
Jangan lupa siapkan sekotak tissu di samping kalian saat membaca episode ini.
Masih menyedihkan π
Happy reading π
βββββ
Still Jefri POV.
Sudah tiga jam pasca operasi. Aku sudah bisa kembali mengontrol emosiku. Telah kuhapus semua airmata yang tadi sempat mengucur membasahi kedua sudut pipiku. Mencoba menjernihkan pikiranku.
Max juga memberikan sebuah paper bag padaku, yang mana di dalamnya terdapat selembar pakaian yang bisa aku kenakan. Untuk mengganti kemeja yang kini terlihat sangat kotor pada tubuhku. Terdapat banyak darah pula pada kemeja ini. Darah Tika yang mulai mengering saat aku mengangkatnya.
Dengan langkah gontai aku berjalan menuju kamar kecil yang tidak jauh dari sana. Lalu mengganti pakaianku. Kemudian aku menatap bayanganku dalam cermin di depanku. Aku sungguh tampak kacau saat ini. Aku menghela napasku, lalu mencuci wajahku di washtafel.
Lagi-lagi dalam otakku terbesit sebuah tanya, bagaimana caranya aku mengatakan semua ini pada Tika? Dia pasti akan sangat terpuruk. Bagaimana caraku menjelaskan padanya?
Di satu sisi aku sudah mengingkari janjiku padanya.
Kuremat rambutku, berharap agar semua permasalahan di otakku sejenak sirna, tapi sepertinya semua hanya angan-anganku saja. Saat aku hendak kembali mambasuh wajahku tiba-tiba pintu diketuk dan terbuka, kepala Max muncul dari balik pintu, lalu mengatakan jika Haikal memperbolehkanku untuk masuk ke ruangan, tempat di mana Tika terbaring belum sadarkan diri.
"Jef, kamu dibolehin masuk ke dalam sekarang."
Spontan aku langsung menarik selembar tissu dari tempatnya yang menempel di dinding lalu mengusap lembaran halus itu ke wajahku. Segera aku berlari kecil menuju pintu depan ruangan operasi, di mana Haikal sudah berada di sana menungguku.
"Boleh aku liat anakku dulu?" pintaku padanga sebelum aku melihat kondisi Tika. Aku harus melihat kedua anakku.
Gemeretak gigiku tidak dapat lagi aku sembunyikan diiringi dengan bulir air mata yang kembali membasahi pipiku. Dengan kasar aku menghapus bulir itu, menunggu jawaban yang akan Haikal katakan padaku.
Aku tahu ini permintaan sulit baginya, karena aku adik iparnya. Tapi aku harus melihat anakku sendiri, walaupun itu dalam kondisi yang sudah tidak bernyawa. Dan aku harus mampu merelakan semua itu, karena aku sadar di dunia ini tidak ada yang sempurna apa lagi sebuah kebahagiaan.
"Mereka sedang dibersihkan," lirih Haikal pelan.
"Aku ingin ikut memandikan mereka. Aku mohon." Air mataku kembali menetes, sudah tidak bisa lagi aku tahan. Sudah lama aku menantikan kehadiran mereka.
Haikal akhirnya mengangguk pelan setelah ia mencoba menarik napasnya dengan berat. Lalu ia membawaku untuk mengikuti langkahnya masuk ke dalam ruangan operasi dan membawaku ke ruangan bersalin, tempat di mana kedua anakku berada.
Lututku terasa lemas. Haikal sempat memegangi kedua bahuku. Di balik sebuah kaca yang besar aku dapat melihat kedua wajah anak itu. Sedang di mandikan untuk membersihkan tubuhnya, sebelum sebuah kain kembali menutupi seluruh anggota tubuh mereka.
Sepasang bayi kembar, laki-laki dan perempuan. Wajah mereka begitu mirip dengan Tika. Alisnya, hidungnya yang mancung serta kedua lesung pipi yang ada di kedua pipi mereka, terlihat begitu jelas tanpa mereka harus tersenyum dulu. Aku hanya mewarisi bagian bibirku pada mereka. Semuanya didominasi oleh Tika.
Isak tangisku kembali pecah, impianku untuk membesarkan mereka hilang sudah. Aku harus menelan pil pahit ini. Mau tidak mau.
__ADS_1
"Kamu bisa masuk ke dalam, sebab setelah mereka bersih. Kami tetap harus membawa mereka ketemu Tika, walaupun Tika belum sadarkan diri." Haikal menepuk pundakku begitu kedua tanganku telah bersangga pada dinding kaca yang menjadi pembatas, antara aku dan kedua anakku.
Aku kembali menghapus tangisku. Berusaha mengontrol perasaanku saat ini. Berkali-kali mencoba menghirup oksigen yang kurasakan semakin sedikt di sekelilingku. Lalu mengembuskannya dengan perlahan melalui mulut. Dan ini lumayan berhasil membuat perasaanku menjadi tenang. Arah kedua mataku masih tak bisa lepas dari mereka berdua yang saat ini sedang diseka.
"Aku boleh masuk?" liriku meminta izin pada Haikal yang berdiri di belakangku, tanpa menoleh padanya.
"Tentu boleh. Ikut aku." Haikal mengizinkanku untuk menyentuh secara langsung kedua anakku.
Dengan bergegas aku mengikuti langkah kakinya. Lalu masuk ke sebuah ruangan yang kembali menghubungakan kami pada pintu yang lainnya. Seorang perawat mendatangi kami setelah sebelumnya Haikal memberikan sebuah kode padanya, saat kami berhenti pada satu pintu.
Perawat itu memberikan sepasang sarung tangan berbahan karet lalu menyodorkannya padaku. Aku bingung, sebab sebelumnya aku sudah menggunakan sebuah baju khusus untuk memasuki ruang operasi. "Apa gak bisa aku menyentuh mereka langsung dengan tanganku?"
Haikal terlihat berpikir saat aku mengatakan kalimat itu. Dan entah mengapa, mendadak ia langsung merampas sarung tangan itu lalu menundukkan kepalanya dengan tangannya yang mendorong pintu di depanku.
"Masuklah," lirihnya tanpa menatapku.
Aku melangkahkan kakiku dengan perlahan. Tidak ada suara tangisan dalam ruangan ini. Hanya suara para perawat yang sedang memandikan kedua anakku. Mereka menyadari kehadiranku lalu salah seorang perawat mengangkat salah satu dari mereka lalu menyodorkannya padaku.
Dengan gugup aku menyambut seorang bayi itu, salah satu malaikat kecilku. Aku tidak pernah tahu bagaimana cara menggendong seorang bayi, hanya saja aku sempat melihat cara perawat ini memegangi mereka tadi, kemudian kupraktekkan.
Dapat aku kenali bahwa yang sekarang ada di tanganku ini adalah bayi laki-lakiku, putra kecil kami. Aku kuatkan hati ini untuk mengecup keningnya. Lalu segera ku kembalikan pada perawat itu.
Rasanya aku tidak sanggup.
Jika aku bisa meminta, gantikan saja nyawaku untuk mereka berdua. Agar mereka bisa menghirup udara segar di dunia ini dengan ibunya. Aku rela.
***
Aku terduduk di lantai dan bersandar pada sebuah tembok yang memisahkan antara aku dengan istriku. Ya, Tika sekarang berada di balik tembok di belakangku, belum sadarkan diri.
Setelah keluar dari ruangan bayi tadi, aku merasa benar-benar lelah. Aku sudah tidak memerdulikan lagi beberapa perawat serta dokter yang lalu lalang dan melihatku sesang menangis. Berkali-kali aku hentikan, tapi berkali-kali pula air mata itu kembali mengucur.
Sampai saat di mana aku melihat Haikal dan seorang perawat yang sudah mendorong sebuah kereta bayi. "Ayo masuk." Tak banyak yang Haikal katakan. Tapi aku dapat melihat matanya yang juga sama sembabnya denganku.
Aku berdiri dari dudukku di lantai, lalu melihat kedua anakku yang berada dalam kereta di belakang Haikal. Dengan langkah tertatih aku mengikuti kembali langkah Haikal yang membawaku masuk ke dalam ruangan Tika. Yang tanpa aku sangka, ternyata Tika sudah duduk di atas ranjangnya dengan rapi dan mata yang terbuka.
Berlari aku mendekatinya dan merengkuh tubuhnya. Membawanya masuk ke dalam dekapanku. Aku kembali menumpahkan kesedihanku padanya. Aku tidak sanggup untuk mengatakan yang sebenarnya. Hingga akhirnya Haikal menepuk bahuku. Mengisyaratkan agar aku segera memberi ruang padanya untuk melihat kedua bayinya yang sudah tidak bernapas lagi.
"Kondisinya sudah stabil," ucap seorang dokter yang sebelumnya kulihat memeriksa Tika tadi. Dia mengatakan itu pada Haikal lalu Haikal tersenyum melihat adiknya.
"Mana bayi kembarku?" tanya Tika pelan sambil menatap Haikal lalu menatapku yang sedang mencoba menghapus air mataku. "Kalian kenapa? Aku udah baik-baik aja kok sekarang. Mana mereka, Kal?" Tika meraih tangan Haikal lalu menggoyangnya pelan.
Perlahan sorang perawat yang tadi di belakangku, mendorong sebuah kereta yang sebelumnya memang sudsh di dalam ruangan itu. Mendekatkannya pada Tika. Ia terlihat bahagia melihat kedua anak kembarnya berada di dalam satu kereta itu. Lalu dengan bantuan sang perawat, Tika mengendong salah satu bayinya. Lalu membawanya ke dalam dekapannya.
__ADS_1
"Apa boleh aku memeluk mereka berdua ... bersamaan?" pinta Tika menatap sang perawat. Yang mana perawat itu langsung menoleh pada Haikal.
"Iya, boleh. Bantu dia." Hanya itu jawaban Haikal yang kemudian berdiri dari duduknya yang semula di tepi ranjang. Kini ia memilih berdiri di sampingku.
Aku, Haikal, seorang dokter lelaki dan sang perawat itu, kami tidak mengatakan sepatah kata pun begitu melihat Tika berhasil melabuhkan kedua bayinya dalam dekapan tubuhnya. Ia memerluk erat buah hati kami, lalu melirik kepadaku dengan senyuman bahagia sekaligus air matanya yang tiba-tiba terlihat di kedua sudut matanya.
Aku membalikkan tubuhku, tidak sanggup rasanya aku untuk mengatakan sebuah kenyataan. Rasa bahagianya yang baru saja beberapa menit ia rasakan, seharusnya tidak pantas untuk aku rebut kembali. Aku menutup mulutku dengan salah satu telapak tanganku. Menahan tangisku agar tidak kembali pecah.
"Apa mereka lagi tidur?" lirih Tika sambil meringis pelan, aku masih bisa mendengar keluhannya itu. Namun rasanya aku benar-benar tidak sanggup untuk melihatnya saat mendengarkan kenyataan bahwa kedua buah hati kami itu sudah tidak bernyawa lagi.
Tiba-tiba Haikal kembali mencengkram bahuku, meminta izinku, agar dia yang mengatakan semua itu. Aku mengangguk pelan, lalu ia melangkah maju untuk memberitakukan kondisi yang sebenarnya.
"Kamu tadi melahirkan secara caesar dan mereka lahir dengan kondiri yang sudah tidak berβ"
Oweeee ...
Oweeee ...
Kedua bayi itu tiba-tiba menangis bersahutan, sangat nyaring hingga membuatku tersentak kaget dan segera menoleh. Tidak percaya dengan apa yang terjadi. Haikal terdiam, semua terpana melihat kejadian itu.
Aku berjalan mendekat, melihat kedua bayi itu menangis dan sedikit menggerakkan kepala serta tubuhnya yang terbalut kain. Keajaiban.
Aku mendapatkan sebuah keajaiban dan Tika menangis mendapati kedua anaknya yang tiba-tiba menangis dengan nyaring. Sangat nyaring. Tidak ada yang dapat aku lakukan selain mengucapkan syukurku dalam hati ini lalu mengecup erat kening istriku.
Tersenyum dalam tetesan air mata kebahagiaan yang sebelumnya seakan mustahil aku dapatkan.
βββββ
Lohaa ...
Jangan lupa berikan like dan komen kalian setelah membaca ...
Oh iya, aku membuat cerita ini berdasarkan riset dan aku menemukan sebuah keajaiban ini yang memang benar pernah terjadi dan di alami oleh sebuah keluarga.
Buah hati mereka dinyatakan meninggal pasca melahirkan, lalu setelah dua jam bayi itu dalam pelukan sang ibu, tiba-tiba sang bayi langsung menagis yang mana otomatis juga kembali hidup.
Terima kasih untuk sebuah keluarga di Sidney, Australia. Dengan nama bayi Jamie Ogg yang menjadi inspirasiku dalam menulis adegan yang sangat menegangkan ini.
Ada sedikit kehaluan yang aku tambahkan di episode kali ini agar lebih drama π
Aku yang menulis saja sudah terlinang air mata dan menghabiskan satu box tissu dan ini tidak lebay, sungguh π€
Terima kasih untuk kalian semua para pembaca.
__ADS_1
With love,
Tika.