
Tika POV.
"Loh mereka berdua ke mana?" tanya mamah yang baru saja turun dari tangga. Melihat Max dan Shilla yang kembali mesra berdua.
Aku terkekeh geli melihat ekspresi mamah. "Mereka mau dinner. Udah lama gak mesra-mesraan kan," ucapku seraya bermain dengan Icel dan Feli. Sedangkan Jefri duduk di sofa bersama anak kembar kami, Nathan dan Naila di dalam keretanya.
"Pagi berantem, malam udah baikan. Bagus juga. Mereka lebih cepet berpikirnya dari pada kalian berdua," sahut mamah yang langsung pergi menjauh, melangkah ke arah dapur.
Aku dan Jefri saling menatap, menabrakan kedua bola mata kami, lalu sepersekian detik kemudian kami saling tertawa bersama.
—————
Max POV.
Di sepanjang perjalanan, sesekali aku melirik menatap istriku. Rasanya sudah terlalu lama aku tidak seperti ini dengannya. Dan rasanya sudah lama juga dia tidak pernah lagi duduk di depan di sampingku jika kami menaiki mobil. Sebab Feli, anak kedua kami belum genap berumur 2 tahun untuk bisa dudul tenang di dalam baby car seat.
Aku meraih jemarinya yang sedari tadi ia letakkan di atas pangkuannya. Lalu menarik jemari itu membawanya ke dalam kecupanku. Aku tahu aku egois jika seperti ini. Hanya makan malam berdua tanpa anak, bukankah itu egois namanya? Padahal kami berdua sudah memiliki mereka. Tapi entah mengapa, aku merasa perlu melakukan ini. Bukan karena lantaran kami berbaikan atas kesalahpahaman sebelumnya, tetapi karena wanita memang membutuhkan itu.
Itu lah untungnya aku memiliki adik perempuan. Terkadang jika aku tidak mengerti apa mau istriku, aku bisa menanyakannya pada adikku, bagaimana maunya wanita.
"Kita mau makan di mana?" tanya Shilla padaku. Entah ini yang ke berapa kalinya aku mengecup tangannya. Aku senang melakukan ini.
Sekilas aku menoleh padanya. "Di tempat yang paling berkesan." Hanya kalimat itu yang aku lontarkan padanya sambil tersenyum di bawah cahaya lampu jalanan yang kami lewati.
Tak lama kemudian, aku membelokkan setir mobil dan masuk ke sebuah tempat yang aku rasa Shilla juga mengenali tempat ini. Tempat berkesan kami berdua dan tempat kami memadu kasih pertama kali berdua, yaitu rumah.
"Rumah? Kamu bawa aku ke sini?" tanya Shilla semakin terkejut.
Aku tersenyum tipis. "Iya, kenapa? Di luar ekspektasi ya?" balasku sambil mematikan mesin mobil dan melepaskan safety belt-ku. Aku menatapnya, menunggu jawaban darinya.
"Isi kulkas kita kan kosong?" Shilla mulai cemas dan aku berusaha menenangkannya. Sebab ia tidak tahu, kejutan apa yang aku siapkan di dalam rumah. Kemudian aku turun dan memutar mobil itu, membukakab pintunya lalu menyambutnya untuk turun dari mobil dengan gaunnya yang indah. Entah dari mana ia temukan gaun itu. Sebab setahuku, ia tidak membawa gaunnya untuk tinggal di rumah mamah. Selain gaun yang dipakainya untuk tidur di malam hari alias daster.
Aku merangkulnya sembari melangkah bersama menuju ke depan pintu rumah kami. Bertepatan dengan itu, Haikal dsn Clara keluar dari rumah kami dan memberikan kunci rumah itu padaku.
Lagi-lagi aku melirik Shilla yang terliat terkejut sekaligus bingung melihat Haikal dan pacarnya itu keluar dari dalam rumah kami. Ia menoleh padaku seraya menarik pakaian yang aku kenakan.
__ADS_1
"Thanks!" ucapku menerima kunci rumahku. Kemudian aku berbalik, membiarkan Haikal pulang, memasuki mobilnya bersama dengan pacarnya dan menghilang di ujung jalan.
"Ayo masuk," bisikku di telinga Shilla yang terpana melihat kepergian Haikal.
Aku masih menggenggam tangannya, memasuki rumah yang sudah didekor sesuai pesananku sebelumnya. Ya, aku minta tolong kepada Haikal untuk mendekorasi semua ini. Meja makan yang romantis dengan vas bunga berisikan mawar di dalamnya. Lalu dilapisi dengan selembar kain. Karena meja makanku lumayan besar, maka kursi pun ditata tidak berhadapan melainkan menyerong. Lengkap dengan alat makan yang sudah tersedia dengan sebotol wine yang tersaji. Haikal memang nakal untuk urusan satu ini.
Lalu, ke mana isi makanan dan piringnya?
Aku yang akan memasak untuknya kali ini.
Ya, aku juga meminta Haikal untuk menyiapkan bahan-bahan yang aku perlukan untuk memasak menu makan malam kami, yaitu steak.
Aku melepaskan genggaman tanganku, kemudian melangkah mengambil posisi ke balik perapian untuk memasak alias kompor. Sedangkan Shilla duduk di depan meja kitchen set.
"Emang kamu bisa masak?" tanya Shilla dengan nada meremehkanku.
Aku memicingkan mataku menatapnya. "Jangan salah, gini-gini dulu papah sering ngajarin aku masak. Papah itu sebelum punya perusahaan sendiri, dia koki di salah satu restoran waktu pacaran sama mamah," ucapku sambil memasang celemek.
Shilla hanya mengangguk-anggukan kepalanya saja, tanda mengerti. Setelah itu aku mulai melakukan masak-memasak, dimulai dengan mencuci beberapa bahan, memotong, lalu menghaluskan beberapa bumbu.
Sesekali aku menatapnya, hingga hampir melupakan masakan di depanku. Rasanya memang sudah lama kami tidak melewati waktu seperti ini. Biasanya hanya langsung ke atas tempat tidur saja. Aku terkekeh geli mengingat itu.
"Ada yang lucu?" tanya Shilla tiba-tiba.
"Kita udah lama gak berdua begini. Lewatin waktu cuman buat sekedar yang begini-begini. Bukan naik ke tempat tidur," ucapku pelan sambil sesekali meliriknya.
Tiba-tiba saja Shilla tertawa terbahak-bahak, membuatku terkejut kemudian juga ikut tertawa. Dan ... aku juga sudah lama tidak melihatnya tertawa selepas itu. Aku menggelengkan kepala dengan pelan.
Mungkin ini maksud dari Tika dan Haikal kemarin, aku merindukan masa ini. Dan mungkin dia juga menantikan masa seperti ini, sebab aku terlalu sibuk dan berkutat dengan urusan perusahaan. Sampai aku melupakan bagaimana caranya membuat istriku bahagia hanya dengan hal-hal kecil seperti ini. Dan tidak aku sangka malam ini aku berhasil melakukan itu. Membuatnya senang dan aku bahagia melihatnya.
Aku akan merencanakan waktu seperti ini lagi lain kali. Agar perasaan kami tidak pernah pudar, satu sama lain. Ya, dan mulai saat ini aku rasa kegiatan ini sangat penting untuk sepasang suami istri.
Sikap Shilla perlahan telah kembali seperti sebelumnya. Memancarkan auranya. Dengan sigap aku menyelesaikan proses memasakku dan menyajikan steak itu di kedua piring yang sudah aku sediakan sebelumnya lalu memghiasnya.
"Percaya 'kan kalau aku bisa masak?" Aku memperlihatkan hidangan steak yang tadi aku masak padanya dengan lebih dekat lagi.
__ADS_1
Lalu melangkah menuju meja makan romantis yang memakai lilin kecil ala Haikal. Ya, adikku yang satu itu boleh juga seleranya, sangat elegan dan dengan sengaja ia mematikan seluruh lampu. Hanya lampu meja ruang tengah dan lampu dapur yang menyala.
"Belum tentu, 'kan rasanya belum tahu enak atau enggak," sanggah Shilla, sepertinya dia tidak mau mengakui jika suaminya ini pintar memasak.
Aku meletakkan kedua piring itu di depanku dan di tempatnya duduk. Kuraih pinggangnya sebelum ia berhasil untuk duduk. Kemudian kupandangi wajahnya dengan seksama, menyelipkan anakkan rambutnya yang menutupi sedikit wajahnya ke belakang daun telinganya.
"Sekali lagi aku minta maaf ya? For all the things that have hurt you so far, I don't mean it," ucapku dengan kesungguhanku.
Shilla tersenyum. Ia menangkupkan kedua telapak tangannya pada kedua sisi pipiku. Lalu menarik pelan wajahku, mengecup lembut bibirku. Entah mengapa saat itu air mataku lolos begitu saja. Aku merasakan dia begitu tulus memberikan hatinya padaku, memercayakan hidupnya di tanganku.
Sekejap aku lepaskan kecupan itu untuk memeluknya, merengkuh aroma tubuhnya yang harusnya aku jaga hingga akhir hayatku. Demi ikrar pernikahan kami, demi janji setia kami, sehidup dan semati.
—————
Shilla POV.
Sekilas, aku melihat matanya yang berkaca-kaca sebelum akhirnya ia mendaratkan dekapannya padaku. Sangat erat. Menggambarkan sebuah rasa sayang yang begitu besar padaku. Itu yang aku rasakan. Aku membalas pelukannya. Kami berdua memang sesekali memerlukan waktu seperti ini nantinya.
'Tuhan, terima kasih membuat hatinya menetap untukku dan tetap berniat untuk membahagiakanku, membahagiakan kami keluarganya. Jagalah kami agar tetap seperti ini, hingga maut memisahkan kami,' batinku dengan kesungguhan.
Bersambung ...
—————
Hallo lohha ...
Jangan lupa subsrek yah, 'kan gratis subsreknya. Spam like aja atau sekalian spam komen 😂
Jangan lupa buat VOTE juga, vote kalian sangat berarti 😢
Terima kasih,
With love,
#salambucin💋
__ADS_1