
Lisa POV.
Aku berhasil berdiri dari ranjang dan menjatuhkan pisau yang aku sembunyikan di balik pakaianku. Pisau itu jatuh ke lantai dan hampir saja menancap pada ujung kakiku. Beruntung aku dengan sigap menghindari jatuhan pisau itu. Kemudian pisau itu kusisipkan dengan kakiku pada bawah ranjang. Agar tidak di temukan oleh Dana.
Lalu aku mengedarkan pandanganku. Melihat ke sekeliling apakah ada benda tajam lainnya yang bisa aku gunakan untuk melepaskan ikatan tanganku di belakang. Aku memang sengaja tidak ingin menggunakan pisau tadi, sebab jika tiba-tiba lelaki itu masuk ke kamar maka ia akan mendapati bahwa aku memiliki sebuah pisau dan itu akan lebih membahayakan hidupku lagi.
Belum sempat aku beranjak, tiba-tiba Dana membuka pintu kamar dengan begitu keras. Sangat terlihat jelas jika ia sedang tersulut amarah. Aku memundurkan langkahku, tetapi langkah kakinya lebih panjang dariku. Hingga akhirnya ia menangkapku dan menjatuhkanku ke atas ranjang. Membuat aku harus tersungkur. Lalu dia merangkak menaiki tubuhku dan duduk di atas punggungku kemudian menjambak erat rambutku dengan kasar. Hingga kepalaku mendongak dan aku meringis kesakitan.
Dia mendaratkan telapak tangannya tepat di samping bahuku, mungkin sebagai tumpuan darinya dan benar saja. Hal itu sengaja ia lakukan agar mulutnya bisa berbisik padaku, tepat di telingaku. "Kamu tahu? Semakin kamu mengelak dan bertindak yang enggak-enggak, kamu semakin bikin aku bergairah, Babe," ucapnya lalu mengecup pipiku mesra.
Kini tangannya melepaskan rambutku lalu beralih ke leherku yang masih terasa begitu sakit. Saat ia menarik bagian leherku agar lebih mendongak dari sebelumnya. Ia mulai mengecupi daun telingaku. Sesekali di keluarkannya ujung lidahnya untuk menj*lat hingga membuat mulutku yang masih di balik duct tape meloloskan lenguhan la*nat.
Jangan kalian kira aku menikmati ini! Tidak!! Aku tidak menikmati diperlakukan seperti ini. Karena ini membuatku benar-benar ketakutan. Tubuhku bergetar hebat saat ia melakukan itu. Bahkan kini tidak hanya telingaku yang menjadi sasaran melainkan tengkuk leherku.
Berkali-kali aku meronta, mengoyangkan tubuhku, bahkan menarik pakaiannya yang dapat kusentuh saat ia melakukan aksinya, tapi tetap saja, bahkan itu semakin membuatnya menggila. Hingga pada akhirnya ia menyingkir dari sana, bukan untuk membebaskanku, melainkan untuk membalikkan tubuhku agar terlentang dan menghadap ke atas. Kali ini aku aku berteriak di balik duct tape itu, sebab tanganku yang masih terikat sangat terasa begitu sakit saat tubuhku sendiri yang menindihnya.
Dana menjauh menuruni ranjang, lalu mencari sesuatu pada laci meja yang berada di ruangan ini. Aku terus saja menjerit di balik lakban yang masih dengan kuat tertempel di mulutku. Perlahan aku mencoba berdiri dengan menyisir jauh darinya ke sudut lain tepi ranjang. Tapi nyatanya usahaku itu sia-sia.
Dengan paksa Dana kembali mengangkat tubuhku dan mengulingkan ke tengah ranjang. Beberapa kali aku melayangkan kakiku untuk menginjaknya atau bahkan untuk menjauhkan tangannya dari tubuhku. Hanya butuh sekali gerakan yang ia lakukan, agar kakiku berhenti bergerak. Dan itu sukses membuatku kembali meronta. "Harus berapa kali aku bilang? Semakin kamu melakukan hal bodoh, malah semakin membuat aku bergairah, Babe!" lantangnya ucapan yang ia katakan diakhiri dengan gelak tawanya yang menggema dalam ruangan ini.
__ADS_1
Dana kembali berdiri menuruni ranjang lalu mengikat kedua kakiku pada masing-masing tiang ranjang dibawah sana. Membuat kakiku berbuka lebar. Setelah itu ia kembali menaiki tubuhku. Tadinya aku berpikir jika ia akan menyerangku, hingga aku berusaha bangun untuk mengelak, tapi ternyata aku salah. Ia malah berusaha memotong kabel zip yang mengikat pergelangan tanganku. Tanganku langsung mengepal dan mendaratkan pukulan bertubi pada tubuhnya. Hingga akhirnya membuat napasku tersengal.
Menangkap kedua tanganku yang semakin kehilangan tenaga, bukanlah hal sulit bagi seorang lelaki seperti Dana. Dengan mudah ia langsung memegang dan mengangkat kedua tanganku dengan satu cengkraman tangannya di atas kepalaku. Posisiku kali ini benar-benar berada di bawahnya, ia mengunci gerakanku dengan tubuhnya yang kekar. Membuatku tidak bisa berkutik lagi. Aroma maskulin yang dihasilkan oleh tubuhnya, merasuk ke dalam rongga hidungku. Membuat mataku seketika mengeluarkan bulir airmata yang kemudian berubah menjadi aliran yang semakin lancar bagikan sungai yang mengalir.
Bukan tanpa alasan airmataku menetes, aku hanya tidak mengira jika akan seperti ini jadinya. Aku selalu saja mendapatkan rasa cinta bekas sahabatku sendiri. Sekarang kenapa harus aku yang menanggung kesengsaraan seperti ini?
"Hei hei hei, jangan nangis dong! Belum juga mulai, udah nangis duluan." Dana menyunggingkan sudut bibirnya, mungkin ia merasa puas menyiksaku seperti ini.
Kini ia kembali mengikat pergelangan tanganku dengan seutas tali yang ia dapatkan dari dalam laci. Terasa sakit dan perih saat ia mengencangkan ikatan itu di atas kepalaku. Di balik duct tape mulutku seakan tidak ada lelahnya untuk mengaum, meronta bahkan menjerit, agar lelaki yang pernah aku kagumi ini sedikit berbelas kasih padaku. Membiarkan aku duduk ataupun istirahat dengan tenang. Namun sepertinya lelaki ini sudah tidak bisa lagi diajak untuk berkompromi. Yang ada ia malah semakin tersenyum dan tak jarang gelak tawanya kembali menggema.
Dengan tatapan matanya yang kini terlihat seperti seekor singa, ia mengaitkan ikatan tanganku pada kepala ranjang yang terbuat dari kayu jati. Lalu senyuman kepuasan melihat aku yang terikat sempurna, terlihat jelas di wajahnya. Perlahan ia menundukkan kepalanya, tangannya meraba permukaan mulutku yang terlindung duct tape lalu dengan pelan mengoyaknya. Tidak lagi aku berteriak, yang ada hanya suara isak tangis dan juga permohonan ampun yang berhasil aku katakan.
Mungkin Dana merasa iba padaku karena perlahan ia turun dari tubuhku, lalu duduk di sampingku. Saat ini aku hanya bisa melihat punggungnya yang duduk membelakangiku. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Yang jelas aku semakin takut berada di dekatnya. Perlahan isak tangisku mulai mereda, aku mencoba mengontrol emosi dan perasaanku sendiri. Tak banyak yang bisa aku lakukan dengan kondisi seperti ini, aku hanya bisa berharap agar lelaki ini sedikit berbelas kasih padaku. Hanya itu.
"Kamu tahu? Aku begitu mencintainya. Aku akui, salahku memang kalau dulu aku tergoda sama kamu trus ninggalin dia. Aku yang merusak hidupnya. Malah sempat terpikir di otakku kalau aku sudah mengambil kepera*anannya itu artinya tidak akan ada lelaki lain yang mau mendekatinya. Iya 'kan?" lirihnya dengan suara yang terdengar getir, sangat getir.
Sedikit-sedikit aku mencoba untuk memahami kalimat demi kalimat yang ia katakan padaku. Ia menceritakan kesedihan hatinya melihat Tika yang nyatanya saat ini hidup dengan begitu bahagia bersama Jefri, suaminya. "Sambil aku berusaha mengumpulkan harta hanya untuk menyamaratakan derajatku pada keluarganya. Aku tahu dia berasal dari keluarga berada, oleh sebab itu aku meninggalkannya. Bukan untuk selamanya, hanya sementara." Dana membeberkan pengakuannya itu padaku. Terdengar menyayat hati memang, saat dia dengan lantangnya mengucapkan semua itu padaku.
Dapat aku rasakan penderitaan yang dialami olehnya. Karena secara tidak langsung, aku mengalami hal yang serupa. Hidup Tika begitu sempurna, pernah sekali aku mengatakan padanya saat kami bercerita melalui sambungan telepon, masih tertulis jelas diingatanku. Saat lelaki di hadapanku ini pergi menghilang entah kemana, meninggalkanku di London sendirian saat itu. Aku mengucapkan kalimat iri hatiku pada hidup Tika. Kehidupannya yang bergelimang harta, pekerjaan yang sukses di kala itu. Sampai aku kembali ke kota ini, melihatnya yang semakin hiduo dengan bahagia, bahkan saat ini ia memiliki Jefri yang begitu mencintainya. Walaupun pada awalnya ada sebuah dilema yang menghinggapi dirinya. Tapi Tika lebih banyak merasakan bahagia ketimbang merasakan kesedihan, kesakitan atau bahkan ketidakberdayaan seperti yang aku alami.
__ADS_1
"Seharusnya aku gak perlu melakukan ini sama kamu, tapi aku terpaksa!" Tiba-tiba Dana menoleh menatapku dengan senyumnya yang menyeringai. "Kalau aku gak ngelakuin ini, Tika gak bakalan bisa ngerti gimana rasanya tersakiti, terbuang ataupun merasakan kesedihan yang mendalam. Karena aku tahu ... kamu itu satu-satunya orang yang sangat dia sayangi, bahkan melebihi dirinya sendiri."
Deg!!
Aku terperangah mendengar kalimat yang Dana ucapkan. Jantungku serasa berhenti berdetak.
Jenis permainan apalagi yang ia mainkan sekarang? Lelucon macam apalagi ini?
Mengapa bisa dengan mudahnya ia mengatakan bahwa aku lah orang yang paling disayangi oleh Tika?
"Gak mungkin, kamu bercanda!! Lelucon apalagi ini?" Aku berteriak mengatakan itu. Aku sunhguh tidak percaya dengan semua perkataan Dana. Ia beranjak dari duduknya lalu melangkah menuju meja dan membuka kembali sebuah laci, tempat di mana ia mendapatkan tali untuk mengikatku.
Sambil terus memandangi gerak-geriknya, otakku mencoba memahami maksud dari perkataannya. Bagaimana mungkin Tika menyayangiku seperti apa yang diucapkannya barusan. Jelas-jelas Tika lebih menyayangi Jefri dan kandungannya, bukan aku!
"Kalau bukan kamu yang dia sayangi, lantas siapa? Aku bisa melihat dengan jelas semuanya." Dana kembali mendekatiku, kini dengan sebuah sobekan duct tape yang dapat aku mengerti kegunaannya untuk apa.
Sementara otakku bekerja, memikirkan ucapannya, Dana sudah terlebih dahulu menyerangku menutup kembali mulutku dengan duct tape itu. Aku kembali meronta, mengerang sekeras-kerasnya. Menggerakkan tubuhku, mencoba melonggarkan ikatan tali yang mengikat kuat kedua tangan dan kakiku.
"Kamu tahu, sebentar lagi Tika pasti muncul. Dia pasti datang dan sebelum dia datang, alangkah baiknya jika aku mencicipi kamu sekali lagi." Dana langsung menaiki tubuhku. Lalu menyerangku dengan ganas. Aku terus melakukan penolakan, meronta tiada henti, mengerang untuk menolak, menggerakkan tubuhku dengan sisa tenaga yang aku miliki. Namun kali ini Dana sungguh sudah dibutakan boleh obsesinya, hingga membuatku tidak bisa lagi melakukan apapun dalam kondisi seperti ini.
__ADS_1
Bersambung ...