
Jangan lupa like dan tinggalkan komen kalian ...
Bergabunglah denganku dalam Grup Chat yang telah disediakan pada tombol di depan beranda judul ini ...
Terima kasih ...
Selamat membaca ...
—————
Jefri POV.
Tika menciiumku tepat di depan semua orang, bahkan dengan lembutnya ia menyesapku. Mengacuhkan semua mata yang memerhatikan, karena kami sekarang adalah pusat perhatian mereka. Dia mengalungkan kedua tangannya pada pundakku. Sungguh, awalnya aku tertegun mendapatkan responnya yang seperti ini. Namun, aku tidak pandai dalam mengancuhkan perlakuannya yang seperti ini padaku. Apalagi di depan semua orang. Karena bagiku, sikapnya yang seperti ini menjadi sebuah tanda, bahwa ia sungguh-sungguh mencintaku.
Aku membalas kecupannya, mengikuti semua permainannya. Sejenak aku acuhkan para sorakan bahkan siulan yang menjadi saksi cinta kami. Lalu ia melepaskan bibirnya, menempelkan keningnya pada keningku. Dengan napas yang tersengal ia berkata, "Makasih buat semuanya," lirihnya yang masih bisa aku dengar di tengah suasana yang begitu riuh.
Kemudian aku melepaskan tautan kening kami, kutangkupkan kedua telapak tanganku pada pipinya. Lalu dengan masing-masing ibu jariku, aku menghapus sisa air mata yang membasahi pipinya. "Untung tahan air, kalo enggak bisa luntur itu make-up-nya," godaku seraya tersenyum menatapnya.
Sekali lagi aku mengecup keningnya sebelum akhirnya kami kembali menyadari untuk bergabung dengan suasana yang telah kami ciptakan. Aku mengajak Tika untuk meniup lilinnya serta memotong kue tersebut. Lalu memberikan sebagian potongannya pada orangtua kami. Setelah serangkaian acara itu selesai, barulah aku dan Tika bisa bernapas lega. Membiarkan para undangan untuk menikmati semua hidangan yang sudah aku siapkan.
"Makasih ya, aku gak tahu lagi harus ngomong apa. Kamu sempurna di mata aku," tutur Tika saat menikmati waktu denganku.
Aku hanya tersenyum kemudian mengecup bibir merahnya sekilas. Sebelum akhirnya Lisa dan Alex mengganggu waktu berdua kami saat ini.
"Dih, mesra-mesraan mulu. Entaran aja langsung naik ranjang," protes Lisa saat mendekati kami.
Aku semakin mengeratkan dekapan menyampingku pada Tika. "Makanya cepet nikah, jangan ditunda lagi." Aku membalas ucapannya yang membuat Lisa bermanja pada Alex, meminta untuk dibela.
Namun, Alex hanya tersenyum dan membawa Lisa dalam dekapannya. Lalu mereka mengatakan jika di dapur banyak sekali kue yang masih harus ditiup oleh Tika, sebab kue itu dibawa langsung oleh beberapa para undangan yang ada. Dan yang terpenting, Lisa sudah mengambil gambar untuk semua bentuk kue itu.
"Mau sekarang?" tawar Tika untuk melakukan itu, aku mengangguk menyetujuinya.
Sekali lagi seisi rumah ini menjadi meriah akibat sebuah lagu Happy Birthday yang semua lantunkan untuk mengiringi Tika meniup satu per satu kue yang ada. Dengan tak lupa mengucapkan make a wish-nya sebelum meniupkan napasnya.
Aku bahagia melihatnya tersenyum lebar, aku senang melihat banyaknya kue yang mereka berikan untuk Tika dan untuk pernikahan kami. Tak lupa beberapa kado yang sengaja mereka berikan langsung ke tangan kami berdua serta ucapan yang akan menjadi doa dalam perjalanan pernikahan kami.
Setelah itu kami menghampiri kedua anak kami yang masih tertidur dengan lelap. Kondisi mereka sehat sampai saat ini. Bahkan tubuh mereka kini menjadi gempal, akibat asi eksklusif yang selalu Tika berikan padanya. Sekali lagi hatiku berbisik, bukan dia yang beruntung, tapi aku yang beruntung memilikinya. Dia merawat kedua buah hati kami dengan segenap jiwa raganya.
Bahkan saat ia harus bangun di tengah malam, hanya untuk mengecek kedua anaknya, tidak pernah sekalipun ia mengeluh. Aku yang sepantasnya bersyukur memilihnya menjadi pendamping hidupku. Dan tidak salah pilihanku untuk mengunci hatiku hanya untuknya.
Semua para tamu undangan begitu bergembira, saling menyapa dan saling bercengkrama. Tak lupa mereka meminta beberapa kali untuk mengambil gambar bersama Tika ataupun bersama kami sekeluarga. Untunglah aku menyewa jasa seorang fotografer untuk acara ini dan itu pun aku dapatkan dari kantornya yang dahulu. Sebab beberapa temannya di kantornya itu juga aku undang untuk turut berhadir di sini.
Kami berempat berkeliling di antara puluhan manusia itu, menyapa mereka semua, mengatakan ucapan terima kasihku karena sudah bersedia untuk berhadir dalam acara ini. Walaupun pemberitahuannya baru tadi pagi. Ya, aku mengundang mereka semua serba dengan kondisi yang mendadak. Walaupun ada beberapa yang tidak bisa ikut berhadir.
Hingga waktu menunjukkan pukul sebelas malam, mereka yang membawa serta anaknya langsung meminta izin untuk berpamitan. Begitu pula Max dan Shilla.
__ADS_1
"Kami pulang duluan ya, kalian di sini aja gak apa-apa. Anak-anak biar kami yang handle," ucap mamah padaku dan Tika.
"Jangan, Mah, biar sama kami aja di sini. Gak apa-apa kok," sanggah Tika yang saat itu menggendong Naila.
"Udah jangan bandel. Dengerin apa kata mamah." Max ikut menimpali. Aku tidak bisa berkata-kata. Apalagi saat Shilla mengatakan akan menjaga buah hati kami dengan baik, sebagai balasan waktu itu.
"Udah, 'kan biar impas. Jadi gak ada istilah gak enakkan lagi," tukasnya tak mau kalah. Yang mana akhirnya semua itu membuat aku benar-benar tidak bisa mengatakan apa-apa. Meskipun aku dan Tika bersikeras, mereka pasti akan melebihi kemauan kami.
Akhirnya mamah kembali menyuruh kami untuk menikmati semua acara ini hingga besok pagi. Bahkan mamah juga menyuruh kami berdua kembali ke rumah besok pagi saja, sebab malam ini mereka akan mengunci pagar rumah agar kami berdua tidak bisa pulang. Entah apa maksud mamah itu, aku hanya mengangguk setuju saja.
Tak lama setelah mereka pulang dan menghilang di ujung jalan, tiba-tiba sebuah mobil mengarah menuju ke rumah kami yang mana ternyata itu adalah Haikal. Ia turun dari mobilnya beserta sebuah bingkisan besar yang ia sodorkan pada kami berdua.
"Apa ini?" tanya Tika. Yang dijawab hanya dengan sebuah senyuman kecil dari Haikal. Kemudian dia kembali menyodorkan sebuah kotak kecil padaku.
"Kado untuk kalian masing-masing. Open it!" Haikal menyuruh kami berdua untuk membuka kadoa darinya.
Dimulai dari kado besar. Tika membuka pembungkus kertas itu dengan begitu bersemangat. Lalu membuang pembungkusnya ke sembarang arah, sebab kami masih berdiri di depan teras rumah. Dan tahukah kalian apa isi kado itu? Ternyata sebuah lemari buku yang ternyata dahulu pernah Tika inginkan. Namun, urung untuk diberikan.
"Dulu kamu kepingin itu 'kan? Inget gak?" ucap Haikal yang kemudian dipeluk oleh adiknya itu.
Kemudian Haikal menceritakan sekilas padaku, tentang lemari set yang masih belum terangkai itu. Ujar Haikal, saat Tika remaja, dia menginginkan memiliki sebuah lemari buku yang multifungsi. Bisa menjadi penyimpanan buku-bukunya dan bisa pula menjadi sebuah meja belajar untuknya. Dan dulu mamah melarang Haikal untuk memberikannya pada Tika. Karena kamarnya sudah terlalu penuh katanya.
Aku melihat Tika yang begitu senang mendapatkan hadiah itu dari kakaknya, membuatku juga merasakan kebahagiaannya. Lalu kami berpindah untuk membuka hadiah yang Haikal berikan di tanganku. Setelah aku membuka penutup kotak itu, aku terkejut menemukan di dalamnya ada sebuah wadah bulat, berisi beberapa obat tablet berwarna putih. Aku mengernyitkan dahiku. "Apa ini?" tanyaku pada Haikal.
Aku hanya tertawa melihat tingkah keduanya.
Malam semakin larut, hawa udara yang tadinya terasa sejuk, kini berubah menjadi dingin yang menusuk ke dalam tulang. Sebagian tamu undangan satu per satu telah berpamitan untuk segera pulang ke rumah mereka masing-masing. Meninggalkan canda tawa mereka yang sebelumnya sempat menggema mengisi dalam rumah kami ini. Hingga yang terakhir, tersisa Alex, Lisa, Brandy, Haikal dan juga Nadine.
Kami masih terhanyut dalam obrolan santai yang ada. Setelah sebelumnya aku mengenalkan Nadine dengan Tika. Mereka berdua langsung terlihat akrab, begitu pula dengan yang lainnya. Setelah waktu menunjukkan pukul dua dini hari, barulah mereka semua dengan serentak mengundurkan diri untuk segera pulang. Pasalnya, kondisi mata kami semua sudah di ambang batas mengantuk. Mungkin hanya tersisa beberapa watt saja.
Setelah semuanya pulang dan kami berdua mengantarkan mereka hingga ke halaman depan rumah, tiba-tiba aku melihat istriku yang meraih heels-nya lalu melepaskannya di atas rerumputan halaman rumah. Dan tanpa menunggu izinnya segera saja aku mengangkat tubuhnya bak kuli panggul yang mengangkat karung beras di atas pundakku lalu membawanya ke dalam rumah.
Awalnya Tika sempat menjerit terkejut tetapi setelah itu ia malah tertawa cekikikan. Kami mengunci pintu rumah, sebab kami berdua telah sepakat jika malam ini kami akan menginap di sini. Karena mamah juga menyuruh kami seperti itu.
***
Aku sedang duduk di atas tempat tidur dengan sebuah buku novel karya Tere Liye yang berjudul Pulang. Ya, sudah berbulan-bulan aku membaca buku ini tapi tidak pernah tamat. Bukannya tidak habis-habis lembaran kertas yang tersaji. Hanya saja aku yang tidak memiliki banyak cukup waktu untuk membacanya.
Sambil membaca kembali lanjutan dari pembatas buku yang aku gunakan, aku menunggu istriku yang masih membersihkan dirinya di dalam kamar mandi. Sebab sebelumnya aku sudah melakukan hal yang sama itu. Cukup lama aku menunggunya, hingga tak tertasa sudah lima lembar yang tergeser untuk aku baca.
Aku terhanyut akan rangkaian kata demi kata yang mampu menghipnotis jiwaku. Begitu natural dan begitu menggebu, aku menyukai caranya mendeskripsikan sebuah rasa. Cara penulisannya bahkan setiap alur yang tersaji begitu terasa nyata. Hingga akhirnya sebuah teguran mengalihkan konsentrasiku.
"Ehem!!"
Aku menoleh, mendongakkan wajahku lalu mataku seakan dimanjakan oleh tampilan istriku sendiri yang berdiri di ambang pintu kamar mandi. Aku terkesima melihatnya menggunakan selembar lingeriie yang begitu seksi. Sangat pas pada tubuhnya. Ditambah lagi sepertinya aku mengenali pakaian itu.
__ADS_1
Terdiam sejenak dengan mulutku yang menganga begitu lebar, sambil mengingat kembali, mengenali yang dikenakan oleh Tika di sana. Beberapa detik kemudian aku mengingatnya. Benar, lingeriie itu adalah salah satu pakaian yang dulu pernah ia kenakan saat menggodaku. Saat kami tidak memikili hubungan apa pun, tetapi hatiku mulai tertarik pada pribadinya yang menarik.
"Do you want me?" lirihnya begitu menggoda dengan tatapan matanya yang lembut serta bibir bawahnya yang ia gigit sebagian.
Sebuah desiran panas terasa mengalir tiba-tiba dalam tubuhku. Membuat tanganku dengan spontan menutup buku novel tadi tanpa memerhatikan pembatas bukunya lagi. Lalu menjatuhkan buku itu ke lantai sebab tanganku terlepas saat meletakannya pada nakas tanpa melihat arah tanganku.
Aku menutup mulutku sambil berusaha menelan salivaku. Jujur saja, aku selalu tergoda jika melihat istriku sendiri dalam keadaan seperti ini. Walaupun beberapa bagian pada tubuhnya masih terlihat warna merah ruam tanda kepemilikan yang aku berikan padanya. Tetapi tetap saja tidak bisa menghilangkan gairahku yang menggelora saat ini.
Perlahan Tika berjalan mendekatiku, naik ke atas tempat tidur lalu merangkak menghampiriku. Masih dengan posisi kucing berjalannya, dengan nakal ia mendekatkan bibirnya di telingaku lalu mengatakan, "I want to be satisfied," desisnya menggoda imanku.
Tanpa persiapan aku menghirup napas panjang lalu langsung mengangkat tubuhnya untuk berada di atas pangkuanku. Menikmati segala yang ada di tubuhnya. Seketika rasa kantuk yang tadinya membelenggu, membuatku kembali on fire. Begitu pula dengan rasa letih yang tadinya sempat menghampiriku, menjadikan aku bersemangat untuk mengulang setiap kemesraan kami berdua. Mencoba berbagai posisi yang kami inginkan sebelumnya.
Malam yang tadinya terasa dingin hingga menusuk ke tulang, kini telah berubah menjadi hawa panas akan pencari kenikmatan untuk kami berdua. Suara desahan yang terlontar bebas dari mulut kami ini, seakan menjadi janji atas kehidupan kami di masa yang mendatang. Cecapan, cengkeraman bahkan ciuman seakan menjadi bukti bahwa aku begitu mencintainya. Kami saling mencintai. Sekuat tenaga aku akan memberikan kebahagian untuknya, meskipun banyak halangan dan rintangan nantinya yang akan menghadang.
Deru napas yang tersengal kini kembali terdengar, di saat kami berdua sudah tegeletak lunglai setelah pergumulan panjang yang menyatukan tetesan keringat kami. Detak jantung yang tadinya berdegup tak karuan kini perlahan kembali berdetak dengan normal. Desiran kenikmatan dunia memberikan bekas pada sekujur tubuh kami berdua.
Di penghujung kegelapan langit, aku merengkuh tubuhnya. Membawanya masuk ke dalam kehangatan yang akan selalu aku berikan padanya, hingga akhir waktu.
***
Sinar mentari pagi, malu-malu masuk melalui celah gorden dinding di kamar. Memberikan seberkas cahaya terangnya untuk menggoda mataku agar terbuka. Tanganku mencoba merabaa sisi tempat tidurku, mencari keberadaan pujaan hatiku yang sudah tidak ada di tempatnya lagi. Membuat aku terkejut dan terpaksa mengerjabkan mata berkali-kali.
Aku bangkit dari tidurku dan duduk lalu menyandarkan punggungku pada kepala ranjang. Tanganku langsung memijat bagian pelipis mataku, kepalaku tiba-tiba terasa berdenyut pusing. Mungkin karena wine yang tadi malam sempat aku minum beberapa gelas, di tengah acara.
Sejenak aku mencoba mengambil napas sambil memejamkan kedua mataku. Berharap rasa pusing di kepalaku segera berlalu. Tapi ternyata aku keliru, bukan pusingku yang hilang malah kilas balik adegan tadi malam yang muncul, membuat kedua sudut bibirku tertarik melengkung dengan sempurna.
Perlahan aku memaksakan tubuhku untuk bangkit dari tempat tidur. Mengenakan celana panjangku lalu turun ke lantai bawah, mencari istriku. Baru setengah anak tangga yang aku lewati, telingaku sudah bisa mendengar senandung suaranya. Kemudian hidungku sudah bisa menghirup aroma gurih dari masakannya. Aku menoleh ke arah dapur dan benar saja, dia sedang memasak di sana.
Diam-diam dengan perlahan aku menuruni tangga kemudian berjalan mendekatinya. Lalu melingkarkan kedua tanganku pada pinggangnya dan mengecup kepalanya. "Pagi, Sayang ...."
Tika sedikit terkejut tetapi kembali stabil setelah aku menyematkan kepalaku di antara pundak dan lehernya. "Pagi ... kamu mau aku bikinin kopi?" lirihnya. Aku menggelengkan kepalaku pelan. "Trus maunya apa?" timpalnya lagi.
"Aku maunya kamu," rengekku dengan manja.
Dia tertawa geli sambil membalikkan omelet-nya dari wajan ke atas sebuah piring yang sudah terisi nasi goreng di sana. Lalu mematikan kompornya dan segera berbalik menghadapku. Kedua tangannya ia kalungkan padaku. Mata kami saling menatap lalu ia mengecup bibirku kilas. "Kamu hari ini gak kerja?" tanyanya sambil menyelipkan jemarinya ke dalam rambut di bagian belakang kepalaku.
Lagi-lagi aku menggelengkan kepalaku untuk menjawab pertanyaannya. "Kenapa?" tanyanya lagi.
"Udah kesiangan, jadi hari ini meliburkan diri aja. Lagian kamu gak bangunin aku sih," jawabku dengan manja.
"Aku sengaja gak mau bangunin, biar kamu istirahat. Soalnya kamu tidurnya ngorok tadi, pasti capek 'kan?" tuturnya membuatku tersenyum lagi.
Kemudian setelah itu dia mengajakku untuk sarapan. Bukan di meja makan ataupun di meja kitchen, melainkan di sofa samping rumah. Yang berhadapan langsung dengan kolam renang serta taman kecil kami. Sambil sesekali mencumbunya saat kami duduk di sana.
Bersambung ...
__ADS_1