
Happy fasting ...
—————
Still Alex POV.
Aku terus saja berada dekat Lisa. Bahkan beberaoa kali kedua orangtuaku ikut datang menjenguk Lisa serta membawakan pakaian bersih untukku. Bahkan aku juga berkali-kali melihat mamaku menangis melihat kondisi Lisa saat ini.
Seperti siang ini yang akhirnya mereka berdua kembali datang menjenguk. Yang mana akhirnya mereka berdua bisa bertemu dengan santai walaupun bukan di situasi yang menyenangkan. Tapu setidaknya keluargaku dan keluaraga Lisa bisa saling bertemu.
Aku sengaja memilih keluar dari kamar ruangan Lisa. Lalu duduk pada kursi yang ada di depannya. Memandangi pemandangan taman buatan yang sengaja ada di tengah-tengah ruangan lantai dasar.
Tiba-tiba Haikal ikut duduk di sampingku saat aku sedang mengembuskan napasku. Semua yang terjadi padaku terasa berat. Sangat berat.
Aku duduk dengan begitu banyak masalah terjadi.
"Hei," sapa Haikal.
Aku menoleh dan menjawab sapaannya, "Hei."
"Kenapa malah di sini? Di dalam banyak orang ya?"
"Iya. Kal ... makasih yaa? Mungkin kalau gak ada kalian, malam itu Lisa pasti udah—"
"Lex, Lisa sudah kami anggap sebagai salah satu anggota keluarga kami. Di setiap moment penting Tika, dia selalu ada." Haikal menyela pembicaraanku.
Aku hanya biaa mengangguk tipis. Kemudian aku menanyakan kabar Tika dan bagaimana kedua anak kembarnya. Haikal mengatakan semuanya baik-baik saja, bahkan lusa si kembar sudah boleh dibawa pulang.
"Syukurlah mereka baik-baik aja." Dalam hati aku ingin sekali menanyakan, mengapa Tika tidak menjenguk Lisa, apa Tika tahu kondisi Lisa yang seperti ini?
Memang Lisa adalah sumber masalah itu, tetapi bukankah Lisa juga butuh dukungan?
Entahlah, aku tidak mau terlalu memikirkan semua itu.
—————
Haikal POV.
Setelah memeriksa kondisi Lisa dan duduk sebentar dengan Alex, aku kemudian memilih untuk kembali ke ruang kerjaku. Aku harus memberitahukan Max dan Tika kalau Lisa sudah sadar.
Aku bergegas menuju ruang kerjaku, sebab aku meninggalkan ponselku di sana. Saat bekerja aku paling tidak bisa membawa ponselku. Karena itu akan memecahkan cara kinerja otak dalam berpikir.
Baru saja jemariku memegang kenop pintu ruangan kerjaku, tiba-tiba seseorang memanggil namaku.
"Kal ... Haikal!!" Aku menoleh. Ternyata Ranti yang memanggilku.
Dia berlari kecil menghampiriku dan dengan napasnya yang terengah, "Ini laporan terakhir si kembar."
"Oh iya, terima kasih ya." Aku menerima dokumen itu lalu saat aku sudah mendorong pintu ruanganku tiba-tiba Ranti menggenggam pergelangan tanganku. Aku menoleh kembali melihat genggaman tanganku lalu menatapnya. Seolah menanyakan apa masih ada yang lainnya yang perlu kami bicarakan.
"Em, gak apa-apa. Gak jadi." Ranti kembali melepaskan genggaman tangannya kemudian berlalu, pergi dari hadapanku.
Aku yang melihatnya seperti itu merasa ada yang aneh dengan sikapnya. Tetapi cepat-cepat aku singkirkan pemikiranku itu. Sebab tidak ada gunanya bagiku.
Kembali ku dorong pintu ruang kerjaku dan segera masuk. Melangkah menuju kursiku dan mendaratkan bokongku pada tempat empuk itu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak menduduki tempat ini.
__ADS_1
Akhir-akhir ini kesibukan di rumah sakit ini memang semakin meningkat. Apa lagi setelah kejadian Lisa yang di culik. Yang mana akhirnya membuat Tika harus mendapatkan luka tembak dan timah panas dalam tubuhnya sekaligus mengharuskan dia untuk melakukan operasi melahirkan secara darurat. Dan sederet kejadian menyedihkan lainnya.
Lalu melihat Lisa yang berniat untuk bunuh diri, kemudian koma dan kini sadar, semakin membuat aku mengerti akan satu hal. Rasa bersalah. Apa Lisa sudah merasakan rasa bersalahnya?
Aku juga tidak bisa menyalahkan Lisa sepenuhnya, tetapi juga tidak bisa untuk tidak kesal padanya. Tapi setidaknya, mereka semua baik-baik saja. Walaupun jiwa mereka terluka parah, aku dapat membantu dengan menyembuhkan raga mereka.
Aku menghela napas, kemudian perlahan membuka dokumen yang tadi Ranti berikan padaku. Membacanya dengan teliti satu per satu. Di sana tertulis jelas jika salah satu dari mereka mengidap MSUD (Mapple Syrup Urine Disease) atau penyakit metabolik langka.
Penyakit kelainan metabolik ini membuat para pengidapnya tidak mampu mencerna protein tertentu. Jika terdeteksi sejak dini, pengidapnya bisa hidup sehat sampai dewasa meski harus menjalani pengobatan dan menghindari protein tertentu seumur hidup. Namun dalam banyak kasus, penyakit ini terdeteksi setelah pasien mengalami 'keracunan' protein yang oleh tubuhnya tidak bisa dicerna.
Aku terkejut melihat laporan ini. Merasa tidak percaya dengan apa yang aku baca. Sebab penyakit ini sangat jarang aku temui. Apa lagi di lingkungan rumah sakit ini.
Kulupakan niatku untuk menghubungi Max dan Tika. Dengan dokumen itu, aku segera berdiri dan kembali pergi dari ruanganku menuju ke ruangan dokter Samuel. Dokter khusus yang menangani kedua keponakan baruku.
Tokk tokk!
Aku mengetuk pintu ruangan dokter Samuel begitu melihatnya sekilas ada di dalam ruangannya dari celah-celah tirai yang terbuka.
"Masuk ...," sahutnya dari dalam.
Aku pun meraih kenop pintunya lalu mendorongnya agar terbuka. "Maaf, bisa saya ganggu sebentar?" Aku langsung meminta waktunya untuk berbicara serius.
"Oh iya, tentu. Silahkan, Dok! Masuk ...," sahutnya ramah memperbolehkanku untuk masuk ke dalam ruangannya.
Dia juga mempersilakanku untuk duduk di kursi di deoan meja kerjanya, bukan di sofa. Aku menurutinya. Dan tanpa basa-basi lagi, aku langsung membuka dokumen yang aku bawa dan memintanya untuk menjelaskan padaku dari hasil yang ia dapatkan.
"Beneran ini penyakit Mapple Syrup Urine Disease? Gak salah?" tanyaku menggebu. Sebab rasanya adikku, Tika, dia tidak memiliki penyakit apapun yang serius, yang menempel pada tubuhnya. Sedangkan Mapple Syrup Urine Disease adalah penyakit bawaan. Apa mungkin Jefri yang membawa penyakit itu?
"Itu hanya dugaan saja, oleh karena itu, mereka masih harus menjalani satu kali tes lagi. Dan aku sudah menyiapkan semuanya. Dua hari lagi kita akan melakukan tes lanjutan pada anak itu." Sam mencoba menjelaskan kembali.
"Tetap keduanya, aku tidak berani menjamin hanya salah satunya, sebab mereka tersimpan dalam perut yang sama. Hanya berbeda dalam waktu lahir saja." Sam terus menjelaskan padaku, sedangkan otakku mencoba mencerna semuanya. "Tenang, Kal. Bisa jadi aku yang salah, tapi aku tidak mau mengambil resiko. Lagi pula ini keluargamu."
Napasku mulai tidak beraturan. Mendengar kabar ini sungguh membuat kakiku serasa melemas. Setelah memastikan kembali jadwal tes itu, aku akhinya kembali menuju ruangan kerjaku. Lalu meminta seorang perawat untuk memberitahukan pada office boy untuk membuatkanku secangkir coklat hangat. Aku butuh tenang.
Kusandarkan tubuhku pada kursi malasku yang empuk ini. Lalu kupejamkan mataku sebentar. Sambil memijat tipis bagian pelipis mataku. Rasanya masalah selalu datang silih berganti hingga aku tidak memiliki kesempatan yang banyak untuk bernapas.
Seketika aku kembali teringat akan sebuah pesan mamah tentang kebahagiaan. Yang mana aku selalu berusaha untuk membantu dan membahagiakan keluarga-keluarga pasien di rumah sakit ini. Yang tanpa aku sadari, aku lupa membahagiakan diriku sendiri. Membahagiakan keluargaku sendiri.
Lantas mengapa saat ini aku malah merasa jika aku dapat merenggut kebahagiaan Tika dan Jefri begitu mendapat kabar barusan. Semoga saja semuanya hanya salah diagnosa. Semoga kedua keponakanku itu bisa hidup dengan sehat dan bahagia.
Tokk tokk tokk!
Suara pintu ruang kerjaku. 'Pasti coklat panasku,' batinku.
"Masuk!" ucapku sambil membenarkan posisi dudukku.
Aku terperangah begitu mendapati sosok Clara yang berdiri di ambang pintu dengan senyumannya yang aku rindukan. "Hei." Aku berdiri dan langsung melangkah menghampirinya.
Di tangannya ada secangkir cokelat panas dan sebuah bungkusan paper bag yang ia peluk dengan tangannya yang satu lagi.
"Yang ini pasti buat aku," ucapku sambil merebut cangkir coklat panas itu dari tangannya. Lalu aku sempat menarik bagian atas dari paper bag yang terbuka itu, untuk mengintip apa isinya.
Dengan cepat ia menarik kembali, "Duduk dulu," tegur Clara padaku yang sontak membuatku cengengesan.
Kami melangkah bersama menuju ke meja kerjaku. Di sana baru lah Clara mengeluarkan isi dari paper bag itu. Ternyata berbagai macam menu makanan.
__ADS_1
"Kamu belum makan 'kan?" tanyanya seraya menoleh padaku sekilas, yang masih berdiri di sampingnya. Aku hanya tersenyum dan menggelengkan kepalaku pelan.
"Good. Ayo kita makan," ucap Clara lagi, dia bersemangat sambil membuka satu per satu bungkusan yang ia bawa.
"Jadi ceritanya kali ini makan siang bareng nih?" godaku padanya.
"Udah deh jangan cerewet." Clara protes membuatku semakin senang.
Sambil memerhatikannya yang menyiapkan semua makanan yang dibawanya itu, perlahan aku mendekatkan tubuhku lalu mengecup pipinya. Yang sontak membuatnya terkejut dan menarik pipinya lalu menoleh padaku. Membuat jarak antara wajahku dengan wajahnya yang hanya sejengkal, saling menatap.
Aku tersepsona eh terpesona maksudnya dengan wajahnya. Semakin hari dia semakin cantik. Dan semakin malu-malu. Berbeda dengan wanita lain yang mungkin akan semakin biasa saja jika sudah di lamar.
Tapi tidak dengan Clara. Selain malu-malu, wajahnya juga lebih sering bersemu merah jika sedang aku goda. Seperti saat ini. Bersemu merah dan salah tingkah. Aku terkekeh lalu menarik kembali tubuhku. Beranjak menuju kursi kerjaku. Dan Clara kembali menyiapkan makanan itu.
"Kamu beli di mana ini?" tanyaku saat aku kembali memasukkan sebuah potongan ayam goreng tepung ke mulutku.
"Di deket kantor aku."
"Sering makan di sana?" tanyaku lagi sambil sekilas meliriknya.
"Dulu sering, tapi sekarang udah jarang."
"Loh, kenapa?"
"Aku sekarang makan siang lebih sering dalam ruangan."
"Kenapa?" Aku semakin bingung dengan ucapannya.
"Takut," jawabnya semakin singkat.
"Takut kenapa?" Aku mulai panik, meletakkan rice bowl di tanganku lalu menatapnya dengan intens.
"Takut kalo ketemu cowo yang lebih ganteng di warung, ntar aku kecantol." Clara menjawab dengan wajah cuek dan terus saja melahap makanan yang ada di hadapannya. Tanpa melihatku.
'Siyal,' batinku seraya terkekeh.
***
Selesai makan siang. Suara pintu ruangan kerjaku diketuk kembali berbunyi.
Tokk tokk tokk!
Aku segera berdiri untuk membukakan pintunya. Kali ini yang mengetuk pintuku bukan wanita cantik seperti Clara, melainkan seorang perawat lelaki. Dia mengatakan bahwa ada keluarga pasien yang sedang mencariku.
"Maaf, Dok, menganggu. Pasien di kamar 701, keluarganya mencari, katanya ada yang ingin mereka tanyakan." Perawat itu menjelaskan.
"Apa gak bisa kalian handle dulu?" jawabku yang masih berdiri di ambang pintu. Aku memang tidak mempersilakannya untuk masuk. Sebab di dalam masih ada Clara.
"Sudah, Dok, tapi tetap bersikeras."
Tiba-tiba sebuah tangan hangat menyentuh pundakku, aku menoleh dan mendapati Clara sudah berdiri di belakangku. "Gak apa-apa, aku juga mesti balik ke kantor lagi. Soalnya jam istirahatku juga bentar lagi habis."
Aku tidak tahu harus berkata apa lagi padanya, sungguh pengertian. Clara kemudian berpamitan dan langsung pergi berlalu. Aku juga sempat mengatakan padanya jika aku meminta maaf karena tidak bisa mengantarkannya turun ke bawah hingga ke parkiran motor. Dan dia hanya menjawab, "Iya, gak apa-apa kok."
Bersambung ...
__ADS_1