
Haikal POV.
Ponselku bergetar.
Aku membuka mataku dan merogoh ponselku kembali disaku celana ku.
Tika calling.
Kugeser layarku.
"Apa?"
"Dimana?" tanyanya diseberang sana.
"Di rumah sakit lah. Dimana lagi."
"Abis bangun tidur?"
"Lagi tidur malah." jawabku sambil menoleh melihat wanita tadi masih di sebelahku.
Malahan kini dia terbaring menghadapku, terlelap nyaman dengan satu kaki nya membelit sebelah kakiku dan tangannya yang satunya tergeletak bebas di dadaku.
"Tidur dimana di UGD? aku di ruangan ini." bawelnya.
Aku tersentak, "Ngapain di ruangan ku?"
"Ada yang mau aku tanyain. Cepetan kesini." bawelnya lagi.
Ku tutup sambungan telepon ku. Lalu aku kembali menatap wanita itu. Dia memang terlihat kelelahan. Lalu mata ku tak sengaja melihat kembali bagian dalam bajunya lagi yang menempel di lengan atasku.
"Shit!!" gumamku sambil membuang pandanganku ke arah berlawanan.
Perlahan ku angkat tangan nya, lalu ku pindahkan ke atas tubuhnya sendiri. Lalu aku duduk, memindahkan kembali kaki nya yang membelit kaki ku. Terlepas. Aku bangun turun dari ranjang dengan sangat hati-hati. Takut membangunkannya.
Lalu dengan sigap aku keluar dari ruangan gudang itu. Mengacuhkan file-file yang berserakan di lantai akibat ulah wanita asing tadi. Aku segera menuju ruanganku dan menemui adikku.
"Kenapa kesini gak bilang-bilang sih?" sewotku.
"Emang kalo kesini harus izin dulu?" tanyanya santai.
"Ya iya lah." asalku.
"Kamu kok aneh sih? Muka kamu merah, kayak habis kepergok lagi mesum!" ucapnya sambil menyipitkan kedua matanya.
"Apaan sih! Emang ada apa?" jawabku ketus sambil meletakkan bokongku di kursi kerajaanku.
"Dua hari ini aku ngerasa gak enak badan. Nyium bau-bau aneh langsung mual. Perut rasa diaduk-aduk."
"Mau check-up?" tawarku.
Tika mengangguk.
"Bisa tapi senin ya? Jangan sekarang, aku sibuk trus aku males mesti turun ke bawah ngomong sama dokter lain." alasanku.
"Oh ya udah. Kalo gitu aku balik deh." pamitnya.
"Kesini sendirian?"
"Enggak, sama Jefri kok, tapi dia tadi mau ngerokok dulu, jadi mungkin dia masih di basement. Ya udah ya, dahh!"
Kemudian Tika keluar dari ruanganku.
Bruukk!!!
Aku terkejut mendengar suara itu, dan spontan langsung berdiri lalu membuka pintu ruanganku.
"Sorry sorry, gua tiba-tiba sih keluarnya." ucap Tika yang membuat seorang wanita terjatuh menabraknya.
Lagi-lagi wanita asing yang tadi tidur denganku. Tika membantunya memunguti beberapa lembar kertas yang berserakan di lantai.
"Gua yang minta maaf udah nabrak, mata gua kemana-mana soalnya." ucap wanita itu.
Aku menyandarkan tubuhku di dinding pintu ruanganku yang terbuka.
"Lu kayaknya hobi banget ya nabrak-nabrak?" dinginku.
__ADS_1
Wanita itu mendongakkan kepalanya menatapku.
Sial!!
Lagi-lagi mata ku dapat melihat ketiga kalinya bagian yang mulus itu. Segera ku alihkan pandanganku ke lain.
"Bantuin kek. Gua begini juga gara-gara nyariin lu." dampratnya.
"Kalian saling kenal?" tanya Tika.
"Enggak!!" jawab kami serempak.
Tika terkekeh geli lalu berdiri di ikuti dengan wanita itu dan Tika menyerahkan lembaran kertas yang dipungutinya tadi lalu menaruhnya diatas tumpukan tangan wanita asing itu.
"Kenalin gua Tika. Lu?" ramahnya.
"Gua Clara." senyum wanita itu pada Tika.
Shit!!!
Lagi-lagi aku menyumpah dalam hati. Di kedua pipinya terdapat lesung pipi yang membuat wajahnya semakin manis dimataku.
"Oh oke, gua tinggalin kalian berdua. Daahh." Tika pamit kemudian berjalan menjauh meninggalkan kami.
Aku menatapnya, setelah Tika tak terlihat dia balas menatapku.
"Ngapain nyari gua?" tegasku lagi.
Dengan santai tanpa permisi dia menyelinap masuk ke ruangan ku lalu meletakkan tumpukan kertas yang sedari tadi dipegangnya di atas meja kerjaku.
"Gua mau tanggung jawab buat beresin ini." tunjuk Clara pada tumpukan kertas itu.
Aku masuk ke dalam ruanganku lalu membiarkan pintu ruanganku yang tertutup dengan sendirinya, berjalan menuju kursiku lalu duduk. Baru beberapa detik aku duduk, dia berjalan menuju pintu dan memegang knop pintu. Belum sempat pintu itu terbuka....
"Kalo mau tanggung jawab jangan setengah-setengah." seruku.
Dia mematung sepersekian detik lalu menoleh padaku, "Maksudnya?"
"Ya balikinlah susunan file nya sesuai sama rak yang ada disana. Ini semua file penting yang harus tersusun rapi, bukan di tumpuk sembarangan kayak gini." jelas ku santai.
"Apa gak bisa besok-besok?" tanyanya.
"Ya gak bisa lah, kalo tiba-tiba perawat atau karyawan disini nyari beberapa file trus gak ada, gimana? Mau liat mereka ngamuk misuh-misuh?" jawabku santai menyenderkan punggungku pada sandaran kursi empukku sambil menyeringai jahat.
Dia cemberut. Lucu!
"Ayo mulai kerja sekarang! Kalo gak kelar gak boleh pulang." titahku.
Dia berbalik kembali berjalan menuju pintu dengan cueknya. Dengan cepat aku merogoh saku celanaku dan mengambil serenteng kunci yang ku temukan tergeletak di lantai pada tumpukan kertas saat aku keluar dari ruang gudang tadi.
"Mau pulang jalan kaki atau naik taksi?" tanyaku sambil mengangkat dan membunyikan rentengan kunci mobil yang ku duga miliknya.
Spontan dia berbalik menoleh padaku saat mendengar rentengan kunci itu.
"Kunci ku!" serunya.
"Yap! Ayo kerja kerja kerja!" ucapku menggenggam kuncinya sambil menunjuk tumpukan kertas diatas mejaku ini.
--------------------------
Clara POV.
Sialan! Batinku.
Kenapa kunci mobilku harus ada padanya? Batinku bertanya-tanya. Aku memang ceroboh!
Dengan terpaksa aku duduk di kursi depan meja nya lalu mulai menyortir kertas itu berdasarkan tanggal nya. Dia berdiri di depan ku sambil menyeringai.
Sial!
Seringainya terlalu manis untuk mata hatiku.
Dia pasti playboy cap kapak!
Batinku.
__ADS_1
"Kerjakan sampai selesai!" serunya yang kemudian keluar dari ruangannya, membiarkan aku sendiri disini.
Tak berapa lama dia kembali datang dengan beberapa tumpukan kertas dan beberapa wadah file yang sudah bertulisakan tanggal. Lalu menaruhnya diatas tumpukan kertasku.
"Apa lagi nih?" sewotku menatapnya.
"Ketinggalan tadi disana dan masih banyak wadah yang gak bisa aku bawa kesini buat file ini." jawabnya kemudian kembali keluar dari ruangannya.
Aku dengan pasrah kembali melakukan kegiatan penyortiran file itu, sendiri, ya benar-benar sendirian.
Saat aku sedang asik menyortir, tiba-tiba salah satu tangan seseorang menaruh segelas kopi hitam didepan kertas-kertas di hadapan ku, aku menoleh mencari sosok si pemilik tangan. Oh ternyata lelaki tadi.
"Makasih." ucapku.
Dia duduk ke kursinya kembali sambil perlahan menyeruput kopi di gelas berbeda yang di pegang nya sedari tadi.
"Hm." dehemnya.
Aku kembali melanjutkan pekerjaan terpaksa ku. Berkutat dengan kertas-kertas ini sampai aku harus menaruh sebagiannya dilantai dan menyusunnya sesuai dengan tanggalnya. Hingga aku merasa kewalahan sendiri.
"Istirahat bentar boleh kan?" tanyaku pelan sambil meliriknya yang sedang asik dengan komputernya.
"Hm." jawabnya dengan dehemnya lagi lalu kembali fokus lagi ke layar komputernya.
"Ini boleh diminum?" tanyaku lagi sambil menunjuk segelas kopi yang tadi di taruhnya didepan ku.
Ia melepas jemarinya dari keyboard, mengubah arah pandangannya menjadi padaku lalu menyenderkan punggungnya pada sandaran kursi nya.
"Menurut lu buat apa gelas itu gua taruh didepan lu?" pertanyaannya membuatku bingung.
"Ya gelas itu buat minum lah."
"Trus ngapain lu nanya lagi?"
"Ya kan gua izin, kali aja...."
"Udah minum aja, paling habis lu minum lu pingsan, kan gua kasih racun dalam nya." ucapnya santai saat aku sudah berhasil meneguk seteguk kopi hangat itu.
Spontan aku berhenti menyeruput kopi itu lagi, lalu menurunkan gelas itu sedikit, menjauhkan dari bibirku dan meletakkannya di meja. Namun di dalam mulutku masih ada segenang kopi yang ku tahan untuk tidak ku teguk.
Aku nekat. Berdiri lalu mendekati arahnya duduk. Ia menatapku sambil terkekeh.
Sialan!!
Umpatku dalam hati.
Perlu dikasih pelajaran nih, batinku lagi.
Lalu tanpa berpikir panjang aku langsung menjepit hidungnya yang agak mancung dengan kedua jari ku. Dia masih santai, hanya panik karena harus bernafas lewat mulut. Seketika ku tempelkan mulutku pada mulutnya yang terbuka lalu ku alirkan air kopi yang ada dalam mulutku ke mulutnya. Ia menerimanya, lalu sepersekian detik berikutnya ku lepaskan mulutku dan ia tersedak hebat akibat kaget terpaksa menelan air kopi itu karena kepalanya yang mendongak saat menerimanya dari mulutku.
Ku lepaskan jepitan jemari ku di hidungnya lalu aku tertawa puas melihatnya tersedak, terbatuk-batuk hingga wajahnya merah semerah-merahnya.
"Hahahahahahhahahaaaa..." tawaku meledak.
Refleks dia menarik tanganku, membuatku kehilangan keseimbangan lalu jatuh menimpa tubuhnya di atas kursi. Dia memegangi tubuhku melalui pinggulku, wajah ku menabrak dadanya. Aroma tubuhnya kembali masuk dalam rongga hidungku, membuatku malu setengah mati.
Ia memegangiku erat dengan kedua lengannya, lalu salah satu tangannya menyentuh daguku dan membimbing dagu ku untuk mengangkat kepalaku menatap ke arahnya.
"Maaf." lirihku.
Aku yakin saat ini wajahku pasti terlihat memerah, malu semalu-malunya karena jatuh tepat dalam pelukkannya.
"Kenapa merona? Malu? Tadi nyosor nyium gua biasa aja deh perasaan." ucapnya pelan, santai, teratur.
Wajahnya terlalu dekat dengan wajahku. Hampir sama dekatnya saat aku memeluknya untuk tidur di ranjang tadi. Bahkan ini terlalu dekat.
Lagi-lagi hidungku menghipnotisku akibat aroma tubuhnya. Telapak tangan ku yang sedari tadi menempel di dadanya, dengan perlahan ku geser untuk menyusuri dada bidangnya. Walaupun sebenarnya sebelumnya ini sudah pernah ku lakukan saat ia tertidur di ranjang gudang tadi bersamaku.
Bahkan aku sudah memeluk sebagian tubuhnya yang mengagumkan itu tadi. Membuatku gemetar walau ia masih berlapis baju seragam rumah sakitnya.
Daaann....
Mata kami masih saling beradu.
Saling menatap, saling merasakan sentuhan masing-masing.
__ADS_1
Sentuhan jemari yang bergerak ditempat yang sama.