
Pagi harinya ...
Aku terbangun dengan kondisi terbaring di sofa yang sama, namun lengkap dengan bantal di kepalaku dan selimut yang menyelimutiku.
Ku edarkan pandanganku ke sekeliling kamar, sepi. Hanya ada Mama yang duduk di samping ranjang Papa sambil berbincang ringan. Ku raih ponselku yang tergeletak di atas meja, ku lihat jamnya.
"Astaga, jam sepuluh!!" pekik ku.
Aku langsung membereskan selimut, melipatnya. Lalu menaruhnya kembali ditempatnya.
"Dul mana, Ma?" tanyaku.
"Dia bilang tadi mau ke kantornya sebentar."
"Loh kok aku gak dibagunin? Kan aku mesti ke kantor hari ini, Ma," sewotku.
Mama malah tertawa, Papa pun juga ikut tertawa. Aku bingung.
"Ada yang lucu, Ma?" tanyaku sambil mengernyitkan alis.
"Tadi Dul pesen, katanya kamu disuruh nunggu aja disini. Jagan kemana-kemana. Mending kamu mandi dulu," sahut Mama.
Aku makin bingung, "Baju kerja aku di mobil, Ma, gimana aku mau mandi?"
Mama masih saja cekikikan.
"Papa gimana keadaannya? Udah baikkan?" tanyaku random.
"U-dah, enakkan," jawab Papa pelan.
"Ya sudah, kamu makan dulu gih. Itu tadi Dul sempet beliin makan buat kamu. Nanti siang Papa udah boleh pulang," jelas Mama sambil menunjuk bungkusan makanan diatas meja.
Aku menoleh, "Iya, Ma."
Aku berjalan menuju kamar mandi, menggosok gigi dan membasuh wajahku. Menyegarkan wajah. Sambil berkaca di cermin di depanku. Kemudian ku sampingkan posisi tubuhku, melihan pantulan perutku, belum blendung, masih rata. Aku jadi penasaran, sudah berapa hari usia kandunganku.
Kemudian aku terkekeh sendiri. Kelakuan ku sangat konyol.
Selesai aku melakukan ritualku dalam kamar mandi, aku segera keluar dan melanjutkan dengan sarapan pagi. Mama dan Papa masih terlihat asik mengobrol. Terkadang Mama cekikikan, saat Papa mulai agak sedikit membaik.
Kembali ku duduk disofa putih khas milikr umah sakut itu, meraih sebungkus makanan dari styrofoam putih yang tergeletak disana. Ku buka, ternyata isinya bubur.
"Ini beneran Dul yang beli, Ma?" tanyaku pada Mama.
"Iya, sayang. Kenapa?" sahut Mama.
"Mama tadi makan ini juga?" tanyaku lagi, heran.
"Iya, makan itu kok, kenapa?" sahut Mama.
Aku heran, "Mama sarapan bubur?"
Mama mengernyitkan dahinya, berdiri lalu mendekatiku, menengok isi styrofoam yang ada didepanku, "Mama makan nasi pecel tadi. Kata Dul itu punya kamu, jadi gak Mama buka."
__ADS_1
"Ya udah deh, Ma. Ga papa. Aku makan ini," pasrahku.
Mama tersenyum, kemudian kembali duduk ke samping Papa. Sedangkan aku, dengan pasrah sarapan bubur pagi ini.
Baru setengah habis ku makan buburnya, perutku sudah berasa melilit dan seakan sudah tidak sanggup lagi untuk menghabiskannya.
Aku meghela nafas, duduk mundur dan bersandar pada sofa. Berkali-kali aku menghirup udara di sekitar, kemudian ku hembuskan.
Tak lama berselang, pintu kamar terbuka, Jefri masuk dengan baju kerjanya, "Hai, baru bangun?" ucapnya santai.
"Iya," sahutku.
Jefri berjalan mendekati Papa, menanyakan kondisinya, berbincang-bincang santai dengan Mama. Aku membersihkan bekas makanku. Lalu bergabung mengobrol dengan mereka.
Tepat jam dua belas siang, Dokter Farhat memasuki ruang inap ini. Memeriksa keadaan Papa, sembari memberikan beberapa penjelasan yang ditanyakan oleh Jefri dan Papa sendiri.
Kini Papa mertua ku sudah bisa bicara dengan normal kembali, hanya saja terkadang nafasnya masih tersengal-sengal. Papa juga sudah bisa duduk kembali tanpa di bantu. Rona wajahnya sudah seperti semula, tidak lagi pucat pasi seperti sebelumnya.
"Jadi nanti setelah meninggalkan rumah sakit, tolong bantu Pak Atta untuk mengelola pola makan serta pola istirahatnya. Jangan terlalu stress," jelas Dokter Farhat.
"Iya, Dok. Trus buat jadwal check-up nya gimana?" tanya Jefri.
"Nanti saya coba kirimkan ke email, Pak Jefri ya?"
"Oh, iya." Jefri menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu kami sudah boleh beberes, Dok?" tanya Mama.
"Iya boleh, nanti saya kirimkan suster ke sini untuk mengantarkan obat-obatannya. Mari saya permisi." Dokter Farhat berpamitan dan langsung meninggalkan ruangan.
Jefri POV.
Tokk..
Tokk..
"Kakeeeeeeekkkkk!!" teriak Jordy memasuki kamar, berlari menuju ranjang Kakeknya.
"Haii...," jawab Papa.
"Kakek hari ini pulang kan?" tanya Jordy senang.
"Iya dong, kan kamu kesini buat jemput Kakek," sahut Papa.
Jordy terlihat senang sambil berdiri di atas kursi disamping ranjang Papa.
Jerry berjalan mendekatiku, "Udah semua diberesin?"
"Udah. Ma, cuman tas itu kan?" tanyaku pada Mama yang membereskan beberapa bantal.
"Iya, tas itu aja, sama bantal ini."
Tika membantu Mama membereskan beberapa barang lainnya, aku dan Jerry segera mengangkat barang-barang itu. Bolak balik menuju mobil. Sampai akhirnya semua sudah beres.
__ADS_1
"Permisi.." sapa seorang perawat memasuki kamar, kemudian memberikan beberapa bungkus obat, "ini obatnya untuk Pak Atta, semoga cepat sembuh."
Tika menerimakan obat itu, "Makasih mba."
Kemudian kami pun segera meninggalkan rumah sakit, dengan Papa yang ku dorong di kursi roda menuju ke mobil.
๐ถ
Can we just talk? Can we just talk?
Talk about where we're going
Before we get lost, lend me me your thoughts
Can't get what we want without knowing
๐ถ
Ponselku berbunyi, saat Papa sudah memasuki mobil Jerry dan aku mengembalikan kursi roda ke lobby rumah sakit. Ku rogoh saku celanaku. Unknown number, aku mengernyitkan dahiku. Siapa ini? Batinku.
"Hallo. Iya, oh kenapa Pablo?" Ternyata telpon dari Pablo, "serius?? Ya udah ntar gua kesana. Sejam lagi. Oke, bye."
Ku putuskan sambungan teleponnya. Pablo mengabariku, bahwa anaknya, Paul menghilang. Aku segera kembali ke mobilku. Sedangkan Jerry, Jordy, Papa dan Mama sudah pergi duluan menuju pulang ke rumah. Lalu Tika menungguku di dalam mobilku.
"Udah?" tanya Tika saatku memasuki mobil.
"Iya, udah."
Langsung ku injak pedal gas, bukan mengarah pulang ke rumah orangtuaku, melainkan menuju ke rumah Pablo.
Sudah lama memang kami tidak lagi berhubungan dengan Pablo. Dan aku pun memang tidak mau lagi berhubungan dengannya. Bagiku semuanya sudah cukup, aku ingin hidup bahagia dengan Tika, begitu pun seharusnya Pablo dan Paula, bahagia bersama dengan anak mereka, Paul.
"Loh, arah rumah Papa kan..."
"Kita ke rumah Pablo, Paul hilang," sahutku menyela pembicaraan Tika, "ga papa kan kita kesana?" tanyaku sambil sekilas menoleh padanya.
Tika terlihat bingung, "Bukannya kamu bilang gak mau tau tentang mereka lagi?"
"Tadi Pablo nelpon, ga papa ya? Sebentar aja."
Ku lihat Tika mengangguk dan tersenyum tipis, tanpa menjawab sepatah katapun. Aku kembali fokus kepada setirku.
---------------------------
Haii semuanya??
Aku kembali lagi ๐๐
Boleh kah jika kali ini kalian membantuku untuk vote poin lagi??
Cukup sampai aku masuk ke ranking top 10 ๐
Aku akan kembali update nanti malam, jika tidak tengah malam, mungkin saat menjelang subuh ๐ค
__ADS_1
Itupun jika kalian berani menghabiskan poin kalian untuk memberi ku vote ๐