Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 94


__ADS_3

Clara POV.


Saat di dalam toko perhiasan, Haikal langsung melihat-lihat beberapa isi etalase di sana. Sedangkan aku hanya berjalan mengikuti langkahnya. Lalu dia menanyakan beberapa jenis perhiasan pada pegawai toko yang mengenalinya.


Ya, pegawai itu memang mengenalinya sebab pegawai itu langsung menyapanya dan mengikutinya. Pegawai itu terlihat cantik dan juga ramah. Dengan pakaian yang formal namun seksi, menurutku.


Aku berdecih begitu melihat pegawai itu mendekatkan bahunya, seakan ingin memepet pada Haikal. Suaranya juga seperti dibuat-buat, nadanya sengaja dilemah-lembutkan. Manja-manja gimana gitu. Aku jengah melihat itu.


Aku menghela napas lalu beranjak menjauhi mereka, berbelok arah menuju sofa yang disediakan di sisi toko. Duduk sambil memerhatikan mereka dari kejauhan.


Untung saja aku bukan pacar Haikal, coba kalo aku pacarnya. Pasti kesal jika melihat ada wanita yang seagresif itu mendekatinya. Dan Haikal hanya diam saja melihat wanita yang keganjenan itu.


Tak berapa lama aku juga melihat wanita itu menyentuh dada Haikal dari kejauhan. Seolah sedang menahan Haikal untuk tidak beranjak dari sana. Dan sialnya lagi, dia belum menyadari jika aku sudah tidak ada lagi berdiri di sisinya.


"Sialan!!" gumamku.


Karena sudah dilanda kebosanan akhirnya aku mengambil ponselku, memainkannya. Mengecek akun Instagram-ku. Aku fokuskan pandanganku pada ponsel, dari pada aku terfokus melihat Haikal yang bercanda tawa dengan pegawai itu?


Padahal untuk apa coba dia mengajakku jalan-jalan ke mall ini?


Jika alasannya untuk menemaninya jalan sih gak apa-apa, aku bisa terima.


Tapi jika untuk melihat semua itu, buat apa coba?


Pegawai wanita itu terus saja menjelaskan detail perhiasan yang dimaksudkan Haikal, tapi sambil sesekali menyelipkan kalimat menggodanya. Untungnya Haikal hanya menanggapinya dengan senyuman.


Loh, kenapa aku merasa seperti ini?


Kenapa aku malah merasa kesal melihatnya digoda oleh wanita itu?


Sialan, perasaan apa ini?


Aku segera menggelengkan kepalaku, menepis kuat-kuat pemikiran ini. Lagi pula Haikal bukan siapa-siapaku, untuk apa aku repot memikirkannya? Lebih baik aku kembali memainkan ponselku.


Aku mencoba untuk mengalihkan perhatianku pada games ular yang sengaja kumainkan dengan asyik di ponselku. Hingga tiba-tiba aku dikagetkan oleh senggolan kaki. Aku langsung mendongakkan kepala.


"Kenapa?" ketusku pada lelaki dingin yang membawaku ke toko ini.


Ia membuka sebuah kotak kecil lalu menanyakan pendapatku tentang isi di dalamnya. Isinya cincin bertata berlian tunggal dengan model yang simpel namun elegan. "Bagus." sahutku simpel.


Tanpa sepatah kata dan wajah tanpa ekspresi, dia berbalik arah dan kembali ke meja etalase yang semula di tempatinya. Kembali berbincang dengan wanita genit di sana. Aku kembali berdecih.

__ADS_1


Haikal yang seperti ini memang aku suka, membuat aku merasa tertantang untuk meluluhkan hatinya yang dingin sedingin es balok. Akan tetapi, dia yang tadi siang membuat aku merasa lebih nyaman.


Tak berapa lama, Haikal kembali mendekatiku lagi. Lalu mengatakan untuk membantunya memilihkan sebuah cincin yang bagus. Aku mau saja menuruti permintaannya. Sialan.


***


Kini kami berdua sudah duduk di salah satu sudut coffee shop. Berhadapan. Dan seperti dahulu, Haikal lah yang memilihkan minuman apa yang akan aku minum dan kue apa yang pantas untuk aku makan. Dia menyodorkan piring kue itu ke depanku.


Tanpa berkata apapun, dia hanya memandangiku sambil menjilat salah satu jarinya yang terkena cream dari kue itu. Aku memerhatikannya.


Sebenarnya aku takut untuk mendekati pria, karena aku takut juga jika harus kehilangan. Tapi saat dia memelukku tempo hari, aku merasakan hal yang berbeda. Entah apa itu.


"Kenapa?" tanyanya singkat. Kalimat sederhana itu terlontar dari mulutnya, tapi membuat aku sulit untuk menjawabnya.


Dia mengeluarkan ponselnya lalu bermain dengan benda persegi panjang itu, mengacuhkanku.


Aku membuang pandanganku ke arah luar jendela, menatap langit senja yang sudah mulai berubah menjadi jingga. Seakan memberi kehangatan pada hati yang sedang memuja.


Pikiranku kembali melayang, membayangkan bagaimana hari tua akan aku lalui nanti? Membayangkan bagaimana jika aku tidak bisa melewati hari tuaku?


Merasakan memiliki seorang suami yang mencintaiku sampai mati. Menikmati rasa kesetiaan yang membelenggu hati kami untuk tetap saling bersama. Setia walau maut memisahkan.


Sepertinya tidak ada yang namanya setia walau maut memisahkan. Mana ada seorang wanita atau pun seorang pria yang akan tahan tetap sendiri, jika ditinggal pasangannya menutup mata?


Mereka pasti akan mencari pasangan pengganti secepat mungkin. Agar duka dihati bisa ditutupi.


Munafik jika ada yang berkata rela setia hingga ajal menjemput. Apalagi kalau seorang lelaki. Biasanya jika istrinya meninggal, pasti secara otomatis akan langsung mulai kembali berburu. Mencari wanita yang bisa dimangsa. Yah, dimangsa untuk dijadikan istri.


Itulah yang membuatku selama ini selalu menutup diri pada lelaki. Sulit untuk mencari lelaki yang bisa setia walaupun ditinggalkan sang pasangan mati. Pikiran macam apa ini? Terlalu jauh sepertinya otak ini.


Aku kembali tersadar pada secangkir coklat hangat yang dipesankan oleh Haikal untukku. Sekilas kulihat dia masih saja sibuk dengan ponselnya.


Aku sempat menanyakan, apakah dia tidak sibuk saat ini, jadi bisa berlama-lama bersantai di sini denganku. Tapi dia hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya. Tidak juga bersuara, tidak pula untuk sekedar menatapku.


Tiba-tiba terlintas di pikiranku. Jika suati saat aku memiliki suami, apa dia akan memerhatikanku? Jika aku sakit, apa dia akan merawatku? Kemudian jika aku sudah tidak ada di dunia ini lagi, apa dia akan tetap setia dan memilih untuk tidak menikah lagi hingga ajal menjemputnya?


Namun secara mendadak, Haikal menanyakan suatu hal padaku. Pertanyaan yang sebelumnya tidak pernah terlintas di otakku. Pertanyaan yang juga membuat otakku seakan berhenti berpikir sejenak. Pertanyaan yang ... entahlan, rasanya tidak sanggup untuk aku jawab.


"Kalau suatu saat kamu menikah, kamu ingin pingin suami yang seperti apa?"


Dugdug ...

__ADS_1


Dugdug ...


Dugdug ...


Jantungku langsung berdetak dengan kencangnya. Mulutku kelu untuk berucap. Mataku hanya bisa menatapnya lekat-lekat.


'Pertanyaan macam apa ini? Apa aku harus menjawabnya?' batinku.


Waktu seakan berhenti saat ini, udara seakan pergi menghilang, tak bisa untuk aku hirup. Tanganku yang sedari tadi memegang cangkir menjadi lebih erat. Berkali-kali aku mencoba mengejabkan mataku. Sekedar mencoba, siapa tahu aku berada di alam mimpi, karena rasanya tidak mungkin jika pertanyaan itu keluar dari mulutnya.


Akan tetapi, Haikal malah memajukan tubuhnya. Menyangga kepalanya dengan salah satu tangannya di atas meja. Matanya yang tajam menatapku dengan alis yang sesekali dia gerakkan. Dia menunggu jawabanku.


"Mmm ... ma—maksudnya gi—gimana?" Aku terbata bertanya balik kepadanya.


Namun dia hanya kembali memberikan senyuman manisnya itu. Senyuman mematikan yang mampu menghipnotis jiwa ragaku. Senyumannya yang mampu membuatku seharian hanya memikirkannya.


Aku membuang pandanganku, agar rasa gugupku segera menghilang. Tapi rasanya percuma, sebab secara tiba-tiba, kedua tangannya menangkup mesra kedua tanganku yang masih memegang cangkir minumanku. Semakin gugup.


Detak jantungku benar-benar semakin berdegup dengan kencangnya. Apalagi dengan tangannya yang menyentuh tanganku.


Tak berapa lama berselang, Haikal rogoh saku celananya, lalu mengeluarkan sesuatu dari sana dan meletakkan sebuah kotak kecil yang tadi kukenali. Lalu menyodorkan kotak itu ke depanku, tepat di samping cangkir coklat panasku.


Aku terperangah.


"Aku gak bisa bersikap romantis atau melakukan hal-hal yang sifatnya romantis. Aku juga gak bisa melakukan adegan yang mirip dengan film atau sinetron-sinetron yang bikin baper. Yang jelas aku cuman mau kasih ini, trus kamu mau gak nikah sama aku?" Haikal kemudian mendorong lagi kotak kecil itu lalu membukanya.


Aku semakin melongo mendengar kalimat akhir yang di ucapkannya, ditambah lagi dengan kotak kecil yang ada di depanku, yang perlahan dibukanya dan semakin membuatku terkejut setengah mati.


Tidak dapat kujelaskan bagaimana perasaanku saat ini, rasanya begitu cepat dan begitu menggebu. Dengan semua kejadian yang aku lewati. Setetes bulir air mata, kini sudah bersiap untuk terjun menghambur dari sudut mataku.


Ada perasaan bahagia, tapi ada pula perasaan takut menyeruak dalam hatiku. Bimbang dan ragu dalam melakukan langkah selanjutnya. Mengambil keputusan untuk menjawab pertanyaan yang sifatnya mengikatku seumur hidup.


Lalu bagaimana dengan penyakit Asma yang aku derita?


Bagaimana jika suatu saat nanti aku pergi meninggalkannya?


Apa dia akan setia? Tetap sendiri hingga maut menjemputnya juga?


Otakku semakin jaug berpikir, membuat dadaku sesak. Aku hilang kendali. Pandangan mataku menjadi berbayang lalu dengan napas yang tersengal, udara seakan menipis tak bisa kuhirup. Kemudian aku terjatuh dan gelap.


Bersambung ...

__ADS_1


__ADS_2