Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
Eps 178


__ADS_3

Selamat membaca ...


—————


Jefri POV.


Untuk sementara waktu, aku dan Tika sengaja tidak pulang ke rumah orang tuaku. Nathan dan juga Naila kami biarkan tinggal bersama kedua orang tuaku dan tentunya dengan segala persiapan yang sudah kami sediakan. Bukan tanpa alasan aku dan Tika melakukan ini, semua karena kami berdua ingin benar-benar melakukan yang terbaik untuk menyelamatkan mamah mertuaku dan keluarga kami.


Begitu pun dengan Shilla yang sementara waktu juga harus tinggal dengan orang tuanya. Bi Mince juga ikut serta ke rumah orang tua Shilla. Max sendiri yang mengantarnya pagi inj, bersamaan dengan beberapa orang yang menjaga sekeliling rumah mertuanya.


Rencananya hari ini kami akan menyergap rumah Dana. Setelah semalaman full, Igo dan yang lainnya mengawasi rumah kediaman itu. Terlalu lama jika harus menunggu satu minggu lagi. Tika khawatir mamahnya akan jatuh sakit jika harus menunggu seminggu untuk waktu penukaran dirinya. Sebab Tika tahu betul kondisi mamahnya.


“Kamu yakin?” Sekali lagi Max memastikan semua rencana ini. Sesaat sebelum semuanya kami lakukan.


Tika mengangguk dengan pasti lalu berkata, “Dia maunya aku, jadi harus aku juga yang beresin.” Tika menatap Max yang berlutut di depannya.


Mereka saling menggenggam, saling menguatkan. Dan aku tahu, Max memang sangat menyayangi adik perempuannya ini. Begitu pula dengan Haikal yang baru saja bergabung dengan kami. Dia membawakan sekaleng minuman dingin untuk Tika dan memberikannya. Aku meninggalkan mereka bertiga, lalu hanya memandangi mereka dari kejauhan, sambil bersandar pada sebuah tembok dalam ruangan khusus untuk merokok.


Sejak tadi pagi, aku dan Tika sudah berada di gedung ini. Salah satu kantor Max yang lainnya, tempat Igo bekerja bersama pegawai yang lainnya. Reza yang membawa kami ke sini.


Aku matikan rokok yang masih tersisa setengah batang di tanganku. Lalu berjalan kembali, keluar dari smoking room dan mendekati Tika, membuat Max berdiri lalu mencengkeram pundakku.


“Semua keputusan ada di kalian.” Kemudian Max dan Haikal melangkah pergi meninggalkan aku dan Tika, berdua.


Tika yang sedang duduk di kursi langsung memeluk pinggangku. Erat. Aku tidak mampu berkata apa pun lagi. Ini keputusan kami berdua, sebab menurut Tika, jika bukan dia yang mengakhiri semuanya, lantas siapa lagi? Dan aku sudah cukup berdebat panjang padanya tadi pagi.


Walaupun aku adalah pemilik sah atas tubuhnya sepenuhnya, tetapi aku juga tidak bisa mengabaikan perasaannya itu untuk orang tuanya. Hanya tersisa dia seorang, hanya tersisa mamah sebagai orang tuanya. Dan mungkin, jika aku ada di posisi dia, aku juga akan melakukan hal yang sama. Mungkin aku akan menyerahkan nyawaku untuk orang tuaku. Walau sebenarnya sebagai orang tua pun pasti akan melakukan hal yang sama, akan rela menyerahkan kehidupannya demi sang anak.


“Kalau sesuatu terjadi sama aku—”


“Gak akan. Aku pasti jagain kamu.” Dengan cepat aku menyela perkataannya. Mengusap kepalanya yang terbalut dengan rambutnya yang begitu halus.


Aku menurunkan tubuhku, berlutut di depannya. Lalu menangkap wajahnya untuk menatapku. Ternyata air matanya sudah mengalir, entah sejak kapan hingga kedua pipinya sudah penuh dengan aliran air matanya itu. Aku mengusapnya menggunakan jempolku. Menyusuri setiap inci wajahnya dengan kedua bola mataku.


“Kamu pasti bisa, aku sudah siapin semuanya sesuai sama yang kamu rencanakan. Igo juga sudah siapin semuanya. Mereka sudah berjaga di luar. Kamu harus janji, kamu akan berusaha, demi aku, demi buah hati kita.” Aku sudah tidak mampu menahan kuasa air mataku. Tanpa menunggu jawaban darinya. Aku menarik tubuhnya untuk masuk ke dalam pelukanku lalu membiarkan air mataku menetes begitu saja, tanpa ia ketahui.


Matahari perlahan mulai bergerak turun dari peraduannya. Mengganti kegersangan dengan sebuah kesejukan. Aku masih duduk berdua dengan Tika, di sofa yang letaknya di salah satu sudut ruangan tanpa sekat ini. Memerhatikan semua orang yang begitu serius menyusun strategi demi menyelamatkan nyawa mamah mertuaku dan juga nyawa Hans, rekan kerja mereka. Serta melindungi nyawa Tika. Berkali-kali aku memgecup keningnya.


Semua persiapan telah selesai, hari telah sore. Igo mulai mendekati kami, memasangkan sebuah alat penyadap pada pakaian Tika. Lalu menyodorkan sebuah baju pelapis anti peluru, tetapi Tika menolaknya.


“Gak usah, aku gak mau dia curiga sedikit pun.” Tika tersenyum ragu pada Igo yang kemudian Igo memahami keputusan Tika dan kembali meninggalkan kami berdua.


Aku meraih dagunya lalu memandanginya dengan lekat. Sekali lagi aku memeluknya, mengecup tengkuk lehernya, menghirup aroma tubuhnya lalu menyesapnya. Hingga akhirnya Tika melepaskan dekapanku, menatap wajahku dan mengecup bibirku dengan segenap jiwa dan raganya. Aku dapat merasakan itu.


***


Kini Tika, aku dan Igo sudah sampai pada titik pertemuan dengan Brandy dan Deni—ketua tim penembak jitu alias sniper. Sedangkan Max dan Reza hanya memantau pergerakan kami dari gedung kantor Igo. Max sengaja tidak diperbolehkan ikut ke lapangan, karena dikhawatirkan jika lelaki itu akan emosi begitu melihat Max.

__ADS_1


“Oke, ayo kita berangkat,” ajak Igo menatap Tika yang segera disetujui oleh Tika.


Aku sedikut terkejut dengan semua ini. “Loh! Tunggu dulu! Bukannya aku yang antar Tika ke sana? Aku 'kan yang antar kamu ke sana? 'kan rencananya gitu ....” Aku menahan lengan Tika.


Dengan perlahan, Tika menepis tanganku. Menatapku dengan senyumannya. “Aku gak mau terjadi sesuatu sama ayahnya anak-anak aku.” Tika menangkupkan kedua telapak tangannya pada pipiku.


“Igo cuman ngantar aku ke sana. Setelah semuanya selesai, kamu boleh jemput aku sama mamah. Oke?” pintanya padaku kemudian mengecup bibirku.


Lidahku seketika kelu, begitu pula dengan kakiku yang terasa berat dan seakan melekat pada lantai, tidak mampu untuk bergerak. Membiarkannya melangkah pergi meninggalkanku.


“Kita bisa memantau dari sini. Tenang aja, Jeff.” Brandy memberitahukan. Aku menundukkan kepala mencoba menarik napas dengan teratur.


Lalu ikut memerhatikan semua layar yang menampilkan CCTV di sekitaran rumah Dana. Dengan susah payah aku menelan ludahku, menantikan adegan demi adegan yang akan diperankan oleh istriku sendiri. Sebab, semua kemungkinannya begitu tipis. Karena Tika datang menyerahkan diri, jauh sebelum waktu yang sudah ditentukan oleh Dana.


Menurut Tika, ini adalah kesempatan bagus. Sebab Dana pasti belum bersiap-siap dan Tika tidak ingin mamahnya berlama-lama di sana. Karena tidak ada yang menjamin jika mamahnya akan diberi makan sesuai dengan jamnya.


Aku mengembuskan napas ketika melihat mobil Brandy sudah muncul pada salah satu layar kaca. Berhenti tepat di depan pagar rumah Dana yang bertingkat dua. Keamanan di sekeliling rumah itu begitu ketat. Penjaga tersebar di mana-mana. Bahkan untuk penjagaan di depan pagar saja, sudah ada tiga orang yang menghadang.


Beruntung rekan Deni bisa dengan mudah menyadap semua kamera CCTV, yang mereka pasang dalam setiap sudut rumah itu. Sehingga memudahkan kami untuk memantau semuanya. Dari salah satu layar kaca itu, aku juga melihat mamah mertuaku yang sedang duduk di atas kursi, berbelakangan dengan Hans.


Aku menunjuk layar kaca itu lalu menoleh pada Deni. “Mereka ada di lantai dua dan semua baik-baik saja. Anak buah saya sudah di posisinya, tinggal menunggu target mendekat.” Deni dengan tegas menjelaskan padaku.


“Lalu yang dari belakang?” tanya Brandy padanya.


“Sudah siap, tinggal menunggu aba-aba. Begitu peluru melesat. Semua segera masuk,” tambahnya lagi.


Aku melirik sekali lagi pada layar kaca, lalu melihat pagar depan yang sudah terbuka. Mereka mengizinkan Tika dan Igo masuk dengan pemeriksaan dan pendampingan ketat dari mereka. Sebuah senjata api menodong kepala Tika, begitu pula dengan Igo. Namun, kondisi itu malah membuatku lebih tenang. Sebab Igo diperbolehkan masuk juga untuk menemani Tika.


Pintu depan terbuka, Tika dan Igo masuk setelah tubuh mereka didorong kuat. Terlihat Tika yang sedikit kehilangan keseimbangannya. Lalu mataku berganti menatap layar yang satunya lagi. Mereka berdua melangkah menuju sebuah ruangan gelap yang kemudian memunculkan cahaya terang.


Sebuah ruangan penuh dengan buku bersusun dalam rak tinggi yang berjajar rapi dan sepasang meja kursi, mungkin untuk membaca. Kursi itu terputar lalu menghadirkan sosok Dana yang duduk di sana. Raut wajahnya terlihat terkejut melihat Tika dan juga Igo.


Entah apa yang sedang mereka bicarakan saat ini, suara mereka tidak terdengar. Sebab memang seperti itu cara kerja sebuah alat kamera CCTV. Namun, tiba-tiba aku teringat dengan sebuah alat yang sebelumnya dipasangkan Igo pada pakaian Tika. Lalu aku segera berlari kembali ke mobilku lalu mengambil sebuah kotak alat pendengar kecil yang tadinya dibawa oleh Igo dan diletakkannya dibatas dashboard mobilku.


Segera aku mengambil kotak tersebut, membukanya lalu mengambil alat pendengar itu dan memasangkannya pada masing-masing lubang telingaku. Lalu kembali bergabung dengan Brandy dan juga Deni, sambil menatap layar kaca.


“Jadi kamu ke sini mau menyerahkan diri dengan suka rela, begitu?” ucap Dana seraya berdiri dari kursi kerajaannya lalu berjalan mendekati Tika dan Igo.


Kepala mereka berdua masih ditodong dengan masing-masing senjata api oleh anak buah Dana. Dari dalam layar kaca itu terlihat jelas, jari Dana menyentuh ujung pistol lalu menekannya ke bawah, menjauhkan ujung pistol itu dari kepala Tika.


“Sekarang aku sudah di sini. Aku mau lihat kamu lepasin mamah dan juga biarkan mereka pergi dengannya.” Tika mengajukan permintaannya.


Seketika tangan Dana menyentuh dagu Tika, tetapi Tika menepisnya lalu dengan secepat kilat tiba-tiba Dana mencengkeram leher Tika. Membuatku sontak terkejut. Tika terlihat tertatih saat itu. Gemuruh napasnya terdengar jelas pada alat pendengaran yang masih menancap di telingaku.


Aku melangkah mundur melihat semua itu. Kemudian pandangan mataku menangkap sebuah senjata api yang terselip pada belakang punggung Deni. Dengan napasku yang seketika memburu, terengah. Mataku berkali-kali memandang layar kaca, melihat kondisi Tika. Lalu berkali-kali pula memandang senjata api itu. Berpikir sambil menimbang-nimbang.


Perlahan aku kembali melangkah maju mendekati punggung Deni. Dia asik memandangi layar kaca, memerhatikan satu per satu sorotan dalam layar itu. Begitu pula dengan Brandy yang masih terfokus ke arah yang sama. Lalu dengan persiapan aku menarik senjata api itu dan berbalik, berlari pergi meninggalkan mereka berdua.

__ADS_1


Dapat aku dengar suara derap langkah kaki yang berlari mengikutiku hingga akhirnya suara itu menghilang. Tidak ada teriakan, sepi. Aku menoleh ke belakang, kosong. Mungkin mereka berhenti mengikutiku, aku bermonolog dalam hati.


Tiba-tiba suara Dana kembali terdengar pada alat di telingaku ini, dia berkata, “Bawa laki-laki ini keluar pagar,” titahnya.


“Ayo kita naik,” ajaknya lagi dengan nada suara yang begitu jauh berbeda dari sebelumnya.


Napasku terputus, seraya berlari dengan cepat menuju rumah itu. Untuk beberapa saat, terdengar hening dalam alat pendengaran tersebut. Hingga akhirnya suara langkah kaki terdengar begitu jelas.


'Mereka menaiki tangga,' pikirku.


Aku terus berlari. Ternyata jarak antara rumah itu dengan titik pertemuan tadi, terasa begitu jauh jika dilewati hanya dengan kedua kaki ini. Aku benar-benar hampir kehabisan napas. Beruntung aku menghapal jalan mengarah ke rumah itu.


“Lihat, mereka baik-baik saja. Bahkan aku sengaja menutup kedua mata mereka. Coba tebak, Sayang, kenapa aku melakukan itu?” Suara Dana kembali terdengar. Dalam pikiranku, entah bagian tubuh Tika yang mana lagi yang ia sentuh saat ini. Yang jelas, semua itu seperti menambah energi baru untukku agar semakin kuat berlari ke sana.


“Aku gak tahu, Dan. Yang jelas, lepasin mereka.” Tika kembali meminta.


“Kamu lupa? Dulu kata kamu, kalau kedua mata ditutup, kamu pasti akan merasakan ketenangan. Jadi aku juga melakukan hal yang sama untuk mereka berdua. Agar mereka bisa merasakan jiwa yang tenang.” Kemudian gelak tawa Dana terdengar begitu nyaring pada alat ini.


Sekarang, kedua mataku sudah dapat melihat dengan jelas, sebuah sudut pagar rumah lelaki itu. Dengan Igo yang tiba-tiba didorong terjatuh di luar pagar. Hanya tinggal beberapa meter lagi, tiba-tiba semua anak buah Deni dan juga Igo langsung keluar dari persembunyian mereka. Berbondong-bondong menyerang, mengarah masuk ke rumah itu. Mirip seperti segerombolan semut yang mendatangi sebuah gunung manisan.


Namun, langkah kakiku tidak berhenti begitu saja, aku terus berlari hingga tiba-tiba suara lembut pecahan kaca terdengar nyaring di telingaku lalu suara ambruk. Ya, mirip seperti suara sebuah benda jatuh. Saat itu bertepatan dengan aku yang menerobos pagar masuk, tanpa menghiraukan keadaan yang begitu kacau. Perkelahian serta penodongan senjata api. Beberapa orang terlihat tertembak saat aku melintas, sebagian lagi terlihat berjuang melawan dengan kepalan tangan masing-masing yang saling membalas.


Aku berhasil melewati mereka semua sampai masuk ke dalam rumah, hingga seorang lelaki menghadangku di depan tangga.


Buuk! Dhuak! Buuk!


Aku melakukan adu jotos pada lelaki bertubuh kekar itu dengan cukup lama. Lalu aku melayangkan kakiku mengarah pada kepalanya, tepat mengenai bagian tempurung kepalanya.


Braak!!


Dia jatuh tersungkur setelah sebelumnya sempat beberapa kali berhasil meninju wajah dan juga perutku.


Tanpa menyia-nyiakan waktu, aku langsung melompat melewati tubuh lelaki bongsor itu lalu menapaki anak tangga menuju ke atas. Begitu aku berdiri di depan pintu. Betapa leganya aku saat melihat Dana yang sudah terdampar di lantai, tidak berdaya dan dengan bagian perutnya yang berlumuran darah segar.


Semakin lega lagi rasanya dada ini, melihat Tika yang sedang berusaha melepaskan ikatan tangan mamahnya dan Hans yang juga ikut melepaskan ikatan pada kaki mamah mertuaku. Namun, saat aku hendak melangkah masuk melewati pintu kamar itu, tiba-tiba Dana membuka matanya lalu dengan cepat mengarahkan ujung senjata apinya padaku lalu menarik pelatuknya.


Doorr!!


Sebuah peluru melesat dengan cepat tanpa bisa aku hindari lagi. Tertancap pada dada sebelah kiriku. Seketika itu, aku melihat Hans yang merebut senjata apinya lalu menginjak pendarahan pada perut Dana, hingga dia berteriak kesakitan. Diiringi dengan suara teriakan Tika yang menyebut namaku.


Tubuhku ambruk seketika lalu dengan cepat Tika kembali mengangkat kepalaku. Darah mengucur deras. Tika sempat menyentuh bagian tubuhku yang tertembak itu. Lalu dia menangkup pipiku. Kami saling bertatapan, lalu aku tersenyum padanya.


“Enggak enggak enggak!! Kamu harus tetep buka mata kamu, liat aku! Liat aku! Jangan tinggalin aku, aku mohon! Jangan tinggalin aku ...,” lirihnya dengan tetesan air matanya yang ikut membasahiku.


Aku merasakan napas yang mendadak tertahan, sekujur tubuh ini terasa dingin dan membeku. Detak jantung terasa melambat dengan arah pandangan mata yang semakin berpendar. Menghasilkan bayangan-bayangan buram dan bergerak tidak jelas.


Sedangkan telingaku masih mendengar suara Tika yang berkali-kali menyuruhku untuk tetap membuka mata, bersamanya atau bahkan kalimat lainnya. Hingga akhirnya aku tidak mampu lagi menahan segalanya lalu semuanya tiba-tiba menjadi hening dan gelap.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2