
Still Haikal POV.
Mamah langsung membawa Clara untuk duduk di ruang televisi sambil menggandeng tangannya. Mereka mengobrol dengan asyiknya dan aku ter-ignore. Hah!!
Aku memutuskan untuk pergi ke kamarku, menaiki tangga kemudian membuka pintu kamarku dan langsung melangkahkan kaki menuju kamar mandi lalu segera menanggalkan pakaianku.
Saat guyuran air yang mengucur dari pancuran shower sudah cukup lama membasahi tubuhku, pikiranku kembali melayang pada seorang gadis yang kini sedang berada di lantai bawah, asyik mengobrol bersama dengan mamah. Sebelumnya aku memang tidak pernah mengenalkan seorang wanita kepada mamah, Jasmine-pun tidak.
Cepat-cepat aku menggubris pemikiranku, takut pikiran ini menjadi melayang ke wilayah yang lebih luas. Aku segera mengeringkan tubuhku dengan selembar handuk begitu mandiku selesai. Kemudian melilitkan handuk itu di pinggangku dan melangkah keluar kamar mandi menuju lemari pakaianku. Memilih serta mengenakan pakaian yang cocok untuk aku kenakan. Aku sempat bercermin, lalu menyisir rambutku, merapikannya.
Setelah semua itu selesai aku lakukan, aku kembali menuju ke lantai bawah. Menuruni anak tangga satu persatu dengan pelan, sambil mendengarkan obrolan antara mamah dan Clara yang terdengar begitu sayup-sayup.
"Loh, jadi sekarang bunda kamu masih dirawat di rumah sakit?" Mamah sangat antusias bertanya pada Clara.
"Iya, Tante. Tapi udah sadar, udah mendingan juga." Clara kembali menjelaskan tentang kondisi ibundanya.
Entah apa yang mereka bicarakan sejak pertama duduk tadi hingga sekarang membicarakan tentang orangtua Clara, yang jelas mereka terdengar sangat akrab. Benar saja, saat aku sudah hampir sampai di hadapan mereka, kedua wanita ini masih saja asyik bercerita sampai tidak lagi menyadari kehadiranku.
"Mamah masak apa buat makan malam?" Aku langsung menghempaskan bokongku untuk duduk di samping mamah.
Saat seperti itu, mamah dan Clara baru menyadari kehadiranku lalu segera menghentikan pembicaraan mereka dan serempak memandangiku.
"Kenapa? Aku salah ngomong ya? Atau aku ganggu kalian?" tanyaku bingung dengan sikap mereka berdua yang seketika berubah.
Tiba-tiba mamah berdiri lalu menyuruhku untuk duduk saja menunggu di sofa ini, sementara mamah memasak untuk hidangan makan malam. Lalu mamah juga meraih tangan Clara, meminta dia untuk menemani mamah memasak di dapur. Clara dengan suka rela menerima ajakkan mamah, lalu mereka berdua langsung beranjak pergi menuju dapur.
Aku melongo. 'Cepet banget akrabnya,' batinku.
———————————————
Clara POV.
Aku pikir mamahnya Haikal ini hanya ramah saat di acara makan malam itu saja, tapi ternyata tidak. Saat ini pun beliau masih menyambutku dengan hangat, bahkan tadi beliau melindungiku. Sebelum hawa napsu mulai merasuki anaknya dan aku tergoda akan tindakkan konyol itu.
Tidak kusangka, ternyata Haikal adalah anak orang kaya, bukan, bukan orang kaya, tapi keluarga yang berkecukupan. Semua itu terbukti dengan mewahnya rumah ini.
Rumah yang terkesan classic dari tingginya pilar-pilar depan rumah. Pintu ruang tamu yang terbuat dari kayu jati, perabot yang juga serasi dengan konsep isi rumahnya. Begitupun saat mamahnya membawaku memasuki ruang dapur. Di sini semua perabotan terlihat sangat modern. Dengan meja bar yang juga menjadi sepaket kitchenset, berpadu serasi dengan kursi jati yang terletak di depan meja bar.
"Clara bisa masak?" Mamahnya mengajukan pertanyaan yang terlalu mudah untuk aku jawab.
"Bisa, Tante! Soalnya kalau weekend, aku selalu bantuin bunda di dapur."
"Trus biasanya masak apa?" Mamahnya kini membuka kulkas lalu seperti sedang mencari sesuatu di sana.
"Memang tante mau masak apa?"
__ADS_1
"Kamu bisa masak ayam goreng mentega?" Mamagnya menegok dari balik pintu kulkas yang lumayan besar bagiku.
Aku segera mengangguk lalu beranjak mendekati beliau, membantu meletakkan beberapa jenis bahan makanan ke atas meja kitchen untuk dimasak. Kemudian tak berapa lama seorang wanita paruh baya lainnya muncul dari pintu yang dari tadi terbuka, entah menghubungkan ke ruangan mana. Aku sempat kaget, namun wanita itu langsung tersenyum menatapku.
Mamah Haikal lalu mengenalkan wanita tersebut sebagai asisten rumah tangganya, bibi Mince namanya. Kamu saling menyapa dan berkenalan.
"Ini pacarnya Haikal," ucap mamah Haikal menambahkan.
Aku hanya mampu tersenyum lalu tersipu malu. Kemudian aku, mamahnya Haikal dan bibi Mince segera menyiapkan beberapa bahan untuk memulai acara masak-memasak untuk makan malam ini.
***
Aku menghidangkan beberapa menu makanan yang aku masak bersama mamahnya dan bi Mince ke atas meja makan. Bolak-balik menuju dapur dan ruang makan, mengangkat beberapa piring makan dan juga beberapa set sendok dan garpu, tidak lupa juga mengambil beberapa gelas untuk kami minum.
"Emm ... harumnya!!" Tiba-tiba Haikal muncul mendekati meja makan.
Aku hanya meliriknya setelah meletakkan beberapa piring tadi. Lalu segera kembali menuju dapur untuk mengambil se-teko air putih. Namun tiba-tiba Haikal memcengkram lenganku saat aku berjalan melewatinya.
"Aw!" Aku menolehnya dengan tatapan sinis lalu mencoba mengepakkan lenganku agar terlepas dari cengkramannya. Namun mustahil.
Lumayan lama kami saling beradu pandangan. Hingga akhirnya Haikal melepaskan cengkramannya yang begitu kuat itu akibat suara teriakkan mamah dari dapur. Teriakkan itu membuatnya terpekik kaget.
Aku terkekeh geli lalu segera berlari kecil menuju dapur, meninggalkannya sendiri berdiri di samping meja makan. Kemudian aku kembali lagi ke ruang meja makan dengan membawa hidangan lainnya, saat itu kulihat Haikal sudah berduduk rapi pada salah satu kursi yang ada, sambil tersenyum mesam-mesem kepadaku. Mamahnya juga mengikutiku hingga ke meja makan, kemudian beliau menyuruhku untuk duduk di sisi beliau. Yang mana artinya, aku duduk berseberangan dengan Haikal.
Makan malampun di mulai, beliau membuka dengan mengajak berdoa bersama. Setelahnya kami mulai makan dengan tertib, tanpa kata dan tanpa suara. Yang ada hanya suara dentingan sendok dan garpu yang semakin bersua, memecah keheningan. Hingga akhirnya Haikal angkat bicara.
Mamahnya yang mendengar pujian itu sontak terkekeh geli mendengarnya, kemudian segera meraih gelas minumnya lalu meneguk beberapa tegukkan sebelum akhirnya beliau angkat bicara. Lalu beliau mulai mengatakan bahwa pada kenyataannya, aku yang memasak santapan makan malam saat ini.
"Iya jelas saja makanannya enak, Clara yang memasak semuanya," ucap beliau santai sambil kembali menghabiskan sesendok suapan terakhir.
Uhuuk ...
Uhuuk ...
Haikal yang mendengar penuturan singkat yang terucap dari mulut sang mamah, sontak kaget hingga membuatnya tersedak. Kedua bola matanya membulat sempurna, terbelalak. Tangannya langsung menyambar gelas kosongnya sambil mengarahkannya padaku, sebab teko berisi airnya berada tepat di antara aku dan mamahnya.
Dengan gelak tawa yang sengaja aku tahan, aku mencoba memperlambat gerakkanku untuk menuangkan isi teko itu ke dalam gelasnya. Ia semakin mengernyitkan dahinya, sebagai isyarat kekesalannya padaku. Sebelah tangannya sudah melekat di dadanya seakan mencoba untuk menahan agar batuknya tidak terlalu menyesakkan dada. Namun sayangnya, batuknya itu tidak mau berhenti hingga akhirnya ia meneguk beberapa tegukkan air dari dalam gelasnya. Yang berhasil ia dapatkan dari tuangan teko slow motion-ku.
Mamahnya? Beliau membiarkan aku melakukan kejahilan ini.
***
Selesai makan malam, aku langsung membersihkan meja dan beberapa perabot makan yang telah kami gunakan tadi, karena itu memang menjadi kebiasaanku setelah makan malam bersama ayah dan bundaku di rumah. Namun saat di sini, baru saja aku membasahi tanganku dengan menyentuh spon pencuci piring, bi Mince langsung dengan sigap merebut kesenangan itu dari tanganku. Ya benar, aku sangat menyukai kegiatan mencuci piring ini. Entah mengapa, sejak aku sekolah, aku selalu memohon kepada bunda agar aku saja yang melakukan tugas dapur itu. Hingga akhirnya sampai sekarang.
"Gak papa, Bi, biar aku aja." Aku memohon kepada bibi Mince agar aku saja yang melakukan tugas itu.
__ADS_1
Namun bi Mince menolak dengan alasan mencuci piring adalah tugas bi Mince sepenuhnya. Berbeda dengan memasak tadi, oleh sebab itu saat memasak tadi, bi Mince hanya membantu untuk memotong bahan dan membersihkannya. Sedangkan urusan lainnya ia serahkan sepenuhnya dengan mamanya Haikal dan aku, yang memegang spatula.
Ternyata perdebatan alot antara aku dan bi Mince menarik perhatian mamahnya Haikal, hingga beliau kembali muncul lalu membagi tugas untuk kami. Aku sempat terkekeh saat beliau mencoba menghentikan debatan itu. Aku menyadari bahwa tidak mungkin jika beliau membiarkanku mencuci piringnya, karena aku hadir sebagai tamu. Namun nyatanya aku keliru, beliau malah membiarkanku untuk mengambil alih tugas bi Mince itu. Sedangkan bi Mince wajib kembali beristirahat.
"Capek ya?" tanya Haikal yang tiba-tiba muncul di tengah kegiatanku.
Ia menyenderkan tubuhnya tepat pada meja kitchen set di sisi sebelahku, lebih tepatnya menyenderkan bokongnya, lalu menghadap arah yang berlawanan denganku.
"Enggak kok, udah biasa." Dengan cuek aku terus melanjutkan kegiatanku.
Sesekali aku meliriknya yang ternyata ia juga sedang melihatku, memperhatikan setiap gerakkanku. Hingga membuat aku merasa serba salah. Bukan, bukan serba salah, tapi lebih tepatnya risih. Siapa coba yang gak bakalan risih kalo diliatin, diplototin trus ditungguin lagi nyuci puring, nyuci perabotan rumahnya.
"Kenapa mesti berdiri disini sih?" Akhirnya mulutku mampu juga mengatakan hal itu padanya.
Di luar dugaan, tanpa aku sangka, dia malah menjawab pertanyaanku dengan santai. "Nungguin-lah."
Dan jawaban sederhana itu, mampu membuat jantungku yang tadinya normal jadi tiba-tiba berdegup kencang, seperti genderang mau perang~
Secepat kilat aku membuang pandanganku kembali memperhatikan gerakkan tanganku yang sedang membilas piring makan. 'Mungkin saat ini wajahku sedang bersemu merah. Atau bahkan mungkin sudah memerah seperti tomat busuk. Astagaa ... apa dia sedang mencoba menggodaku lagi?' jerit batinku.
Selesai sudah kegiatanku mencuci piring. Segera aku mengeringkan kedua tanganku dengan beberapa tissu yang aku dapatkan dari tangan Haikal. Yah, dia masih saja berdiri menungguku mencuci piring sampai selesai, lalu memberikan beberapa tissu tadi untukku.
Haikal melirik jam tangannya lalu berkata, "Aku masih punya waktu istirahat sekitar sejam lagi, gimana kalo kita jalan-jalan?"
Aku terkekeh geli mendengar ajakkannya. Sambil menatapnya, aku memperhatikan kedua bola matanya yang berwarna coklat tua dengan sangat beningnya. Dengan hidung yang mancung dan bentuk bibir yang seksi di mataku, yang pernah aku rasakan sebelumnya. Kemudian bentuk rahangnya yang tegas, membuat gejolak di hatiku mulai meronta-ronta ingin menyentuh semua itu. 'Aku harus kuat, harus jual mahal!' jerit batinku lagi.
"Gimana, mau gak?" tanyanya sekali lagi.
Kali ini aku menjawab pertanyaannya dengan anggukan cepat.
———————————————
Lohhaaa 💃
Apa kabar kalian semua yang membaca kisah ini?? Gimana gimana sejauh ini??
Aku ingin meminta pendapat kalian.
Dan untuk ke depannya, aku akan menguras otak kalian untuk berimajinasi lebih kuat lagi 🤭
Oh iya, jika kalian membaca cerita ini berulang kali, kalian akan mendapatkan beberapa gambar sebagai visualisasi dari beberapa bagian naskah. Tapi aku tetap tidak ingin memberikan gambar sebagai visualisasi tokoh yang ada, karena semua tokoh yang aku hadirkan di sini sudah begitu sempurna di dalam otakku 😜
Dan bagiku tidak ada satu orangpun yang bisa menyaingi ketampanan dan kecantikkan wajah para tokoh yang ada di sini 🤣
Jadii ...
__ADS_1
Aku akan membiarkan kalian untuk mengimajinasikan tokoh di sini seperti pemikiran kalian masing-masing, karena aku sudah memberikan beberapa clue untuk perawakan mereka.
Setujuuu???