? Sedangkan lelaki itu selalu saja bersembunyi. Bahkan seorang Igo saja tidak bisa melacak keberadaannya.
Lalu, apa yang harus kami lakukan?
Bersambung ...
__ADS_1