
Max POV.
Sesaat setelah urusan dengan ponsel genggamku selesai. Aku mendengar Haikal yang mengetukkan jarinya pada pintu kaca balkon.
Tok tok tok!
Aku menoleh dan melihat adikku yang telah sadar dari pingsannya. Dibantu dengan Jefri yang berusaha mendudukkannya dan mamah yang membantunya untuk minum. Aku bergegas untuk kembali ke dalam kamar.
"Kamu gak apa-apa?" tanyaku setelah melihatnya selesai menelan air minumnya. Aku duduk di atas ranjang lalu meraih kedua tangannya.
Wajahnya masih terlihat pucat pasi. Aku dapat merasakan jemarinya yang gemetar membalas genggaman tanganku. Ia duduk dengan bersandar di dada suaminya. Seketika kedua matanya mulai berkaca-kaca, sepersekian detik kemudian ia meneteskan bulir airmatanya yang pertama, disusul dengan airmata selanjutnya yang semakin mengalir membasahi pipinya. Tika memejamkan kedua matanya lalu menggenggam tanganku dengan erat.
Suara tangis Tika akhirnya pecah, menggema di dalam ruangan ini. Disela isak tangisnya itu, ia memintaku untuk mencari sahabatnya. Aku tak bisa mengatakan apapun, hanya terdiam sambil menatap Jefri yang masih berada di posisinya saat ini. Aku mencoba untuk menenangkannya.
Kuraih kembali jemarinya, lalu berkata, "Aku janji ... aku pasti bawa Lisa ke sini lagi. Tapi kamu juga harus janji, jangan bikin aku khawatir. Kamu harus pikirin dua nyawa yang ada dalam perut kamu." Aku menggenggam tangannya erat dan menatapnya dengan lekat.
Jefri membantu untuk menghapuskan air matanya. Sedangkan mamah mengulurkan salah satu tangannya pada genggaman tangan kami, lalu tangan satunya lagi mengelus pelan pundakku.
"Lisa pasti baik-baik aja. Dia wanita yang kuat." Haikal mengatakan kalimat yang benar. Aku setuju dengan perkataannya.
"Aku takut Lisa disakiti lagi. Udah cukup penderitaannya." Tika berkata dengan tenang, ia sudah mulai bisa mengontrol emosinya.
Aku menghela napasku lalu memintanya untuk beristirahat. Dapat aku pahami kecemasan yang Tika rasakan, bahkan aku juga mengerti maksud dari semua kalimat yang diucapkan oleh adik perempuanku ini. Aku tersenyum padanya lalu mengatakan, "Semua pasti akan baik-baik aja."
Kemudian aku melepaskan genggaman tanganku lalu meminta Jefri untuk menemaninya beristirahat. Kami semua keluar dari kamarnya satu per satu setelah sempat mengecup keningnya dan membiarkannya beristirahat.
Dokter yang memeriksa Tika pun akhirnya memutuskan untuk pamit, kembali ke rumah sakit. Ia juga mengatakan beberapa kondisi yang harus dijaga agar Tika tetap sehat untuk anak-anaknya. Lalu Haikal mengantarkannya hingga ke pintu depan. Sedangkan aku meminta bi Mince untuk mengantarkan mamah ke kamarnya dan berdiam di sana untuk menemani mamah.
Bergegas aku menuju ke kamar tidurku yang dulu aku tempati. Mencari sebuah benda yang akan aku bawa untuk berjaga-jaga, sebab aku akan langsung mendatangi sebuah tempat yang sudah di kepung oleh orang suruhanku. Sebuah tempat yang dicurigai sebagai tempat persembunyian lelaki breng*sek itu.
Tiba-tiba pintu kamarku dibuka dengan kasar, membuatku terkejut dan segera menutup laci tempat aku menyembunyikan senjata api, yang tadi sempat kuisi dengan beberapa butir peluru ke dalamnya. Aku berbalik dan menemukan Haikal yang sudah berdiri di ambang pintu. Kemudian melangkah masuk mendekatiku.
"Kamu habis ini mau ke mana?" selidik Haikal, ia selalu saja curiga padaku jika sudah dalam keadaan yang seperti ini.
Aku mencoba untuk tetap tenang, walaupun sebenarnya aku adalah orang yang terburu-buru jika sudah dalam keadaan panik. Terlebih keadaan yang menyangkut nyawa orang-orang di sekitarku.
"Balik ke kantorlah, ke mana lagi," sahutku asal lalu melangkah menuju kamar mandi untuk membasahi wajahku, aku butuh penyegaran.
__ADS_1
"Gua gak nyangka, tu cowo bisa nekat pake acara culik menculik." Haikal mengutarakan pendapatnya. Aku hanya terdiam sambil menyelesaikan terlebih dahulu tentang ritual wajah yang sedang aku lakukan. Sedangkan Haikal terus saja mengutarakan rasa tidak percayanya terhadap masalah yang menimpa adik kami.
Karena jujur saja, rasanya memang tidak masuk akal. Jika terlalu mencintai Tika tetapi sampai berani melukai orang lain. Bahkan sampai menculik Lisa seperti sekarang. Ini bukanlah tindakan yang normal, bukan pula tindakan yang mencerminkan sebuah rasa cinta.
"Semua bisa terjadi, Kal. Semua yang baik bisa menjadi buruk. Kamu lupa gimana Lisa dulu bisa sampai jatuh pingsan dan masuk rumah sakit? Semua juga gara-gara lelaki itu kan?" Aku mencoba kembali mengingatkan Haikal akan kejadian yang telah berlalu.
"Tadi aku sudah dapat kabar. Orang suruhanku sudah nemuin di mana Lisa sekarang. Dan tadi mereka sudah kirim alamatnya," ucapku lagi sambil berjalan keluar kamar mandi dan mengeringkan wajahku dengan selembar handuk kering.
Haikal menoleh, membelalakkan kedua bola matanya, lalu berdiri menghadapku. Ia memohon padaku untuk membawanya ikut serta dalam menghadapi lelaki breng*ek itu. Tapi aku menolaknya, "Aku pergi sendiri aja. Lagian banyak orang yang membutuhkan kamu di rumah sakit."
"Aku harus ikut!" paksanya padaku lalu melanjutkannya dengan berbagai macam rayuan hingga rengekkan layaknya seorang anak kecil. Hampir saja ia membuatku tertawa dengan sikapnya itu.
"Jangan seperti anak kecil, Kal. Kamu gak usah ikut. Kamu cukup bantu aku buat jaga Tika. Kalau dia butuh apa-apa, kamu bisa lebih cepat buat handle, biar Jefri bisa nemenin dia terus!" tegasku padanya hingga membuatnya tidak lagi mengatakan sepatah kata pun.
Aku juga mengatakan pada Haikal, bahwa lelaki yang menjadi mantan adik kami sekarang ini bukanlah lelaki baik, melainkan lelaki yang sudah berubah menjadi seorang psikopat. Prilakunya bukan lagi layaknya perasaan cinta. Ini sudah termasuk obsesi berlebihan. Keinginan yang tidak bisa lagi dikendalikan dan biasanya terkesan memaksakan.
🎶
So don't call me baby
Don't tell me you need me
If you don't believe it
So let me know the truth
Before I dive right into you
🎶
Tiba-tiba saja ponsel Haikal berbunyi, ia merogoh saku celananya lalu mengeluarkan benda tipis tanpa tombol itu lalu melihat ke layarnya. Dan segera menerima panggilan telepon itu. Dari yang ia ucapkan sepertinya itu panggilan dari pihak rumah sakit. Dia berjalan perlahan sambil menuju keluar kamarku dan di saat itu lah aku bergegas kembali menarik laci di lemari televisi dan mengambil benda berat yang berbahaya itu, lalu menyelipkannya masuk ke dalam pakaian di punggungku, menyangkut pada celana yang kugunakan. Kembali kurapikan pakaianku sambil sesekali menoleh, melihat situasi dan kondisi Haikal yang sudah tampak jauh dari depan pintu kamarku yang terbuka. Tidak lupa aku mengambil 2 buah kotak peluru lalu memasukkannya di saku celana.
Setelah itu aku bergegas meraih kunci mobilku dan keluar dari kamar sambil menutup pintu. Saat itu juga bertepatan dengan berakhirnya panggilan telepon Haikal. Aku menatapnya dengan penuh senyuman kemenangan. Aku tahu jika ia harus segera kembali ke rumah sakit, sebab raut wajahnya sudah menggambarkan dengan jelas semua itu.
"Balik ke rumah sakit 'kan?" tebakku dengan senyum yang terkulum. Dia hanya menjawab dengan dehaman lalu mencibir dengan kesal. Sebelum dia kembali meminta untuk ikut denganku, ada baiknya jika aku yang segera pergi dari sini. Pasalnya jika adikku yang satu ini sampai berubah pikiran dan menetapkan hati, akan sulit untuk menolaknya.
Aku memutuskan untuk pamit dan pergi lebih dulu dari dirinya, lagi pula ia juga mengatakan akan melihat keadaan Tika terlebih dahulu sebelum meninggalkannya ke rumah sakit.
__ADS_1
Sesaat sebelum aku masuk ke mobil tiba-tiba sebuah mobil yang aku kenali berjalan mendekat, itu adalah mobil Alex. Dia turun dari mobilnya lalu menyapaku menanyakan bagaimana kondisi Tika, sebab ia sempat mendapatkan kabar dari Jefri jika pingsan. Kemudian aku juga mengatakan jika aku sudah mengetahui di mana posisi Lisa saat ini. Alex terkejut, membelalakkan matanya. "Serius? Di mana?"
Aku tidak memberitahukannya, melainkan mengajaknya untuk ikut pergi bersama denganku. Dengan sigap Alex menerima tawaranku lalu kami masuk ke dalam mobilku dan melesat pergi meninggalkan rumah, menuju ke tempat di mana Lisa berada.
—————
Jefri POV.
Aku masih menopang tubuh Tika untuk bersandar padaku. Kudekap erat tubuhnya setelah satu per satu, mereka semua keluar dari kamar ini, Max yang terakhir menutupkan pintu kamar. Sesaat setelah itu, aku mengecup keningnya.
Masih dapat kudengar sisa-sisa dari suara isak tangisnya. Ada rasa lega yang bercampur dengan kekhawatiran, membuat perasaanku bagai dilema. Melihatnya yang seakan tertekan saat mendengar kabar bahwa Lisa menghilang. Aku yang tadinya berniat ingin memarahinya menjadi tidak tega dan segera membuang jauh-jauh rasa kesal itu.
Lagi-lagi aku mendapati dirinya yang terlihat sangat begitu rapuh kali ini, lebih rapuh dari sebelumnya. Bahkan saat kami berselisih paham pun, aku masih melihat dirinya yang kuat. Tapi tidak untuk saat ini.
Kulepaskan bibirku dari keningnya, lalu menarik dagunya agar aku bisa menatap wajahnya. Kuperlihatkan senyumanku untuknya lalu kuusapkan jariku untuk menghapus air mata di pipinya. Kemudian mengecup bibinya kilas. "Jangan nangis, semua pasti baik-baik aja. Maaf kalau tadi aku harus nangis ... aku takut kamu kenapa-kenapa." Aku menjelaskan alasanku mengapa sesaat sebelum ia pingsan aku sempat menangisinya.
Tika tidak mengatakan sepatah kata pun, ia mengulurkan kedua tangannya melingkari leherku. Sedang wajahnya ia benamkan pada dadaku. Kemudian kepalanya bergerak naik dan turun seperti mengangguk. Aku mendekapnya erat lalu mengajaknya untuk berbaring. Mengistirahatkan otak serta perasaan yang terus saja dipacu, seakan tidak ada jeda untuk kami kembali damai.
Kami saling menyamping berhadapan. Kuselipkan helaian rambutnya yang terjatuh menutupi sebagian wajahnya. Aku menopang kepalaku dengan telapak tangan yang sengaja kulipat dan menempelkannya di sebagian pipi dan kepalaku. Sedangkan dia menyelipkan salah satu tangannya pada leherku dan membiarkannya tersemat di sana. Lalu tangannya yang satunya lagi membelai pipiku.
Aku mengelus perutnya, merasakan gerakan dari anak kembar kami di dalam sana lalu berkata, "Maaf, jika aku belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu. Dan aku gak tahu, apa nanti aku bisa menjadi ayah yang baik untuk mereka," lirihku pelan, membuat Tika kembali meneteskan airmatanya.
Ia mencengkram salah satu sisi kerah kemejaku, kemudian membalas perkataanku. "Kamu yang terbaik yang diberikan Tuhan. Dan kamu pasti bisa jadi ayah yang terbaik juga. Temani aku sampai kapan pun, aku butuh kamu." Tika menghela napasnya kemudian kembali mendekatkan tubuhnya padaku. Menyembunyikan wajahnya dalam dadaku.
Sekilas hatiku terasa sakit. Teringat lagi kejadian beberapa jam yang lalu saat ia menghilang. Tidak banyak yang bisa aku lakukan saat itu untuk melindunginya. Aku benar-benar bukan suami yang baik.
Tokk tokk tokk!
Suara pintu kamar yang diketuk oleh seseorang. Aku hanya meninggikan suaraku untuk mempersilakan yang mengetuk memasuki kamar. Lalu Haikal muncul dari balik pintu, berjalan masuk mendekati kami. Aku segera beranjak dari posisi berbaringku ke posisi duduk, lalu membiarkan Tika tetap berbaring.
Haikal duduk di pinggiran ranjang di samping Tika lalu menempelkan tangannya di kening dan leher adiknya. Mungkin untuk memeriksa suhu tubuh Tika. Kemudian ia tersenyum dan meminta izin pada adiknya untuk segera kembali ke rumah sakit, sebab ada beberapa pasien yang dijadwalkan untuk ditangani olehnya secara khusus.
"Max mana?" tanyaku saat Haikal selesai mengecup punggung tangan adiknya, ia menoleh padaku.
"Dia pergi buat mastiin keadaan Lisa. Katanya tadi orang suruhannya sudah tahu di mana Lisa di sembunyikan. Semoga aja Lisa baik-baik aja. Dan kamu di sini aja, doa-in Lisa." Haikal menekankan perkataannya sebagai sebuah perintah untuk Tika.
Bersambung ...
__ADS_1