Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S3 - Eps 157


__ADS_3

Happy reading ...


Jangan lupa TAP sebelum membaca ...


Love, like, comment ...


—————


Still Jefri POV.


Begitu tiba di kantor pagi ini, aku kembali dikejutkan dengan ulah pak Hardi yang sudah duduk terlebih dahulu di dalam ruanganku. Beliau duduk di sofa tamu yang memang tersedia di sudut ruanganku.


"Loh, Pak Hardi?" Aku tekejut melihat beliau lalu segera masuk ke dalam ruanganku, menuju ke kursi kerjaku.


Pak Hardi berdiri lalu melangkah menghampiriku. Beliau menyodorkan sebuah map di atas meja, tepat di hadapanku. Lalu aku langsung membuka map itu tanpa berkata sepatah kata pun. Membaca isinya sekilas satu per satu. Kemudian aku merasa ada yang aneh dengan bagian lembaran akhir yang tiba-tiba mengharuskan aku untuk membubuhkan tanda tanganku di sana.


"Harus saya tanda tangani, Pak?" Aku mendongakkan kepalaku untuk menatap kedua bola matanya. Kemudian terlihat jelas dari mataku jika beliau sedang salah tingkah.


"I-iya, Pak," jawabnya singkat lalu menundukkan wajah.


Aku paham maksud dari permainan pak Hardi ini. Beliau sengaja memintaku untuk tanda tangan pada laporannya ini agar mendapatkan tanda tangan asliku. Dan ada kemungkinan jika beliau akan memalsukannya untuk digunakan pada kertas nota penarikan uang ke bagian keuangan.


Astaga, pak Hardi terlalu berani melakukan ini padaku. Tetapi aku semakin penasaran dengan apa yang dikatakan Nadine kemarin saat kami berdua bertemu. Nadine mengatakan bahwa sebelum pak Hardi bertemu dengannya, dia melihat pak Hardi yang bertemu dengan wanita lain seumuran dirinya.


"Berarti bener dong pak Hardi punya sugar baby? Astaga itu tua-tua kenapa coba." Aku tak habis pikir dengan sikap pak Hardi yang aku dengar dari Nadine.


"Eh tunggu dulu, lu jangan asal menyimpulkan aja. Jadi begitu gua datangin dia, dia langsung ngusir itu cewek dan gua gak sempet liat wajahnya." Nadine mulai menjelaskan dengan detail.


Bahkan saat itu Nadine terlihat bersemangat menceritakan pertemuan keduanya dengan pak Hardi. Dan yang lebih membuatku penasaran lagi adalah pak Hardi secara halus menolak berkencan dengan Nadine!


"Lah lu ngomongnya gimama jadi sampe ditolak begitu?" tanyaku heran.


"Gua cuman bilang pingin kenal dia lagi, eh dia kagak jawab, trus pas ketemu itu dia bilang. Kalo dia bukan nyari pasangan buat seneng-seneng, tapi cari istri. Ya gua ogah kalo istri," sanggahnya yang sontak membuatku tertawa terpingkal-pingkal.


Jadi karena itu lah, akhirnya rencanaku dengan Nadine gagal total. Padahal sebelumnya kami sudah merencanakan untuk menjebak pak Hardi saat ia melakukan transaksi pencairan di kantor. Saat bagian keuangan menolak permohonan pencariannya yang harus membubuhkan tanda tanganku sebagai sebuah izin dariku.


Gara-gara kegagalan rencana ini lah, aku harus mengubah rencanaku. Yang kemudian membuat aku semakin penasaran ke mana larinya uang itu setiap bulannya, jika pak Hardi sama sekali tidak memiliki wanita simpanan. Apa dia masih memberikan tunjangan kepada mantan istrinya? Terlalu baik!


Dengan segala pertimbangan, akhirnya aku membubuhkan tanda tanganku pada lembar akhir laporan dari pak Hardi tersebut. Setelah itu pak Hardi segera keluar dari ruanganku dan mengucapkan terima kasihnya.


Tak lama setelah itu, aku langsung meraih gagang telepon lalu menghubungi bagian keuangan untuk membiarkan pak Hardi memroses penarikan itu. Lalu aku juga menghubungi Brandy untuk meminta bantuannya.


"Bantuin gua ya? Iya, nanti jadi urusan gua." Aku meminta tolong pada Brandy untuk menghubungi salah satu kenalannya saat kami di kantor yang sama dahulu. Menghubungi orang untuk memata-matai gerak-gerik pak Hardi. Sebab aku sudah tidak bisa lagi menggunakan Nadine untuk melakukan itu.


"Oke, pokoknya kirim sekarang ya?" pintaku pada Brandy, kemudian dia juga memastikan sekali lagi untuk pertemuan kami siang ini.


"Iya jadi kok. Ntar siang jam sebelas ya? Iya di rumah gua aja, eh, di rumah orangtua gua maksudnya, soalnya ada yang mau gua kerjain sekalian. Bye." Aku mengakhiri sambungan telepon itu lalu kembali mengerjakan beberapa laporan yang harus aku periksa.


Kemudian bebebrapa bunyi notif pesan singkat aku dapatkan di ponselku. Aku segera melihatnya lalu membalas satu per satu hingga akhirnya mama menghubungiku.


"Hallo, Ma? Kenapa?" jawabku dengan arah mataku yang kembali fokus pada layar kaca komputerku.


Mama menanyakan padaku tentang beberapa orang yang datang ke rumah untuk mendekor. Tetapi mama menolak untuk mewujudkan acara yang aku rencanakan itu di rumah beliau. Katanya mama, kenapa tidak dilakukan di rumahku sendiri saja?


Dan yap! Benar juga ujar mama itu, kenapa tidak di rumahku sendiri saja? Lagi pula aku juga merindukan suasana rumahku.


Kemudian aku meminta mama untuk memberikan teleponnya pada salah satu orang yang ada di sana. Aku menjelaskan pada mereka jika aku mengganti tempatnya, yaitu menjadi ke alamat rumahku sendiri.


"Iya, maaf. Saya akan kirimkan alamat barunya. Iya, saja sendiri yang akan menunggu kalian di sana. Iya betul. Terima kasih," ucapku seraya mengakhiri panggilan telepon itu. Lalu aku mengirimkan location map kepada mereka.


Dan tanpa berpikir panjang, aku segera menyudahi pekerjaanku. Lalu mematikan komputerku dan bersiap untuk segera pergi meninggalkan kantor ini. Namun, saat aku berada di lobby kantorku, tiba-tiba saja sang resepsionis kantorku terdengar memanggilku hingga membuatku menghentikan langkah. Lalu ia berjalan menghampiriku.


"Maaf, Pak. Saya jadi tidak sopan. Saya cuman mau menyampaikan pesan ini. Tadi ibu menelepon, tapi begitu ingin saya sambungkan, telepon bapak sedang sibuk," tutur si resepsionis itu sambil menyodorkan sebuah kertas padaku. "Permisi, Pak!" pamitnya lagi setelah aku menerima selembar kertas itu.


Kemudian aku melanjutkan langkahku menuju ke depan, menunggu mobilku diambilkan oleh karyawanku. Saat itu aku membuka sepucuk kertas yang diberikan tadi dan membaca isinya dengan perlahan.


Kamu ingin aku berdandan atau biasa aja untuk malam ini?


Begitu isi dari tulisan di kertas itu. Membuat kedua sudut bibirku mendadak tertarik. Aku tersenyum sempurna. Entah mengapa kalimat sederhana itu dapat membuat jantungku berdegup tidak karuan.


"Maaf, permisi, Pak. Mobilnya sudah siap," ujar seorang lelaki yang sepertinya mengambilkan mobilku dari tempat parkir. Kemudian aku mengucapkan terima kasihku padanya. Lalu melangkah memasuki mobil.


Aku masih mengemudikan mobilku sendiri, tanpa seorang supir. Sebab aku tidak ingin ada orang lain di perusahaan yang lebih mengenali kehidupan pribadiku. Cukup pak Hardi saja yang tahu, itu pun hampir semuanya.

__ADS_1


Dengan kecepatan sedang aku mengendarai mobil, sambil sesekali membalas pesan singkat yang masuk pada ponselku. Ya, acara untuk merayakan ulang tahun serta perayaan penikahan aku dan Tika jadi dilaksanakan. Walaupun terhitung terlambat.


Namun, perayaan itu tidak di adakan rumah mamah Ida, karena Tika ada di sana. Dan tidak juga di rumah mamaku, sebab mama tidak mengizinkannya. Tetapi di rumah kami sendiri. Rumah yang sudah lama tidak kami tempati.


Bukan tanpa alasan mamaku melarangku melakukan perayaan itu di rumahnya. Dia hanya tidak ingin terlihat tidak adil kepada adikku dan iparku itu. Ya, aku mengerti maksud mama itu.


Setelah melewati ruas jalan tol yang begitu macet akhirnya aku tiba di depan rumahku sendiri. Aku belokkan arah mobilku untuk memasuki jalur menuju garasi. Lalu aku mengambil kuncinya yang memang aku simpan di dalam dashboard mobilku ini. Kemudian mematikan mesin mobilku.


Begitu turun dari mobil, aku langsung melangkahkan kakiku menuju pintu depan dan membuka pintunya. Suasana hangat dari dalam rumah langsung menyambut kehadiranku. Aku benar-benar merindukan tinggal di rumah ini, bersama istri dan anak-anakku.


Kubiarkan pintu depan terbuka lebar, sementara aku perlahan melangkahkan kaki semakin ke dalam. Membuka tirai beserta pintu geser kaca yang menjadi penyekat ruangan antara ruang dalam rumah dan ruang kolam renang di samping. Agar sirkulasi udara kembali masuk ke dalam rumahku.


Tiinnn tiinnn!


Suara klakson mobil yang bergema di depan rumah membuat kakiku melangkah cepat menuju ke depan rumah. Dan benar saja, para jasa dekorasi ruangan serta katering yang sengaja aku pesan telah sampai. Lalu aku mempersilakan mereka untuk masuk ke rumah dan melakukan tugasnya.


Aku hanya mengatur letak dan posisi yang mereka perlukan selebihnya itu menjadi urusan mereka. Saat aku sedang memerhatikan mereka semua melakukan pekerjaannya, aku teringat akan sesuatu. Rasanya sudah lama sekali aku tidak memberikan sebuah kejutan pada Tika. Bukan kah terakhir kali di saat pesta perpisahannya di kantor yang dulu itu?


Tingtong!


Suara bel rumah berbunyi, membuatku bangkit dari dudukku untuk melangkah menuju pintu depan, melihat siapa yang kembali datang dan ternyata tidak lain dan tidak bukan adalah Brady.


"Untung tadi lu ngabarin, kalo enggak gua udah duluan sampai di rumah orangtua lu," ucapnya seraya melangkah masuk mengekor di belakangku.


"Lu mau minum? Gua bikinin kopi ya? Sekalian buat yang lain." Aku langsung melangkah menuju dapur dan membuatkan dua teko kopi hitam untuk para pekerja pendekor dan orang-orang penyaji katering.


Lalu aku juga membuat dua cangkir kopi hitam lainnya, untukku dan untuk Brandy. Kemudian aku mengajak Brandy untuk duduk di kursi samping depan kolam renang. Kami sama-sama menyulut sebatang rokok, lalu menikmatinya dan mulai membicarakan maksud hatiku bertemu dengannya saat ini.


Aku meminta Brandy untuk menjadi sekretaris-ku di kantor. Sebab aku tidak memiliki orang kepercayaan lainnya untuk membantuku di perusahaan itu. Lagi pula aku tahu betul seluk beluk latar belakang hidupnya. Jadi menurutku, sangat kecil kemungkinan kalau Brandy akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh pak Hardi kepada papaku.


"Jadi lu minta gua buat resign trus jadi sekretaris di perusahaan lu?" Brandy terlihat sedikit terkejut dengan permintaanku.


Kemudian aku menjelaskan padanya, jika aku memang mulai membutuhkan orang yang berkompeten, teliti serta tegas dalam melaksanakan tugas dan orang yang cocok melakukan itu hanya lah dia menurutku selama ini. Andaikan adikku, Jerry, mau resign dari kerjaannya, aku pasti akan memilihnya.


Tapi sepertinya tidak mungkin. Sebab, pendapatan dalam pekerjaannya yang sekarang saja sudah mencapai di dua digit angka awal. Dan dia juga pernah mengatakan jika perusahaan keluarga ini adalah pilihan terakhirnya. Sama seperti prinsipku dahulu.


"Jadi gimana?" tanyaku sekali lagi dengan Brandy. Dia terlihat berpikir keras sambil menghirup asap tembakau yang sempat ia keluarkan sedikit sebelumnya.


Namun, tiba-tiba saja salah seorang pekerja dekor memanggilku. "Lu tunggu di sini, pikirin aja dulu mateng-mateng. Gua butuh kepastian lu sekarang juga." Kemudian aku melangkah pergi meninggalkan Brandy yang duduk di sana sambil berpikir sejenak.


Tepat pada pukul tiga sore, semua persiapan telah rampung. Lalu ponselku berdering tepat saat semua para pekerja telah pulang, menyisakan Brandy yang masih setia duduk di kursi samping dengan memikirkan tawaranku padanya.


🎶


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Talk about where we're goin'


Before we get lost


Let me out first


Can't get what we want without knowin'


I've never felt like this before


I apologize if I'm movin' too far


Can't we just talk?


Can't we just talk?


Figure out where we're growin'


🎶


Aku segera mengambil ponselku itu, yang tadinya aku letakkan di samping meja kue ulang tahun Tika yang bertingkat tiga. Aku langsung menggeser tombol hijau di layarnya untuk menerima panggilan telepon dari istriku itu.


"Iya, Sayaang?" sahutku sambil memandang kue bertingkat di depan mataku saat ini. Kue yang indah menurutku sebab terdapat dua doa yang tertulis di sana. Yang satunya doa panjang umur, lalu satunya lagi doa selamat atas satu tahun pernikahan kami.


Di seberang sana aku mendengar suara manja Tika yang sedikit mengomel karena aku tidak menjawab pesan yang ia sampaikan pada resepsoinis kantorku tadi. Astaga!! Aku melupakan hal yang satu itu.

__ADS_1


"Maaf aku lupa. Kamu boleh dandan kalau kamu mau, tapi kalau kamu lagi males dandan juga gak apa-apa. Kamu selalu cantik," gombalku padanya. Terdengar suaranya yang tertawa malu-malu.


Kemudian setelah sepakat untuk berdandan, ia memutuskan sambungan telepon kami agar ia bisa bersiap-siap. Sedangkan aku sibuk memandangi sekelilingku saat ini. Semua sudah tertata rapi dan indah. Lalu Lisa dan Alex datang untuk membantuku menjaga rumah ini selama aku tinggalkan pulang nantinya, untuk menjemput Tika dan membawanya ke sini tepat di jam delapan malam.


Sebab nantinya aku akan membawanya berkeliling terlebih dahulu. Agar orang-orang yang aku undang dapat berhadir terlebih dahulu ke rumah ini, sebelum aku membawanya ke rumah ini dengan matanya yang tertutup. Dan Alex Lisa akan menjadi penerima tamu di rumah ini, sementara aku tidak ada.


Aku kembali melangkah ke halaman samping kolam renang untuk mendatangi Brandy dan meminta hasil dari keputusannya. "Jadi gimana?" tanyaku seraya melangkah mendekatinya, duduk lalu meminum secangkir kopiku yang sudah mulai dingin.


"Gua perlu mikir dulu, gak segampang itu. Lu 'kan tahu kalau gua belum nguasain bidang itu." Brandy meminta waktu lebih lagi untuk berpikir.


Setelah aku pertimbangkan, mungkin ucapannya itu ada benarnya. Lalu Alex dan Lisa muncul sambil berjalan menghampiri kami dengan membawa secangkir minuman yang mereka buat sendiri. Sampai akhirnya tak terasa aku mengobrol dengan mereka hingga jam lima sore.


Aku berpamitan pada Alex dan Lisa, begitu pun dengan Brandy yang juga memutuskan ingin pulang terlebih dahulu sebelum nanti malam dia akan kembali lagi ke sini untuk menghadiri acara yang aku siapkan ini.


***


Begitu sampai di rumah mamah mertuaku, aku langsung melangkah menuju ke kamar. Menaiki anak tangga satu per satu dengan hati-hati. Lalu mendorong pintu kamar dan betapa terkejutnya aku saat mendapati Shilla yang sedang menemani Tika untuk berdandan.


"Ups!! Apa aku mesti nunggu di luar?" godaku pada mereka.


Shilla terkekeh geli lalu ia memutuskan untuk segera keluar dari kamar. Tampaknya dia ingin membiarkanku untuk menggoda istriku ini. Setelah istri Max itu berhasil keluar melewati pintu kamar, aku dengan cepat menutup pintu itu lalu melangkah mendekati Tika.


Aku berdiri di belakang kursi duduknya, menatap wajahnya dari pantulan cermin di meja riasnya. Kemudian aku merogoh saku celanaku, mengambil sebuah kotak beledru berwarna beige lalu memberikan padanya. Tika terkejut, spontan ia menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan kirinya.


—————


Tika POV.


Jefri tersenyum saat melihatku yang terkejut akibat hadiah yang dia sodorkan padaku. Melihat bentuk dan tampilan dari kotak itu saja aku sudah bisa menebak apa isinya. Bahkan seluruh wanita di dunia ini juga bisa menebak apa isi dari kotak yang terlapisi dengan kain beledru itu, apa pun warna beledru yang melapisi kotak itu.


Perlahan aku menerima kotak itu lalu membukanya. Dan benar dugaanku, apalagi isinya jika bukan sebuah perhiasan dan kali ini aku mendapatkan sebuah kalung yang bertahtakan berlian dengan simbol anak kunci menjadi mata kalung itu.


"Happy birthday. Maaf aku telat dan aku lupa karena begitu banyak masalah yang kita hadapi." Dia mengecup pipiku.


Dengan senyuman lebar aku menatap Jefri dari pantulan cermin di depanku. Kemudian ia langsung mengambil posisi duduk mengapitku di atas kursi riasku lalu mengambil kalung itu untuk memasangkannya di leherku.


"Kenapa jadi anak kunci?" tanyaku heran sambil mengangkat rambutku yang tergerai.


"Karena hati aku sudah tertutup dan kuncinya cuman ada sama kamu. Gak akan ada wanita lain yang mampu masuk di antara kita. Dan aku harap, begitu juga sebaliknya," desisnya seraya mengecup leherku setelab selesai memasangkan kalung itu dan memelukku.


Entah sejak kapan Jefri jadi seromantis ini padaku. Dan meskipun saat ini kami masih memiliki masalah, dia selalu bisa membuatku bahagia. Bahkan di setiap embusan napasku.


"Selamat hari pernikahan yang juga terlambat aku sadari," bisiknya di telingaku saat aku mengesampingkan rambutku. Mata kami saling bertatap pada cermin meja rias di hadapan kami ini.


"Pantesan tadi malam nanyain empat puluh hari, padahal udah kelewatan jauh banget," godaku yang membuatnya tersenyum lebar. Lalu tangannya meraih daguku. Membawa wajahku menoleh padanya.


CUP!!


Kini ia mengecup bibirku dengan begitu lembut, penuh kasih sayang dan tidak tergesa-gesa. Seperti biasanya. Lalu menyesapnya sambil sesekali membiarkan aku membalas kecupan itu hingga aku memejamkan mataku, menikmati semuanya dengan penuh kebahagiaan.


Aku kembali terbuai dengan permainan lidahnya, hingga dia menelusupkan jemarinya ke dalam bathrobe yang masih menempel menutupi tubuhku. Lalu menjamaah bagian sensitif di dadaku. Tiba-tiba dia melepaskan ciiuman itu. Lalu menarik tangannya dari dalam bathrobe-ku lalu mengangkatku, membawaku ke atas tempat tidur.


Tangannya menarik tali dari pengikat bathrobe lalu menyingkap bagian depan penutup tubuhku itu. Aku melihat wajahnya yang menggoda saat memandangi tubuhku yang sudah polos, sebab kali ini dalam terangnya cahaya lampu dan langit sore yang masih menampilkan warna orange tersaji indah di balik balkon kamarku. Dengan tirainya yang masih terbuka.


Dengan cepat suamiku ini menanggalkan satu per satu pakaian yang melekat pada tubuhnya hingga sama polosnya sepertiku. Tanpa terasa aku mengigigt bibir bawahku saat melihat dada bidangnya serta bentuk perutnya yang six-pack. Ditambah dengan lengannya yang lumayan kekar. Tak lupa seringaian yang selalu ia perlihatkan padaku sebelum ia memulai aksinya.


Lelaki perkasa di atasku ini langsung membungkukkan tubuhnya, mengarahkan wajahnya menuju tengkuk leherku serta menyesap daun telingaku. Membuat tubuhku menggeliat kegelian. Tak lama, setelah puas di sana kecupan berjalan turun menuju ke bagian dadaku. Secara bergantian ia menikmati bagian itu hingga membuat mulutku meloloskan desahan nyaring akibat sebuah rasa yang tidak dapat aku jelaskan.


Dan untuk pertama kalinya, ia membuat beberapa tanda kepemilikannya atas diriku. Tak hanya satu atau dua, melainkan di beberapa titik yang ia rasa perlu untuk dicecap. Namun, masih bisa tertutupi jika aku mengenakan pakaian.


Aku tidak menolaknya, karena itu memang haknya sebagai pemilik atas tubuhku. Sekalipun ia melakukan itu di sekujur tubuhku, aku tetap tidak akan menolaknya ataupun memarahinya. Aku akan tetap menikmati semua sentuhan yang ia berikan. Sebab itulah yang bisa aku berikan padanya, sebagai salah satu cara agar ia tidak mencari kenikmatan lain di luar sana.


Bersambung ...


—————


*Holla lohha ...


Jangan lupa berikan vote* poin dan koin kalian setelah selesai membaca yah ...


Selamat bersahur!!


Terima kasih.

__ADS_1


#salambucin💋**


__ADS_2