Kebahagiaan Tak Sempurna

Kebahagiaan Tak Sempurna
S2 - Eps 78


__ADS_3

Haikal POV.


Benar, aku akui, sepertinya aku memang sudah jatuh cinta pada Clara.


Pertanyaan Tika memang membuatku menyadarinya. Aku memang sedang jatuh cinta, sebab ada rasa ingin menjaganya dalam benak ini. Hanya saja, mungkin aku terlalu gengsi untuk mengakuinya kepada Clara.


'Sepertinya, Clara sudah menggantikan posisi Jasmine di hatiku,' batinku.


Aku segera berdiri dari tempat dudukku. Dengan berjuta pemikiran yang ada sekarang dan baru kali ini aku kembali memikirkan seorang wanita.


"Mau kemana?" pekik Tika yang melihatku tiba-tiba berdiri.


Aku tersenyum lebar, "Mau nemuin Clara dong! Ngapain di sini mulu? Kan di sini ada kamu yang temenin Lisa." Kukedipkan sebelah mataku, genit.


Aku segera beranjak pergi dari ruangan Lisa, lalu bergegas melangkahkan kakiku dengan tergesa-gesa. Namun baru saja aku hendak menekan tombol lift, tiba-tiba hatiku meragu. Meragu bukan untuk menemuinya, tapi meragu untuk menyatakan perasaan ini. Kemudian aku memutuskan untuk pergi ke tempat yang lain, yaitu restroom.


Gudang yang sekaligus tempat istirahat. Tempat di mana aku dan Clara bertemu untuk pertama kalinya. Baru saja aku meraih knop pintunya, tiba-tiba Ranti menyapaku. "Haikal!"


Aku menoleh ke arah sumber suara, kudapati Ranti yang masih menggunakan pakaian bebasnya. Mungkin dia baru saja datang, entahlah aku lupa jadwal ia bekerja. Kukembangkan kedua sudut bibirku saat melihatnya, kemudian ia berjalan perlahan mendekatiku. Sebelah tanganku kini sudah sengaja kuletakkan untuk menggenggam knop pintu yang siap kubuka.


"Kata Adam hari ini lu jaga sampai sore ya?"


"Iya, seharusnya Adam off sebelum shift tiga, tapi nyatanya baru beberapa jam yang lalu dia bisa pulang."


Ranti mengangguk-angguk tanda mengerti. "Trus ini lu mau tidur?" tanyanya lagi.


"Hm. Gantiin di UGD bentar ya?"


Ranti kembali mengangguk lalu menepuk pundakku sambil berlalu. Sedangkan aku memutuskan untuk masuk ke ruangan itu lalu menguncinya dari dalam. Aku berharap bisa berpikir dengan tenang kali ini.

__ADS_1


Aku merebahkan diri di ranjang, di balik susunan rak penyimpanan dokumen berkas pasien rumah sakit, lalu bertelentang kemudian perlahan memejamkan mata. Suasana di ruangan ini memang mampu menghanyutkan mataku, menghipnotis pikiran akan bisa kembali fokus pada jalannya. Bahkan ruangan ini mampu memberi rasa nyaman jika beristirahat di sini. Sambil terpejam aku kembali mempertimbangkan lagi keputusan untuk masa depanku, karena bagiku menentukan hal ini bukan perkara mudah, sekali tepuk tangan bisa langsung mendapatkan jawanan.


Aku masih harus mengetahui tentang latar belakang Clara lebih jauh lagi, agar aku tidak menyesal jika memilihnya sebagai pendamping hidupku. Tapi sikapku tadi?? Aku sudah melakukan hal yang di luar batas dan hal yang jarang aku lakukan, aku merutuki semua sikapku sejak tadi malam hingga saat bundanya kembali sadar. Aku sudah terlalu jauh bersikap.


Kembali kubuka mataku, menatapi langit-langit ruangan ini, lengkap dengan bohlamnya yang berwarna kuning redup. Perlahan mataku juga ikut meredup dan aku terlelap.


🎶


So don't call me baby


Unless you mean it


Don't tell me you need me


If you don't believe it


So let me know the truth


🎶


Dering ponsel membangunkanku dari mimpiku. Aku lupa di mana meletakkan ponselku.


Buuk!


Ponselku terjatuh ke lantai saat aku hendak duduk beralih dari sisi ranjang yang satunya lagi. Aku berdecak sambil turun dari ranjang dan memungutnya. Sedangkan dering itu terus saja berbunyi tanpa henti.


Mamah calling.


Jari jempolku langsung menggeser tombol hijau di layar ponselku, lalu menyahuti sambungan telepon dari mammah.

__ADS_1


Mama mengatakan bahwa dirinya sudah berada di rumah sakit dan sudah melihat kondisi Lisa, yang mana artinya, mamah sedang berada di ruangan Lisa. Kemudian mamah juga memintaku untuk segera menemuinya.


***


Sesampainya di ruang rawat inap Lisa, dekapan seorang ibu langsung dapat kurasakan. Mamah lumayan terpukul begitu melihat keadaan Lisa, lagi pula mamah juga pernah berjanji kepada kedua orangtua Lisa untuk menyayanginya layaknya anak kandungnya sendiri. Mamah semakin menangis tersedu-sedu setelah kuelus lembut punggungnya.


Tak berapa setelah itu, pintu ruangan terbuka, muncul Max yang juga mengkhawatirkan Lisa layaknya kami. Bahkan Max memiliki koneksi langsung yang menghubungkan dirinya pada salah satu anggota keluarga Lisa. Namun Max belum berani untuk mengabarkan berita ini pada keluarga Lisa. Hingga akhirnya Tika berseru karena Lisa sadar, ia perlahan menggerakkan jemarinya yang masih berada dalam genggaman Tika.


--------------------


Lisa POV.


Kepalaku terasa berat, napasku seakan terdorong oleh angin segar, namun tanganku kaku, seperti ada tangan lain yang menggenggam jemariku. Perlahan aku mencoba membuka mata, ada secercah cahaya yang terpancar berwarna putih dari atas. Kemudian membuat kepalaku terasa pening.


Tiba-tiba beberapa suara muncul melalui pendengaran telingaku, membuatku menoleh mencari siapa yang sedang berbicara itu. Penglihatanku masih seperti berputar, berbayang tak jelas. Namun ada satu suara yang tiba-tiba sangat terdengar dan aku kenali dari dulu.


Suara dan genggaman tangan itu begitu hangat, aku mencoba mengenali wajahnya yang berbayang di penglihatanku hingga akhinya suaranya kembali menyebutkan namaku.


"Lisa ... Lisa ... ini aku Tika." Suara itu meyakinkanku, bahwa aku telah berada di tangan yang tepat, aku menghela napas lega, ada Tika di sini.


Kubalas genggaman tangannya dan seketika airmataku mengucur deras. Teringat akan lelaki sialan yang tadi menghampiriku di depan rumah. Kami bertengkar hebat hingga ia hampir menamparku dan aku berhasil menghindari itu. Namun sialnya kakiku tergelincir akibat heels-ku sendiri kemudian terjatuh, lalu tak sadarkan diri lagi ...


-------------------


Holaaaa 💃


Poin mana poin??


Tinggal sedikit lagi nih masuk 20 besar 😔

__ADS_1


Jadi tinggalkanlah jejak kalian dengan poin kalian 🤣


Mau up lagi?? 😜


__ADS_2