Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 110


__ADS_3

Still Jefri POV.


Aku melajukan mesin mobilku, menuju sebuah bar. Entah mengapa pikiranku membawaku untuk menuju ke tempat itu. Rasanya aku ingin melepaskan penat di otakku. Dengan meminum beberapa teguk minuman beralkohol.


Entahlah, pikiranku begitu kalut.


Mobilku mulai memasuki parkiran basement sebuah gedung. Sebelum keluar dari mobil aku sempat memukul keras setir mobilku. Kesal dengan apa yang dilakukan oleh istriku sendiri.


Tidak menyangka. Kenapa bisa dia menutupi semuanya?


Aku melangkahkan kakiku memasuki sebuah lift, untuk menuju ke lantai khusus untuk bar. Sebuah gedung yang memang memfasilitasi untuk hiburan.


Suasana ruangan itu berbeda jauh dengan club malam yang berada di lantas atasnya lagi. Di tempat ini begitu tenang. Aku melangkahkan kaki menuju kursi di depan meja bar lalu memesan sebuah minuman beralkohol. Vodka.


Bartender itu langsung menyajikannya dengan cepat. Dengan sekali angkat, aku meneguk habis isi dalam sloki itu. Kemudian aku kembali memesannya lagi. Aku benar-benar ingin melupakan masalah tadi. Melupakan semua kekesalan yang ada. Hingga akhirnya aku tidak sadarkan diri.


—————


Alex POV.


Kudapati Jefri yang sudah mabuk dengan setengah tubuh bagian atasnya telah jatuh terkapar di atas meja bar. Ada beberapa sloki yang baru saja dibereskan oleh sang bartender.


"Berapa total minumannya?" tanyaku pada sang bartender.


Si penyaji minuman itu langsung memberikan kode kepada pelayan kasir. Beberapa menit kemudian sang pelayan datang dengan menunjukkan selembar kertas bill, bukti pemesanan dari apa saja yang telah Jefri habiskan.


Aku mengeluarkan dompetku lalu mengambil beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya kepada si pelayan kasir itu. "Kembaliannya ambil aja."


Aku menghela napas, setelah sebelumnya si pelayan kasir itu mengucapkan terima kasihnya lalu pergi kembali ke tempatnya. Bukan karena si pelayan itu aku jadi bersikap seperti ini, tapi karena Jefri. Karena melihat kondisinya saat ini di hadapanku.


Terlihat jelas jika ia sedang bermuram durja. Bahkan mulutnya terus saja meracau tak jelas. Menumpahkan kekesalannya dengan makian. Hingga akhirnya aku memutuskan untuk membopongnya keluar dari tempat itu menuju ke mobilnya sendiri.


Dari dalam kantong celananya, aku mendapatkan kunci mobilnya lalu menekan tombol alarm agar dapat mengetahui di mana letak parkir mobilnya. Lalu memasukkannya ke dalam mobil, ke kursi penumpang.


Kemudian kukemudikan mobilnya itu menuju keluar area parkir di mana sudah ada Lisa yang menungguku di mobilku. "Dia mabuk berat. Kita ketemu di rumahnya," ucapku pada Lisa yang mengintip melihat kondisi Jefri dari balik jendela.


"Aku ngikutin dari belakang." Lisa langsung masuk ke mobilku lalu bersiap mengendarai mobil itu, mengikuti dari belakang.


Disepanjang perjalanan, sesekali aku menegok, melihat dari kaca spoin tengah. Untuk memastikan jika Jefri di belakang sana masih tetap berbaring dan tidak muntah di mobilnya sendiri.

__ADS_1


Aku menggelengkan kepalaku. Tidak menyangka bahwa pada akhirnya semua ini harus terbongkar. Aku juga baru mengetahuinya beberapa jam yang lalu. Saat Lisa menelponku, memintaku untuk mencari tahu di mana keberadaan Jefri.


Sampai akhirnya, Max menelpon Lisa saat dia sedang bersamaku untuk mencari adik iparnya itu. Max yang memberitahukan kami di mana keberadaan Jefri. Mungkin kan jika Tika yang meminta tolong pada Max? Entahlah.


Yang jelas untuk saat ini, aku tidak bisa menggambarkan bagaimana kondisi Jefri. Dia hanya mabuk dan untungnya dia tidak bermain wanita seperti pria lain di luaran sana. Dan mungkin, jika aku di posisinya sekarang, aku juga tidak tahu apa yang bisa aku lakukan.


***


Sesampainya di rumahnya, Tika sudah menyambut di balik pintu depan. Atas izin istri sahabatku itu, aku memapahnya membawanya masuk hingga melemparkannya ke atas ranjangnya. Lalu membiarkannya di sana. Masih dengan racauannya itu.


Begitu turun dari kamar mereka, langkah kakiku sempat terhenti. Saat aku mendapati pemandangan di mana Tika menangis tersedu dalam dekapan Lisa. Lalu aku kembali melangkah mendatangi mereka.


"Udah dong, Tik. Jangan gini. Lu mesti jaga kandungan lu. Besok periksa sama gua ya? Gua temenin, ya?" Lisa mencoba memaksa sahabatnya itu untuk memeriksakan kandungannya.


Kemudian aku juga menjelaskan pada Tika. Bahwa Jefri pergi ke tempat itu hanya untuk minum di lantai bar. Bukan masuk ke lantai club-nya. Jefri juga tidak sedang bersama wanita saat aku menemukannya.


Tak selang beberapa lama kemudian kakak Tika, Max, datang. Tika yang melihat kehadiran Max saat itu langsung berdiri, menghampiri Max lalu memeluk kakaknya itu dengan erat. Bahkan beberapa kali aku sempat mendengar Tika yang mengungkapkan rasa kesalnya kepada Max.


Berkali-kali Tika melayangkan kepalan tangannya di dada Max. Aku memperhatikan semua itu. Aku dan Lisa tidak bisa berbuat banyak melihat kesedihan Tika yang terus saja menangis meronta-ronta.


Dari semua kejadian itu, aku baru saja memahami satu hal. Tika dan Jefri sangat saling mencintai, hingga membuat mereka berdua begitu melindungi, takut untuk menyakiti satu sama lain. Dan mungkin, Jefri sudah begitu banyak memendam rasa kesalnya.


Entahlah. Aku tidak berani menyimpulkan apapun dari apa yang aku lihat sekarang. Begitu pula dengan Lisa, dia hanya membantu untuk menenangkan Tika. Hingga akhirnya aku, Lisa dan Max pamit. Membiarkan Tika untuk istirahat bersama suaminya.


—————


Setelah sudah merasa tenang dan meluapkan semua kekesalanku pada Max. Akhirnya ia meminta izinku untuk pulang. Aku tetap menghormatinya. Dia berhak untuk pulang, kembali bersama keluarga kecilnya.


Max mengecup keningku, lalu mengatakan berkali-kali rasa bersalahnya karena telah lebih dulu membicarakannya dengan Jefri dan meminta maaf padaku. Sebab jika bukan karena teleponnya tadi, mungkin Jefri tidak akan tahu dan tidak akan bersikap seperti ini padaku.


Mereka akhirnya pulang dan meninggalkanku. Saat menutup pintu depan, kakiku sempat melemah kemudian tubuhku ambruk ke lantai. Aku tidak sanggup untuk menghadapi suamiku sendiri. Aku takut jika ia akan melakukan hal yang lebih kasar lagi.


Air mataku sempat kembali tumpah. Membayangkan kejadian sebelumnya saat ia mendorongku. Aku akui, semua memang salahku. Aku salah telah menyembunyikan masalah ini terlalu lama. Bahkan sampai aku hampir melupakannya. Aku terlalu terfokus pada ketakutanku terhadap teror Dana.


Isak tangisku kini tidak bisa lagi aku tahan. Dengan duduk berbimpuh di lantai aku menangis sejadi-jadinya. Sambil mengelus kedua anak kembar dalam perutku. Dalam pikiranku, bagaimana aku bisa menjalani keseharianku hingga anak ini lahir, jika sikap suamiku seperti ini.


Dan ini kali pertamanya kami bertengkar hebat. Hingga ia harus melewati waktunya duduk di bar dan menghabiskan banyak minuman yang ditengaknya. Sampai akhirnya harus dijemput oleh Alex sebab ia sudah dalam kondisi yang mabuk berat.


Aku mencoba menghentikan tangisku. Kembali mengatur pola pernapasanku. Menenangkan detak jantungku. Agar aku dapat berdiri dan melangkahkan kakiku menuju kamar. Melihat keadaan suamiku. Aku harus kuat, aku harus bisa melalui hari demi hari. Demi kedua anak kembar yang kukandung.

__ADS_1


Perlahan dengan bantuan kenop pintu, aku berdiri. Setelah sebelumnya aku menghapus air mata yang sempat membasahi kedua sudut pipiku.


"Aku harus kuat," lirihku sambil menatap dan mengelus perutku.


Aku mengembuskan napasku. Berkali-kali hingga kurasa cukup untuk menenangkan kembali detak jantungku. Lalu aku melangkahkan kakiku menuju kamar. Menaiki satu per satu anak tangga dengan gemetar yang masih bisa aku rasakan.


Saat menaiki anak tangga yang terakhir, aku dapat melihat Jefri yang sudah terbaring di atas ranjang dengan pakaian lengkapnya tadi. Serta sepasang sepatu yang masih terpasang pada kedua kakinya.


Dengan hati-hati, aku mendekatinya. Melepaskan sepatu yang masih ia kenakan. Lalu meraih selimut untuk menyelimuti tubuhnya. Bau alkohol begitu menyengat saat ia tiba-tiba meracau. Menyebut namaku dan mengatakan kembali rasa kecewanya.


Aku kembali meneteskan air mataku sambil menatapnya. Lalu dengan perasaan yang sulit untuk aku jelaskan, aku langsung meraih ponselku di atas buffet dan kembali turun ke lantai bawah. Melangkah menuju kamar samping dan mengunci pintunya.


Menangis di atas ranjang dengan meringkukkan tubuhku. Menyesali kebodohan yang telah aku lakukan untuk menutupi semua itu. Bahkan rasanya, aku mulai merasa letih dengan semua permasalahan yang selalu datang. Belum selesai satu masalah, sudah muncul lagi satu masalah baru.


Kutatap jam di atas meja di samping tempat tidur ini, sudah jam 2 dini hari. Dengan air mata yang masih berlinang, aku mencoba menutup mataku untuk beristirahat. Hingga akhirnya aku tertidur dalam tangis.


***


Pagi hari menjelang. Cahaya matahari yang bersinar, menyelinap masuk melalui celah gorden yang tidak terlalu rapat. Lalu hangatnya menyapa kulit wajahku yang terpapar sinar itu. Hanya suara notif ponselku yang terus-terusan berbunyi sedari tadi. Membuatku terpaksa untuk membuka mata dan melihat isi ponselku. Ternyata sebuah pesan singkat dari Lisa.


Lisa: Gimana kondisi lu?


Me: Aku baik. Makasih ya Lis.


Lisa: Ingat, kesehatan kamu dan anak-anak lebih penting dari apapun. Jaga itu.


Me: Iya, aku usahakan.


Lisa: Kalian cuman butuh waktu, semua pasti kembali lagi seperti semula. Semua akan baik-baik aja.


Tidak lagi aku menjawab chat darinya. Mataku kembali berair, meneteskan bulir-bulir air mata penyesalan. Lalu aku beranjak dari tempat tidurku untuk membuatkan sarapan. Tapi tidak kusangka, begitu aku membuka pintu, Jefri sudah berdiri menuruni tangga lalu sekilas menoleh menatapku karena mendengar suara pintu kamar yang berdecit.


Namun, setelah itu ia terus saja menuruni tangga dengan pakaian kerjanya yang rapi lalu keluar dari rumah, menghilang di balik pintu depan. Tanpa menghampiriku apa lagi mengecup keningku.


Aku mengelus pelan perutku, mencoba menguatkan diriku sendiri akan sikapnya yang acuh seperti itu.


Apa ini ganjaran yang harus aku terima?


Mengapa terasa berat, hanya karena aku terlambat mengatakan semuanya?

__ADS_1


Kucengkram erat kenop pintu kamar dan juga pakaian yang menutupi permukaan perutku. Aku sungguh menyesal dengan semua keputusan yang kupilih.


Bersambung ...


__ADS_2