Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 220


__ADS_3

Selamat membaca ...


——————————


Haikal POV.


Aku bahagia melihatnya menangis sekaligus tertawa seperti tadi dan saat ini dia menikmati harinya. Dan setelah resmi menikahinya, aku masih memiliki tanggung jawab yang besar padanya.


“Gimana? Oke 'kan idenya?” singgung Tika di samping sambil menyenggol lenganku.


Aku mengangguk. “Kasih tahu juga sama Metta, terima kasih sudah bikinin dekor segini meriah dengan budget kecil,” kekehku.


“Untung punya adek yang pernah kerja ngurusin beginian, coba kalo enggak?”


“Udah, gak usah nyombongin diri. Enggak baik! Sini!” Aku mengambil Nathan dari gendongannya, “Sana ikutin acaranya, puas-puasin ngerjain dia, besok-besok udah jadi kaka ipar. Gak boleh sadis.” Aku mendorong Tika untuk masuk ke dalam acara itu.


Dari tempatku berdiri sekarang, mataku dan mata Clara saling memandang dan sebuah senyuman aku kembangkan untuknya. Lalu aku mengajak ayahnya untuk duduk dan makan bersamaku dan juga Max. Pada sebuah meja yang mana, mamah sudah berada di sana bersama Jefri dan anak perempuannya Naila.


Semua yang berhadir menikmati serangkaian acara makan siang dan juga acara yang memang sengaja aku adakan untuk Clara itu. Sesekali aku menoleh, melihatnya yang masih berfoto di tengah dekorasi bridal showernya. Dia nampak tetap cantik, walaupun didandani dengan asal oleh semua wanita yang ada di sana.


Dan tidak hanya itu, dia tetap terlihat seperti ratu di antara semua wanita yang ada. Bahkan tidak hanya menjadi ratu sehari atau beberapa hari ke depan, tetapi dia akan tetap menjadi ratu di hati ini hingga napasku berhenti berembus.


**


Langit sudah mulai meredup, hingga tidak terasa sore hari sudah menjelang. Aku kembali mengantarkan Clara dan ayahnya pulang hingga ke depan pintu rumahnya.


“Ayo masuk dulu,” ajak ayahnya.


“Di sini aja, Yah, aku bentar aja, soalnya giliran jaga rumah sakit lagi hari ini.”


“Ya sudah kalau gitu ayah masuk ke kamar dulu ya. Nanti hati-hati pulangnya.” Beliau melangkah masuk menaiki tangga menuju kamarnya.


Kedua mata ini langsung menatap wajah Clara yang masih tersisa sedikit coretan lipstick di pipinya. Aku mengusapnya lalu kami sama-sama tertawa kecil. Clara mengucapkan rasa terima kasihnya itu padaku berulang kali atau mungkin sudah sampir sepuluh kali dia mengucapkan rasa syukurnya.


“Aku sampai gak tahu lagi harus ngucapin apa ke kamu ... buat hari ini, buat semua dan buat selanjutnya,” tuturnya terlihat bingung dan canggung.


Mungkin aku bisa sedikit mengerti maksud dari ucapannya itu. Hanya saja, akhir-akhir ini aku suka menggodanya. Melihat wajahnya yang bersemu merah atau melihat dia yang salah tingkah. Aku suka melihatnya yang malu-malu tapi menyembunyikan kemauannya.


Lagi-lagi sebuah senyuman lebar aku kembangkan begitu saja. “Kamu gak perlu ngucapin apa-apa lagi selain ngutarain isi hati kamu buat aku di setiap harinya nanti.” Aku mencubit kecil dagunya.


Clara menggigit bibir bawahnya, yang tiba-tiba saja mengalihkan pandanganku dan menatap bibirku. Sebuah gejolak tiba-tiba muncul dalam diri ini, seolah merindukan rasa manis pada bibirnya itu. Aku menelan salivaku dengan susah payah.


“I love you ...,” lirihnya pelan tetapi cukup jelas di telingaku.


“Apa?! Aku gak denger!” seruku memekiknya. Lalu tangannya memukul dadaku pelan. Aku tertawa kecil melihatnya yang kini benar-benar salah tingkah.


Clara menundukan wajahnya, lalu mendadak jemarinya menarik ujung pakaian kaus yang aku kenakan. Aku tidak mengerti apa maksudnya. “Kenapa?” lirihku bertanya dengan sisa kekehan pada mulutku.


Dia berdeham lalu sesekali mengangkat wajahnya menatapku, kemudian kembali tertunduk malu. Lalu aku menarik kepalanya dan mengecup keningnya. Aku lepaskan sedikit lalu berkata, “Tahanlah, sedikit lagi. Aku mau semuanya menjadi istimewa bagi kita berdua. Menjadi spesial dan tidak terlupakan.”


Kemudian aku merasakan kedua tangannya yang seketika memeluk tubuhku erat. Beberapa kali dia eratkan, lalu mengangguk setuju. Ya, aku tahu, semenjak tragedi listrik padam dan juga hujan badai, kami sama-sama menahan semua gejolak yang membludak itu. Mengalihkan pikiran setiap kali berjumpa. Bahkan menahan tangan untuk tidak saling menyentuh, takut sentuhan itu menjalar ke mana-mana.

__ADS_1


Tapi kali ini, kami tinggal menahannya tiga hari lagi, setelah itu, semua akan menjadi bebas kami lakukan. Tanpa tergesa-gesa dan tanpa batasan lagi.


“Ternyata ada baiknya juga ayah kepingin memingit kamu,” ucapku sambil melepaskan dirinya dari dekapanku.


“Iya, setidaknya kita sama-sama bisa merasakan arti merindu dan menghargai sebuah jarak. Lalu belajar untuk memupuk rasa kepercayaan satu sana lain.” Clara dengan lancar menjelaskan.


Aku tercengang. “Kok tahu?”


“Kemarin aku tanya ayah. Trus ayah jelasin semuanya.”


Aku menganggukkan kepala tanda mengerti. Kemudian aku berpamitan dengannya, karena tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi dengannya. “Aku pamit ya? Kamu jangan lupa tidur, nanti jelek waktu nikahan.” Aku kembali menggodanya.


Plakk!!


Tangannya memukul lenganku lalu berkata, “Kamu itu yang jangan lupa istirahat. Jangan lupa tidur sama minum vitamin.” Clara berpesan. Aku kembali tertawa.


“Inget sampai harinya gak boleh video call!” clara mengingatkan.


“Iya, tapi kamu juga gak boleh ganti foto profile whatsapp loh ya?” cegahku yang dibalasnya dengan anggukan kepala.


Setelah itu aku berpamitan, kembali melangkah memasuki mobil dan langsung melaju pergi menuju ke rumah sakit.


Dalam perjalanan pulang, kepalaku memang sudah mulai terasa pusing sekali. Bukan karena sakit kepala biasa tetapi karena sakit pada bagian bawah itu lang yang memicunya hingga ke ubun-ubun.


“Sial!! Kayaknya aku harus nyiram diri pake air dingin kalo begini caranya,” umpatku dengan kesal.


**


Sesampainya di rumah sakit, aku langsung menuju meja perawat jaga. Menanyakan segala macam hal tentang apa saja yang terjadi selama dari pagi aku tidak ada di tempat, perawat Zahira menjelaskan.


“Semua sudah sesuai prosedur, Dok. Dan rencananya Dokter Putri ingin bertemu dengan Dokter untuk menjelaskan kondisi dari dr. Ranti yang kemarin diminta.” Tegas. Perawat Zahira menjelaskan semuanya dengan begitu tegas dan juga lugas.


“Minta dia untuk ke ruangan saya, setengah jam lagi,” pintaku kemudian berbalikndan melangkah pergi menuju ke ruangan.


Begitu masuk, aku langsung mengunci pintu lalu berbalik sambil melepaskan kaus yang aku kenakan dan masuk ke dalam kamar mandi. Tanpa mengunci pintu kamar mandi hanya menutupnya saja, aku langsung melepaskan seluruh pakaian lalu masuk ke bawah pancuran. Membasahi diri dari atas kepalaku.


Tidak butuh waktu lama bagiku untuk mandi menyegarkan diri melepaskan gejolak hangat yang tadi sempat muncul. Dan juga menyegarkan otakku yang terasa pusing. Aku langsung mengambil pakaian seragam bersih di dalam lemari kecil yang ada di dalam kamar mandi ini. Lalu mengenakan atasannya sambil membuka pintu dan berjalan keluar.


"Uhuk!!”


Aku terpekik kaget mendengar suara batuk yang berasal dari seorang wanita yang duduk di atas sofa ruangan ini. Bagaimana caranya bisa masuk? Bukankah tadi pintunya aku kunci? Aku benar-benar terperangah, lagi-lagi wanita sinting ini!


Sudah tidak ada lagi sikap sopanku untuk wanita ini, dia sungguh kelewatan.


“Kamu ngapain di sini?” Aku langsung memastikan untuk membuka kunci pintu dan benar saja, pintu itu benar-benar terkunci dari dalam.


“Kamu masuk dari mana?! Hah?!” hardikku langsung membuka pintu, membiarkannya terbuka agar tidak ada gosip apa pun yang menyebar di sini. Apalagi kalau yang lainnya tahu jika wanita ini teman calon istriku. Lalu dengan geram aku melangkah menghadapinya dan kembali membentaknya.


“Kamu semakin hari, semakin kurang ajar ya?! Kamu mau saya berhentikan dan saya berikan surat rekomendasi jelek?! Hah?!” Aku semakin murka dan menjadi-jadi. Rasanya tidak dapat lagi aku menahan rasa kesalku.


“Lalu, Dokter mau seluruh karyawan di sini tahu kalau pimpinannya ternyata seorang perokok yang sering melanggar aturan?” balasnya mengancam, membuatku geram seketika.

__ADS_1


Wanita ini benar-benar sinting!


Dia pikir dia siapa berani-beraninya mengancam?


Aku mengembuskan napas berkali-kali, lalu perlahan membuak kedua mata dan menatapnya. “Keluar!! Saya hitung satu sampai tiga, jika kamu masih duduk di situ saya juga akan membuat kamu malu.”


Jovanka masih duduk bersungut menatapku dengan kesal. “Mungkin reputasi saya akan hancur atau bahkan rumah sakit ini akan sepi sementara begitu mereka tahu saya seorang perokok. Tapi bagaimana jika reputasi seorang perawat muda yang menjadi simpanan om-om hidung belang? Kamu pikir berita itu akan mereda seiring berjalannya waktu?” tutuku dengan santai.


Otakku kini sudah bisa kembali berpikir jernih dengan cepat. Aku bisa menyerang balik wanita ini dengan pertemuan kami yang tidak sengaja tadi siang di lobby hotel, saat dia menggandeng tangan lelaki paruh baya itu sambil sesekali mengecup pipi sang lelaki. Beruntung saat itu aku melihatnya dari kejauhan.


“Kenapa jadi balik mengancam?” polosnya bertanya.


Pletak!!


Aku menjentikkan jariku. “Hei, sadar!! Kamu yang lebih dulu mengancamku tadi.”


“Kamu yang lebih dulu mengancam untuk mengeluarkanku!!”


Aku mulai jengah dan kembali merasa nyeri pada kepalaku akibat berteriak berlebihan kepada wanita tidak tahu diri ini. “Sebenarnya kamu mau apa?”


“Aku mau jadi perawat senior di sini dan aku mau semua nilai yang aku dapat, diakui!” teriaknya tiba-tiba lalu menangis, membuat aku bingung sekaligus kesal. Aku benar-benar tidak mengerti dengan cara berpikirnya.


Kembali aku mengembuskan napas. Lalu menyahuti dirinya dengan pelan. “Kamu kenapa sih? Meledak-ledak, aneh, tidak masuk akal. Sebentar menangis lalu tertawa. Sebentar mengejek lalu—”


“Hu ... hu ... hu ....” Jovanka menangis, kemuduan dia berlari keluar dari ruanganku, menabrak dr. Putri yang ternyata berada di depan pintu.


Brukk!!


Dia saling menabrakkan bahu, hingga dr. Putri jatuh tersungkur di lantai karena hilang keseimbangan. Aku benar-benar tidak mengerti dengan Jovanka, entah ada apa dengan dirinya.


Aku membantu dr. Putri untuk berdiri lalu masuk ke ruanganku dan duduk di kursi depan meja kerja ini. “Jovanka sering main ke sini, Dok?” tanyanya, aku sontak membulatkan mataku, tidak percaya dengan pertanyaan yang keluar dari mulutnya.


“Maaf, Dok, saya bukannya mau lancang. Tapi kata dr. Brian ... perawat satu itu aneh. Sering bersikap tidak jelas.” Aku mengernyitkan alis menatapnya.


“Dokter masih ingat kejadian dulu 'kan? Waktu ada keluarga pasien yang marah-marah itu? Dengar kabar, waktu itu tidak ada yang berani membelanya, karena dia sendiri yang awalnya membuat onar.”


Lagi-lagi masalah datang. Otakku rasanya ingin pecah saat ini. “Sudah! Cukup. Kamu jelaskan pada saya sekarang bagaimana perkembangan kesehatan dari dr. Ranti,” titahku tegas padanya.


Kemudian dr. Putri menjelaskan semuanya, hanya saja entah mengapa otakku seakan tidak bisa menerima apa pun saat ini. Semua yang di jelaskannya memantul begitu saja dari telinga ini, tanpa sempat menyentuh masuk permukaannya.


Bersambung ...


——————————


Update marathon hari ini segini dulu.


Sampai jumpa besok di acara penikahan Haikal dan Clara 💃🥳


Jangan lupa juga buat vote, masih daku pantau 🧐🤣


Sekian dulu, #salambucin

__ADS_1


Babay ...


@bossytika 💋


__ADS_2