Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 169


__ADS_3

Selamat membaca ...


—————


Still Jefri POV.


Sesampainya di rumah sakit, aku meminta Brandy yang memeriksa ke dalam rumah sakit itu. Sedangkan aku hanya menunggu di mobil. Aku merasa ragu untuk turun dan memeriksanya sendiri. Biarlah, cukup Brandy saja yang mewakilkanku.


Aku mencoba menenangkan pikiranku hingga dari kejauhan aku melihat mobil papa yang sedang mencari tempat parkir. Kemudian terlihat mama dan papa yang keluar dari mobil lalu segera menuju ke pintu masuk Unit Gawat Darurat.


Pikiranku kembali kacau. Terkadang sempat terlintas dalam benakku, apa kesalahan apa yang telah aku perbuat hingga masalah datang dalam hidupku bertubi-tubi?


Seakan tidak memberiku jeda untuk bernapas, walaupun hanya sesaat. Hingga tiba-tiba ponselku berdering.


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?

__ADS_1


Figure out where we're growin'


🎶


Aku melihat nama MyLove tertera di sana dan aku langsung menerima sambungan telepon itu. Dia menanyakan keberadaanku saat ini, lalu aku mengatakan padanya jika aku sedang berada di salah satu rumah sakit swasta, dikarenakan oleh pak Hardi yang mengalami kecelakaan.


Tika panik di seberang telepon sana. "Trus gimana sekarang keadaannya? Kok bisa kecelakaan, tunggal atau kelalaian? Trus sama siapa kamu di sana? Papa udah kamu–" cercanya terputus.


Segera kusela ucapannya, "Sayang ... sayang! Cooling down. Tanyanya satu-satu dong."


Aku mendengar Tika mengembuskan napasnya, beberapa kali. "Oke, kamu sama siapa di sana?"


Lalu aku menjelaskan pada Tika jika aku pergi ke rumah sakit ini bersama dengan Brandy, tetapi saat ini aku sedang duduk di dalam mobil menunggu informasi dari Brandy. Aku menjelaskan jika aku tidak ingin masuk ke dalam sebab aku yakin pasti ada Paula di sana dan aku malas bertemu dengannya.


Terdengar lagi embusan napas panjang dari seberang sana, mungkin Tika akan cemburu jika aku sampai bertemu dengan wanita itu lagi. Jadi begitu mendengar penjelasanku mungkin ia merasa lega.


Kemudian Tika mengatakan padaku jika beberapa menit yang lalu, ada sebuah panggilan telepon masuk ke ponselnya. Yang mana panggilan itu dari sebuah nomer yang disembunyikan. Atau yang sering disebut dengan unknown number.


Sekarang giliran aku yang panik dalam sekejap. Bukan tanpa alasan, aku menebak pasti telepon itu dari lelaki psycho, Dana. Lalu masalahnya sekarang, aku dan Max belum memberitahukan Tika tentang Dana yang selamat dan kabur saat penangkapannya.


Sialan!!


Setelah itu aku meminta Tika untuk tetap berada di rumah. Juga memberitahukan yang lainnya untuk tidak ke mana-mana. Tapi menurut Tika, mamah dan Shilla sedang pergi dan meninggalkan mereka di rumah dengan anak-anak. Yang mana artinya, Tika di rumah hanya dengan anak-anak dengan bi Mince dan juga Roni, penjaga di rumah.


Selang beberapa saat kemudian Brandy datang dengan membawa beberapa informasi penting. Dia mengatakan bahwa pak Hardi masih dalam proses operasi. Dan di sana sudah ada Paula dengan mamanya dan juga kedua orang tuaku.


"Lu udah ceritain juga tentang Paula ke bokap lu?" sergah Brandy begitu bokongnya berhasil mendarat sempurna di atas jok mobil di balik kemudinya. Aku mengangguk.


"Pantesan tadi di dalam bokap lu santai, trus juga gak kaget liat ibu dan anak itu." Brandy menambahi.


Lalu aku dan Brandy memutuskan untuk kembali ke kantor sebab akan ada meeting penanda tanganan kerja sama bersama perusahaan lain. Aku juga kembali menghubungi papa, mengatakan pada beliau jika aku tidak jadi masuk ke dalam saat di rumah sakit tadi dan beliau memahami itu.


Tidak lupa aku menelpon Max, untuk menceritakan kondisi Tika yang kembali mendspatkan teror telepon, yang aku duga jika Dana lah penerornya. Dan Max memintaku untuk pulang siang ini ke rumah. Dia ingin nenceritakan segalanya pada Tika, tetapi ingin adanya kehadiranku. Aku menyetujuinya.


***

__ADS_1


Selesai meeting, aku langsung mengambil kunci mobilku lalu berpamitan dengan Brandy, memintanya untuk mengurusi kantor hari ini. Termasuk hal-hal lainnya yang diperlukan untuk hari ini. Sebab aku tidak akan kembali lagi ke kantor.


Dalam perjalanan pulang, pikiranku terus melayang. Membayangkan bagaimana nantinya reaksi Tika jika Max memberitahukan itu. Lumayan lama kami menyimpan rahasia ini, berharap Max akan segera menemukan Dana. Tetapi nyatanya, kali ini Max gagal. Lelaki itu mulai berani lagi untuk menghubungi Tika.


Semestinya kemarin saat Max menemui Tika, dia langsung membicarakan masalah ini. Walaupun tidak ada aku, agar Tika tidak panik dan gusar saat kembali menerima panggilan telepon jenis itu. Entahlah, kepalaku semakin sakit berdenyut.


Sesampainya di rumah, aku melihat mobil Max sudah terparkir di depan garasi. Dan ada Roni pula yang sedang menjaga pintu depan. Aku bergegas masuk ke dalam rumah dan mendapati mereka sedang duduk di ruang tengah. Lengkap dengan para krucil.


"Ayo kita makan dulu, habis itu ada yang mau aku omongin sama kalian berdua." Max berdiri dari duduknya lalu melangkah menuju meja makan.


Aku dan Tika berjalan mengikuti Max di belakang dan meninggalkan anak-anak dengan bi Mince. Duduk di kursi masing-masing dan memulai makan siang dengan khitmat. Tidak ada kata ataupun obrolan sekedar basa-basi, hanya ada suara dentingan sendok dan garpu yang beradu dengan piring makan kami.


"Kalian jadi mau balik, pulang ke rumah kalian??" tanya Max sesaat setelah makanan dalam piringnya habis. Ya, aku memerhatikannya sejak awal, bahkan di sela-sela aku mengunyah makananku.


"Iya, tapi begitu urusan di kantor Jefri selesai, iya 'kan, Sayang?" celetuk Tika seraya menoleh padaku dan kujawab dengan anggukan kepalaku. Sedikit dengan helaan napasku yang berat pula.


Max kembali terdiam, meraih gelas minumnya dan meminum beberapa tegukan dari isi gelas itu. Tika juga melakukan hal yang sama begitu isi piringnya telah habis.


Selesai makan Max mengajak aku dan Tika untuk bersantai di halaman belakang. Max menyulut sebatang rokok Marlboro Lights miliknya lalu mengembuskan asapnya ke atas. "Mantan kamu, Dana, dia masih bebas keluyuran di luar sana." Max menatap Tika dengan mata elangnya, tajam.


Tika terperangah membalas tatapan Max. Ia terbelalak terkeju, t tidak percaya dengan apa yang Max katakan tadi. Begitu mendadak dan begitu membuatnya shock tiba-tiba. Sesekali Tika menoleh, menatap padaku. "Kamu udah tahu tentang ini?" lirihnya padaku dengan sebuah genggaman tangannya pada lenganku.


Perlahan aku menganggukkan kepalaku lalu mengatakan hal yang serupa, bahwa beberapa hari yang lalu, Dana sempat menghubungiku. Mengancam serta secara terang-terangan mengatakan padaku jika ia akan merebut Tika lagi dariku.


Max terkejut mendengar itu lalu berdiri dsri duduknya. "Kalau sudah ada ancaman begitu, trus kenapa kamu tetap ngotot mau bawa keluarga kamu keluar dari rumah ini?" hardik Max padaku.


"Aku ingin menjaga mereka dengan caraku, Max. Maaf, tapi aku ingin sebagai lelaki, suami dan sekaligus seorang ayah, aku yang melindungu mereka. Itu tugas aku!" ucapku tak kalah tegas.


Lalu mendadak, Tika beranjak pergi dari duduknya, berlari kecil masuk ke dalam rumah. Aku menatap Max, lalu ikut mengejar Tika yang ternyata langsung naik ke atas dan masuk ke kamar.


Bersambung ...


—————


Jangan lupa love, like, ratting, vote dan kasih komentar yang membangun. Kritik dan saran juga boleh.

__ADS_1


Babay,


#salambucin💋


__ADS_2