
Selamat membaca ...
——————————
Tika POV.
Perawatan tubuh yang aku lakukan telah selesai beberapa saat yang lalu, tetapi aku masih duduk di dalam ruangan dengan mengenakan bathrobe. Sambil memegangi ponsel dan membalas pesan dari Jefri. Tak lama berselang, dia langsung menghubungiku melalui jenis panggilan video call. Sepertinya kebanyakan pria akan seperti dia jika sudah bucin banget.
Jadi, buatlah lelaki kalian itu teramat menggilai kalian, entah bagaimana caranya, aku juga tidak tahu. Mungkin dengan menggunakan lingerie setiap malam bagi kalian yang sudah suami-istri. Atau bagi yang belum SAH, buat para lelaki seperti layang-layang. Paham 'kan maksudnya? *lol
“Iya kenapa? Kamu udah kelar meeting-nya?”
“Udah barusan, kamu masih di salon?”
Aku menganggukan kepala lalu sedikit menjauhkan kamera depan, agar dia bisa melihat jika aku masih mengenakan bathrobe. “Tuh, belum bilasan.”
“Gak usah bilasan, biar nanti aku yang bersihin,” godanya sembari menopang dagu pada tangannya lalu memandangiku dari seberang sana. Aku tersipu malu mendengar ucapannya.
“Ya sudah, nanti kabarin aku, begitu kamu mau pergi bawa Clara makan di mana sama Haikal. Biar aku samperin langsung ke sana.”
“Gak mau aku jemput aja?”
“Gak usah, nanti aku nebeng sama Brandy aja. Asal kamu kasih alamatnya ke aku.”
Aku mengangguk dan tersenyum. “Ya udah, nanti aku share location. Babay.” Sambil menggerakkan kedua bibirku seolah sedang mengecupnya. Dia juga melakukan hal yang sama, kemudian kami sama-sama memutuskan sambungan telepon.
Segera aku berdiri dan menuju ruangan yang Clara gunakan dan mendapatinya yang baru saja selesai melakukan rangkaian treatment-nya. Aku menyapanya, “Gimana enak, 'kan?”
“Iya, badan berasa lebih ringan,” akunya sambil menggerakan kedua bahunya.
“Haikal udah ada ngabarin tempat makannya di mana?” tanyaku lagi.
“Makan?” Clara nampak bingung dengan pertanyaanku.
Sambil menganggukan kepala, kemudian aku mengatakan pada Clara tentang rencana Haikal yang ingin melakukan makan malam bersama, sejenis double date. Setelah aku selesai menemaninya dalam seharian ini.
Clara langsung meraih ponselnya lalu menekan nomer seseorang, yang aku yakini pasti dia akan menghubungi Haikal. Dan tak lama berselang, dugaanku ternyata benar, Clara memang menghubungi Haikal dan menanyakan perihal kebenaran tentang double date yang aku katakan.
“Seriusan? Oh gitu? Ya udah, kalo gitu aku liatin dulu. Iya, love you too.” Mereka terdengar begitu manis dan juga sangat lucu, seperti layaknya para remaja yang sedang berpacaran.
Tapi tunggu dulu, bukankah sebelumnya aku juga melakukan hal yang serupa? Apa semua pasangan di muka bumi ini akan bersikap seperti itu kepada pasangannya? Mungkin. Seperti halnya setiap pasangan yang sedang di mabuk cinta pasti akan terlihat berlebihan dan menjadi alay dalam bersikap.
__ADS_1
**
Aku dan Clara kini sudah berada dalam mobil, menikmati malam dengan deru mobil berkecepatan sedang, menuju ke sebuah restoran yang sudah Haikal tentukan. Tempat yang akan menjadi saksi kami dalam melewati hari. Melewati malam ini.
Baru saja aku berhasil memarkirkan mobil, bersiap-siap hendak turun tetapi tiba-tiba saja sebuah mobil masuk dan langsung mengambil tempat di samping mobilku. Siapa lagi orang itu jika bukan Haikal.
Kami bertiga masuk ke dalam restoran itu bersama-sama dan Haikal langsung mengatakan pada salah satu pelayan, jika dia sudah melakukan reservation sebelumnya. Dan benar, pelayan itu langsung membawa kami menuju sebuah meja khusus untuk empat orang.
“Permisi ....” Si pelayan itu lantas membukakan sebotol wine kemudian menuangkannya ke dalam gelas kami masing-masing lalu menyerahkan buku menunya untuk kami. “Saya akan tinggalkan sebentar agar Bapak dan Ibu bisa menentukan pilihan, permisi,” ucapnya sopan dan berlalu pergi.
Belum ada satu kata pun yang keluar di antara mulut kami bertiga. Mata kami masih sibuk membaca buku menu dan memilih hidangan yang akan kami santap hingga akhirnya Jefri datang dan menghampiri.
“Maaf, aku terlambat. Tadi ada sedikit masalah di kantor,” tutur Jefri sembari duduk di sampingku lalu mengecup keningku.
“Jangan khawatir, kami juga baru sampai.” Haikal menyahuti.
“Gimana hari kamu? Menyenangkan?” tanya Jefri menatapku.
“Iya, untung tadi Clara mau aku ajakin ke salon. Kalau semisalkan dia gak mau, paling-paling tadi sore sudah aku antar pulang ke rumahnya,” tuturku.
Kata demi kata mulai keluar dari mulut kami masing-masing, sembari menunggu hidangan yang telah kami pesan. Begitu pula saat menikmati hidangan satu pertanyaan muncul bersahutan setelah selesai memberikan sebuah jawaban. Terangkai menjadi komunikasi dua arah yang sangat sempurna dalam menjalin keakraban satu sama lain.
Semua bahagia, semua bergembira.
“Makasih buat makan malamnya,” ucap Jefri seraya menjabat tangan Haikal dan juga mendekapnya sekilas.
“Aku yang makasih, kalian mau diajak double date. Ternyata asyik juga kalau double date, apalagi sama adik sendiri,” goda Haikal dan mengedipkan sebelah matanya padaku.
Lalu aku memeluk Clara, menempelkan kedua sisi pipi kami secara bergantian untuk berpamitan. “Makasih ya udah nemenin seharian, jangan jera. Nanti aku akan lebih sering merepotkan seperti ini,” tambah Clara.
Aku tertawa kecil lalu menjawab, “Aku tidak keberatan.”
Kemudian kami berpisah, masuk ke dalam mobil masing-masing dan satu per satu mobil kami bergantian keluar dari wilayah parkir dari restoran ini.
***
Aku dan Jefri langsung menuju pulang ke rumah kami setelah selesai menjemput Nathan dan juga Naila dari rumah mertuaku. Mereka berdua dengan lelap tertidur dalam car seat-nya tanpa menghiraukan aku dan Jefri yang terus mengobrol menanyakan kegiatan kantornya.
“Gimana kondisi di kantor?” Aku memulai pertanyaan. Sebenarnya aku penasaran dengan masalah apa yang dikatakannya saat baru datang di restoran tadi, hingga membuatnya terlambat.
“Perlahan sudah mulai stabil dan proyek yang Max tawarkan itu memang terbukti mampu mengembalikan asset papah. Tinggal sedikit lagi proyek itu selesai,” jelasnya dengan sesekali menoleh menatapku.
__ADS_1
“Baguslah kalau semuanya baik-baik aja,”
“Gak bisa juga dikatakan kalau semuanya baik-baik aja. Pasti ada suatu masalah, walaupun itu adalah masalah kecil sekalipun.”
Kedua mataku sontak menatap Jefri dengan bingung. “Nanti di rumah aku ceritain,” tambahnya lagi.
Sesampainya di rumah, aku dan Jefri segera membawa Nathan dan Naila dalam dekapan masing-masing. Lalu meletakkannya ke dalam tempat tidurnya. Aku dan Jefri juga tidak lupa untuk mencium mereka, memberikan kecupan tidur untuk kedua anak kami. Lalu sebelum aku keluar dari kamar anakku, tangan ini tidak lupa untuk menekan tombol lampu tidur dan juga menutup pintunya.
Kebetulan, kamar tidur anak kami itu berada di samping kamar kami. Dahulu kamar itu adalah kamar wardrobe yang kami renovasi menjadi kamar tidur mereka. Dan mungkin beberapa tahun lagi, kami juga harus mulai memikirkan untuk membuat kamar tidur baru untuk mereka masing-masing di lantai bawah. Sebab, walaupun mereka berdua kembar, tidak mungkin jika selamanya harus berbagi kamar, bukan?
“Biarkan mereka tidur dengan nyenyak,” bisik Jefri yang lalu melingkarkan tangannya pada pinggangku. Menarik tubuhku dan membawanya menempel pada tubuhnya.
Dengan spontan kedua tanganku juga melingkar pada pundaknya. Mata kami saling menatap, sudah lama rasanya aku tidak melihat dengan jeli kedua bola matanya yang jernih itu. Jemariku sudah bermain di belakang kepalanya, membelai lembut rambut tipisnya di sana.
“Trus, masalah kecil apa yang terjadi di kantor? Yang bisa sampai bikin kamu kepikiran begini?”
Jefri memajukan wajahnya lalu mencuri ciuman pertamanya kali ini. “Memangnya kelihatan banget kalo aku lagi mikirin sesuatu?”
Kepalaku mengangguk sebagai tanda pembenaran atas pertanyaannya itu. “Masa sih?” tanyanya lagi, masih belum begitu yakin.
“Ditambah lagi dengan insting yang aku punya. Tanpa kamu bilang punya masalah pun, aku tahu kalo kamu banyak pikiran. Hanya saja, aku gak bisa nebak masalahnya apa kalau kamu gak cerita. Dan istri kamu ini bukan cenayang ataupun dukun.”
Gelak tawa Jefri tiba-tiba pecah begitu saja, hingga dengan cepat aku harus menutupi mulutnya. Pasalnya, kami masih berdiri di depan pintu kamar buah hati kami. Aku takut mereka berdua akan terbangun jika mendengar tawa ayahnya ini.
Telapak tanganku yang tadinya menutupi mulutnya, perlahan aku lepaskan saat dia kembali menahan tawanya, lalu aku menepuk pundaknya dengan lembut bersamaan dengan delikan mata. “Maaf ... cara berpikir kamu semakin lucu kalau sudah urusan begini,” bisiknya.
Lalu aku melepaskan belitan pelukan kami dan mengatakan padanya bahwa aku ingin mengisi air untuk aku mandi berendam saat ini. “Berdua ya? Sudah lama aku gak pernah gosokin punggung kamu lagi.”
Mataku spontan melotot padanya begitu mendengar bisikan itu, terkejut dengan kemauannya. Namun, Jefri malah membalasnya dengan kekehannya serta kembali menarikku masuk ke dalam dekapannya sambil menghujaniku dengan kecupan bibirnya di segala sisi.
Bersambung ...
——————————
Jangan lupa untuk mendukung karya ini.
Caranya, cukup dengan memberikan boom like serta komen pada setiap episode yang akan diterbitkan.
Jika ingin vote silakan ke judul baru ya, The Hand of Death.
Terima kasih 💋
__ADS_1
@bossytika