Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 166


__ADS_3

Still Jefri POV.


 


 


Setelah selesai semua urusanku bersama dengan Brandy, dia segera berpamitan. Namun aku menahannya. Aku memintanya untuk menungguku, sebab aku juga akan pergi keluar dari kantor ini. Dengan cepat aku merapikan beberapa dokumen di atas meja kerjaku lalu. Lalu membawa seluruhnya untuk ikut bersamaku.


 


 


Kemudian aku dan Brandy melangkah bersama, keluar ruanganku dan pergi meninggalkan gedung perusahaanku.


 


 


"Lu mau ke mana?" tanya Brandy saat kami berdua sudah melangkah keluar dari pintu lobby.


 


 


Aku menghentikan langkahku lalu menoleh padanya. "Gua mau ke rumah orang tua gua, mereka harus lihat semua bukti temuan gua ini."


 


 


Brandy menganggukkan kepalanya sebagai tanda mengerti dengan apa yang akan aku rencanakan. "Trus, lu gak nungguin surat pak Hardi tadi?" tanyanya lagi.


 


 


Aku menggelengkan kepala lalu berkata, "Kayaknya dia lagi di rumah orang tua gua. Soalnya tadi bokap tiba-tiba nelpon."


 


 


Beberapa saat kemudian, mobilku datang. Seorang karyawanku keluar dari mobilku dan mempersilakanku untuk masuk. Pekerjaannya memang untuk memarkirkan mobilku di basemen gedung ini dan dia sudah sejak lama bekerja di sini. "Makasih," ucapku pada karyawan lelaki itu, yang mana aku selalu melupakan namanya.


 


 


Kemudian aku dan Brandy saling berpamitan. Aku melangkah masuk ke dalam mobilku, sedangkan Brandy melangkah menuju parkiran outdoor di halaman gedung menuju ke mobilnya.


 


 


Setelah meletakkan kumpulan dokumen yang kubawa tadi di jok mobil sampingku, aku segera menginjak pedal gas untuk melesat pergi menuju ke rumah orang tuaku. Dengan kecepatan sedang aku memgendarai mobil hingga akhirnya sampai di depan rumah orang tuaku dengan waktu sekitar 20 menit.


 


 


Aku menolehkan kepalaku ke kanan dan ke kiri. Tidak ada satu pun tanda-tanda bahwa adanya kehadiran pak Hardi di sini. Aku mengernyitkan keningku, merasa heran. Apa pak Hardi memberitahukan papa melalui telepon, atas pemecatannya? Entahlah.


 


 


Kembali aku buang pemikiran-pemikiran pradugaku atas semua kesalahan yang sudah diperbuat oleh pak Hardi. Pasalnya, niatku melangkahkan kedua kaki ini ke sini adalah untuk menjelaskan hasil laporanku ini pada papa. Beliau harus mengetahui bagaimana prilaku orang kepercayaannya selama ini.


 


 


Dengan percaya diri aku melangkahkan kakiku keluar dari mobil dengan membawa serta seluruh dokumenku, lalu berjalan masuk ke dalam rumah. Setelah sebelumnya aku mengembuskan napasku dengan sekali embusan napas, agar hati ini terasa plong. Sebelum berhadapan dengan papa nanti.

__ADS_1


 


 


Aku berteriak memanggil mama dan papa karena tadi pagar dan pintu rumah tidak dikunci. Itu artinya mereka pasti berada di luar dari kamar. Langkah kakiku langsung menuju ke halaman belakang dan benar saja, aku menemukan papa sedang duduk membaca buku di sana.


 


 


"Loh, kamu di sini? Kapan datang? Papa telepon kok gak diangkat?" Papa langsung menghujaniku dengan pertanyaannya yang bertubi-tubi, begitu melihatku sudah ada di sampingnya dan mulai duduk.


 


 


"Aku tadi ada tamu, Pa, jadi gak bisa angkat telepon." Aku memberi alasan lalu mulai membuka satu per satu dokumen yang aku letakkan di atas meja. "Ini semua bukti yang aku temuin. Papa boleh baca dulu semuanya."


 


 


Papa melepaskan pandangan matanya pada buku yang tadi sedang dibacanya. Membenarkan kaca mata bacanya. Kemudian perlahan ia meletakkan buku yang dibacanya tadi di atas meja dan menggantinya dengan sebuah map yang bertuliskan logo perusahaan. Tangannya menarik map itu dan membukanya. Perlahan papa membaca lembar demi lembar kertas dengan seksama.


 


Papa termasuk salah satu orang yang paling teliti bagiku. Tapi entah mengapa bisa-bisanya papa kecolongan dengan prilaku pak Hardi. Orang terdekat sekaligus orang kepercayaannya selama di perusahaan.


 


 


Aku memerhatikan papa yang membaca kertas itu dengan begitu fokus. Sebenarnya ada rasa takut yang menyelimuti hatiku, untuk memberitahukan hal ini pada papa. Aku takut papa terkejut dan shock saat melihat semua ini. Sebab saat kalah tender, papa juga jatuh sakit hingga harus dirawat di rumah sakit selama beberapa waktu. Apalagi melihat bukti penghianatan seperti ini?


 


 


Memang jumlah kerugian yang di lakukan oleh pak Hardi tidaklah seberapa jika dibandingkan dengan kerugian saat tender itu. Apalagi, uang itu menghilangnya setiap bulan, bukan satu waktu yang langsung terjadi sekaligus dan terasa banyak. Tetapi tetap saja itu adalah sebuah kerugian yang hilang tidak tahu entah ke mana. Tidak ada kejelasan bahkan terlihat digunakan untuk kebutuhan pribadi pak Hardi sendiri.


 


 


 


 


Namun sepertinya, aku keliru. Papa bukannya marah malah terlihat bersemanagat mendengarkan apa ujaranku. Dengan tangannya yang terus saja membalikkan lembaran kertas di depannya. Aku mulai menjelaskan sedikit demi sedikit tentang apa yang aku temukan, selama aku yang memegang kendali perusahaan.


 


 


Dari semua sikap dan tindakan yang papa lakukan itu, akhirnya aku dapat menarik kesimpulan, bahwa papa sebenarnya menelpon beberapa saat yang lalu bukan untuk membahas hal ini. Lalu apa yang akan papa bicarakan denganku?


 


 


"Lalu apa keputusan kamu sekarang?" tanya papa lagi.


 


 


"Tadi pagi, aku meminta surat resign darinya, Pa. Aku tidak mau mempekerjakan orang seperti itu. Tapi sayangnya, sampai aku meninggalkan kantor, surat resign itu belum aku terima." Papa mengembuskan napasnya. Terlihat kecewa.


 


 


Tiba-tiba papa memejamkan kedua matanya, lalu seraya melemparkan dokumen yang tadi dibacanya itu, ke atas tumpukan kertas lainnya yang kubawa sebagai penunjang dari usaha penjelasanku. Kemudian papa meraup semua rambutnya dengan kedua tangannya, meremass kuat, hingga terlihat kulit kepalanya yang tertarik.

__ADS_1


 


Aku dapat mengerti betul perasaan papa saat ini. Amarah, kecewa atau bahkan rasa tidak percayanya bercampur menjadi satu begitu melihat semua bukti ini. Papa mengembuskan napasnya dengan kasar lalu berkata, "Perusahaan itu milik kamu dan kamu bebas mengendalikan semuanya, termasuk para pekerja di dalamnya. Harapan papa cuma satu, kelola baik-baik perusahaan itu, sebab hanya itu yang bisa papa dan mama berikan untuk kamu, istri kamu dan juga cucu-cucu kami. Lalu jangan lupakan adik kamu Jerry, walaupun dia sudah berkeluarga, tetap tanggung jawab kamu kalau kami sudah tiada," lirih papa padaku, yang spontan membuat kedua mataku berkaca-kaca.


 


Aku tidak pernah mendengar papa mengucapkan semua itu. Sebegitu sayangnya ternyata dia padaku dan juga keluargaku. Bahkan dari ucapannya terdengar jelas, jika dia menyebutkan keluarga kecilku terlebih dahulu daripada adikku sendiri.


 


 


Tak berapa lama kemudian mama tiba-tiba muncul, membuatku spontan mengusap kasar wajahku. Begitupun dengan papa yang langsung menepuk pundakku. Mama terkejut melihat kedatanganku siang ini. Lalu beliau bergegas mendekatiku dan memelukku. "Angin apa yang membawa anak mama ini ke sini? Hmm?" tanya mama sarkas. Tak heran lagi bagiku jika mendengar mama berucap seperti itu.


 


 


"Mama ini, mesti deh nanyanya nyelekit begitu. Maaf kalau aku jarang ke sini jengukin kalian," ucapku merengek manja padanya.


 


 


Setelah itu, mama memintaku untuk tetap di rumah sementara mama akan memasak untuk menyiapkan makan siang bersama. Aku menyetujuinya. Lalu aku dan papa kembali membicarakan tentang perusahaan.


 


 


Untungnya lagi, papa mendukungku untuk semua keputusan yang aku ambil tentang pak Hardi. Papa juga sama sekali tidak menghalangiku. Bahkan menurut beliau, aku sudah cukup ilmu untuk memahami tentang perusahaan dalam kurun waktu yang sangat cepat. Kurang dari setahun, aku sudah bisa mendapatkan sumber masalah dan mengatasi beberapa masalah tentang perusahaan.


 


 


"Papa bangga sama kamu. Semua sudah bisa kamu atasi. Seharusnya sudah sejak dulu kamu ikut di perusahaan papa. Jadi kita gak rugi banyak." Tawa papa meledak saat itu. Sedangkan aku hanya melotot tidak percaya dengan apa yang papa ucapkan itu. Di saat seperti ini, masih sempat saja papa bercanda.


 


 


Papa memang seperti ini aslinya. Bercandanya terlalu mengesalkan. "Ya kalau aku tahu dari dulu perusahaan papa bermasalah, pasti aku selidiki dari dulu." Aku membalas ucapannya.


 


 


Siang itu aku habiskan untuk berkumpul bersama mama dan juga papa. Makan siang bersama mereka dan membahas tentang banyak hal. Papa dan mama juga menanyakan tentang kabar istriku dan cucu-cucu mereka. Sepertinya mereka merindukan menantunya dan cucu kembarnya.


 


 


"Menantu dan cucu mama baik-baik aja 'kan?" tanya mama di sela makan siang kami.


 


 


"Baik, semua baik." Aku menganggukkan kepalaku.


 


 


Tiba-tiba saja terlintas dalam otakku untuk membawa Tika dan kedua anakku menginap di rumah ini. Karena aku yakin, kedua orang tuaku juga pasti merindukan bahkan ingin ikut merawat kedua buah hati kami itu. Apa sebaiknya aku membawa mereka menginap beberapa minggu dulu di sini? Sebelum akhirnya kami pulang ke rumah kami. Apa Tika mau aku ajak untuk menginap di sini terlebih dahulu? Toh urusan di kantor juga sudah selesai.


 


Ya, mungkin aku akan menanyakannya nanti, sepulang dari sini.


 

__ADS_1


 


Bersambung ...


__ADS_2