
Selamat membaca ...
——————————
Haikal POV.
Aku memutuskan untuk segera meninggalkan pekerjaanku dan langsung keluar dari ruangan kerja. Lalu pergi menuju meja perawat jaga untuk memberikan beberapa berkas penting.
“Zahira, tolong berikan ini pada dokter Ranti. Dan yang ini pada dokter Adam.” Aku menyodorkan dua buah map kepadanya.
“Baik, Dok. Oh iya, Dok, tadi ada telepon dari mba Lita Aprillia katanya dari pihak wedding cake, beliau meminta untuk menghubungi beliau kembali, sebab saat beliau menelpon ke nomer ponsel katanya sedang sibuk.”
Ah, iya, aku baru mengingat tentang wedding cake yang rencananya ingin aku ganti sedikit design-nya, sebagai bagian dari kejutan untuk Clara di pesta puncak resepsi kami nanti dan tentu saja tanpa sepengetahuannya.
“Terima kasih, nanti saya akan coba untuk menghubunginya. Oh iya, undangan kemarin yang saya titipkan, apa sudah kamu sampaikan kepada masing-masing nama yang tertera di sana?” Aku memang meminta tolong kepada perawat Zahira untuk mengantarkan beberapa undangan pada kepala divisi lain yang berada pada gedung seberang, karena kemarin dia kebetulan akan ke sana.
“Sudah semua, Dok. Hanya tersisa tiga undangan lagi. Milik dokter Kirei William, dokter Firgi Rina dan juga dokter Dhila Daming. Sebab mereka kemarin tidak ada di tempat.” Perawat Zahira kembali menjelaskan.
Aku mengangguk kemudian memgatakan padanya untuk tetap menyampaikan undangan tersebut, perawat Zahira menyanggupinya.
“Kalau begitu saya keluar dulu. Mungkin tengah malam saya akan kembali. Sekali lagi terima kasih,” ucapku padanya.
Perawat Zahira dan juga perawat Fishel termasuk ke dalam golongan perawat senior di rumah sakit ini. Dan mereka berdua memiliki kemampuan yang cukup mempuni untuk meng-handle bagian depan untuk meja utama perawat jaga. Karena skill yang mereka miliki sungguh patut untuk menjadi contoh bagi perawat lainnya. Oleh sebab itu, aku tidak ingin meja jaga itu tidak dihuni oleh salah satu di antara mereka.
Bahkan, dari dahulu hingga sekarang, tugas yang berada di meja itu selalu saja selesai tepat pada waktunya dengan hasil yang memuaskan. Berbeda dengan meja perawat jaga lainnya yang selalu saja tertunda beberapa jam hingga berhari.
Selesai urusanku di sana, bergegas aku kembali melangkah menuju ke mobil untuk pergi menjemput Clara yang sedang berkumpul dengan teman-temannya.
Sesampainya di mall yang dimaksudkan oleh Clara, aku memarkirkan mobil lalu masuk ke dalam mall menuju salah satu kedai kopi ternama di sana dan mencari keberadaan pujaan hatiku itu. Di salah satu sudut kedai, dia terlihat tertawa lepas bersama dengan tiga teman wanitanya yang lain. Aku berjalan menghampirinya.
“Sstt sstt tuh!” desis salah satu wanita di hadapan Clara yang memberikan kode pada Clara, sebab aku berdiri tepat di belakang tempat Clara duduk.
Clara menoleh lalu tersenyum lebar begitu mata kami saling bertemu dan memandang. “Sini, aku kenalin dulu sama mereka.” Dia terlihat sangat gembira.
“Kenalin, ini ... calon suami aku,” ucap Clara malu-malu memperkenalkan aku kepada ketiga temannya itu.
“Hallo semua ....” Aku mengangkat sebelah tanganku untuk menyapa mereka. Dan mereka membalasku dengan senyuman.
“Ya sudah kalau begitu, ayo kita langsung pulang.”
“Emm ... aku lapar, apa aku boleh makan dulu? Kamu juga masih mau di sini 'kan sama temen-temen kamu?” tawarku sekalian.
“Serius kamu gak apa-apa?”
__ADS_1
Aku mengangguk pelan, sebab saat ini perutku benar-benar membutuhkan asupan karbohidrat kembali.
Kemudian aku menarik sebuah kursi dari meja samping mereka yang masih kosong lalu aku duduk di dekat Clara dan memanggil seorang pelayan. Memesan menu makananku lalu kembali menawarkan mereka untuk makan yang ternyata mereka semua sudah makan malam, termasuk dengan Clara.
“Kamu makan aja, aku sama yang lain sudah makan.” Kemudian Clara kembali berbincang dengan teman-temannya dan aku hanya ikut mendengarkan.
Mereka berempat asyik membahas tentang masa kecil mereka. Yang mana ternyata Clara termasuk anak yang paling jahil di antara mereka. Bahkan ketiga temannya itu tidak sungkan-sungkan untuk menceritakan kejahilan Clara. Aku terkekeh geli mendengarnya.
“Tapi Clara juga genit loh dari kecil. Dia sering banget godain tetangga kita yang dua bersaudara itu. Siapa sih namanya? Aku lupa deh ....” Wanita yang bernama Luna itu mulai menguji tingkat kecemburuanku, sepertinya.
Aku hanya tersenyum mendengarnya lalu menundukan wajah sambil mengunyah kembali makanan yang kini berada dalam mulutku.
“Oh maksud kamu si Dave sana Dana? Habis gimana dong, itu si Dana ngeselin sih, pendiam banget. Bikin aku jadi punya niat buat usilin kalo liat dia, pingin ngejahilin terus jadinya.” Clara menjelaskan.
DEG! DEG!
Detak jantungku terkejut seketika, begitu mendengar nama kedua lelaki yang tadi disebutkan oleh Clara.
GLEEK!
Aku menelan makanan yang ada dalam mulut lalu meraih gelas minumku. Menghirup beberapa tegukan air untuk membantu meluncurkan makanan yanh sudah aku telan sebelumnya. Lalu menatap Clara lekat-lekat.
Ada hubungan apa Clara dengan kedua lelaki itu? Apa benar tetangganya? Masa kecil? Apa Clara tahu jika kekacauan dalam keluargaku bebeapa bulan terakhir itu karena kedua saudara itu? Lantas, tahukah mereka jika kedua saudara itu sudah tiada?
Aku mengerjabkan kedua mataku, mencoba untuk kembali sadar dan mengalihkan pandangan mataku lagi. Aku berusaha untuk bersikap sesantai mungkin setelah mendengar mereka berempat melanjutkan perbincangannya. Membahas tentang kedua lelaki itu.
Andaikan saja mereka berempat ini tahu, jika kedua lelaki itu tidak sebaik masa kecilnya ...
Setelah aku selesai makan dan selesai mendengarkan tentang masa kecil keempat gadis ini dan juga dua lelaki yang mengusik hidup Tika, aku langsung mengajak Clara untuk pulang. Yang mana ternyata ketiga temannya itu juga memutuskan untuk mengakhiri pertemuan mereka malam ini.
Aku memanggil pelayan dan membayarkan semua total tagihannya. “Wah, makasih banyak loh, Mas Haikal, malah dibayarin. 'Kan jadi enak kalo gitu,” goda Dyta diiringi kekehan dari yang lainnya.
“Enggak apa-apa, anggap aja sebagai salam perkenalan.” Aku tersenyum kepada mereka satu per satu. Begitu juga dengan Clara yang tersenyum tipis menatapku.
**
“Kenapa malah jadi bayarin semua? 'Kan kamu bisa bayar punya kamu aja?” tanya Clara di saat kami sudah dalam mobil, di perjalanan menuju pulang.
Aku menoleh padanya sekilas. “Masa aku begitu sih sama temen-temen kamu? Mana kamu juga baru ketemu mereka lagi.”
“Ya 'kan aku jadi gak enak sama kamu.”
“Gak apa-apa. Cuman sesekali kok, bukan setiap hari juga 'kan kamu pergi hangout sama mereka?”
__ADS_1
Kemudian suasana kembali hening, tidak seperti biasanya. “Kenapa diem aja?” tanyaku menoleh sekilas pada Clara yang terlihat sedang memikirkan sesuatu.
“Gak apa-apa, cuman kangen aja sama masa kecil. Waktu itu aku punya banyak temen. Enggak kayak sekarang. Berteman sama nasabah.”
“Tapi tetep punya temen 'kan?” Clara mengangguk setelah aku melontarkan pertanyaan itu.
Jujur saja, sebenarnya hatiku ini ingin sekali menanyakan tentang kedua lelaki masa kecilnya yang dia bicarakan dengan teman-temannya tadi. Tetapi keraguan selalu menghalangi mulutku untuk berucap.
Apa sebaiknya aku rahasiakan saja tentang semuanya? Toh Tika saat ini juga sudah hidup dengan tenang bersama keluarga kecilnya. Tapi tetap saja, aku juga tidak bisa menyembunyikan hal ini darinya.
Tak lama setelah itu, kami akhirnya sampai di depan rumahnya. “Makasih ya udah jemputin dan anterin aku pulang?” ucap Clara sembali melepaskan safety belt-nya lalu menatapku.
Aku mengangguk pelan lalu menarik kepalanya dan mengecup keningnya. “Selamat istirahat,” lirihku dengan lembut sambil mengelus pipinya.
“Iya, kamu juga jangan lupa istirahat. Ini balik lagi ke rumah sakit?”
Aku mengangguk menjawab pertanyaannya. Kemudian Clara kembali mengingatkanku untuk tidak menjemputnya besok pagi, sebab mulai besok dia telah memasuki masa cuti tahunannya.
“Iya, ya udah sana masuk. Salam buat ayah ya?”
Setelah mengangguk, Clara langsung keluar dari mobil dan masuk ke dalam rumahnya. Sedangkan aku mengambil ponselku lalu menekan nomer telepon Max untuk menghubunginya.
“Hallo, Max? Kamu di mana? Oh, kita ketemu di rumahku ya? Temani aku merokok sebentar sebelum aku kembali ke rumah sakit. Oke, bye.”
Setelah itu aku langsung kembali memacu kecepatan mobil, menuju ke rumahku sendiri untuk bertemu dengan Max di sana. Sekaligus ingin menanyakan sesuatu kepadanya.
Bersambung ...
——————————
Hallo lohha, ketemu lagi 😜
Jangan bosan-bosan yaa. Spoiler sedikit!
Tenang, aku memang memunculkan kembali nama kedua lelaki yang sudah metong itu, tetapi hanya sebagai masa lalu bukan menjadi konflik yang baru. Karena mereka memang berkaitan dan untuk melengkapi naskah sebelumnya.
Trus aku bingung juga 'kan kalo bikin konflik baru sama tokoh yang sudah metong, masa mau dihidupin lagi tokohnya? Reinkarnasi dong? Ntar malah jadi genre fantasy modern 😋 belum sanggup aku bikin cerita yang begitu, butuh riset yang detail 😜
Sekali lagi makasih buat kalian yang terus membaca. Satu per satu nama kalian akan muncul di episode-episode selanjutnya. Bahkan mungkin akan muncul di judul karya aku yang lainnya. Karena nama kalian sungguh luar biasa untukku pribadi. Tanpa kalian, apa arti cerita kehaluan ini?
Jangan lupa juga buat vote 😂
Sekian dulu, #salambucin
__ADS_1
Babay ...
@bossytika 💋